NovelToon NovelToon
Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Rambut hitamnya yang masih lembap tergerai rapi di bahu, sementara gaun satin berpotongan sederhana membalut tubuhnya dengan anggun. Wajahnya tampak bersih dan alami, nyaris tanpa riasan, justru memancarkan pesona yang sulit diabaikan. Rayan terpaku menatapnya beberapa saat, seolah lupa mengedip. Ada keindahan yang begitu tulus dalam diri Alya, membuatnya enggan mengalihkan pandangan. Cantik... bahkan jauh lebih memikat daripada yang pernah ia bayangkan.

Menyadari tatapan Rayan yang tak kunjung lepas darinya, Alya sontak menundukkan wajah. Langkahnya melambat, bahkan terasa canggung, seolah setiap pijakan dipenuhi kegugupan. Semburat merah menghiasi kedua pipinya, sementara jantungnya berdetak semakin cepat. Ia tak memiliki keberanian untuk membalas tatapan itu. Dengan jemari yang saling menggenggam erat, Alya hanya bisa menyembunyikan rasa malunya dalam keheningan.

Keheningan yang menyelimuti ruangan itu akhirnya terusik oleh suara kecil Fariz. Celotehnya yang polos seketika memecah suasana, membuat perhatian mereka beralih kepadanya.

"Ma!" panggil Fariz riang, suaranya menggema di ruangan. Tanpa ragu, bocah kecil itu turun dari pangkuan Rayan. Dengan langkah-langkah mungil yang penuh semangat, ia berlari menghampiri Alya, lalu langsung merangkul pinggang sang ibu dengan kedua tangan kecilnya. Wajahnya berseri-seri saat memeluk Alya erat, seolah ingin melepas rindu meski hanya terpisah sesaat.

Senyum tipis mengembang di bibir Alya, disusul tawa pelan yang nyaris tak terdengar. Ia membalas pelukan putranya dengan penuh kasih, sementara jemarinya mengusap lembut rambut Fariz. Kehangatan dalam dekapan anaknya perlahan mengusir kegugupan yang sejak tadi memenuhi dadanya, membuat napasnya kembali teratur dan hatinya terasa jauh lebih tenang.

Pelayan yang sejak tadi mendampingi Alya kembali membungkukkan badan dengan penuh hormat. "Kalau begitu, tugas kami sudah selesai, Nyonya. Semoga Anda merasa nyaman. Kami pamit terlebih dahulu."

Setelah para pelayan pergi, ruangan itu hanya menyisakan Alya, Rayan, dan Fariz. Suara kartun yang mengalun dari televisi menjadi pengisi keheningan, menciptakan suasana sederhana yang perlahan mencairkan kecanggungan di antara mereka. Alya mengambil tempat di sisi putranya, memperhatikan Fariz yang begitu bersemangat. Bocah kecil itu terus mengoceh riang, memperlihatkan mainan barunya sambil bercerita tanpa henti. Senyum polosnya membuat suasana terasa lebih hangat, sementara Alya sesekali mengusap rambut Fariz dengan tatapan penuh kasih.

Rayan yang duduk tidak jauh dari mereka kembali mengarahkan pandangannya kepada Alya. Kali ini tatapannya bertahan lebih lama, tanpa disadari terus mengikuti setiap gerak-gerik wanita itu. Jarak yang kini lebih dekat membuatnya mampu menangkap dengan jelas setiap ekspresi di wajah Alya. Ada sorot mata yang tenang namun dipenuhi rasa ingin tahu, seolah ia sedang berusaha mengenal perempuan di hadapannya lebih dalam daripada yang selama ini ia pahami.

Merasakan tatapan itu terus mengarah kepadanya, Alya akhirnya tidak mampu lagi berpura-pura mengabaikannya. Dengan nada lembut dan nyaris berbisik, ia memberanikan diri membuka suara, meski pandangannya tetap tertuju ke depan dan tidak beralih sedikit pun ke arah Rayan.

"Ada sesuatu di wajahku?" tanya Alya pelan, masih enggan menoleh. "Sejak tadi aku merasa kamu terus memperhatikanku."

Rayan tidak langsung menjawab. Ia membiarkan keheningan menggantung sejenak sebelum akhirnya membuka suara. Nada bicaranya tetap tenang, tanpa banyak emosi, tetapi setiap kata yang keluar terdengar tulus dan tanpa dibuat-buat.

"Bukan karena ada apa-apa," ucap Rayan tenang. "Hanya saja... penampilanmu malam ini benar-benar berbeda dari biasanya."

Alya segera menundukkan kepalanya lebih dalam. Semburat merah perlahan menghiasi kedua pipinya, membuatnya semakin salah tingkah. Jemarinya tanpa sadar menggenggam tangan mungil Fariz sedikit lebih erat, seolah sentuhan putranya mampu menenangkan gejolak di dadanya yang tiba-tiba berdenyut tak beraturan karena ucapan Rayan.

Setelah percakapan singkat itu berakhir, ruang keluarga kembali diselimuti keheningan. Suasana tidak benar-benar sunyi karena sesekali terdengar tawa ceria Fariz yang asyik memainkan mainan barunya di atas karpet. Keceriaan bocah itu menjadi satu-satunya suara yang menghidupkan ruangan. Sementara itu, Alya masih duduk dengan tubuh yang terasa kaku. Pandangannya tertuju ke bawah, berusaha menyembunyikan wajahnya yang masih dihiasi semburat merah. Ucapan Rayan beberapa saat lalu terus terngiang di benaknya, membuat jantungnya kembali berdegup lebih cepat setiap kali mengingatnya.

Tanpa mengatakan apa pun, Rayan bangkit dari duduknya. Dengan langkah tenang, ia menghampiri meja kecil di sisi sofa lalu meraih sebuah kotak putih berukuran sedang yang telah disiapkan di sana. Sesaat kemudian, ia kembali duduk dan memilih tempat yang lebih dekat dengan Alya daripada sebelumnya. Jarak di antara mereka kini terasa jauh lebih singkat. Alya sempat melirik sekilas ke arah lelaki itu, tetapi buru-buru mengalihkan pandangannya. Ia kembali menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Kedekatan yang mendadak itu membuat jantungnya kembali berdebar, sementara jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan untuk meredakan rasa canggung yang perlahan menguasainya.

"Aku mulai kembali bekerja besok," ujar Rayan dengan suara tenang. "Ada banyak urusan di perusahaan yang harus kuselesaikan." Ia mengalihkan pandangannya ke kotak yang berada di tangannya, lalu menyodorkannya kepada Alya. "Ini untukmu. Sebuah ponsel baru. Simpan dan gunakan kalau ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan kepadaku." Rayan berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Nomorku sudah kusimpan di dalamnya, jadi kamu bisa menghubungiku kapan saja jika membutuhkan bantuanku."

Alya tampak terkejut. Kedua matanya membesar saat menatap kotak yang berada di hadapannya. Pandangannya berganti dari benda itu ke wajah Rayan, lalu kembali lagi ke kotak putih tersebut, seolah memastikan bahwa pemberian itu benar-benar ditujukan untuknya. Dengan gerakan yang ragu, ia mengulurkan kedua tangan dan menerima kotak itu secara perlahan. Meski sudah berada dalam genggamannya, tubuhnya masih terasa kaku. Ia belum tahu harus berkata apa, sementara rasa canggung dan bingung bercampur menjadi satu di dalam hatinya.

"Aku benar-benar belum pernah menggunakan yang seperti ini," ujar Alya lirih sambil menatap kotak itu dengan ragu. "Jujur saja... aku bahkan tidak tahu harus memakainya bagaimana, apalagi memahami semua kegunaannya."

Rayan memandang Alya dalam diam selama beberapa saat. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis, antara geli dan kagum melihat kepolosan wanita itu. Tanpa berkata apa-apa, ia kemudian mengulurkan tangan dengan tenang, meminta kotak tersebut kembali untuk diperlihatkan cara menggunakannya.

"Kalau kamu belum terbiasa, tidak usah khawatir," ucap Rayan lembut. "Biar aku yang menyiapkannya dulu. Setelah itu, aku tunjukkan cara menggunakannya pelan-pelan."

Dengan gerakan yang santai, Rayan membuka kemasan ponsel itu. Ia melepaskan lapisan pelindung yang masih menempel pada layar, lalu menekan tombol daya hingga perangkat tersebut menyala. Cahaya dari layar yang perlahan hidup menerangi wajah mereka, disusul nada pembuka yang terdengar nyaring di ruangan. Alya refleks sedikit tersentak. Tatapannya terpaku pada benda itu dengan rasa penasaran bercampur kagum, seolah sedang menyaksikan sesuatu yang benar-benar baru baginya.

"Eh... kok bisa menyala sendiri?" tanya Alya polos, matanya masih terpaku pada layar ponsel. "Apa memang seperti ini cara kerjanya?"

Rayan mengangguk pelan. "Benar. Ponsel ini bisa dipakai untuk banyak hal. Kamu bisa menelepon, berkirim pesan, sampai melakukan panggilan video kalau ingin melihat lawan bicara secara langsung." Ia kemudian tersenyum tipis sebelum melanjutkan, "Tapi tidak perlu mempelajari semuanya sekaligus. Kita mulai dari yang paling sederhana dulu. Setelah kamu terbiasa, baru aku ajarkan fitur lainnya."

Rayan menggeser posisi duduknya sedikit lebih dekat agar Alya dapat melihat layar ponsel dengan jelas. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Alya dapat merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh pria itu. Kedekatan tersebut membuat napasnya tertahan sejenak, sementara debar di dadanya semakin sulit dikendalikan. Dengan penuh kesabaran, Rayan mulai memperagakan cara mengoperasikan ponsel. Ia menunjukkan bagaimana membuka kunci layar, mengusap layar untuk berpindah menu, lalu membuka aplikasi telepon. Jemarinya yang panjang bergerak lincah dan mantap di atas layar, sementara ia menjelaskan setiap langkah dengan nada rendah, tenang, dan mudah dipahami agar Alya tidak merasa bingung.

"Kalau suatu saat kamu ingin menghubungiku, tinggal pilih kontak yang ini," ujar Rayan sambil menunjuk nama yang sudah tersimpan di layar. "Nomorku sudah kusimpan, jadi kamu tidak perlu menghafalnya. Cukup sentuh namaku, lalu tekan ikon telepon. Setelah itu, panggilanmu akan langsung masuk ke ponselku."

Alya menganggukkan kepala pelan, berusaha mengikuti setiap penjelasan yang diberikan Rayan. Tatapannya tidak lepas dari layar ponsel, dipenuhi rasa penasaran terhadap benda yang masih terasa asing baginya. Namun, semakin lama ia menyimak, semakin ia menyadari betapa dekat posisi mereka saat itu. Jarak yang begitu singkat membuat napasnya sedikit tertahan, sementara jantungnya kembali berdegup lebih cepat. Tanpa disadari, pandangannya perlahan beralih dari layar ke wajah Rayan. Pria itu masih begitu serius menjelaskan cara menggunakan ponsel, sorot matanya tertuju penuh pada layar, seolah tidak menyadari bahwa Alya kini diam-diam memperhatikannya.

Dari jarak sedekat itu, Alya dapat melihat dengan jelas setiap lekuk wajah Rayan. Garis rahangnya tampak tegas, sementara bulu matanya yang sebelumnya masih basah kini telah mengering. Tatapan pria itu tetap terarah pada layar ponsel dengan sorot mata yang tenang dan penuh perhatian. Entah mengapa, pemandangan sederhana itu membuat Alya kehilangan fokus. Dadanya berdebar semakin cepat, seolah irama jantungnya tak lagi bisa dikendalikan. Ia segera menundukkan pandangan, berusaha menenangkan perasaannya yang mendadak terusik oleh kedekatan mereka.

Rayan yang sedang menjelaskan langkah-langkah penggunaan ponsel tiba-tiba menghentikan ucapannya. Ia merasakan sepasang mata yang sejak tadi tertuju kepadanya. Dengan gerakan pelan, ia mengangkat kepala dan menoleh. Dalam sekejap, pandangan mereka bertemu. Mata Alya dan Rayan saling bertaut tanpa kata. Tak ada yang segera mengalihkan tatapan, seolah waktu berhenti sesaat. Keheningan yang tercipta justru terasa begitu nyata, menghadirkan rasa canggung yang perlahan menyelimuti keduanya.

Seolah-olah waktu melambat di antara mereka. Keheningan memenuhi ruangan, hanya sesekali dipecahkan oleh tawa riang Fariz yang masih asyik bermain di sudut ruang keluarga. Di sisi lain, Alya hanya mampu mendengar debar jantungnya sendiri yang berdetak semakin cepat, begitu jelas hingga terasa menggema di telinganya.

Alya spontan berniat mengalihkan pandangannya, tetapi entah mengapa ia tidak segera mampu melakukannya. Tatapan Rayan yang tenang membuatnya terpaku beberapa saat lebih lama. Sorot mata pria itu tampak begitu lembut, seolah berusaha memahami isi hatinya tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun. Di antara keheningan yang menyelimuti mereka, muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Suasananya terasa hangat sekaligus membuat jantung Alya berdebar lebih cepat, menghadirkan kecanggungan yang justru semakin mempererat momen sederhana itu.

Alya menelan ludah pelan. Jemarinya tanpa sadar mencengkeram ujung gaun yang dikenakannya, sementara getaran halus mulai terasa di tangannya. Dadanya dipenuhi kegelisahan yang sulit ia pahami. "Kenapa perasaanku jadi seperti ini?" batinnya, berusaha menenangkan diri. Ia beberapa kali ingin memalingkan wajah, tetapi setiap kali mencoba, tatapan Rayan yang tenang kembali membuatnya terpaku. Seolah ada sesuatu dalam sorot mata pria itu yang membuatnya sulit berpaling, meski rasa gugup di hatinya semakin besar.

Tatapan Rayan tampak berbeda dari biasanya. Sorot matanya tidak lagi setegas yang sering ia tunjukkan, melainkan lebih lembut dan tenang, seolah menyimpan rasa ingin mengenal Alya lebih jauh. Untuk beberapa saat, ia hanya terdiam. Pandangannya berhenti pada wajah Alya yang berada tak jauh di hadapannya. Tanpa riasan yang mencolok, perempuan itu justru memancarkan pesona yang sederhana. Kecantikan alaminya, dipadu dengan ekspresi yang lugu dan apa adanya, menghadirkan kesan yang membuat Rayan tanpa sadar terus memperhatikannya.

Alya merasakan wajahnya semakin hangat. Semburat merah di pipinya kian jelas, sementara debar jantungnya berpacu tanpa bisa ia redam. Ia menarik napas pelan, berusaha menguasai diri. Bibirnya sempat terbuka, seolah ingin mengucapkan sesuatu untuk memecah keheningan. Namun, kata-kata yang telah tersusun di benaknya seakan menghilang begitu saja. Pada akhirnya, ia hanya terdiam, membiarkan suasana hening berbicara menggantikan ucapannya.

Keheningan yang sempat menyelimuti mereka akhirnya buyar ketika suara riang Fariz terdengar dari atas karpet. Celoteh polos bocah itu seketika menarik perhatian keduanya, memecahkan momen hening yang sejak tadi terasa begitu panjang.

"Mama, Papa... cepat lihat!" seru Fariz dengan wajah berbinar. "Mobilku bisa melaju sendiri. Hebat, kan?"

Alya seketika tersadar dari lamunannya. Dengan cepat ia mengalihkan pandangan, lalu mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari mungil Fariz. Senyum tipis yang sedikit canggung menghiasi wajahnya. "Wah, pintar sekali, Sayang," ucapnya lembut sambil mengusap kepala Fariz. "Coba Mama lihat lagi, mobilnya memang keren." Ia berusaha memusatkan seluruh perhatiannya pada putranya, berharap semburat merah yang masih menghiasi pipinya tidak disadari oleh Rayan.

Rayan mengalihkan perhatiannya kepada Fariz yang masih sibuk bermain. Ia berdeham pelan, seolah memanfaatkan momen itu untuk mengusir kecanggungan yang sempat tercipta di antara mereka. Setelah suasana kembali terasa lebih tenang, Rayan menyerahkan ponsel yang telah selesai disiapkannya ke tangan Alya. Ia meletakkannya dengan hati-hati, memberi isyarat agar wanita itu menyimpannya dengan baik.

"Sekarang kamu sudah tahu cara menggunakannya," ujar Rayan dengan tenang. "Kalau nanti ada kesulitan atau membutuhkan bantuanku, langsung saja hubungi aku. Tidak perlu sungkan."

Alya menganggukkan kepala pelan sebelum menerima ponsel itu dengan kedua tangannya. Ia memegangnya hati-hati, seolah benda tersebut sangat berharga. Bibirnya kemudian bergerak mengucapkan rasa syukur. "Terima kasih..." Suaranya begitu lembut dan nyaris tenggelam dalam keheningan ruangan, tetapi ketulusan yang tersirat dari ucapannya terdengar jelas.

Rayan menyandarkan tubuhnya dengan santai ke sofa. Sesekali pandangannya kembali tertuju pada Alya, lalu segera dialihkan lagi. Sudut bibirnya nyaris terangkat, tetapi ia menahan senyum itu, memilih tetap memasang ekspresi tenang. Di sisi lain, Alya berusaha mengalihkan pikirannya dengan memperhatikan Fariz yang masih asyik bermain di atas karpet. Meski tampak tenang dari luar, debar di dadanya belum juga mereda. Momen yang baru saja terjadi terus terlintas di benaknya, membuatnya beberapa kali menarik napas pelan untuk menyembunyikan kegugupannya.

Fariz tertawa riang sambil terus menggerakkan mobil-mobilan kesayangannya di atas lantai. Dalam kepolosannya, ia mengulurkan kedua tangan sekaligus, meraih tangan Alya dan Rayan tanpa berpikir panjang. Genggaman kecil itu menyatukan keduanya, sementara Fariz tetap asyik bermain dengan senyum ceria yang tak pernah lepas dari wajahnya.

"Mama, Papa... sini duduk dekat Fariz, ya," pinta Fariz dengan suara polos. "Temenin Fariz main. Biar kita main sama-sama."

Alya terdiam sejenak ketika menyadari jarak antara tangannya dan tangan Rayan tinggal beberapa sentimeter. Kedekatan yang tak disengaja itu membuat napasnya tertahan, sementara debar di dadanya kembali terasa lebih cepat. Rayan sempat melirik ke arah Alya sebelum mengalihkan pandangannya kepada Fariz. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis ekspresi yang jarang terlihat di wajahnya yang biasanya tenang dan sulit ditebak. Senyum sederhana itu membuat suasana di ruang keluarga terasa sedikit lebih hangat.

Malam itu ditutup dengan suasana yang tenang. Mereka bertiga tetap berada di ruang keluarga, menikmati kebersamaan yang sederhana. Alya masih menyimpan rasa kikuk yang sesekali membuatnya salah tingkah, sementara Rayan memilih lebih banyak diam, membiarkan keheningan terasa nyaman. Meski tidak banyak percakapan yang terucap, atmosfer di antara mereka perlahan berubah. Ada kedekatan yang mulai tumbuh secara alami, begitu lembut hingga nyaris tak disadari. Seolah-olah seutas benang tak kasatmata perlahan merajut jarak di antara hati mereka, menghadirkan rasa akrab yang belum pernah ada sebelumnya.

*****

Beberapa saat kemudian, Rayan mengangkat

pergelangan tangannya dan melirik arloji yang melingkar rapi di sana. Jarum jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Waktu terus berjalan, menandakan hari sudah semakin larut dan sudah saatnya beristirahat. Namun, pemandangan di hadapannya justru berbeda. Fariz masih duduk di atas karpet ruang keluarga, sibuk menyusun dan menggerakkan mobil-mobilan kesayangannya. Bocah kecil itu tampak begitu menikmati permainannya hingga sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mengantuk ataupun kelelahan.

Rayan mengembuskan napas pelan sebelum bangkit dari sofa. Ia menghampiri Fariz yang masih asyik bermain di atas karpet, lalu berjongkok di hadapan putranya. Telapak tangannya mengusap lembut rambut Fariz dengan penuh kasih. "Fariz," panggilnya dengan nada hangat. "Lihat jamnya, Nak. Hari sudah malam. Mainnya kita lanjut besok lagi, ya?" Ia tersenyum tipis sebelum melanjutkan, "Sekarang waktunya istirahat. Biar besok bangun dengan badan yang segar dan bisa bermain lebih lama."

Alya yang sejak tadi memperhatikan dari sofa ikut mengalihkan pandangannya ke arah Fariz. Baru saat itulah ia menyadari bahwa malam sudah semakin larut dan memang sudah waktunya putranya beristirahat. Namun, melihat Fariz masih tertawa riang sambil memainkan mobil-mobilannya, Alya menjadi serba salah. Ia ragu apakah harus segera menghentikan permainan itu atau membiarkan bocah kecil tersebut menikmati beberapa saat lagi. Kebimbangan itu membuatnya hanya terdiam, sesekali menatap Fariz, lalu beralih kepada Rayan, seolah menunggu keputusan pria itu.

Fariz berhenti memainkan mobil-mobilannya, lalu mendongakkan wajah kecilnya ke arah Rayan. Dengan senyum polos, ia mengulurkan kedua tangannya. "Papa... Fariz mau bobok bareng Papa," ucapnya dengan suara cadel yang terdengar begitu menggemaskan.

Rayan sempat terdiam beberapa saat mendengar permintaan polos putranya. Namun tak lama kemudian, ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih lembut. Senyum hangat perlahan muncul, menggantikan tatapan tenangnya yang biasa.

"Baik, kalau begitu malam ini Fariz tidur bersama Papa," ucapnya pelan sambil mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. "Mama juga harus beristirahat, jadi biarkan Mama tidur nyaman di kamar."

Alya memandang keduanya dengan senyum kecil yang lembut. Ia mengangguk pelan sebelum berpesan dengan suara rendah. "Kalau nanti Fariz susah tidur atau mencari aku, jangan sungkan untuk memanggilku, ya," ucapnya lirih.

"Hm, baik," jawab Rayan singkat dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya. Ia kemudian melangkah pergi sambil menggendong Fariz yang sudah bersandar nyaman di dadanya. Bocah kecil itu tampak tenang dalam pelukan ayahnya, sementara Rayan berjalan perlahan menuju kamar, membawa putranya dengan penuh kelembutan.

*****

Di kamar Fariz, suasana malam terasa jauh lebih tenang dan nyaman. Cahaya redup dari lampu tidur memenuhi ruangan dengan nuansa hangat yang menenangkan.

Rayan membaringkan putranya dengan hati-hati di atas ranjang kecilnya. Dengan penuh perhatian, ia membantu Fariz bersiap untuk tidur, mengganti pakaian bermain yang masih dikenakan bocah itu dengan pakaian tidur yang lebih nyaman.

"Fariz, sebelum tidur kita bersihkan badan dulu, ya," ujar Rayan lembut sambil mengambil handuk kecil yang sudah disiapkan.

Ia memastikan air hangat telah tersedia, lalu membantu putranya membersihkan diri dengan penuh perhatian. Setiap gerakannya dilakukan perlahan dan hati-hati, mulai dari mengusap wajah kecil Fariz hingga mengeringkan tubuh mungil itu dengan lembut.

Fariz hanya tertawa kecil saat Rayan menyentuh telapak kakinya dengan lembut. Bocah itu menggeliat pelan karena merasa geli, wajahnya tampak ceria. "Papa... geli," ucapnya dengan suara cadel sambil terkikik, berusaha menarik kakinya menjauh.

Rayan tersenyum kecil mendengar tawa putranya. Ia mengusap lembut kaki mungil itu sambil melanjutkan dengan sabar. "Iya, sebentar lagi selesai, Nak. Setelah ini Fariz bisa langsung tidur dengan nyaman," ucapnya pelan.

Setelah memastikan Fariz sudah bersih dan nyaman, Rayan mengambilkan pakaian tidur untuk putranya. Dengan penuh perhatian, ia membantu mengenakan piyama tersebut, merapikan setiap bagian hingga rapi. Usai mengganti pakaian Fariz, Rayan mengangkat tubuh kecil itu ke atas ranjang. Ia membaringkannya perlahan, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuh mungil putranya. Gerakannya begitu hati-hati, seolah ingin memastikan Fariz merasa aman dan tenang sebelum terlelap.

"Pejamkan mata, ya, Fariz. Tidur yang nyenyak," bisik Rayan lembut sambil mengusap perlahan kepala putranya. Tangannya kemudian menepuk pelan tubuh kecil Fariz dengan penuh kasih, menemani putranya hingga merasa nyaman dan siap terlelap.

Perlahan, kelopak mata Fariz mulai terpejam. Tarikan napasnya berubah menjadi lebih pelan dan teratur, membuat wajah kecilnya tampak begitu tenang dalam lelapnya. Rayan masih duduk di sisi ranjang untuk beberapa saat. Pandangannya tidak beranjak dari putranya, memperhatikan setiap detail wajah polos yang kini terlihat damai. Ada perasaan hangat dan ketenteraman yang jarang ia rasakan, namun selalu hadir ketika ia berada dekat dengan Fariz.

1
May Satibi Satibi
suka
elief
suka karya nya thor. ceritanya 👍👍
Ratu Anjani
lah kelanjutan ny mana min
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!