NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Syahrul Mulia

Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.

Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?

Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.

Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Mahkota Dua Wajah

Deru baling-baling helikopter militer Rusia itu perlahan menyusut, membelah kabut malam Paris yang pekat dan meninggalkan keheningan yang mencekam di atas atap beton mansion faksi Volkov. Angin musim dingin yang menusuk tulang menyapu sisa-sisa jelaga ledakan, menerbangkan beberapa helai rambut Arunika yang kini berantakan. Namun, gadis itu tidak bergerak satu inci pun. Tubuhnya sekaku es, sepasang matanya menatap kosong ke langit kelam tempat helikopter itu baru saja melesat pergi.

Di sampingnya, Arsen Valentino berdiri dengan senapan serbu yang masih terarah ke langit. Pelipisnya mengalirkan darah segar yang baru, sementara kemeja putih di balik jas wolnya telah robek di beberapa bagian. Sepasang mata elang sang raja mafia menyipit, menyimpan badai amarah yang begitu pekat hingga atmosfer di atas atap terbuka itu terasa kekurangan oksigen.

"Tuan Arsen..." Marco melangkah tertatih-tatih keluar dari pintu tangga darurat, memegangi lengannya yang kian membengkak. Wajahnya dipenuhi peluh dingin. "Sistem pertahanan udara kita di sektor barat Paris telah diretas. Mereka memiliki jalur penerbangan militer khusus yang tidak bisa dilacak oleh radar sipil."

Arsen tidak menyahut. Pria itu menurunkan senjatanya dengan gerakan lambat, lalu berbalik menatap Arunika. Rahang tegasnya mengeras melihat ekspresi pengantin penggantinya yang kini tampak seperti boneka porselen yang kehilangan seluruh jiwanya. Kasih sayang, penderitaan, air mata, hingga pengorbanan yang dia lakukan selama ini untuk menyelamatkan ayahnya dari utang judi dua puluh miliar... semuanya menguap menjadi lelucon paling biadab dalam sejarah dunia bawah tanah.

"Bersihkan tempat ini, Marco," perintah Arsen, suaranya terdengar begitu datar namun mengandung daya tekan yang mematikan. "Bawa gadis ini ke jet pribadi. Kita tidak punya waktu untuk meratapi mayat di tempat ini."

Arunika tidak menolak saat Arsen merenggut lengannya dan menuntunnya menuruni tangga darurat. Pikirannya benar-benar buntu. Wajah pria tua yang selama dua puluh hai tahun ini dia panggil 'Ayah' terus terbayang di benaknya—seorang pria paruh baya yang sehari-harinya tampak lemah, gemetar ketakutan di depan moncong senjata, dan merangkak memohon ampunan di lantai ubin yang dingin. Bagaimana mungkin pria yang sama bisa berdiri tegak di atas kedua kakinya tanpa luka, memegang senjata dengan presisi militer, dan menembak mati Katarina Vane tanpa berkedip?

Perjalanan menuju bandara satelit rahasia faksi Valentino di pinggiran Paris berlangsung dalam keheningan yang kaku. Di dalam kabin mobil sedan antipeluru yang melaju membelah jalanan kota mode, Arunika hanya menatap belati kecil di tangannya yang masih menyisakan noda darah kering milik pelayan pembunuh tadi. Emosinya telah diperas habis hingga ke titik mati. Dia bukan lagi seorang gadis yang ketakutan; dia adalah wadah kosong yang siap diisi oleh racun dendam yang baru.

Dua jam kemudian, jet pribadi faksi Valentino lepas landas menembus awan musim dingin, terbang menuju wilayah perairan internasional tempat kapal induk logistik mereka berada. Di dalam kabin jet yang mewah namun terasa mencekik, Arsen duduk di meja kerja mahoninya, memeriksa deretan berkas digital kuno faksi Valentino yang dikirimkan oleh tim intelijen pusat dari Indonesia.

Arunika bangkit dari kursi penumpang, melangkah perlahan mendekati Arsen. Kemeja hitam besar milik Arsen yang masih dikenakannya terasa longgar, mengayun mengikuti langkah kakinya yang kini terasa mantap, dilapisi sepatu bot taktis milik pengawal yang tewas.

"Kau tahu sesuatu, kan?" tanya Arunika, suaranya terdengar begitu luwas, dingin, dan tanpa riak emosi sedikit pun. "Kau tahu siapa pria yang selama ini kupanggil Ayah itu sebenarnya."

Arsen perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata hampa Arunika. Pria itu menyandarkan punggung tegapnya di kursi kulit, memutar-mutar pemantik perak di jemarinya yang kokoh.

"Dunia bawah tanah selalu memiliki cerita tentang para raja yang memalsukan kematian mereka untuk membangun fondasi baru di balik bayang-bayang, Valeria," ucap Arsen, sengaja menggunakan nama palsu itu untuk mempertegas panggung sandiwara baru mereka.

"Selama sepuluh tahun ini, aku memburu sisa-sisa darah faksi Eclipse karena aku mengira Katarina Vane adalah otak di balik pembantaian ibuku. Namun, ada satu berkas rahasia milik mendiang ayahku yang baru saja didekripsi oleh Marco semenit yang lalu."

Arsen melemparkan sebuah gawai tablet ke atas meja mahoni, menampilkan selembar dokumen foto militer kuno dari era Uni Soviet yang telah menguning di bagian sudutnya.

Di dalam foto itu, berdiri tiga orang pria muda dengan seragam komando tertinggi faksi Volkov internasional. Di sebelah kiri adalah Alexei Volkov muda, di tengah adalah mendiang ayah Arsen, Haryo Valentino, dan di sebelah kanan... seorang pria dengan garis wajah yang sangat tegas, memegang sebilah pisau komando dengan tatapan mata yang luar biasa dingin dan manipulatif.

Arunika menatap foto itu, dan jantungnya yang semula beku mendadak berdegup kencang oleh gelombang horor yang baru. Pria di sebelah kanan itu... meskipun wajahnya jauh lebih muda dan tanpa kerutan, memiliki bentuk mata dan garis rahang yang sama persis dengan... Baskoro.

"Namanya yang asli di dalam silsilah darah tertinggi faksi Volkov bukan Baskoro," suara Arsen merendah menjadi desis berbahaya yang mengirimkan rasa ngeri ke seluruh kabin jet. "Dia adalah Boris Volkov. Adik kandung dari mendiang pemimpin tertinggi Volkov terdahulu, sekaligus paman kandung dari Valeria yang asli."

Kebenaran besar yang selama ini disembunyikan di balik labirin kebohongan akhirnya meledak di dalam kepala Arunika.

"Boris Volkov..." bisik Arunika tak percaya. "Jadi... dia bukan ayah dari Valeria? Dia adalah pamannya?"

"Tepat sekali," sahut Arsen, sebuah seringai dingin penuh intrik muncul di garis bibirnya yang kaku. "Boris adalah arsitek utama di balik perang sepuluh tahun lalu. Dia sengaja mendekati ibumu, Katarina Vane, dan menikahinya di bawah identitas palsu sebagai 'Baskoro' hanya untuk memanfaatkan keahlian menembak jitunya untuk menghancurkan faksi Valentino dari dalam. Dia yang merancang pembantaian ibuku, dia yang memicu perang faksi barat, dan dia pula yang memalsukan kelumpuhan fisiknya selama bertahun-tahun di Indonesia untuk menghindari deteksi radar pembersihanku!"

Arsen berdiri, memangkas jarak di antara mereka hingga Arunika bisa merasakan aura dominasi pria itu mengurungnya kembali. "Dia sengaja memeliharamu, menukarmu dengan keponakan kandungnya, Valeria, dan mengukir tanda lahir buatan di bahumu agar suatu saat, jika aku berhasil melacak jejaknya, aku akan menghabiskan seluruh energiku untuk menyiksa umpan palsu—yaitu kau—sementara dia dan Valeria yang asli bergerak di balik layar untuk merampas seluruh saham kerajaanku di Eropa!"

Rasa benci yang amat sangat, kemarahan defensif, dan keputusasaan yang mendalam bercampur menjadi satu di dalam dada Arunika, membentuk letupan emosi yang naik turun dengan ekstrem. Dia telah dijadikan boneka pajangan oleh seorang monster internasional yang menyamar sebagai ayahnya sendiri. Seluruh penderitaan, rasa bersalah atas kematian ibu Arsen, hingga kepasrahannya untuk ditumbalkan... semuanya hanyalah bagian dari lelucon bisnis yang dirancang oleh Boris Volkov.

"Lalu... apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Arunika, matanya kini berkilat oleh hasrat membalas dendam yang murni, sebuah kegelapan baru yang telah sepenuhnya mengambil alih jiwanya. "Boris dan Valeria memegang aset Eropa sekarang. Mereka mengira mereka telah memenangkan permainan ini."

Arsen menundukkan wajahnya, ujung hidungnya nyaris menyentuh leher Arunika tempat memar bekas cengkeramannya masih tertinggal.

"Mereka mengira chip di bahumu telah membunuhku, 'Valeria'. Mereka belum tahu bahwa kita selamat. Kita akan membiarkan mereka merayakan kemenangan palsu mereka di markas besar faksi Volkov di Rusia, sebelum kita datang membawa seluruh sisa pasukan aliansi barat untuk mencabut takhta mereka dari akar-akarnya."

Jet pribadi itu terus melaju membelah kegelapan malam internasional, menuju ke arah takdir baru yang kian berdarah dan penuh intrik politik dunia bawah tanah. Arunika mengepalkan tinjunya erat-erat, menatap lurus ke depan, bersiap untuk membuang seluruh sisa kemanusiaannya demi menghancurkan dinasti Volkov bersama sang raja mafia yang kini menjadi pemilik sah atas sisa hidupnya.

Namun, tepat di saat pesawat mulai menurunkan ketinggian untuk mendarat di pangkalan militer rahasia mereka, sebuah alarm darurat kembali berbunyi dari arah kokpit jet pribadi. Marco yang berada di kursi depan mendadak terbelalak menatap layar monitor komunikasi satelit yang terhubung dengan ruang isolasi medis tersembunyi di Indonesia.

Pesan teks baru yang masuk dari tim bayangan sektor tiga menampilkan sebuah informasi yang sanggup menghentikan seluruh pergerakan Arsen dan Arunika seketika. Sebuah informasi yang membuktikan bahwa Boris Volkov tidak sekadar melarikan diri ke Eropa, melainkan telah meninggalkan sebutir bom waktu baru yang siap meledakkan sisa-sisa pertahanan emosional Arunika hingga ke titik yang paling hancur.

_____________________________

**Bersambung ke Bab 18...**

*Pesan darurat apakah yang dikirimkan oleh tim bayangan dari markas rahasia Indonesia setelah kepergian Boris Volkov ke Eropa? Kejutan mengerikan apa lagi yang telah disiapkan oleh sang paman kandung Valeria untuk menyambut kedatangan Arsen dan Arunika di medan perang yang baru? Dan akankah Arunika mampu mempertahankan sisa jiwanya saat menyadari bahwa konspirasi darah ini masih menyembunyikan satu rahasia terakhir tentang asal-usul dirinya yang sebenarnya? Tunggu kelanjutan kisahnya yang semakin memanas dan penuh ketegangan di bab berikutnya!*

1
lee eun ji
😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!