Pria yang selama ini mereka remehkan adalah Dewa Perang yang mampu menghancurkan kerajaan dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Sret.
Tirai ruang ganti butik eksklusif itu ditarik terbuka dengan cukup kasar.
Devan melangkah keluar dari dalam ruangan kecil itu sambil membenarkan kancing manset di pergelangan tangannya.
Clarissa yang sedang duduk menyilangkan kaki di sofa beludru merah langsung menghentikan gerakan tangannya yang sedang menggeser layar tablet.
Mata wanita itu sedikit membulat melihat penampilan pria di depannya.
Setelan jas hitam legam dengan potongan rapi yang membalut tubuh Devan terlihat sangat sempurna.
Pakaian itu seolah memang dijahit khusus untuk menonjolkan bahu lebarnya dan postur tubuhnya yang tegap.
"Bagaimana bos, apakah aku sudah terlihat seperti pria hidung belang kaya raya sekarang?" tanya Devan sambil menyeringai kecil.
Clarissa buru-buru berdeham dan mengalihkan pandangannya kembali ke layar tablet untuk menutupi rasa gugupnya.
"Lumayan, setidaknya kamu tidak akan membuatku malu saat berdiri di depan keluarga Sanjaya nanti," jawab Clarissa dengan nada yang sengaja dibuat sedingin mungkin.
Seorang desainer pria paruh baya menghampiri mereka dengan senyum lebar yang terlihat sangat bangga.
"Nyonya Clarissa, saya harus mengakui kalau suami Anda memiliki proporsi tubuh yang luar biasa sempurna," puji desainer itu dengan jujur.
"Bahkan model profesional langganan kami pun kalah jauh jika dibandingkan dengan Tuan Devan ini."
Clarissa hanya mengangguk pelan mendengar pujian itu.
"Bungkus jas yang dia pakai ini, dan siapkan tiga setelan lain dengan warna berbeda untuk dikirim ke rumahku besok pagi," perintah Clarissa tanpa repot-repot menanyakan harganya.
Setelah urusan pakaian selesai, mereka berdua kembali masuk ke dalam mobil sport milik Clarissa.
Langit kota mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan menandakan hari sudah mulai gelap.
Clarissa menyalakan mesin mobil, namun dia tidak langsung menginjak pedal gasnya.
Wanita itu menempelkan dahinya di atas setir mobil sambil menarik napas panjang beberapa kali.
Devan bisa melihat dengan jelas kedua tangan Clarissa sedikit gemetar.
"Bos, kalau kamu memang setakut itu, kita bisa memutar balik sekarang dan makan nasi goreng di pinggir jalan saja," tawar Devan dengan nada santai memecah keheningan.
Clarissa langsung menegakkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah Devan.
"Jangan konyol, aku ini Clarissa dari Grup Rajawali, aku tidak pernah lari dari pertempuran," bantah Clarissa meski suaranya terdengar sedikit bergetar.
"Keluarga Sanjaya itu dipimpin oleh Bram Sanjaya, pria tua bangka yang sangat kejam dan menghalalkan segala cara."
"Lalu ada anak sulungnya, Leo Sanjaya, pria sombong yang awalnya akan dijodohkan denganku malam ini."
Clarissa menatap lurus ke depan dengan tatapan penuh kebencian.
"Mereka pasti akan mencari segala cara untuk menginjak-injak harga dirimu di sana nanti, Devan."
Devan menguap pelan sambil meregangkan kedua tangannya ke atas.
"Tenang saja istriku sayang, aku sudah terbiasa diinjak-injak orang kok," canda Devan yang langsung mendapat delikan tajam dari Clarissa karena panggilan sayang itu.
Brum.
Mobil mewah itu akhirnya melaju membelah jalanan kota menuju kawasan perumahan paling elit yang letaknya berada di atas perbukitan.
Kediaman utama Keluarga Sanjaya terlihat seperti sebuah kastil modern yang dijaga sangat ketat oleh puluhan pria berjas hitam di setiap sudutnya.
Saat mobil Clarissa berhenti di depan lobi utama, seorang petugas valet segera berlari mendekat untuk membukakan pintu.
Devan turun dari mobil dan langsung memutari kap depan untuk menghampiri pintu Clarissa.
Dia menyodorkan lengan kirinya ke arah wanita cantik yang baru saja turun dari mobil itu.
"Apa ini?" tanya Clarissa mengerutkan keningnya menatap lengan Devan.