"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Pengadilan Sepihak di Tengah Malam
Bab 8: Pengadilan Sepihak di Tengah Malam
Jarum jam merayap ke angka satu dini hari ketika deru mesin mobil Adrian memecah keheningan halaman rumah. Langkah kakinya terdengar berat dan tergesa-gesa saat memasuki ruang tengah. Wajah tampan pria itu tampak ditekuk, memancarkan aura kekesalan yang pekat setelah menerima telepon pengaduan yang histeris dari ibunya beberapa jam lalu saat ia masih berada di restoran.
Begitu pintu depan tertutup, Ibu Broto langsung keluar dari kamarnya dengan langkah yang sengaja dibuat terhuyung-huyung, seolah-olah ia baru saja melewati hari yang amat melelahkan akibat tekanan batin. Di belakangnya, Santi mengekor dengan kepala menunduk, mengenakan kaos oblong longgar milik Ibu Broto yang sengaja dipasang untuk memberikan kesan bahwa ia adalah korban yang sedang dilindungi.
"Adrian! Akhirnya kamu pulang juga, Le..." seru Ibu Broto dengan suara melengking yang tertahan, langsung menggandeng lengan anaknya. "Kamu harus tegas malam ini! Ibu sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan Hana di rumah ini. Dia sudah berani bertindak kasar dan menindas Santi di dapur sampai anak ini ketakutan setengah mati!"
Adrian menghela napas kasar. Ia melonggarkan ikatan dasinya dengan sentakan jengkel, lalu melemparkan tas kerjanya ke atas sofa marmer. Pandangan matanya yang dingin dan tajam langsung diarahkan ke atas, menatap koridor lantai dua di mana Hana baru saja keluar dari kamar setelah mendengar keributan di bawah.
"Hana! Turun kamu!" panggil Adrian dengan suara baritonnya yang menggelegar, bergaung di setiap sudut ruangan yang sepi.
Hana menarik napas dalam-dalam. Sambil memegangi perutnya yang terasa sedikit kram akibat kelelahan psikologis, ia melangkah turun setapak demi setapak dengan sangat perlahan. Di bawah sana, suaminya berdiri bagai seorang hakim yang siap menjatuhkan vonis, tanpa pernah berniat menanyakan kebenaran dari sudut pandangnya terlebih dahulu.
"Ada apa lagi, Mas? Ini sudah tengah malam," ucap Hana tenang begitu kakinya menapak di lantai bawah.
"Ada apa kamu tanya?!" bentak Adrian, melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa dua langkah. Aroma alkohol samar dan sisa asap rokok kembali tercium dari pakaiannya, membuat ulu hati Hana bergejolak mual. "Ibu sudah menceritakan semuanya padaku! Kamu memaki-maki Santi, menuduhnya yang tidak-tidak, bahkan sampai membuatnya menangis ketakutan di lantai dapur harian! Apa belum cukup kamu membuat suasana rumah ini tegang sejak kita pulang dari kampung, hah?!"
Hana menatap lurus ke dalam manik mata Adrian, mencari sisa-sisa keadilan yang mungkin masih terselip di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah kabut amarah dan rasa risih yang mendalam.
"Mas, apa kamu pernah sekali saja mendengarkan penjelasanku sebelum kamu membentakku seperti ini?" tanya Hana, suaranya bergetar namun matanya menolak untuk menumpahkan air mata di depan ketiga orang itu. "Santi memecahkan botol susu itu sendiri, lalu menjatuhkan dirinya ke lantai begitu mendengar suara langkah kaki Ibu pulang. Dia sengaja membuat skenario seolah-olah aku yang menyakitinya."
"Bohong, Mas Adrian!" Santi mendadak memotong dengan suara cicitan yang manja, air mata buatannya kembali mengalir membasahi pipinya yang sawo matang. Ia sengaja melangkah maju berlindung di balik punggung bidang Adrian, jemari mungilnya dengan berani meremas ujung kemeja bagian belakang Adrian. "Santi tidak berani berbohong... Mbak Hana tadi siang memang bilang kalau Santi centil dan mau mengusir Santi. Santi cuma mau bantu buat kopi dan berbenah, Mas... Santi takut..."
Sentuhan tangan Santi di punggungnya tampaknya memberikan stimulus tersendiri bagi Adrian. Pria itu semakin mengabaikan Hana. Ia menepis tangan Hana yang hendak menyentuh lengannya.
"Cukup, Hana! Jangan membela diri lagi dengan memutarbalikkan fakta!" seru Adrian dengan nada final yang teramat dingin. "Santi tidak mungkin berani melakukan hal sejauh itu kalau kamu tidak memulainya duluan. Aku tahu kamu sedang sensitif karena hamil, tapi bukan berarti kamu bisa bertindak semena-mena sebagai nyonya rumah kepada pekerja yang sudah membantuku!"
Ibu Broto tersenyum sinis melihat pembelaan mutlak dari anaknya. Ia maju selangkah, menatap Hana dengan pandangan meremehkan yang luar biasa. "Makanya, Adrian. Perempuan kalau sudah merasa punya andil dalam cari uang, jadinya sombong begini. Angkuh! Tidak tahu cara menghormati suami dan mertua. Sudah bagus kamu ambil alih semua urusan restoran, biar dia sadar kalau tanpa kamu, dia itu bukan siapa-siapa!"
Kata-kata Ibu Broto bagai palu godam yang menghantam harga diri Hana hingga berkeping-keping. Namun, di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, ada sesuatu yang mendadak mengkristal di dalam dada Hana. Rasa cintanya pada Adrian yang telah ia pupuk selama lima tahun terakhir, malam ini resmi mati total, menguap bersama angin malam yang berembus masuk lewat celah jendela. Pria di depannya bukan lagi suaminya; ia hanyalah seekor serigala serakah yang sedang menikmati hasil jarahan bersama ibunya dan selingkuhan terselubungnya.
"Jadi... ini keputusanmu, Mas? Kamu lebih percaya pada kata-kata seorang pekerja baru dibanding istrimu sendiri?" tanya Hana, suaranya kini berubah menjadi sangat datar, tanpa ada lagi nada memohon atau kesedihan yang tersisa.
Adrian memalingkan wajahnya, enggan menatap mata Hana yang mendadak berubah menjadi sedingin es. "Aku tidak mau berdebat lagi. Mulai besok, ponselmu juga akan aku batasi penggunaannya. Kamu tidak usah menghubungi orang-orang dari restoran lagi. Fokus saja pada kandunganmu di kamar atas, dan biarkan Santi serta Ibu yang mengurus lantai bawah. Ini demi kebaikanmu dan anak kita."
Hana tidak membalas lagi. Ia memutar tubuhnya perlahan, melangkah kembali menaiki tangga menuju kamarnya tanpa menoleh ke belakang. Di bawah, ia bisa mendengar bisikan lembut Santi yang mengucapkan terima kasih kepada Adrian, disusul oleh suara elusan manja Ibu Broto pada bahu anaknya.
Kamar tidur utama yang luas itu kini terasa seperti sel penjara bagi Hana. Begitu pintu dikunci dari dalam, Hana berjalan mendekati meja riasnya. Tangan yang tadi gemetar kini berubah menjadi sangat kokoh. Ia membuka laci paling bawah, mengambil buku catatan resep tebal yang beberapa hari lalu diberikan oleh Ibu Broto.
Hana menyalakan lampu meja yang temaram, mengambil pena, lalu membuka halaman yang memuat resep utama "Ayam Bakar Bumbu Rujak" dan "Sambal Bajak" yang menjadi menu paling laris di ketiga cabang restorannya.
Dengan guratan pena yang tegas, Hana menuliskan formula bumbunya. Namun, di setiap takaran rempah penting seperti ketumbar, jinten, dan asam jawa, Hana sengaja menguranginya sebanyak tiga puluh persen, lalu menggantinya dengan takaran gula merah dan garam yang lebih tinggi. Secara kasat mata, bumbu ini akan menghasilkan warna merah menyala yang sangat cantik saat difoto, dan rasanya akan terasa sangat gurih pada gigitan pertama. Namun, Hana tahu betul rahasia kuliner: perpaduan itu akan meninggalkan rasa getir yang menusuk di tenggorokan setelah tiga suapan, dan bumbunya tidak akan mampu bertahan lama di dalam suhu ruang harian tanpa memicu proses pembusukan yang lebih cepat.
Kalian ingin menyingkirkan aku dari bisnis yang aku bangun dengan darah dan air mata? bisik Hana dalam hati, sebuah senyuman misterius yang teramat dingin terukir di bibirnya yang pucat. Silakan ambil resep ini. Pakai bumbu ini di semua cabang kalian. Aku akan memastikan, dalam waktu beberapa bulan ke depan, ulasan buruk dari para kritikus kuliner dan pelanggan setia akan mulai meruntuhkan takhta megah yang kalian banggakan ini secara perlahan.
Hana menutup buku catatan itu dengan dentuman pelan. Langkah pertamanya dalam skenario balas dendam tersembunyi ini telah selesai dirancang. Ia meletakkan buku itu di atas meja, siap diserahkan kepada Ibu Broto keesokan harinya sebagai simbol "kepatuhan palsu" dirinya.
Keesokan paginya, suasana rumah terasa sedikit berbeda. Adrian sudah berangkat sangat pagi untuk menghadiri pertemuan dengan vendor bahan baku baru di luar kota, meninggalkan rumah dalam kendali penuh Ibu Broto dan Santi.
Hana turun ke lantai bawah membawa buku resep tebal itu di tangannya. Di ruang tengah, Ibu Broto sedang asyik menonton televisi sembari menikmati camilan pasar yang disiapkan oleh Santi.
"Ibu," panggil Hana lembut, memalsukan ekspresi wajahnya menjadi tampak lesu, takut, dan sepenuhnya pasrah layaknya seorang istri tertindas yang telah kehilangan taringnya.
Ibu Broto menoleh, matanya langsung tertuju pada buku tebal di tangan Hana. "Oh, sudah selesai kamu tulis?" tanya Ibu Broto dengan nada suara yang ketus namun matanya berbinar penuh keserakahan.
"Sudah, Ibu," jawab Hana sembari menyerahkan buku itu dengan kedua tangannya yang sengaja dibuat sedikit gemetar. "Hana sudah menuliskan semua formula bumbu inti untuk tiga cabang dengan sangat detail di sana. Hana sadar... Hana tidak sepesat dulu lagi dalam mengurus bisnis. Hana hanya ingin fokus menjaga kandungan ini demi Mas Adrian. Tolong serahkan ini pada Mas Adrian agar operasional restoran bisa berjalan lancar tanpa Hana."
Ibu Broto menyambar buku itu dari tangan Hana dengan gerakan cepat, seolah-olah takut Hana akan menariknya kembali. Ia membuka halaman-halaman di dalamnya, membaca deretan angka dan takaran gramasi yang ditulis Hana dengan senyuman puas yang mengerikan.
"Nah! Begitu dong dari dulu! Jadi istri itu harus tahu diri, tahu posisi!" ujar Ibu Broto dengan tawa sinis yang tertahan. "Kalau kamu penurut begini kan Adrian juga tidak akan marah-marah malam-malam. Ya sudah, sekarang kamu kembali ke atas. Nanti biar Santi yang mengantarkan makanan siangmu ke kamar. Kamu tidak usah repot-repot turun lagi kalau tidak penting."
"Baik, Ibu. Terima kasih," ucap Hana lirih. Ia menundukkan kepalanya, memberikan kesan ketundukan mutlak, lalu berbalik berjalan kembali menuju lantai atas.
Dari balik pundaknya, Hana sempat melirik ke arah lorong dapur. Di sana, Santi sedang berdiri bersandar di pintu, menatap kepergian Hana dengan senyuman kemenangan yang teramat lebar. Santi merasa, dengan diserahkannya resep itu dan terisolasinya Hana di kamar atas, jalan bagi dirinya untuk sepenuhnya menggeser posisi Hana sebagai ratu di rumah ini kini telah terbuka lebar tanpa ada hambatan lagi.
Namun, Santi yang naif dan Ibu Broto yang serakah tidak pernah menyadari, bahwa buku tebal yang berada di genggaman mereka saat ini bukanlah kunci kekayaan, melainkan sebuah bom waktu berbalut madu yang diletakkan oleh Hana untuk menghancurkan seluruh impian gila mereka berkeping-keping pada saat yang paling tidak mereka duga.