NovelToon NovelToon
Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis

Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan

Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

Happy reading

 

Bab 10: Pacuan Waktu di Jalur Barat

Sirine mobil ambulans yang membawa tubuh sekarat Devan Mahendra terdengar kian menjauh, membelah kesunyian malam di halaman lobi Hotel Wijaya Internasional.

Namun bagi Anastasia Wijaya, suara sirine itu tidak lebih nyaring dari gemuruh keputusasaan yang kini sedang mengoyak dadanya.

Wanita itu berdiri di samping limosin hitamnya, mendekap Arka yang masih sesenggukan di pelukannya dengan tangan yang gemetar hebat.

"Nona Anastasia! Sinyal jam tangan Den Alta kembali aktif!"

pekik Sekretaris Hendra dengan suara tertahan saat berlari keluar dari lobi hotel.

Jemarinya memegang erat komputer tablet yang kini menampilkan sebuah titik merah berkedip, bergerak cepat menyusuri garis peta digital.

"Alat pengacau sinyal para pelaku tampaknya hanya berfungsi di dalam radius hotel. Begitu mereka memasuki jalur tol, enkripsi GPS militer pada jam tangan Den Alta langsung menembus enkripsi mereka!"

Anastasia seketika mendongak.

Sepasang netra indahnya yang semula basah oleh air mata kini berkilat memancarkan ketegasan yang mematikan.

"Di mana posisi putraku sekarang, Hendra?!"

"Mereka baru saja melewati gerbang tol lingkar luar menuju jalur barat, Nona. Kecepatannya di atas seratus kilometer per jam. Struktur pergerakan ini persis seperti yang dikatakan Tuan Devan sebelum tidak sadarkan diri tadi," jawab Hendra cepat sembari membukakan pintu limosin untuk atasannya.

"Masuk ke mobil sekarang! Kita kejar mereka!" titah Anastasia tanpa keraguan sedikit pun.

Ia menempatkan Arka di bawah pengawasan ketat empat pengawal senior di dalam mobil pengamanan kedua, sementara ia sendiri masuk ke dalam limosin utama bersama Hendra.

"Hubungi unit taktis Wijaya Corps yang berada di sektor barat. Perintahkan mereka untuk bergerak memotong jalur dari arah depan!"

Limosin mewah tersebut langsung melesat membelah aspal jalanan ibu kota dengan kecepatan penuh, dikawal oleh tiga mobil SUV hitam di belakangnya.

Di dalam kabin mobil yang bergerak cepat, Anastasia menatap layar tablet Hendra dengan napas yang memburu.

Setiap detik yang berlalu terasa laksana jarum jam yang menusuk ulu hatinya secara perlahan.

‘Bertahanlah, Alta... Mami datang, Sayang,’ batin Anastasia menjerit pekat, jemarinya meremas kuat kain celana panjang formalnya hingga berkerut.

‘Siapa pun yang merancang konspirasi ini... jika sampai selembar rambut putraku terluka, aku bersumpah tidak akan membiarkan mereka melihat matahari esok pagi.’

 

Di saat yang sama, di dalam kabin minibus hitam yang melaju kencang di jalur tol barat, atmosfer tampak kian menegangkan.

Pria bertato kalajengking di pergelangan tangan kiri yang bertindak sebagai pengemudi terus menatap kaca spion tengah dengan dahi berkerut.

"Sial, ada yang tidak beres," umpat pria bertato kalajengking itu kasar sembari menginjak pedal gas lebih dalam.

"Beberapa mobil SUV hitam di belakang kita terus menjaga jarak yang sama sejak dua kilometer lalu. Mereka bukan mobil pengguna tol biasa."

Pria di kursi penumpang depan segera menoleh ke belakang, menatap Alta yang masih duduk terikat dengan mulut yang diplester hitam tebal.

"Apa anak ini membawa alat pelacak?! Bukankah semua gawai miliknya sudah kita sita di kamar hotel tadi?!"

"Periksa jam tangan merah di tangannya! Jangan-jangan itu pemancar GPS!" bentak sang pengemudi.

Mendengar hal itu, Alta yang memiliki kecerdasan gifted langsung menyipitkan sepasang netra elangnya yang dingin.

Sadar bahwa kedok jam tangan pintarnya akan terbongkar, Alta dengan sengaja menghentakkan tubuh mungilnya ke samping, menjatuhkan diri ke lantai bawah kursi mobil yang gelap agar para penculik kesulitan menjangkau pergelangan tangannya di tengah guncangan kendaraan yang melaju cepat.

Brak!

"Anak kurang ajar! Diam kamu!"

pria di kursi penumpang memaki sembari membalikkan tubuhnya ke belakang, tangannya berusaha meraih kerah baju Alta untuk menariknya kembali ke atas kursi.

Namun sebelum tangan penculik itu berhasil menyentuh Alta, sebuah hantaman keras mendadak terdengar dari arah belakang mobil mereka.

Duar!

Bumper depan sebuah SUV hitam milik pengawal Wijaya Corps sengaja menabrak bagian belakang minibus pelaku dengan kekuatan penuh.

Benturan keras itu membuat minibus hitam tersebut sempat oleng di atas aspal tol yang licin sebelum akhirnya sang pengemudi bertato kalajengking berhasil menstabilkan kemudi dengan napas memburu panik.

"Kurang ajar! Mereka benar-benar mengejar kita!" raung pria bertato kalajengking itu penuh amarah.

Ia melirik ke arah luar jendela samping, di mana limosin putih milik Anastasia kini sudah mulai bergerak sejajar di sisi kanan mobil mereka, mencoba memotong jalur secara paksa.

Anastasia menatap lurus dari balik kaca mobil limosinnya, netranya yang tajam menangkap siluet Alta yang berada di dalam kabin minibus tersebut.

Jantungnya berdegup begitu kencang, perpaduan antara rasa lega melihat putranya masih selamat dan murka yang teramat sangat kepada para pelaku.

"Hendra! Tabrak mobil mereka dari samping! Paksa mereka berhenti di bahu jalan raya!" perintah Anastasia dengan suara melengking tinggi penuh penekanan, mengabaikan seluruh risiko keselamatan dirinya sendiri.

"Nona, itu terlalu berbahaya! Struktur minibus mereka bisa terguling dan membahayakan Den Alta!" Hendra mencoba memperingatkan secara logis sembari terus berkoordinasi dengan pengemudi limosin.

"Kita harus menggiring mereka menuju gerbang tol barat yang sudah diblokade oleh kepolisian di depan!"

Mendengar instruksi interkom bahwa di depan ada blokade, pria bertato kalajengking itu menyunggingkan senyum licik yang dingin.

Di bawah pendaran lampu jalanan tol yang remang, ia melihat sebuah celah keluar darurat (u-turn) ilegal yang pembatas jalannya terbuka sedikit menuju jalur arah berlawanan.

"Kita tidak akan bisa lolos jika terus berada di jalur tol ini! Bersiaplah!" teriak sang pengemudi kepada rekannya.

Dengan gerakan nekat yang melanggar seluruh logika keselamatan, pria bertato kalajengking itu membanting setir mobilnya ke arah kanan secara ekstrem, menabrak pembatas jalan sementara dari plastik, dan melompat masuk ke jalur tol arah berlawanan yang sedang ramai oleh kendaraan truk besar dari arah barat.

Tiiiiinnnn!!!

Suara klakson truk tronton menggema keras di udara malam saat minibus pelaku melaju melawan arah dengan membabi buta, memaksa kendaraan lain mengerem mendadak hingga menimbulkan tabrakan beruntun di belakang mereka.

"Nona! Mereka berputar arah melawan arus!"

Hendra berseru panik saat melihat minibus pelaku menjauh di jalur seberang yang terpisahkan oleh beton pembatas jalan yang kokoh.

Limosin Anastasia tidak bisa berputar arah secara instan karena terhalang beton permanen, membuat jarak mereka kembali merenggang dalam hitungan detik.

Di dalam kabin minibus yang melaju liar melawan arus, pria di kursi penumpang depan kembali menempelkan ponsel sekali pakainya ke telinga setelah menerima panggilan masuk dari Siska Amalia.

"Halo, Nona Siska! Situasinya kacau! Pengawal Anastasia berhasil melacak kita di jalur tol barat! Kami sedang mencoba memotong jalur darurat!" lapor pria itu dengan napas tersengal-sengal menahan panik.

Di seberang telepon, di dalam kamar apartemennya yang kini gelap tanpa lampu, Siska mengepalkan tangan dengan kemurkaan yang bergejolak hebat.

"Bodoh! Bagaimana bisa kalian seceroboh itu?! Dengarkan aku, jangan bawa anak itu ke gudang pelabuhan timur lagi! Ubah rute menuju dermaga sepi di pesisir utara! Jika Anastasia terus mengejar... jatuhkan saja anak itu ke laut sebagai umpan agar kalian bisa meloloskan diri!"

Kalimat kejam Siska dari pengeras suara ponsel itu terdengar jelas di telinga Alta yang masih bertumpu di lantai mobil yang dingin.

Alih-alih menangis ketakutan mendengar ancaman pembunuhan tersebut, sepasang netra elang Alta justru berkilat dingin sembari terus menghitung ritme detak jantungnya sendiri demi menjaga ketenangannya.

Di belakang mereka, sirine kepolisian dan mobil pengawal Wijaya Corps mulai terdengar bersahutan mencoba mencari celah putaran untuk melanjutkan pengejaran.

Pacuan waktu di malam badai ini kini benar-benar berada di titik paling kritis.

Nyawa Alta kini tergantung pada seberapa cepat Anastasia mampu menembus kemacetan tabrakan beruntun di tol, sementara Devan Mahendra masih terbaring kritis di meja operasi tanpa mengetahui bahwa putranya sedang diarahkan menuju maut di pesisir utara.

Bersambung

1
Ifana
padahal kk nya dipenjara, siapa orang dibalik menghilang nya Siska 🤔
Anonim
AWOKAWOK CERITA BALIKAN LAGI AWOKAWOK LAWAK
Finus Ina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!