Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*30
Hari ini terasa sangat berat buat keduanya. Terlebih lagi untuk Irza yang sendirian tanpa teman yang bisa menjadi penguat. Sementara Asha, dia punya dua tameng yang siap melindungi, membantu menepis kata-kata yang datang dari teman-teman yang lain.
Namun, walaupun begitu, yang terlihat lebih lelah bukanlah Irza. Melainkan, sebaliknya. Sha lah yang terlihat sangat capek sekarang. Saat sampai ke mobil, dia melepas napas berat berulang kali.
"Sha .... Kamu capek?"
"Hm. Banget."
Mau jalan-jalan dulu sebelum pulang?"
"Enggak. Aku mau langsung pulang saja."
"Iya, baiklah kalo gitu."
Tidak ada jawaban lagi dari Asha. Suasana langsung berubah hening. Namun, hanya beberapa saat saja. Karena menit berikutnya, Irza kembali mengajak Asha bicara.
"Semua gara-gara aku, Sha. Maafkan aku ya. Aku bikin-- "
Ucapan itu langsung tertahan hanya gara-gara, Irza melihat tatapan tajam yang Asha lontarkan. Dia tahu bahwa gadisnya tidak suka kata-kata tersebut. Namun, kata-kata seperti itu sudah terbiasa ia ucapkan. Jadinya, walau secara tidak sadar, kata itu tetap lepas dari bibir meski tidak ia inginkan.
"S-- Sha ... maaf." Kali ini suara Irza semakin pelan. "Aku .... "
"Za. Kamu gak bisa ya bicara gak ada kata maafnya. Coba deh kamu biasakan gak minta maaf jika kamu gak bikin kesalahan. Jadinya aku ngerasa gak nyaman gitu tau gak sih?"
"Iya. Aku ... ma-- nggak itu .... "
"Ya sudahlah. Jangan di bahas lagi. Aku tahu saat ini bukan hanya aku saja yang lelah kan? Kamu juga. Hari pertama ke kampus memang sangat luar biasa menguji kesabaran. Jadi, kita lupakan saja. Ayo nikmati ketenangan, Irza."
Irza mengangguk pelan. "Iya. Baiklah."
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang. Sampai di rumah, tidak ada yang berubah. Ketenangan di rumah jauh terasa lebih nyaman sekarang. Rasanya, sungguh sangat menenangkan.
Sampai ke rumah, Irza yang langsung menyiapkan segalanya. Mulai dari minuman untuk melepas dahaga setelah seharian bergelut dengan kerasnya dunia luar, sampai makanan untuk mereka nikmati malam ini. Semua, Irza yang menyiapkan.
Bukan Asha yang tidak ingin membantu apa yang Irza kerjakan. Tapi Irza yang tidak mengizinkan Asha melakukan semua itu. Anak tunggal keluarga Rahardi yang seharusnya sangat manja, tapi malah sebaliknya.
Semua pekerjaan rumah telah selesai. Saat itu, barulah Irza bisa masuk kamar mandi untuk menyegarkan diri. Saat dia keluar dengan tampilan baru, Sha masih sibuk berbaring di sofa ruang tamu sambil memperhatikan ponsel yang ada di tangannya.
"Asha .... "
Panggilan lembut penuh kasih membuat perhatian Sha langsung teralihkan. Sedangkan Irza kini sudah duduk manis di sampingnya sambil menyentuh rambut dengan jari tangan.
"Udah sore. Mandi dulu."
"Iya. Bentar lagi," ucap Sha sambil menoleh.
Irza yang duduk dengan pakaian rumahan sederhana ternyata lebih mengusik hati Sha. Benar, tampilan itu bukan hanya pertama kali Sha lihat sebenarnya. Namun, tampilan inilah yang paling Sha suka dari Irza.
Kaos oblong, celana pendek, duduk manis. Dia lebih terlihat hidup sebagai manusia normal di bandingkan saat keluar rumah. Tidak, bukan saat memakai kemeja dengan tampilan kasual tidak terlihat tampan. Tapi saat memakai pakaian rumahan sederhana, ia lebih terlihat manis bagi mata Asha.
Tatapan lekat Asha Irza sadari. Sontak, gerakan tangannya pun langsung grogi.
"Ee ... Sha .... "
"Ah, iy-- iya," ucap Sha cepat sambil mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
Gugup langsung menyerang. Maklum, dia baru saja ketahuan telah memperhatikan orang yang tidak ingin ia perhatikan. Jadi yah, malu sendiri jadinya.
"Kenapa?"
"Eg-- enggak kok. Gak papa."
"Ada yang aneh dengan wajah ku?"
"Enggak."
"Tapi-- "
"Gak ada kok gak ada. Ya sudahlah, aku mandi sekarang," ucap Sha cepat berusaha menghindar dari Irza.
Saat ingin bangun, eh ... tubuh malah kehilangan keseimbangan. Sha malah terjatuh ke pangkuan Irza. Detak jantung keduanya pun langsung tidak beraturan.
Waktu seakan berhenti berputar gara-gara kedekatan tersebut. Mereka saling tatap dengan jarak yang sangat dekat. Aroma tubuh Irza yang harum, detak jantung yang bisa Sha rasakan, bahkan hembusan napas yang Irza lepaskan pun menyentuh Asha sangking dekatnya mereka.
Sungguh, keadaan itu memang tidak direncanakan. Tapi kedekatan itu adalah hal pertama yang membuat suasana berbeda langsung tercipta. Sha bisa melihat manik mata Irza yang bercahaya. Wajah mulus yang sangat indah, juga terlalu menggemaskan.
Suasana itu bertahan cukup lama sampai akhirnya sebuah notifikasi pesan masuk berbunyi di ponsel Irza. Sontak, keduanya pun langsung sama-sama melepaskan diri dari keadaan yang tidak mereka rencanakan itu.
Sha bangun dengan cepat. "Maaf. Aku gak sengaja."
"Gak papa, Sha .... "
"Ha, iy-- iya."
Sha beranjak dengan langkah yang besar agar segera lenyap dari pandangan Irza. Namun sepertinya, pria itu tidak membiarkan Asha menghilang dengan cepat seperti yang Sha mau.
"Sha."
"Hah!"
"Maaf, bisa bantu aku bawakan handuk ini ke kamar?"
"Iy-- iya, boleh."
"Makasih, Sha."
"Iya."
Tingkah Asha yang canggung, Irza melihatnya dengan sangat jelas. Saat Sha memutar tubuh, Irza langsung tersenyum dengan lebar. Lalu, saat Sha hilang dari pandangan matanya, Irza langsung memeluk tubuhnya sendiri sambil tetap mempertahankan senyum indah yang sebelumnya terukir.
"Ya Tuhan ... terima kasih banyak atas anugerahnya barusan. Aku bahagia banget," ucapnya sangat pelan sambil terus memeluk tubuh sendiri dengan kedua tangan.
Memeluk diri sendiri karena beneran ingin memeluk. Melainkan, saat memeluk dirinya sendiri, Irza membayangkan bahwa dirinya sedang memeluk Asha yang tadi telah jatuh ke dalam pangkuannya.
Jujurnya, dia tadi sangat ingin memeluk tubuh langsing sang istri. Namun, keberaniannya tidak cukup untuk melakukan hal tersebut. Alhasil, ia membiarkan kesempatan emas itu berlalu begitu saja. Setelah si pujaan pergi, barulah ia berani berkhayal.
"Asha .... "
...
Hari-hari terus berjalan seperti biasa. Omongan manusia tetap tidak berkurang. Tapi semuanya tetap berhasil mereka lalui. Saat di kampus, mereka harus menebalkan kesabaran. Sedangkan saat di rumah, hubungan kebersamaan mereka semakin dekat saja.
Irza sangat pintar. Jadi, Asha sangat terbantu saat ada masalah apapun dengan mata kuliah yang sedang ia hadapi. Padahal, jurusan mereka berbeda. Tapi itu bukan hal besar bagi Asha.
Kedekatan keduanya terasa sangat nyata. Kebencian Asha untuk Irza, sudah tidak tersisa lagi. Semuanya sudah lenyap. Ternyata, kebersamaan mampu mengikis semua rasa itu. Ketulusan Irza benar-benar mampu menggoyahkan hati Asha.
Semua berjalan baik hingga suatu hari setelah dua minggu berlalu. Dimas yang baru pertama masuk kampus setelah libur panjang yang ia ambil entah karena alasan apa, mengajak Irza bicara saat Irza sedang duduk di taman belakang kampus.
"Irza Rahardi."
Sontak, panggilan dengan nada tinggi membuat Irza sedikit terkejut. Dia yang sibuk dengan laptop yang mengalihkan pandangan ke arah asal suara yang barusan memanggil namanya.
"Iya .... Ada perlu apa?"
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣