Ini season ke 2 dari novel Putra Sang Letnan Kolonel. Dengan Genre Yang berbeda kisah Triple Z (Zayda, Zayden, dan Zafran)
Tawa Semua siswa seketika mencekam, sesaat serangan brutal terjadi di tempat itu.
Panik, Takut semua menjadi satu dalam kericuhan. Hanya dalam hitungan jam puluhan siswa dan guru mati di tempat.
Semua siswa mencari ruangan aman untuk berlindung, tetapi tidak ada satupun ruangan yang bisa menjamin.
Kecuali satu area rooftop. Namun, apakah mereka bisa naik ke atas?
Adakah para siswa ada yang selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 ( Lapor! Bahaya )
Telepon meja berdering nyaring, memecah suara ketikan.
“Polsek Jakarta, ada yang bisa dibantu?”
“Ini Dira, reporter lapangan LAC School! Denger saya? Ada tembakan! Ada ledakan! Sekolah Lyceum Adhi Cendekia diserang orang bersenjata! Ada anak-anak di dalam!”
Suara di seberang pecah-pecah. Ada teriakan di latar belakang. Ada sirine.
Operator di meja depan langsung pucat. Jarinya gemetar saat menekan tombol interkom.
“Kode 3! Kode 3! Butuh Kapolsek sekarang juga! Serangan bersenjata di LAC School!”
Dalam 30 detik, ruang operasi berubah jadi chaos. Peta kota dibentangkan. Radio semua channel dinyalakan.
Kapolres, Kompol Raka, masuk dengan dasi masih setengah dikencangkan. “Laporannya valid?”
“Reporternya langsung dari depan gerbang, Pak. Katanya gerbang utama sudah jebol. Pelakunya... belum diketahui, Pak. Orang bersenjata. Jumlahnya banyak.”
Kompol Raka mengatupkan rahang. Tanpa identitas. Tanpa tuntutan. Itu yang paling bahaya.
Dia langsung meraih radio frekuensi khusus.
“Pusat ke UNITRAKS. Saya ulangi, Pusat ke UNITRAKS. Kita punya Kode Merah. Level ancaman: Kritis. Target: Lyceum Adhi Cendekia. Penyerang bersenjata, identitas belum diketahui. Korban sipil anak sekolah. Minta tim kalian gerak sekarang. Izin turun sudah saya ketok.”
Hening sedetik di frekuensi. Lalu satu suara dingin menjawab.
“UNITRAKS menerima. ETA 9 menit. Kita masuk.”
Radio ditutup.
Di dalam SUV Taktis Hitam UNITRAKS - Menuju LAC School_
Sirine meraung. Konvoi tiga unit SUV hitam membelah kemacetan ibu kota.
Di dalam mobil terdepan, empat personel UNITRAKS duduk tegak. Helm taktis sudah terpasang. Rompi anti peluru level III dikunci rapat.
Komandan regu, AKP Dito, menempelkan radio ke mulut. “ETA berapa?”
Sopirnya banting setir ke kiri, nyalip angkot. “Empat menit, Dan. Kita pakai jalur alternatif.”
SUV-nya menggeram. Mesin V6 yang dimodif meraung tiap kali gas diinjak dalam. Ban mengecekik aspal di tiap tikungan. Kaca film hitamnya memantul cahaya matahari.
Di kursi belakang, operator muda mengecek magasennya. _Cek. Klik._ Telapak tangannya dingin.
“Fokus,” kata Dito, mata tetap ke depan. Suaranya rendah tapi mantap. “Ini bukan latihan. Ini sekolah. Anak-anak ada di dalam. Masuk cepat, bersihkan cepat, keluar cepat. Identitas pelaku belakangan.”
Radio komando berderak. “UNITRAKS, update. Gerbang utama jebol. Tembakan masih sporadis. Korban sipil belum dievakuasi.”
Dito menatap lurus ke jalanan yang makin kosong. Gapura LAC School udah keliatan di ujung jalan.
“Gas penuh. Kita masuk sekarang.”
Tiga SUV hitam itu melesat bersamaan, meninggalkan suara sirine yang memekakkan.
***
Depan Gerbang LAC School - 12:30 WIB_
Tiga SUV hitam UNITRAKS menghantam rem barengan. Kerumunan reporter dan tenaga medis langsung pecah. Mereka minggir, ngasih jalan paksa. Kamera masih nyala, tapi semua orang sadar, yang turun sekarang bukan orang biasa.
Pintu mobil terbuka serentak.
Enam personel UNITRAKS turun. APD lengkap. Helm hitam, visor turun, senjata laras panjang terkunci di depan dada. Suasana langsung berubah. Dari gaduh ... jadi sunyi.
AKP Dito melepas pengait helmnya setengah. “Siapa yang telepon kantor polisi?”
Seorang perempuan dengan rompi pers angkat tangan. “Saya, Pak. Dira, reporter LAC Post.”
Dito melangkah maju. “Laporan kronologi. Sekarang.”
Dira menelan ludah. Tangannya gemetar pegang mic yang udah mati.
“Awalnya kami dengar ledakan, Pak. Keras banget. Terus... asap hitam, tebal. Mengepul dari arah gedung tengah. Kami langsung lari ke sini.”
Dia menunjuk gerbang utama yang masih utuh, terkunci rapat. Tingginya hampir 4 meter, jadi mereka sama sekali tidak bisa lihat keadaan di dalam.
“Di dalam ada yang jaga, Pak. Pagarnya dikunci, kami nggak bisa masuk. Mereka bersenjata, dua teman kami ... dibawa masuk.” Napasnya patah.
"Kami juga dikejutkan oleh seorang siswa yang dilemparkan dari atas pagar. Siswa itu sudah mati. Ada bekas tembak di kepala. Dia seorang wanita."
Hening.
Bahkan suara ambulans di belakang kerasa jauh.
Dito nggak berkedip. Dia cuma ngangguk sekali. Pelan.
“Cukup. Tim, posisi. Kita masuk.”
Visornya turun lagi. _Klik._
Gerbang besi hitam setinggi 4 meter berdiri kokoh. Terkunci, diam. Tapi dari baliknya, sesekali terdengar letusan peluru yang memantul ke tembok.
AKP Dito angkat tangan. Dua jari.
Tim UNITRAKS langsung bergerak tanpa suara. Dua orang bawa ram anti-huru-hara. Dua lainnya ambil posisi menembak di balik SUV. Satu operator bawa alat pembobol hidrolik.
“Perhatian semua unit,” Dito berbisik ke radio. “Kita nggak tau berapa jumlah di dalam. Nggak tau mereka bawa sandera di mana. Aturan main, tembak kalau terancam. Prioritas evakuasi sipil.”
_Klik._
Semua visor turun. Napas jadi satu-satunya suara yang kedengeran di dalam helm.
“3... 2... 1... Breach.”
_DUAAR!_
Ram menghantam gerbang. Besi bergetar, tapi nggak jebol. Kuncinya level militer.
Operator kedua langsung tempel alat hidrolik ke engsel.
_Ngiiing... KRAAAK!_
Engsel atas patah. Gerbang miring ke depan sedetik... lalu ambruk ke dalam dengan suara menggelegar.
Brukk
Debu beterbangan.
“MASUK! MASUK! MASUK!”
Enam bayangan hitam langsung melesat masuk formasi V. Laras senjata menyapu kiri-kanan. Halaman depan LAC School kosong, sepi, terlalu sepi.
Hanya ada noda darah yang mengering di depan gerbang. Bekas tempat siswa wanita tadi dilempar. Tidak hanya itu ... Di halaman depan banyak noda darah menyerupai garis.
Dari arah lantai dua, satu suara dingin menggema lewat pengeras suara.
“Selamat datang, Polisi. Kalau mau anak-anak itu hidup ... buang senjata kalian.”
Langkah UNITRAKS berhenti serentak. Mereka mendongak ke atas balkon lantai dua, Radit si culun diancam dengan pistol oleh Jack. Senyum Jack terlukis dibalik masker hitamnya.
Sedangkan di tempat lain, Zoya nggak nunggu, saat gerbangnya ambruk pintu mobilnya dia tendang terbuka. Mobil SUV pribadinya berhenti miring, bempernya hancur nyangkut di tiang gerbang. Dia nggak peduli.
Zoya langsung berlari mencari Zafran.
“Zafran!”
Mika yang sempat speechless langsung nyusul dari belakang. Napasnya kacau mencari putranya. “Azka! Azka!"”
Dua dokter itu lari masuk, nggak pake APD, nggak pake helm. Di belakang mereka, tenaga medis lain dan beberapa reporter yang nekat ikut, langsung nyerbu masuk juga. Kamera nyala lagi.
Plang kayu di depan mereka: LAC AD - Angkatan Dasar. Ini beda bangunan. Bukan gedung SMA megah di depan yang tadi dimasuki UNITRAKS.
LAC AD lebih rendah. Lebih tua. Catnya pudar.
Dan sekarang... hancur.
Sebagian besar atapnya ambruk. Dinding kelas 4A dan 5B udah rata jadi puing. Debu semen masih beterbangan. Bau mesiu dan asap hitam nyengat di hidung.
Para tenaga medis langsung pecah. Ada yang narik tandu, ada yang teriak minta oksigen. Beberapa siswa kecil tergeletak di lorong, seragamnya kotor, ada yang tangannya berdarah. Usia mereka semua di bawah 12 tahun.
Reporter sibuk ngerekam, tapi tangan mereka gemetar.
Zoya teriak sekuat tenaga, suaranya pecah di tengah reruntuhan. “ZAFRAN! MAMA DI SINI! ZAFRAN!”
Mika di sebelahnya juga sama. “AZKA! SAYANG! KAMU DI MANA!”