NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29.

Begitu latihan selesai, Alesha turun dari panggung kecil sambil mengembuskan napas panjang.

"Fiuh... hidupku masih utuh."

Dinda yang sudah menunggu di bawah langsung tertawa.

"Emang kenapa?"

"Aku kira tadi bakal pingsan."

Dinda menggeleng geli.

"Drama banget."

Alesha memegang dadanya.

"Jantungku tadi kayak lagi lomba lari."

"Lebay."

"Aku serius."

Bu Rina yang mendengar percakapan mereka ikut tersenyum.

"Padahal tadi sudah bagus."

Alesha langsung menunjuk dirinya sendiri.

"Saya?"

"Iya."

"Tapi tadi saya hampir lupa."

"Memang hampir, tapi kamu bisa melanjutkan lagi."

Alesha langsung mengangkat kedua tangannya ke atas.

"Alhamdulillah."

Beberapa peserta latihan yang melihat tingkahnya ikut tertawa kecil.

Selesai menerima beberapa masukan dari Bu Rina, Alesha dan Dinda berjalan keluar aula.

Di koridor, Alesha tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Eh."

"Kenapa?" tanya Dinda.

"Aku lapar."

"..."

"Aku tegang soalnya."

Dinda memijat pelipisnya.

"Hubungannya?"

"Kalau tegang, perutku cepat lapar."

"Alasan."

"Nggak percaya? Nih."

Perut Alesha tiba-tiba berbunyi pelan.

Kruuuk...

Dinda langsung tertawa sampai memegangi perutnya.

"Astaga, beneran."

"Makanya."

"Ayo ke kantin."

Mata Alesha langsung berbinar.

"Ayo!"

Ia berjalan cepat menuju kantin.

Namun karena terlalu semangat, ia tidak melihat ada genangan air bekas orang mengepel.

"Sret!"

"Kyaaa!"

Untung saja seseorang dengan cepat menarik lengan Alesha sebelum benar-benar terpeleset.

Alesha refleks memejamkan mata.

Beberapa detik kemudian ia membuka matanya perlahan.

Ternyata Arka yang memegang lengannya.

"Kamu kalau jalan lihat depan."

Alesha berkedip beberapa kali.

"Oh..."

Ia menoleh ke bawah.

Baru sekarang ia sadar ada lantai yang masih basah.

"Hehe."

"Hehe?"

"Iya... untung ada kamu."

Arka menghela napas pelan lalu melepaskan tangannya.

"Kamu ini."

Dinda yang datang belakangan langsung geleng-geleng kepala.

"Baru lima menit selesai latihan udah bikin ulah."

Alesha langsung membela diri.

"Itu bukan ulah."

"Itu apa?"

"Itu... gravitasi."

Dinda sampai menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Gravitasi apanya?"

"Gravitasi pengin jatuhin aku."

Arka yang biasanya datar tanpa sadar mengembuskan tawa pelan.

Hanya sebentar.

Tapi cukup membuat Reza yang kebetulan lewat menghentikan langkahnya.

Reza menatap Arka dengan mata membulat.

"Ketua..."

Arka langsung kembali memasang wajah datarnya.

"Apa?"

"Barusan kamu ketawa, kan?"

"Tidak."

"Aku lihat sendiri."

"Itu cuma batuk."

Reza langsung menoleh ke Alesha.

"Hebat."

Alesha bingung.

"Apanya?"

"Belum ada seminggu, kamu sudah bikin Ketua OSIS ketawa."

Alesha menggaruk pipinya.

"Serius?"

Arka langsung berjalan lebih dulu.

"Ayo, jangan menghalangi koridor."

Alesha menjulurkan lidah kecil ke arah punggung Arka.

"Iya, Pak Ketua."

Melihat itu, Dinda kembali tertawa.

"Nggak bisa ya sehari aja nggak bertingkah?"

Alesha menggeleng mantap.

"Nggak bisa."

"Kenapa?"

"Kalau aku terlalu kalem, nanti kalian kangen sama Alesha yang absurd."

Dinda terkekeh.

"Iya deh, Alesha yang absurd."

Mereka pun berjalan menuju kantin.

Sepanjang perjalanan, Alesha kembali berceloteh tentang makanan yang ingin dimakannya, sementara Dinda hanya bisa menggeleng sambil sesekali tertawa mendengar tingkah sahabatnya yang memang tidak pernah bisa diam.

Sesampainya di kantin, mata Alesha langsung berbinar.

"Wah..."

Dinda langsung tahu apa yang akan terjadi.

"Jangan bilang..."

Alesha menunjuk satu per satu stan makanan.

"Aku mau bakso."

"Tadi katanya lapar nasi goreng."

"Iya."

"Sekarang bakso."

"Iya."

"Lima detik lagi?"

Alesha menoleh ke stan sebelah.

"Es teh juga."

Dinda langsung memegang dahinya.

"Alesha..."

Belum selesai Dinda bicara, Alesha sudah berjalan ke stan berikutnya.

"Oh! Ada sosis bakar!"

"Astaga."

Dinda buru-buru menarik tas Alesha sebelum gadis itu berpindah ke stan lain lagi.

"Berhenti."

"Kenapa?"

"Uangmu memang banyak?"

Alesha langsung membuka dompetnya.

Ia menghitung lembar uang yang ada di dalamnya.

"Satu..."

"Dua..."

"Tiga..."

Lalu ia terdiam.

"Hah?"

Dinda ikut melirik.

"Berapa?"

Alesha menelan ludah.

"Dua puluh ribu."

Dinda melipat kedua tangannya.

"Tadi semangat banget."

"Iya."

"Sekarang?"

Alesha memandang bakso.

Lalu memandang sosis.

Lalu memandang es teh.

Ia menghela napas dramatis.

"Kenapa hidup penuh pilihan?"

Dinda langsung tertawa.

"Milih makanan aja kayak milih jurusan kuliah."

Alesha menunjuk bakso.

"Aku pilih kamu."

Lalu menunjuk sosis.

"Tapi aku juga pilih kamu."

Kemudian menoleh ke es teh.

"Apalagi kamu."

Dinda sudah tidak kuat menahan tawa.

"Semuanya dipilih."

"Iya."

"Tapi uangnya?"

Alesha menutup dompetnya perlahan.

"Dompetku menolak."

Saat itu juga Kevin, Reza, dan Arka yang baru selesai rapat OSIS masuk ke kantin.

Reza langsung melihat Alesha berdiri di depan stan makanan dengan ekspresi sangat serius.

"Ngapain dia?"

Kevin hanya melirik sekilas.

"Pasti lagi bingung milih makanan."

Mereka pun mendekat.

Kevin berdiri di samping adiknya.

"Kenapa?"

Alesha menoleh dengan wajah memelas.

"Kak..."

"Hm?"

"Aku lagi ada masalah besar."

Kevin langsung mengangkat alis.

"Masalah apa?"

Alesha menunjuk tiga stan makanan bergantian.

"Aku mau semuanya."

"Lalu?"

"Uangnya cuma cukup satu."

Kevin terdiam beberapa detik.

Reza langsung tertawa keras.

"Kirain masalah apa."

Alesha memasang wajah paling sedih yang bisa ia buat.

"Ini masalah besar."

Arka yang berdiri di belakang Kevin hanya menggeleng kecil.

"Kalau uangmu cukup satu, beli satu."

Alesha langsung menoleh.

"Tapi perutku maunya tiga."

Reza kembali tertawa.

"Perutmu memang nggak ada rem."

Alesha mengembuskan napas panjang.

"Aku kasihan sama perutku."

Kevin mengeluarkan dompetnya.

"Nih."

Ia menyodorkan selembar uang.

"Tapi cuma buat satu makanan lagi."

Mata Alesha langsung berbinar.

"Yeay!"

Ia menerima uang itu dengan senyum lebar.

"Makasih, Kak!"

Namun bukannya langsung membeli makanan, Alesha kembali berdiri mematung.

Kevin mengernyit.

"Kenapa lagi?"

"Aku masih bingung."

Kevin memejamkan mata beberapa detik.

"Kamu dikasih solusi malah nambah bingung."

Dinda, Reza, bahkan beberapa siswa yang mendengar percakapan itu ikut tertawa.

Arka yang sedari tadi memasang wajah datar akhirnya berucap singkat.

"Bakso."

Alesha menoleh.

"Kenapa bakso?"

"Biar kenyang."

Alesha berpikir beberapa detik.

Lalu mengangguk mantap.

"Iya juga."

Tanpa menunggu lama, ia langsung berlari kecil ke penjual bakso.

"Pak, satu bakso!"

Kevin hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.

"Kadang aku heran..."

Reza menyenggol bahunya.

"Tapi seru, kan?"

Kevin menghela napas sambil melihat Alesha yang sedang mengobrol heboh dengan penjual bakso.

"Iya."

"Rumah jadi nggak pernah sepi gara-gara dia."

Di kejauhan, Alesha melambaikan mangkuk baksonya dengan wajah penuh kemenangan.

"Berhasil!"

Melihat tingkahnya, Dinda kembali tertawa.

Memang...

Alesha tetaplah Alesha.

Walaupun sekarang lebih rajin belajar dan lebih bertanggung jawab, sifat absurd, ceria, dan tingkah konyolnya sama sekali tidak berubah. Justru itulah yang membuat orang-orang di sekitarnya tanpa sadar selalu tersenyum saat bersamanya.

Alesha akhirnya duduk di salah satu meja kantin sambil membawa semangkuk bakso dan segelas es teh.

Wajahnya terlihat sangat puas.

"Hmm... ini baru namanya hidup."

Dinda yang duduk di depannya hanya menggeleng.

"Kamu bahagianya sederhana banget."

Alesha mengangguk serius.

"Bakso itu sumber kebahagiaan."

"Tadi katanya sosis."

"Itu cadangan kebahagiaan."

Dinda langsung tertawa.

"Terus es teh?"

"Itu pelengkap kebahagiaan."

Dinda sampai menepuk dahinya.

"Nggak ada obat."

Belum sempat Alesha menyuapkan bakso pertama ke mulutnya, Kevin, Reza, dan Arka ikut duduk di meja sebelah karena kantin sedang penuh.

Reza melirik mangkuk bakso Alesha.

"Wah, akhirnya jadi beli bakso."

Alesha mengangguk bangga.

"Iya."

"Gimana rasanya?"

Alesha mengangkat jempol.

"Sepuluh dari sepuluh."

Reza terkekeh.

"Lebay."

"Tidak."

Alesha mengambil satu bakso menggunakan sendok.

"Lihat bentuknya."

"Kenapa memang?"

"Bulat."

"..."

"Itu tandanya sempurna."

Dinda spontan menyemburkan tawanya.

"Astaga, Les."

Kevin hanya bisa menggeleng pelan.

"Sampai bentuk bakso aja dikomentarin."

Alesha mengangguk yakin.

"Harus diapresiasi."

Saat sedang asyik bicara, Alesha meniup kuah baksonya terlalu semangat.

"Puh..."

Setetes kuah justru memercik ke pipinya sendiri.

Dinda langsung tertawa terbahak-bahak.

"HAHAHA!"

Kevin menutup wajahnya dengan telapak tangan.

"Alesha..."

"Apa?"

"Itu pipimu."

Alesha mengusap pipinya.

"Lho."

Ia melihat bekas kuah di tangannya.

"Hehe..."

Reza sampai memegangi perutnya karena tertawa.

"Orang lain makan bakso."

"Kamu malah mandi kuah."

Alesha langsung mengambil tisu.

"Itu kecelakaan kerja."

"Dalam pekerjaan apa?"

"Pekerjaan makan."

Semua kembali tertawa.

Bahkan Arka yang sedang meminum air putih sempat tersenyum tipis melihat tingkah Alesha.

Melihat itu, Reza langsung menyikut pelan lengan Arka.

"Tuh kan."

Arka menoleh.

"Apa?"

"Kamu senyum lagi."

"Aku tidak senyum."

"Bohong."

"Aku cuma lihat tingkah aneh."

Alesha yang mendengar itu langsung menoleh.

"Eh!"

"Aku bukan aneh."

"Lalu?"

"Aku unik."

Dinda langsung mengangguk cepat.

"Iya."

"Unik yang bikin orang sakit perut karena kebanyakan ketawa."

Alesha mengangkat dagunya bangga.

"Itu namanya bakat."

Kevin terkekeh pelan.

"Percaya diri sekali."

"Tentu."

Alesha kembali menyuap baksonya.

Namun kali ini ia terlalu semangat menggigit bakso yang masih panas.

"Hup!"

"Duh!"

Ia langsung membuka mulut sambil melambaikan tangan ke depan wajahnya.

"Panas... panas... panas..."

Dinda buru-buru menyodorkan gelas es teh.

"Minum dulu!"

Alesha langsung meneguk es tehnya.

"Hah..."

"Selamat."

Reza kembali tertawa.

"Kamu benar-benar nggak pernah gagal bikin kantin rame."

Beberapa siswa di meja sebelah pun ikut tersenyum melihat tingkah Alesha.

Suasana kantin yang tadinya biasa saja berubah lebih hidup karena ocehan dan ekspresi kocaknya.

Arka menggeleng pelan sambil berdiri.

"Ayo, kembali ke kelas."

"Iya, Ketua," jawab Reza sambil masih menahan tawa.

Sebelum pergi, Arka sempat melirik Alesha yang masih sibuk meniup baksonya dengan wajah cemberut.

"Kali ini pelan-pelan makannya."

Alesha mengangguk cepat.

"Siap, Pak Ketua."

Begitu Arka pergi, Alesha langsung berbisik kepada Dinda.

"Kayaknya mulai sekarang aku harus makan bakso pakai helm."

Dinda langsung tertawa lagi.

"Kenapa helm?"

"Biar kalau baksonya nyerang balik, aku aman."

Mendengar jawaban itu, Kevin yang belum sempat melangkah hanya bisa menghela napas sambil tersenyum.

"Memang... Alesha tidak akan pernah kehabisan tingkah aneh."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!