Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Cinta yang Membunuhku
"Jangan bergerak!"
Seorang pria bertubuh besar menarik rambut Mirna hingga wanita paruh baya itu menjerit. Sebilah pisau menempel di lehernya.
"Ahh... sakit! Lepaskan aku!" pekik Mirna.
"Diam!" bentak perampok itu.
Tubuh Vira membeku; tenggorokannya serasa tercekat. "Jangan sakiti ibu saya," katanya berusaha tetap tenang. "Apa yang kalian mau, saya akan berikan."
"Serahkan semua uang dan barang berharga kalian, atau leher wanita tua ini putus sekarang juga!"
Melihat tak ada satu orang pun bergerak, perampok itupun geram.
"Cepat!" bentaknya. "Atau kalian semua ingin mati hah?!"
Yanti, sepupu Vira yang berdiri di sudut ruangan gemetar hebat. "Vira, kasih saja! Kasih semuanya!" teriaknya panik. "Uang bisa dicari lagi. Aku gak mau mati!"
Perampok lain mulai mengobrak-abrik lemari dan laci.
"Cepat!" bentaknya. "Di mana uangnya?"
Vira baru saja hendak melangkah ketika suara mesin mobil terdengar dari luar rumah.
Brummm...
Lampu mobil menyorot melalui jendela depan.
Salah satu perampok menoleh. "Sial! Ada yang datang!"
Pintu rumah terbuka.
Daril memasuki ruang tengah, wajahnya langsung berubah tegang saat melihat ibunya ditodong dengan pisau.
"Daril!" seru Vira.
"Jangan bergerak!" ancam perampok sambil menekan pisaunya lebih kuat ke leher Mirna.
Daril mengangkat kedua tangannya. "Tenang. Saya tidak akan macam-macam."
"Serahkan semua uang kalian!"
Daril melirik Vira. Vira mengangguk kecil. Beberapa menit kemudian, uang tunai yang ada di rumah sudah berada di atas meja.
"Ini semua uang yang ada," kata Vira.
Perampok itu tampak ragu.
Saat perhatian mereka teralihkan pada tumpukan uang, Daril diam-diam bergeser mendekati Mirna.
"Daril, jangan!" bisik Vira tegang.
Namun Daril menemukan celah. Dan--
Brak!
Ia menendang lutut perampok yang menyandera ibunya hingga pria itu terjatuh.
"Bu, lari!" teriak Daril.
Mirna langsung merangkak menjauh.
"Kampret!" umpat perampok yang terjatuh. "Hajar dia!"
Perkelahian pecah. Daril dan salah satu perampok saling pukul. Yang lain mendekat hendak mengeroyok.
"Tolong! Tolong!" teriak Yanti.
"Diam!" bentak salah satu perampok berbalik menghampiri Yanti.
Vira mengambil guci keramik di samping buffett.
PRANG!
Guci menghantam punggung perampok itu, pecah berhamburan di lantai.
"Akh!" Perampok terhuyung.
"Jangan coba melawan atau kalian semua akan mati!" ancam salah satu dari mereka.
Yanti makin menjerit histeris. "Tolong! Tolong! Ada perampok!"
Bahkan Mirna dan Vira ikut berteriak.
Mendengar teriakan yang semakin keras, para perampok mulai panik.
"Sial! Kabur!"
Mereka berlari keluar rumah. Suara langkah kaki menjauh dengan cepat. Beberapa detik kemudian, rumah itu kembali sunyi.
"Kita selamat..." gumam Vira lega, meski napasnya masih memburu.
Daril berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tatapannya jatuh pada sebilah pisau yang tergeletak di lantai. Pisau yang ditinggalkan perampok.
Perlahan, ia membungkuk dan mengambilnya dengan sapu tangan.
Vira yang melihatnya mengernyit. "Daril, kenapa kamu mengambilnya? Letakkan. Itu bisa jadi barang bukti untuk menangkap para perampok tadi."
Tapi Daril malah melangkah mendekat ke arahnya.
"Lihatlah pisau ini," kata Daril dengan suara rendah.
Ia membolak-balikkan pisau di tangannya itu dengan senyuman yang terasa ganjil.
"Daril, kamu mau apa?" tanya Vira yang tiba-tiba merasa tengkuknya terasa dingin.
Daril berhenti tepat di depan Vira, lalu menunduk dan berbisik dengan suara yang terdengar datar, nyaris dingin.
"Mengirimmu menyusul orang tuamu."
Jleb!
Tanpa peringatan, ia menusukkan pisau itu ke tubuh Vira.
Mata Vira membelalak. Ia menatap pisau yang menancap di perutnya, lalu mengangkat wajahnya ke arah Daril.
"D-Daril...?"
Pria itu menatapnya tanpa rasa bersalah.
"Kenapa?" tanya Vira dengan suara bergetar. "Kenapa kau membunuhku?"
"Kau tahu kenapa aku bertahan selama ini?" Daril tersenyum dingin. "Karena hartamu."
"Kau...?" Vira menatap suaminya tak percaya.
"Sekarang usaha ini sudah cukup besar," lanjut Daril. "Aku tak membutuhkanmu lagi. Kau terlalu banyak mengatur. Semua uang harus lewat persetujuanmu. Aku muak hidup di bawah kendali perempuan."
"Hugh..."
Vira memuntahkan darah saat Daril mendorong pisau itu lebih dalam.
"Lagipula..." Sorot mata Daril tajam menusuk. "Wanita mandul sepertimu memang tidak berguna. Kalau kau mati sekarang, semua orang akan mengira kau mati dibunuh perampok."
Tubuh Vira melemah. Darah terus mengalir dari lukanya. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia menoleh ke arah Yanti. "Tolong aku..."
Namun, Yanti hanya tersenyum. Ia mendekat, lalu memeluk lengan Daril. "Kau benar-benar bodoh, Vira. Selama ini kau pikir kenapa aku bertahan di rumah ini? Aku mencintai Daril."
Vira menatap Yanti dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sudah lama menunggu hari ini," kata Yanti penuh senyuman. "Setelah kau mati, aku bisa menikah dengan Daril."
Dada Vira terasa bagai dihantam batu besar. Dengan putus asa, ia menatap Mirna, berharap wanita yang ia rawat dan sayangi seperti ibunya sendiri itu menolongnya.
Namun Mirna justru mendengus. "Lebih baik kau mati. Selama ini kau terlalu cerewet. Sedikit-sedikit melarangku makan ini dan itu. Aku lebih memilih Yanti jadi menantuku."
Air mata mengalir dari sudut mata Vira. Ia tidak pernah menyangka akan mati di tangan pria yang dicintainya. Lebih menyakitkan lagi, ia juga dikhianati oleh sepupunya sendiri dan dibenci oleh ibu mertuanya yang selama ini selalu ia jaga.
Saat kesadarannya mulai menghilang, hanya ada satu penyesalan dalam hidupnya.
"Jika diberi kesempatan kedua..."
Vira tersenyum pahit. Darah hangat masih mengalir dari luka di perutnya.
"...aku tidak akan pernah menikahi Daril."
Kelopak matanya perlahan tertutup. Dan--
Gelap.
Tok! Tok! Tok!
"Ra! Vira! Ra!"
Tok! Tok! Tok!
"Vira! Bangun!"
Vira tersentak. Aroma racun nyamuk bakar menusuk hidungnya.
"Ngh..."
Napasku...?
Refleks, kedua tangannya langsung meraba perutnya. Tidak ada pisau, tidak ada darah. Perutnya utuh.
Namun rasa nyeri itu masih terasa begitu nyata, seolah mata pisau Daril baru saja menembus tubuhnya beberapa detik yang lalu.
"Hah...!"
Ia terengah-engah. Napasnya memburu, seluruh tubuhnya dipenuhi keringat dingin.
Tok! Tok! Tok!
"Vira! Kamu sudah bangun belum?"
Suara itu... Itu suara Daril.
Tubuh Vira menegang. Wajah pria yang menusukkan pisau ke tubuhnya kembali terlintas jelas di benaknya.
"Karena aku sudah muak padamu."
"Wanita mandul dan pelit."
"Kalau kau mati sekarang, semua orang akan mengira kau mati dibunuh perampok."
"Jangan... jangan mendekat..." gumam Vira lirih sambil mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang. Matanya bergerak liar mengamati kamar.
Lemari kayu tua, meja belajar, rak buku. Boneka kain yang sudah bertahun-tahun tidak ia lihat.
"Ini... Bukankah ini kamar lamaku?"
Tangannya gemetar saat meraih kalender yang tergantung di dinding. Ia membeku. Tanggal itu...
Mustahil.
"Ini... lima tahun yang lalu?"
Dadanya naik turun. Dengan tergesa ia turun dari ranjang, lalu berlari menuju cermin.
Di sana, pantulan seorang perempuan berusia awal dua puluhan menatap balik ke arahnya. Belum ada gurat lelah di wajahnya. Belum ada bekas luka. Belum ada cincin pernikahan di jari manisnya.
"Apa ini mimpi?"
Air matanya tiba-tiba mengalir.
"Aku... hidup?"
Ia menatap kedua telapak tangannya berulang kali, seolah takut semua ini hanya mimpi.
Tok! Tok! Tok!
"Ra! Cepat buka pintunya!"
Suara Daril kembali terdengar. Kali ini lebih jelas, lebih dekat. Tubuh Vira langsung membeku. Bukan rindu yang memenuhi dadanya.
Melainkan ketakutan.
Ingatan tentang pisau yang menembus tubuhnya kembali berkelebat. Tanpa sadar, ia mundur beberapa langkah dari pintu.
"Vira?" panggil Daril lagi. "Aku tahu kamu di dalam. Tolong buka sebentar. Aku butuh bicara."
Vira mengepalkan tangannya. Air matanya berhenti mengalir. Sorot matanya perlahan berubah dingin.
Ia ingat. Hari ini... adalah hari ketika Daril datang meminjam uang dengan alasan Mirna sakit. Hari ketika ia mulai mengorbankan segalanya demi pria itu. Namun... Kali ini berbeda.
"Kau datang mencari pertolongan..." bisiknya pelan. "...dan aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama."
...✨"Pengkhianatan terbesar bukan datang dari musuh, melainkan dari orang yang paling kita percaya."✨...
.
To be continued
silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..
keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka
keep strong vira
semangat buat kak Nana juga
ra vira usir aja tuh yanti sudah cukop kamu kasih dia kesempatan Dan tempat tinggal ,, jauhilah orang² yang tak pernah menghargai kebaikanmu
Hayo lo Yanti bentar lagi kamu di usir karena ulahmu sendiri nyari penyakit sama Vira😄
mirna sm daril hukim untuk minta maaf dan denda sejumlah uang.. krn dia sdh menyebabkan usaha vira menurun., dan biarkan hukuman sosiak daru masyarakat..