NovelToon NovelToon
Joni Fighter

Joni Fighter

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Game
Popularitas:943
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia telah berubah sejak terbukanya Arcane Nexus—sebuah celah dimensi misterius yang menghubungkan bumi dengan dunia monster yang ganas. Demi bertahan hidup, umat manusia mendirikan tiga akademi elit untuk melatih para petarung faksi (Brawler, Swordsman, Archer, dan Shaman) agar mampu menyelaraskan getaran energi Ki mereka, yang dikenal sebagai sistem RAN (Resonance of Arcane Nexus).
​Joni, seorang mahasiswa baru faksi Brawler di Kampus Sacred Gate, awalnya hanya ingin fokus berlatih demi meneruskan jejak mendiang ayahnya. Namun, ia justru terseret ke dalam pusaran konspirasi gelap yang melibatkan kekuatan korporasi raksasa, militer kampus saingan, hingga ambisi berbahaya yang mengancam kestabilan dinding dimensi. Di tengah ancaman duel hidup-mati melawan rivalnya yang menggunakan kekuatan terlarang, Joni harus menjalani penempaan ekstrem di kedalaman wilayah tak bertuan untuk membangkitkan resonansi murni tubuhnya dan mengungkap kebusukan yang terstruktur di puncak kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Dalam pecahan detik sebelum taring-taring tajam itu mengoyak tubuhnya, Joni tidak menghindar ke samping. Ia justru menekuk kedua lututnya dalam-dalam, membiarkan Gravity Iron di kakinya menyerap getaran statis merah dari atmosfer sekitar, lalu menghentakkannya ke tanah bersamaan dengan ledakan Ki petir birunya.

BOOOMMM!

Sebuah gelombang kejut listrik meledak di bawah pijakannya, menciptakan daya dorong horizontal yang luar biasa kencang. Tubuh Joni melesat ke depan bagaikan peluru yang ditembakkan dari laras meriam, meninggalkan pusaran debu hitam dan lima ekor Nexus Hound yang menabrak tanah kosong dengan keras.

Joni mendarat dengan berguling beberapa kali di atas rumput kering, tepat di luar mulut lembah di mana jip militer Om Remon sudah terparkir menunggu.

"Hah... hah... hah..." Joni telentang di tanah, napasnya memburu seperti mesin bensin yang kehabisan oli. Seluruh otot kakinya terasa panas dan berdenyut kencang, namun anehnya, berat dari gelang gravitasi itu kini tidak lagi terasa menyiksa seperti dua belas jam yang lalu.

Om Remon berjalan mendekat, melemparkan sebotol air mineral dingin yang langsung ditangkap Joni dengan tangan gemetaran.

"Dua belas jam empat puluh menit," ucap Om Remon sambil melirik jam tangan analog di pergelangan kirinya. "Lebih cepat dua jam dari perkiraan Master Johan. Kemampuan adaptasi resonansimu memang turunan dari Jenderal Jaka, Jon."

Joni meneguk air itu sampai habis dalam sekali napas, lalu mendudukkan tubuhnya. "Tadi itu... kaki gue rasanya kayak meledak, Om."

"Itu namanya *Arcane Movement Burst*," sahut Om Remon, ikut berjongkok di samping Joni. "Teknik pergerakan tingkat tinggi faksi Brawler. Selama ini, mahasiswa baru cuma tahu cara memperkuat tinju. Mereka lupa kalau kekuatan tinju yang hebat tidak ada gunanya kalau kakimu lambat seperti siput. Tian Baskoro menggunakan esensi kristal hitam yang meningkatkan kecepatan sarafnya hingga tiga kali lipat. Tanpa teknik tadi, hari Senin nanti kamu cuma bakal jadi samsak hidup di arena."

Om Remon berdiri kembali, wajahnya kembali mengeras tanpa kompromi. "Latihan hari pertama selesai. Sekarang jam lima sore. Kamu punya waktu istirahat, makan, dan tidur sampai jam dua subuh nanti."

Joni mengernyitkan dahi. "Jam dua subuh? Terus hari kedua kita ngapain lagi, Om? Berlari lagi sama anjing-anjing itu?"

Om Remon tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membuat suasana perimeter luar itu terasa semakin dingin.

"Hari kedua dan ketiga adalah latihan Physical Resilience (ketahanan fisik). Kita akan bergeser ke arah utara, ke wilayah rawa asam Arcane Nexus. Di sana, kamu tidak boleh menggunakan rompi badak tanahmu lagi. Kamu harus menerima hantaman langsung dari alam untuk memperkeras kulit dan tulangmu agar setara dengan kepadatan kristal hitam."

Mendengar itu, Joni hanya bisa menelan ludah. Lima hari libur kuliah ini ternyata bukan sebuah hadiah, melainkan sebuah proses penempaan brutal di mana batas antara hidup dan mati hanya dibatasi oleh selembar benang tipis.

Joni melihat ke arah lengannya yang masih menyisakan sisa-sisa percikan listrik biru yang kini jauh lebih padat dan stabil.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

"AAAGHHH!"

Joni mengerang tertahan saat kaki telanjangnya menginjak tepian lumpur hijau pekat di wilayah Rawa Asam Arcane Nexus Sesuai perintah mutlak Om Remon, Joni telah menanggalkan rompi badak tanah dan sepatu tempurnya. Kini, ia hanya mengenakan celana pendek hitam dan kaos dalam tipis, berdiri di bawah guyuran hujan gerimis beraroma belerang tajam yang terus turun di area utara perimeter tiga persen ini.

"Baru menginjak pinggirannya saja sudah menjerit, bagaimana mau menahan hantaman energi kristal hitam, Joni?!" teriak Om Remon dari atas batang pohon mati yang melintang di atas rawa. Pria itu berdiri dengan santai, mengawasi murid sekaligus keponakannya tanpa belas kasihan.

"Ini... ini bukan asam biasa, Om! Kulit gue rasanya kayak dikelupas pakai sikat kawat!" seru Joni, giginya bergeletuk menahan perih yang teramat sangat. Di jam tangan spiritualnya yang mati, ia tahu jika sistemnya menyala, bar HP-nya pasti sudah berkedip merah karena efek debuff korosi tingkat tinggi.

"Tentu saja bukan asam biasa. Ini adalah sisa endapan energi Nexus yang mencair," sahut Om Remon dingin. "Dengar, Joni. Tubuh seorang Brawler adalah senjata sekaligus perisai utama. Tian Baskoro hari Senin nanti akan menyerangmu dengan esensi kristal hitam yang memiliki sifat penetrasi zirah. Mau pakai rompi setebal apa pun, serangan itu akan tembus dan menghancurkan organ dalammu dari dalam."

Om Remon melemparkan sebilah bambu panjang ke arah Joni. "Satu-satunya cara untuk selamat adalah membuat sel-sel kulit dan ototmu sendiri yang beradaptasi menjadi sekeras baja melalui bantuan asam ini. Masuk lebih dalam, duduk bersila di tengah rawa sampai airnya sebatas dadamu!"

Joni menelan ludah. Rasa perih di kakinya menjalar naik, membuat seluruh uratnya menegang. Namun, ingatan tentang wajah angkuh Tian Baskoro dan konspirasi busuk Baskoro Mining Corp yang merusak dunia demi cuan mendadak melintas di kepalanya. Rasa muak itu seketika membakar rasa takutnya.

"Bargaining sama rasa sakit gak bakal bikin gue menang hari Senin nanti," umpat Joni pada dirinya sendiri.

BYUR!

Joni melangkah tegas, menenggelamkan tubuhnya ke dalam rawa asam yang pekat hingga sebatas dada. Detik itu juga, seluruh tubuhnya terasa seperti dibakar hidup-hidup. Sensasi menyengat yang luar biasa membuat napasnya sesak, dan matanya memerah menahan air mata yang hendak menetes.

"Sekarang, fokus! Tarik energi Ki petir birumu, tapi jangan dilepaskan keluar tubuh!" perintah Om Remon dengan nada melengking yang membelah keheningan rawa. "Gunakan petirmu di dalam jaringan kulit untuk menolak asam yang mencoba masuk ke pembuluh darah! Selaraskan resonansinya!"

Joni memejamkan mata rapat-rapat. Di dalam kegelapan batinnya, ia mulai memompa dantiannya dengan liar. Listrik biru fajar yang biasanya meletup-letup gahar di permukaan gauntlet. kini ia paksa berputar di dalam daging, mengalir di bawah lapisan kulit luarnya bagaikan jutaan jarum mikroskopis yang bergerak aktif.

ZZZZTTT... ZZZTTT...

Pertempuran internal yang brutal pun dimulai. Dari luar, asam rawa mencoba mengikis dan menghancurkan sel kulit Joni, sementara dari dalam, petir biru Joni terus meremajakan dan memperkeras sel-sel tersebut secara paksa dalam kecepatan tinggi.

Satu jam... dua jam... hingga malam kembali merayap di langit hitam perbatasan.

Perlahan-lahan, rasa sakit yang membakar itu mulai berubah menjadi sensasi mati rasa yang dingin. Ketika Joni membuka matanya di tengah kegelapan malam, ia terkejut melihat permukaan kulit lengan dan dadanya tidak lagi melepuh merah. Sebaliknya, kulitnya kini memancarkan pendaran warna kelabu metalik yang samar, berpadu apik dengan garis-garis tipis petir biru yang mengalir tenang di bawah pori-porinya.

"Heh... berhasil," bisik Joni, menyeringai di tengah pekatnya kabut rawa asam. Kulitnya kini telah berevolusi, siap menerima hantaman apa pun yang akan dilemparkan Tian di arena nanti.

1
Semoli Ginon
eh asa bruise jr. 👍
Semoli Ginon
wkwkwkw keluarga koplak🤣
Semoli Ginon
wahahah. ngenes amat nasib lo jon😄
Semoli Ginon
oke seru juga lanjut👍
Semoli Ginon
uhuyy 😄
Semoli Ginon
ini kan faksi2 di game ran online jadul ya?
Semoli Ginon
🤭🤭🤭
Semoli Ginon
adub baru mulai udah mirip gua 🤭
Boqin Changing
jelek. masa MC nya namnya , joni
👁Zigur👁: lah ya suka2 ku lah..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!