NovelToon NovelToon
Hanya Ibu Untuk Anakmu, Mas!

Hanya Ibu Untuk Anakmu, Mas!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:80.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.

Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.

“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.

Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alysia 6

Ruang tamu itu mendadak terasa menyesakkan bagi Damian. Dia terus mondar-mandir, bunyi langkah sepatunya yang beradu dengan lantai marmer terdengar begitu nyaring di tengah kesunyian rumah yang biasanya hangat oleh kehadiran Alysia dan Arkhasa.

Damian baru saja melepas jasnya dan melemparnya sembarangan ke atas sofa. Dia menyugar rambutnya ke belakang dengan frustrasi. Pikirannya tidak bisa lepas dari notifikasi perbankan yang berderet di layar ponselnya. Empat puluh lima juta... dua ratus dua juta... lima belas juta.

Itu bukan masalah uang. Damian bisa menghasilkan puluhan kali lipat jumlah itu dalam waktu singkat. Yang membuatnya gelisah adalah perubahan polanya.

Selama enam tahun, Alysia adalah definisi dari kesetiaan yang tenang dan kepatuhan yang membosankan. Istrinya itu tidak pernah menuntut, tidak pernah pamer, dan selalu memposisikan dirinya di bayang-bayang Damian. Namun hari ini, Alysia seolah meledak.

Apa dia tahu soal Berlian?

Pertanyaan itu menghantam dadanya seperti palu godam. Damian mencoba menepisnya, namun rasa dingin mulai merayap di tengkuknya. Jika Alysia tahu, ini bukan sekedar belanja ini adalah pernyataan perang.

"Sial," umpatnya lirih.

Dia kembali duduk, lalu berdiri lagi sedetik kemudian. Dia meraih gelas air di meja, meneguknya hingga habis, namun dahaganya tak hilang. Gelisah itu menjalar ke ujung jemarinya. Dia melirik jam dinding yang detakannya kini terdengar seperti dentuman drum di telinganya.

Sudah lebih dari satu jam semenjak dia memerintahkan Bibi untuk menghubungi Alysia, namun belum ada tanda-tanda mobil istrinya memasuki gerbang.

Damian berjalan ke arah jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Dia menyibak sedikit tirai, mengintip ke arah jalanan gelap di luar. Kosong. Hanya lampu taman yang menyorot sepi. Bahkan dia belum mengganti pakaiannya.

Dia merasa bodoh untuk pertama kalinya. Mengapa aku harus menunggu di sini seperti suami yang sedang dihakimi? Egonya terus berteriak agar dia pergi ke kamar dan mengunci diri, agar dia bisa bersikap tak peduli saat Alysia pulang nanti.

Namun, ada dorongan lain yang jauh lebih kuat, sebuah kecemasan yang selama ini ia tekan dalam-dalam. Takut kehilangan.

Damian tidak mencintai Alysia. Begitu yang dia katakan pada dirinya sendiri. Tapi, membayangkan rumah ini tanpa kehadiran wanita itu, membayangkan rutinitas yang diatur dengan sempurna oleh Alysia menghilang, membuatnya merasa kehilangan pijakan.

Tiba-tiba, lampu sorot dari sebuah mobil menyapu dinding ruang tamu. Damian terlonjak. Dia buru-buru mengatur napasnya, mencoba memasang kembali topeng dinginnya. Dia kembali ke sofa, duduk dengan kaki menyilang, dan berusaha bersikap acuh tak acuh.

Namun, tangannya yang berada di bawah meja terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Suara mesin mobil berhenti. Suara pintu mobil tertutup.

Namun tak ada suara tawa Arkhasa, apa mungkin anaknya sudah tertidur. Apalagi jam hampir menunjukkan pukul setengah sepuluh. Cukup lama dia menunggu hingga akhirnya pintu di buka oleh bibi. Mungkin Alysia menghubungi Bibi untuk membantunya membukakan pintu.

Benar saja, Alysia datang sambil menggendong Arkhasa yang sedang terlelap dalam pangkuannya. Damian melirik dan tanpa di minta dia mengambil alih Arkhasa dari gendongan Alysia.

Alysia bersikap biasa dengan perlakuan Damian tersebut, tak adarasa kaget atau wajah merona seperti yang terlihat jika mereka berada di jarak yang berdekatan.

Damian membawa anaknya ke dalam kamar, di ikuti oleh Alysia.

Di dalam kamar Arkhasa yang temaram, Damian membaringkan tubuh kecil itu dengan hati-hati. Keheningan ruangan itu begitu mencekik. Setelah memastikan selimut menutupi Arkhasa dengan sempurna, Damian berdiri dan berbalik, mendapati Alysia yang juga berada di sana menyimpan beberapa barang milik anak sambungnya.

Tak sengaja tatapan mereka bertemu. Namun Damian merasakan ada yang berbeda dari tatapan istrinya. Bukan tatapan lembut yang biasa, bukan pula tatapan tunduk yang selama enam tahun ini selalu ia terima. Tatapan itu datar, dingin, dan penuh dengan jarak.

"Bisa kita bicara?" tanya Damian. Suaranya rendah, berusaha terdengar otoriter meski hatinya masih berpacu kencang.

Alysia tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya berbalik dan mengikuti langkah kaki suaminya dari belakang. Langkah Damian masuk ke dalam kamar mereka membuat kening Alysia berkerut. Biasanya mereka akan berbicara di ruang keluarga.

Damian menutup pintu kamar dengan bunyi klik yang cukup keras, sebuah isyarat ketegangan yang dia sengaja ciptakan untuk menutupi gemuruh di dadanya. Dia tidak membuang waktu. Dia memutar tubuh, menyudutkan Alysia di dekat meja rias. Meja yang selama enam tahun ini hampir tidak pernah tersentuh barang-barang mewah karena Alysia selalu merasa cukup dengan apa yang ada.

"Bukannya kamu ke Singapura, Mas? Kok kamu sudah ada di sini? Apa tidak jadi bertemu klien di Singapuranya?" tanya Alysia memulai pembicaraan sebelum Damian membuka mulut.

"Jangan membahas yang lain dulu!" jawab Damian mengunci tatapan matanya pada manik Alysia yang bening dan bulat.

Cantik. Untuk pertama kalinya dia melihat dengan jelas wajah cantik sang istri selama enam tahun ini. Ini pertama kalinya dia melihat wajah istrinya dengan jelas.

"Jelaskan," desis Damian, suaranya parau.

"Apa maksud dari transaksi itu, Alysia? Kamu bukan orang yang impulsif. Kamu tidak pernah menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk kesenangan pribadi. Apa yang sebenarnya terjadi hari ini? Selama enam tahun kamu tak pernah melakukan hal seperti ini, Alysia! Ada apa?"

​Alysia tidak mundur. Dia justru berdiri tegak, menyilangkan tangannya di depan dada. Gaun sutra yang membalut tubuhnya memberikan kesan yang begitu asing, jauh dari sosok istri yang selama ini selalu mengenakan daster atau pakaian rumah sederhana.

"Maksudnya apa?" Alysia mengulang pertanyaan itu dengan nada tenang yang justru membuat darah Damian mendidih.

"Apa maksudmu dengan 'apa yang terjadi'? Apakah kamu merasa keberatan karena kartu kredit itu akhirnya digunakan untuk diriku sendiri, bukan untuk keperluan rumah tangga?" tanya Alysia.

"Jangan memutar balikkan fakta!" bentak Damian, membuat napas Alysia sedikit tersentak meski ekspresinya tetap dingin.

"Kamu tidak pernah menuntut. Kamu tidak pernah bergaya. Tapi tiba-tiba kamu menghabiskan ratusan juta dalam satu hari setelah kamu tahu aku pergi. Kamu ingin menarik perhatian siapa, Alysia? Atau kamu sedang mencoba mencari perhatianku?"

Damian mendekat, memangkas jarak hingga dia bisa mencium aroma parfum mahal yang kini melekat pada tubuh istrinya. Bukan aroma parfum lembut yang biasa di gunakan Alysia selama enam tahun ini.

"Tidak Mas, aku hanya sedang ingin berbelanja saja. Kalau memang tidak boleh aku bisa kembalikan semua barangnya padamu. Sebentar aku ambil dulu ada di bagasi mobil," jawab Alysia tenang.

"Kembalikan?" Damian mencengkeram bahu Alysia, tidak terlalu keras, namun cukup untuk menunjukkan bahwa dia benar-benar kehilangan kendali atas emosinya.

"Bukan itu maksudku, Alysia! Aku tidak peduli dengan harganya, aku tak peduli kamu mau belanja sebanyak apapun yang kamu mau. Aku hanya peduli dengan perubahan ini! Kenapa tiba-tiba? Kenapa dengan hari ini?"

Damian menatap tajam ke arah mata istrinya, mencari jejak kebohongan, mencari tanda bahwa Alysia sedang bersandiwara. Namun, yang dia temukan hanyalah ketenangan yang menghancurkan egonya.

1
Muft Smoker
Mantaap👍👍👍👍
Muft Smoker
waah alhamdullah udh tamat dg ending yg di harap kan ,,
HAPPY ,,
mom zie ,,
makasih buat kerja keras ny sehinggga menghasil kan cerita hebat yg memberi kami para pembaca pelajaran ,,
sukses trus buat mom zie ,,
Dan sehat selalu ,,
sampai bertemu lgi di cerita kk yg baru ,,
luph2 sakebon pak rt ,,
🫰🫰🫰🫰🥰🥰🥰🥰🥰😁😁😁😁
Ambu Rinddiany Thea
Alhamdulillah happy ending maaak ... bahagia dah klo seperti ini mah 🥰🥰🥰
nely_48
happy ending 🥰🥰🥰🥰🥰
terimaksih kk outhor untuk semua karya-karya mu, sukses sll untuk karya baru mu 🥰🥰🥰🥰🥰
nely_48
akhirnya Dimitri sehan kembali, bs hidup bersama dgn Damian n alysia menjaga arkhasya n elano
nely_48
semangat sembuh Dimitri
nely_48
welcome home adik elano
Ambu Rinddiany Thea
Alhamdulillah ya Dimitri udh mau berjuang untuk sembuh total, semoga kebahagiaan terus menyertai kalian semua , d jauh kan dari orang2 yg berniat jahat ... aamiin .🥰🥰
Muft Smoker
cepat sembuuuh Dimitri ,, msh ad arkha yg menunggu km pulang tanpa harus balik lgi ke RSJ ,, 😁😁
Ambu Rinddiany Thea: betul itu
total 1 replies
nely_48
semangat sembuh n kembali normal Dimitri
nely_48
selamat ya alysia atas kelahiran baby boy nya
Muft Smoker
akhirny keluarga mereka kembali utuh ,, meski Dimitri Blum sepenuhny pulih ,, meski tanpa meylan Dan bu chintya yg terlambaat menyadari kesalahan ny ,,
tp melihat mereka saat ini ,, bukan kaah hanya kebahagiaan yg mereka rasakan ,,
nely_48
syukur lah akhirnya Dimitri sembuh n normal kembali
waw alysia mau melahirkan pas lg berkunjung d RSJ tempat Dimitri d rawat,, sing lungsur lancar ya alysia proses melahirkan nya
nely_48
lekas pulih n normal kembali Dimitri
Muft Smoker
Luka seorang anak akibat ke egiosan sang ibu demi ambisi ,,
nely_48
semoga bu cyntiya tenang d alam sana, klau nanti ketemu sm meylin trs gelud d alam sana awas jgn balik lg ya bu cyntiya
Muft Smoker: ok ,, aq juga dukung 1000% kak ,,
😂😂
total 7 replies
nely_48
astaga Dimitri 🤭
Muft Smoker
yaaaaa Rian ,, Ari maneeeh ,, ulah di omongkeun heula atuuh ,,
hoyong di kadek siga na si Rian ,, jdi ngareog kan si Dimitri ,,
buru geura di ais si Dimitri na ku maneh ,,😒😒😒😒😒😒😒😒
Ambu Rinddiany Thea
dih ari s rian weh gawe ath bet ngomng kitu , jempe we nya kedeui ngomng kituna ges nepi rs ..😩
Ambu Rinddiany Thea: dasar mudasir ya mak 🤣
total 4 replies
nely_48
Dimitri km jgn ngamuk d jln,, nanti ngamuk nya pas udh ketemu ibu mu
nely_48: 🤭🤭 kasian sm perawat n Riyan ath ngamuk d jln mh
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!