Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Ancaman di Tengah Kegelapan
Damar menatap layar ponselnya tanpa berkedip.
Pesan anonim itu masih terpampang jelas.
> Berhenti mencari tahu masa lalu ayahmu jika tidak ingin kehilangan orang yang kau sayangi.
Angin malam berembus pelan di area parkir basement.
Namun hawa dingin yang dirasakan Damar tidak berasal dari cuaca.
Melainkan dari isi pesan tersebut.
---
Selama hidupnya, ia pernah menerima ancaman.
Pernah menghadapi pesaing bisnis.
Pernah menghadapi orang-orang yang mencoba menjatuhkannya.
Namun ini berbeda.
Sangat berbeda.
Karena untuk pertama kalinya seseorang membawa Nara ke dalam permainan.
---
Rahang Damar mengeras.
Ia segera menelepon seseorang.
---
"Raka."
---
"Pak Bos, masih di kantor?"
---
"Aku butuh bantuanmu."
---
Nada suara Damar langsung membuat Raka berhenti bercanda.
---
"Ada apa?"
---
"Aku baru menerima ancaman."
---
Keheningan muncul beberapa detik.
---
"Lelucon atau serius?"
---
"Serius."
---
Damar mengirim tangkapan layar pesan tersebut.
Tak sampai semenit kemudian.
Telepon kembali berdering.
---
"Sial."
ucap Raka.
---
"Itu bukan bercanda."
---
"Aku tahu."
---
"Kita laporkan?"
---
"Belum."
jawab Damar.
---
"Pertama aku ingin tahu siapa yang mengirimnya."
---
Raka mengembuskan napas.
---
"Oke."
---
"Kalau begitu aku ikut."
---
Untuk pertama kalinya malam itu, Damar merasa sedikit tenang.
Karena ia tahu Raka bisa dipercaya.
---
Di sisi lain kota.
Nara juga sedang duduk diam di ruang tamunya.
Pikirannya masih memproses berita kebakaran gudang arsip.
---
Terlalu kebetulan.
---
Mereka mulai menemukan petunjuk.
Lalu tiba-tiba arsip penting terbakar.
---
Tidak masuk akal jika itu hanya kecelakaan.
---
Ponselnya bergetar.
Pesan masuk dari Adrian.
---
> Hati-hati.
Kita mungkin sedang diawasi.
---
Jantung Nara langsung berdegup lebih cepat.
---
Diawasi.
---
Satu kata sederhana.
Namun cukup membuat bulu kuduknya meremang.
---
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak semua rahasia mulai terbuka, Nara mengunci semua pintu rumah dua kali.
---
Keesokan harinya.
Suasana kantor tampak normal.
Terlalu normal.
---
Namun baik Nara maupun Damar tahu.
Di balik ketenangan itu, sesuatu sedang bergerak.
---
"Nara!"
Siska melambaikan tangan dari kejauhan.
---
"Kamu lihat berita pagi ini?"
---
"Belum."
---
"Gudang arsip yang terbakar itu masuk berita lokal."
---
Nara langsung membeku.
---
"Apa?"
---
Siska mengangguk.
---
"Katanya korsleting listrik."
---
Nara hanya tersenyum tipis.
---
Kalau orang lain mungkin percaya.
Namun tidak dirinya.
---
Karena ia tahu ada terlalu banyak kebetulan yang terjadi belakangan ini.
---
Saat sedang berbicara dengan Siska, seseorang mendekat.
---
Bianca.
---
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, wanita itu terlihat diam.
Tidak menyindir.
Tidak mengejek.
Tidak membuat masalah.
---
Justru itu yang membuat Nara curiga.
---
"Ada apa?"
tanya Nara.
---
Bianca terlihat ragu.
---
Lalu berkata pelan,
"Kita perlu bicara."
---
Nara mengernyit.
---
"Aku?"
---
Bianca mengangguk.
---
Siska langsung berdiri seperti satpam pribadi.
---
"Kalau mau cari masalah—"
---
"Bukan itu."
potong Bianca.
---
"Aku serius."
---
Nada suaranya berbeda.
Tidak ada kesombongan.
Tidak ada ejekan.
---
Dan itu membuat Nara akhirnya setuju.
---
Mereka pergi ke balkon kecil di lantai atas.
---
Begitu pintu tertutup.
Bianca langsung berkata,
"Aku tidak menyukai kamu."
---
Nara memutar mata.
---
"Aku sudah tahu."
---
"Tapi kali ini bukan soal itu."
---
Nara mulai memperhatikan.
---
Karena wajah Bianca terlihat benar-benar tegang.
---
"Ada seseorang yang mencarimu."
ucap Bianca.
---
Jantung Nara langsung berdetak.
---
"Siapa?"
---
"Aku tidak tahu."
---
Bianca menggeleng.
---
"Tapi beberapa hari lalu seseorang menghubungiku."
---
Nara terdiam.
---
"Menghubungimu?"
---
"Dia bertanya tentangmu."
---
Perasaan tidak nyaman langsung muncul.
---
"Apa yang dia tanyakan?"
---
Bianca menarik napas.
---
"Tempat tinggalmu."
---
Tubuh Nara langsung membeku.
---
"Dan?"
---
"Aku tidak memberi tahu."
jawab Bianca cepat.
---
Untuk pertama kalinya, Nara percaya wanita itu tidak sedang berbohong.
---
Karena Bianca terlihat ketakutan.
---
"Ada yang aneh dengan pria itu."
lanjut Bianca.
---
"Maksudmu?"
---
"Suaranya."
---
Bianca memeluk dirinya sendiri.
---
"Dia terdengar seperti sedang marah."
---
Nara merasakan telapak tangannya mulai dingin.
---
Sementara itu.
Di ruang kerja Damar.
---
Raka baru saja selesai memeriksa nomor pengirim ancaman.
---
"Hasilnya?"
tanya Damar.
---
Raka menggeleng.
---
"Nomor sekali pakai."
---
"Sial."
---
"Tapi ada sesuatu yang menarik."
---
Damar mengangkat kepala.
---
"Apa?"
---
Raka menyerahkan sebuah catatan.
---
"Pesan dikirim dari area dekat gudang arsip yang terbakar."
---
Tatapan Damar langsung berubah tajam.
---
"Itu berarti..."
---
"Orang yang sama mungkin terlibat."
jawab Raka.
---
Ruangan mendadak sunyi.
---
Karena teori itu masuk akal.
Terlalu masuk akal.
---
Sore hari.
Nara menerima telepon dari Adrian.
---
"Aku menemukan sesuatu."
ucap pria itu tanpa basa-basi.
---
"Apa?"
---
"Aku ingin bertemu."
---
Nada suaranya membuat Nara langsung tegang.
---
"Kapan?"
---
"Sekarang."
---
Mereka bertemu di sebuah kafe yang jauh dari area kantor.
---
Begitu duduk, Adrian langsung mengeluarkan sebuah foto.
---
Foto hitam putih yang sudah sangat tua.
---
"Ini ditemukan sebelum gudang arsip terbakar."
---
Nara menerimanya.
---
Lalu matanya membesar.
---
Karena di dalam foto tersebut terdapat empat orang.
---
Ayahnya.
Ayah Damar.
Adrian.
Dan satu pria lain yang tidak dikenalnya.
---
"Siapa ini?"
tanya Nara.
---
Adrian terlihat muram.
---
"Orang yang selama ini kucari."
---
Jantung Nara berdetak lebih cepat.
---
"Dia pelakunya?"
---
"Aku belum yakin."
jawab Adrian.
---
"Tapi setiap masalah selalu mengarah kepadanya."
---
Nara kembali melihat foto itu.
---
Pria tersebut tersenyum ke arah kamera.
Tampak biasa.
Tampak ramah.
---
Namun entah kenapa.
Tatapan matanya membuat Nara tidak nyaman.
---
"Namanya siapa?"
---
Adrian terdiam beberapa saat.
---
Lalu menjawab.
---
"Surya Mahendra."
---
Nama itu terdengar asing.
Namun ekspresi Adrian membuatnya jelas bukan orang sembarangan.
---
"Siapa dia?"
---
"Sahabat kami."
jawab Adrian lirih.
---
Keheningan langsung muncul.
---
Karena terkadang...
Pengkhianatan terbesar datang dari orang yang paling dipercaya.
---
Malam mulai turun saat Nara pulang.
---
Namun kali ini ia merasa lebih waspada.
---
Ia terus memperhatikan sekeliling.
Memastikan tidak ada yang mengikuti.
---
Saat hendak membuka pintu rumah, ponselnya berdering.
---
Damar.
---
"Halo?"
---
"Kamu di rumah?"
---
"Iya."
---
"Bagus."
---
Nara mengernyit.
---
"Ada apa?"
---
Damar terdiam beberapa detik.
---
Lalu berkata,
"Jangan keluar sendirian untuk beberapa hari."
---
Jantung Nara langsung berdebar.
---
"Kenapa?"
---
"Aku menerima ancaman."
---
Keheningan langsung menyelimuti mereka.
---
Dan untuk pertama kalinya.
Nara merasakan ketakutan yang nyata.
---
Karena kini semuanya tidak lagi berkaitan dengan masa lalu.
---
Bahaya itu mulai bergerak ke masa sekarang.
---
Seseorang tidak ingin rahasia tersebut terungkap.
---
Dan orang itu bersedia melakukan apa saja untuk menghentikan mereka.
---
Setelah telepon berakhir.
Damar berdiri di depan jendela ruang kerjanya.
---
Tatapannya tertuju pada lampu-lampu kota.
---
Pikirannya dipenuhi satu hal.
---
Jika ancaman itu benar.
Maka Nara berada dalam bahaya.
---
Dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
---
Namun tanpa ia sadari.
Di dalam sebuah ruangan gelap.
Seseorang sedang memperhatikan foto Nara yang terpasang di papan investigasi.
---
Di samping foto itu terdapat foto Damar.
Adrian.
Dan beberapa dokumen lama.
---
Pria tersebut tersenyum tipis.
---
"Lanjutkan saja."
gumamnya.
---
"Semakin dekat kalian dengan kebenaran..."
---
Tangannya perlahan merobek sebuah foto lama.
---
"...semakin menyakitkan akhirnya."
---
Bersambung ke Bab 27