Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 6
Ruang tamu itu mendadak terasa menyesakkan bagi Damian. Dia terus mondar-mandir, bunyi langkah sepatunya yang beradu dengan lantai marmer terdengar begitu nyaring di tengah kesunyian rumah yang biasanya hangat oleh kehadiran Alysia dan Arkhasa.
Damian baru saja melepas jasnya dan melemparnya sembarangan ke atas sofa. Dia menyugar rambutnya ke belakang dengan frustrasi. Pikirannya tidak bisa lepas dari notifikasi perbankan yang berderet di layar ponselnya. Empat puluh lima juta... dua ratus dua juta... lima belas juta.
Itu bukan masalah uang. Damian bisa menghasilkan puluhan kali lipat jumlah itu dalam waktu singkat. Yang membuatnya gelisah adalah perubahan polanya.
Selama enam tahun, Alysia adalah definisi dari kesetiaan yang tenang dan kepatuhan yang membosankan. Istrinya itu tidak pernah menuntut, tidak pernah pamer, dan selalu memposisikan dirinya di bayang-bayang Damian. Namun hari ini, Alysia seolah meledak.
Apa dia tahu soal Berlian?
Pertanyaan itu menghantam dadanya seperti palu godam. Damian mencoba menepisnya, namun rasa dingin mulai merayap di tengkuknya. Jika Alysia tahu, ini bukan sekedar belanja ini adalah pernyataan perang.
"Sial," umpatnya lirih.
Dia kembali duduk, lalu berdiri lagi sedetik kemudian. Dia meraih gelas air di meja, meneguknya hingga habis, namun dahaganya tak hilang. Gelisah itu menjalar ke ujung jemarinya. Dia melirik jam dinding yang detakannya kini terdengar seperti dentuman drum di telinganya.
Sudah lebih dari satu jam semenjak dia memerintahkan Bibi untuk menghubungi Alysia, namun belum ada tanda-tanda mobil istrinya memasuki gerbang.
Damian berjalan ke arah jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Dia menyibak sedikit tirai, mengintip ke arah jalanan gelap di luar. Kosong. Hanya lampu taman yang menyorot sepi. Bahkan dia belum mengganti pakaiannya.
Dia merasa bodoh untuk pertama kalinya. Mengapa aku harus menunggu di sini seperti suami yang sedang dihakimi? Egonya terus berteriak agar dia pergi ke kamar dan mengunci diri, agar dia bisa bersikap tak peduli saat Alysia pulang nanti.
Namun, ada dorongan lain yang jauh lebih kuat, sebuah kecemasan yang selama ini ia tekan dalam-dalam. Takut kehilangan.
Damian tidak mencintai Alysia. Begitu yang dia katakan pada dirinya sendiri. Tapi, membayangkan rumah ini tanpa kehadiran wanita itu, membayangkan rutinitas yang diatur dengan sempurna oleh Alysia menghilang, membuatnya merasa kehilangan pijakan.
Tiba-tiba, lampu sorot dari sebuah mobil menyapu dinding ruang tamu. Damian terlonjak. Dia buru-buru mengatur napasnya, mencoba memasang kembali topeng dinginnya. Dia kembali ke sofa, duduk dengan kaki menyilang, dan berusaha bersikap acuh tak acuh.
Namun, tangannya yang berada di bawah meja terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Suara mesin mobil berhenti. Suara pintu mobil tertutup.
Namun tak ada suara tawa Arkhasa, apa mungkin anaknya sudah tertidur. Apalagi jam hampir menunjukkan pukul setengah sepuluh. Cukup lama dia menunggu hingga akhirnya pintu di buka oleh bibi. Mungkin Alysia menghubungi Bibi untuk membantunya membukakan pintu.
Benar saja, Alysia datang sambil menggendong Arkhasa yang sedang terlelap dalam pangkuannya. Damian melirik dan tanpa di minta dia mengambil alih Arkhasa dari gendongan Alysia.
Alysia bersikap biasa dengan perlakuan Damian tersebut, tak adarasa kaget atau wajah merona seperti yang terlihat jika mereka berada di jarak yang berdekatan.
Damian membawa anaknya ke dalam kamar, di ikuti oleh Alysia.
Di dalam kamar Arkhasa yang temaram, Damian membaringkan tubuh kecil itu dengan hati-hati. Keheningan ruangan itu begitu mencekik. Setelah memastikan selimut menutupi Arkhasa dengan sempurna, Damian berdiri dan berbalik, mendapati Alysia yang juga berada di sana menyimpan beberapa barang milik anak sambungnya.
Tak sengaja tatapan mereka bertemu. Namun Damian merasakan ada yang berbeda dari tatapan istrinya. Bukan tatapan lembut yang biasa, bukan pula tatapan tunduk yang selama enam tahun ini selalu ia terima. Tatapan itu datar, dingin, dan penuh dengan jarak.
"Bisa kita bicara?" tanya Damian. Suaranya rendah, berusaha terdengar otoriter meski hatinya masih berpacu kencang.
Alysia tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya berbalik dan mengikuti langkah kaki suaminya dari belakang. Langkah Damian masuk ke dalam kamar mereka membuat kening Alysia berkerut. Biasanya mereka akan berbicara di ruang keluarga.
Damian menutup pintu kamar dengan bunyi klik yang cukup keras, sebuah isyarat ketegangan yang dia sengaja ciptakan untuk menutupi gemuruh di dadanya. Dia tidak membuang waktu. Dia memutar tubuh, menyudutkan Alysia di dekat meja rias. Meja yang selama enam tahun ini hampir tidak pernah tersentuh barang-barang mewah karena Alysia selalu merasa cukup dengan apa yang ada.
"Bukannya kamu ke Singapura, Mas? Kok kamu sudah ada di sini? Apa tidak jadi bertemu klien di Singapuranya?" tanya Alysia memulai pembicaraan sebelum Damian membuka mulut.
"Jangan membahas yang lain dulu!" jawab Damian mengunci tatapan matanya pada manik Alysia yang bening dan bulat.
Cantik. Untuk pertama kalinya dia melihat dengan jelas wajah cantik sang istri selama enam tahun ini. Ini pertama kalinya dia melihat wajah istrinya dengan jelas.
"Jelaskan," desis Damian, suaranya parau.
"Apa maksud dari transaksi itu, Alysia? Kamu bukan orang yang impulsif. Kamu tidak pernah menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk kesenangan pribadi. Apa yang sebenarnya terjadi hari ini? Selama enam tahun kamu tak pernah melakukan hal seperti ini, Alysia! Ada apa?"
Alysia tidak mundur. Dia justru berdiri tegak, menyilangkan tangannya di depan dada. Gaun sutra yang membalut tubuhnya memberikan kesan yang begitu asing, jauh dari sosok istri yang selama ini selalu mengenakan daster atau pakaian rumah sederhana.
"Maksudnya apa?" Alysia mengulang pertanyaan itu dengan nada tenang yang justru membuat darah Damian mendidih.
"Apa maksudmu dengan 'apa yang terjadi'? Apakah kamu merasa keberatan karena kartu kredit itu akhirnya digunakan untuk diriku sendiri, bukan untuk keperluan rumah tangga?" tanya Alysia.
"Jangan memutar balikkan fakta!" bentak Damian, membuat napas Alysia sedikit tersentak meski ekspresinya tetap dingin.
"Kamu tidak pernah menuntut. Kamu tidak pernah bergaya. Tapi tiba-tiba kamu menghabiskan ratusan juta dalam satu hari setelah kamu tahu aku pergi. Kamu ingin menarik perhatian siapa, Alysia? Atau kamu sedang mencoba mencari perhatianku?"
Damian mendekat, memangkas jarak hingga dia bisa mencium aroma parfum mahal yang kini melekat pada tubuh istrinya. Bukan aroma parfum lembut yang biasa di gunakan Alysia selama enam tahun ini.
"Tidak Mas, aku hanya sedang ingin berbelanja saja. Kalau memang tidak boleh aku bisa kembalikan semua barangnya padamu. Sebentar aku ambil dulu ada di bagasi mobil," jawab Alysia tenang.
"Kembalikan?" Damian mencengkeram bahu Alysia, tidak terlalu keras, namun cukup untuk menunjukkan bahwa dia benar-benar kehilangan kendali atas emosinya.
"Bukan itu maksudku, Alysia! Aku tidak peduli dengan harganya, aku tak peduli kamu mau belanja sebanyak apapun yang kamu mau. Aku hanya peduli dengan perubahan ini! Kenapa tiba-tiba? Kenapa dengan hari ini?"
Damian menatap tajam ke arah mata istrinya, mencari jejak kebohongan, mencari tanda bahwa Alysia sedang bersandiwara. Namun, yang dia temukan hanyalah ketenangan yang menghancurkan egonya.
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,
terlalu takut kehilangan harta Dunia ,,
skraaang yg perlu km lakuin hanya memperbaiki semua ny Damian sblm bnr2 terlambaat