Aku benci sekali padanya! Dia lelaki paling menyebalkan yang pernah aku temui. Ucapannya selalu menyakiti hati, tingkahnya kasar dan juga egois! Paket komplit sebagai pria pemenang nominasi paling di benci sejagat.
Tapi kenapa semuanya kini berubah?
Mungkinkah aku jatuh cinta pada lelaki ini? Pangeran berhati dingin bernama Melviano Mahaprana Gunardi?
Tak mungkin!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karaoke.
"Ada apa?" Aku masuk ke kamar Vian dengan terburu-buru.
"Nggak ada. Rama sudah pergi?"
Aku mendengus, "Belum, dia masih di bawah. Ya sudah kalau nggak ada apa-apa, aku turun lagi."
"Jangan! kamu di sini saja!"
Kenapa lagi ni orang! aneh banget!
"Tapi aku..."
"Kamu mau ngobrol sama dia?! kecentilan banget si jadi cewek!"
"Ck! apa sih! dari tadi sinis banget ngomongnya!!!" Aku makin kesal.
"Ingat ya, kamu di sini itu kerja! bukan buat nyari lelaki!"
"Di pikir aku ini cewek apa!" Aku makin kesal pada Vian.
"Mau kemana?!" Vian membentak saat aku melangkahkan kaki keluar dari kamarnya.
"Tidur!" Ketusku, lalu aku masuk ke dalam kamarku sambil membanting pintu.
Apa yang ada dalam otakku!! lelaki macam begitu kok bisa bikin deg-degan! Aku pasti sudah gila!!!
.
Aku masih merasa kesal pada Vian. Ini juga sangat aneh buatku. Kenapa aku harus seperti ini? biasanya, Vian bahkan mengejek dan menghinaku lebih dari ini, aku tak pernah ambil hati. Dia pernah samakan aku dengan anjing dan kambing pun, aku tak ambil pusing.
Tapi kenapa sekarang rasanya kesal di hati ini tak mau hilang? Kata-kata Vian tadi siang sangat melukai perasaanku.
"Ingat ya, kamu di sini itu kerja! bukan buat nyari lelaki!"
Aku mencengkram sendok makanku dengan erat saat mengingat kata-kata Vian tadi siang.
'Di matanya, aku ini perempuan macam apa memangnya???'
Kenapa rasanya sakit sekali, aku tidak suka Vian menganggap ku sebagai perempuan centil. Aku ingin terlihat baik di matanya, aku ingin dia melihatku sebagai perempuan yang bisa menarik perhatiannya. Tapi nyatanya, dia hanya menganggap ku sebagai 'cewek genit'.
Aku benar-benar sudah gila!!!
"Kau kenapa sih?!" Ternyata Vian dari tadi memperhatikan diriku.
"Nggak apa-apa." Jawabku singkat.
"Huh! Cepat bereskan makanannya. Aku sudah kenyang." Vian menyerahkan piring bekas makannya, nasi nya masih tersisa banyak.
Aku menurut dan mengambil piring kotor itu dari tangan Vian.
"Kenapa diam terus?" Tanya Vian lagi.
"Nggak apa-apa."
"Makananku masih tersisa," Vian berceletuk saat melihatku hendak keluar dari kamarnya.
"Kenapa kamu diam saja? biasanya kamu cerewet sekali kalau aku menyisakan makanan? biasanya kamu langsung ceramah panjang kali lebar tentang petani yang sudah susah payah menanam padi..."
Aku hanya melirik ke arahnya sebentar lalu kembali melangkahkan kaki ke luar kamar Vian. Aku sedang malas berdebat. Aku juga malas melihat wajah nya.
Saat melihat wajah tampan Vian, ada rasa marah dan senang yang bertumpuk membuatku kesal sendiri. Aku menyukainya tapi juga membencinya! Aku merasa seperti orang yang sudah hilang akal.
"Huft..." Aku menghela napas sambil mencuci piring bekas makan ku dan Vian. Biasanya Mbok Yem melarangku melakukannya, tapi saat ini aku butuh kegiatan yang bisa membuatku sedikit menjauhi Vian. Aku tak mau berada di dekatnya terlalu lama.
Aku menggosok piring kotor ini dengan perasaan gemas, rasanya aku ingin meluapkan kekesalanku. Aku menggosok makin kencang, padahal piring-piring ini sudah sangat bersih.
Akhirnya aku merelakan piring yang tadi menjadi pusat pelampiasan ku, ke rak piring.
Saat akan berbalik ke kamar, aku melonjak kaget karena ternyata Vian berada di belakangku.
"Ng.. ngapain kamu di sini? nggak bersuara, bikin kaget."
Vian menatapku, tatapannya terlihat kesal.
"Kau kenapa sih!" Tanyanya.
"Nggak kenapa-kenapa!" Bentakku, sambil mencoba berjalan menjauhi Vian.
Vian menggerakkan kursi rodanya untuk menghadang langkahku. Aku jadi salah tingkah.
"Halloo semuanya... selamat malam." Tiba-tiba Rama muncul.
Aku menghela napas lega.
"Kalian sedang apa?" Tanyanya saat melihat aku dan Vian terdiam.
"Mau apa ke sini?!" Tanya Vian dengan nada yang ketus.
"Aku bawa pizza.. dan cola.." Rama menunjukkan kantong kresek yang di bawanya.
"Yuk makan bersama-sama." Ajaknya.
"Kami baru saja makan malam dan masih kenyang..."
"Aku mau." Ucapku, menyela Vian.
Vian langsung menoleh ke arahku, matanya menyipit tanda tak suka.
"Kau kan baru makan?!" Desisnya.
Aku hanya diam sambil berjalan mendekati Rama.
"Wuah.. pizza, sudah lama sekali aku tidak makan ini."
"Kau suka pizza?" Rama menatapku sambil tersenyum.
"Aku suka semua makanan, hanya kayu dan batu yang aku tak suka." Ucapku sambil tertawa kecil.
Rama pun tertawa mendengar gurauanku.
"Bilang saja kalau kamu itu rakus!"
Aku menoleh ke arah Vian sambil melotot.
"Katanya kamu ngantuk, mau tidur. Sanah tidur." Usirku pada Vian.
Vian mengatupkan mulutnya, aku tahu dia marah. Aah.. peduli amat.
"Eh, kita makan di ruang tengah sambil karaoke." Usul Rama.
Mataku melebar mendengar kata 'karaoke'. Aku suka banget menyanyi. Dulu saat pertama kali datang ke rumah ini dan di ajak Bu Atikah berkeliling, aku melihat microfon di ruang tengah dan berkhayal bisa berkaraoke ria. Ternyata Rama lah yang akan mengabulkan harapanku.
"Ayoo." Jawabku Riang.
Aku dan Rama berjalan menuju ruang tengah, dan meninggalkan Vian yang masih terpaku.
Kami duduk bersebelahan di kursi sudut yang besar yang berada di ruang tengah. Rama membuka kotak-kotak pizza yang di bawanya, kemudian dia mengambil dua gelas dari dapur lalu mengisinya dengan cola yang tadi dibawanya.
Rama memperlakukanku dengan sangat baik dan perhatian. Sebagai seorang perempuan aku sangat senang di perlakukan seperti ini.
Vian tidak pernah memperlakukan aku dengan baik seperti yang Rama lakukan padaku, sepertinya Vian memang tidak pernah menganggap ku sebagai perempuan!
"Silahkan." Rama mengambil sepotong pizza dan menyerahkannya padaku. Aku menerimanya dengan hati yang berbunga-bunga.
"Terima kasih." Jawabku sambil tersenyum bahagia.
Rama itu sudah ganteng, baik, pintar lagi membuat hati jadi dag dig dug.
"Mau pilih lagu apa?" Tanya Rama sambil membuka ponselnya dan mencari-cari lagu yang bisa di nyanyikan oleh kami berdua.
"Kalian pikir, kalian sedang di mana?!" Vian tiba-tiba muncul dengan wajah yang di tekuk, dia terlihat sangat kesal.
"Eh, Vian. Kau juga kan suka karaoke. Dulu kan kau sering nyanyi lagunya The Beatles."
Aku menoleh ke arah Vian, "The Beatles? tua banget kamu mas?"
"Ini masalah selera, kau nggak akan mengerti!" Vian menjawab ku dengan ketus.
"Selera? selera orang tua!" Cibirku.
Vian hanya melirikku sepintas lalu dia mengambil salah satu microfon. "Hey, Jude!" Ucapnya pada Rama.
Rama mengangguk sambil mencarikan lagu yang di minta oleh Vian.
Musik mulai mengalun. Vian pun mengangkat microfon mendekat ke arah mulutnya.
"Hey, Jude.. don't make it bad
Take a sad song and make it better.
Remember to let her into your heart
Then you can start to make it better...
Hey, Jude... don't be afraid.
You were made to go out and get her.
The minute you late her under your skin
Then you begin to make it better..
Oh.. oh..oh.."
Aku terhipnotis dengan suara merdu Vian. Ternyata dia sangat pandai menyanyi, suaranya sangat nyaman menggema di dalam hatiku. Aku jadi makin jatuh cin.. apa!! barusan aku mikir apa!
Aku memukul kepalaku dengan pelan dan memaki diri sendiri di dalam hati.
Aku bertepuk tangan saat Vian menyelesaikan lagunya.
Vian tersenyum sinis padaku, lalu menyerahkan microfon. Aku menerimanya.
"Terima kasih." Ucapku lirih.
"Fafa mau nyanyi apa?" tanya Rama.
"Apa ya? pilihkan lah, aku bingung.
Rama mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Intro musik mengalun dan aku melonjak senang.
"Kita duet." Ucap Rama sambil berdiri dan menarik tanganku.
"Kalau cinta sudah membara.."
"Aha aha.." Sambungku.
"Rindu jadi menggebu-gebu.."
"Uhu.. uhu.." Lalu aku tertawa.
"Janji janji seribu janji, janji apel di malam ini..."
"Pacarku tak ada di rumah." Sambungku.
"Aha. aha." Kali ini Rama yang menyahut.
Kami terus bernyanyi bersaut-sautan, rasanya menyenangkan sekali. Aku bisa bernyanyi dan berjoget dengan puas bersama Rama. Hilang sudah perasaan kesal yang dari tadi menyelimutiku.
"Suka suka... nyanyi..."
Pet!
TV big screen nya tiba-tiba mati.
Aku dan Rama bingung dan celingukan. Apa listrik mati? tapi lampu-lampu tetap menyala.
"Sudah malam, kalian berisik!" Ucap Vian.
Di tangannya terdapat colokkan TV. Ternyata dia yang mencabut aliran listrik hingga TV nya mati.
Aku kesal bukan main. Nanggung banget ini nyanyinya, lagi enak-enaknya malah main matiin aja!
"Fafa, ayo tidur." Ucap Vian sambil memutar roda kursinya.
"Heehh??!!!" Seru Rama dan aku berbarengan.
"Kalian tidur bersama?" Tanya Rama, wajahnya tampak terkejut.
"Ng.. nggak kok!" Aku langsung mengelak sambil menggoyangkan kedua tanganku.
"Kita sudah pernah melakukannya sekali, kenapa kamu harus malu-malu seperti itu!" Vian mulai bicara makin ngelantur.
Wajahku langsung merona.
"Aku juga tahu kebiasaan tidurmu yang suka memeluk..."
"Aahh!! Mas Vian!!!!" Pekikku mencoba menghentikan kata-katanya.
"A.. aayo.. aku antar ke kamar. Lalu aku juga akan tidur di kamarku." Aku segera mengejar Vian.
"Aku tidur di kamarku sendiri!" Ucapku sedikit keras, agar Rama bisa mendengarnya dengan jelas.
Dasar lelaki durjana kau Vian!!! Kesalnya aku!!!