Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Nol
Pintu kamar tertutup rapat. Suara kunci diklik dari dalam, dua kali. Pasti. Alya bahkan menggantungkan handuk di gagang pintu bagian dalam, seperti yang dulu ia lakukan di kamar kos temannya—trik sederhana untuk mengetahui apakah ada orang yang masuk saat ia tidak sadar.
Tapi di rumah sebesar ini, di kamar semewah ini, ia merasa lebih aman dengan trik kuno itu.
Ia berjalan menuju tempat tidur. Kakinya terasa berat, seperti diikat karung pasir. Setiap langkah mengirimkan gelombang rasa sakit dari tubuhnya yang babak belur.
Memar di punggungnya terasa berdenyut-denyut, lengan kirinya terasa kaku, dan ada sesuatu yang sakit di dalam dirinya—bukan fisik, tapi sesuatu yang jauh lebih dalam. Sesuatu yang tidak bisa diobati dengan obat apapun.
Akhirnya ia mencapai tepi ranjang. Kasur empuk dengan sprei sutra berwarna krem itu terasa begitu lembut di bawah telapak tangannya. Tempat tidur ini terlalu besar untuk satu orang. Terlalu mewah untuk seorang gadis yang dulu tidur di kasur busa tipis di kamar sempit rumah ibunya.
Alya duduk di tepi ranjang. Matanya kosong menatap dinding di depannya—dinding putih bersih dengan hiasan lukisan abstrak berwarna biru dan emas. Mahal. Semua serba mahal. Tapi tidak ada yang terasa seperti miliknya.
Lalu, seperti bendungan yang jebol, tangisnya pecah.
Bukan tangis lirih seperti di dapur. Bukan air mata yang mengalir diam-diam seperti tadi pagi. Ini tangis yang sesungguhnya. Tangis yang ia tahan sejak semalam, sejak tubuhnya dihancurkan di lantai ruang keluarga yang dingin itu.
Alya membungkuk, wajahnya terbenam di atas tumpukan bantal. Kedua tangannya menggenggam erat ujung bantal, kuku-kukunya yang pendek menusuk kain sutra. Tangisnya keluar dalam isakan-isakan panjang yang teredam oleh bantal, bahunya naik turun dengan hebat.
"Ahhhhh..." rintihannya keluar tersekat, seperti orang yang kehabisan napas. "Aaaaa... hhhhh..."
Ia menangis sejadi-jadinya. Menangis untuk mimpi-mimpinya yang terkubur. Menangis untuk tubuhnya yang dinodai. Menangis untuk dirinya yang hilang. Menangis untuk semua yang seharusnya tidak terjadi.
Air matanya membasahi sarung bantal, meninggalkan noda basah yang perlahan melebar. Hidungnya tersumbat, napasnya terputus-putus, tapi ia tidak bisa berhenti. Tubuhnya terus bergetar, tangisnya terus mengalir, seolah ada lautan di dalam dirinya yang harus dikeluarkan semuanya.
Sesekali ia terhenti, menarik napas panjang yang tersendat-sendat, lalu menangis lagi dengan ledakan yang lebih keras. Tangis seorang anak yang kehilangan segalanya. Tangis seorang gadis yang baru saja menyadari bahwa dunianya tidak akan pernah sama.
Setelah sekian lama—ia tidak tahu berapa lama—tangisnya perlahan mereda. Isakannya menjadi lebih pendek, lebih jarang. Napasnya mulai teratur, meski masih tersendat.
Alya membalikkan tubuhnya, berbaring telentang di atas ranjang. Matanya sembab, merah, dan terasa perih. Langit-langit kamar yang tinggi dengan lampu kristal yang menggantung di tengah terlihat buram karena air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.
Ia menggapai ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Layar menyala, menunjukkan wallpaper foto ibunya yang sedang tersenyum lembut. Foto itu diambil Alya sebelum pernikahan, saat ia masih bisa tersenyum tanpa perlu berpura-pura.
Jari-jarinya membuka daftar kontak. Nama "Mama" muncul di urutan pertama.
Ia menatap nama itu lama sekali.
Jempolnya bergerak mendekati tombol hijau. Hampir menekan. Tapi kemudian ia membayangkan suara ibunya di ujung telepon. Suara lemah yang pasti akan menangis mendengar ceritanya.
Suara yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Karena ibunya tidak punya kekuatan. Tidak punya uang. Tidak punya kuasa untuk melawan Gita, apalagi Reza.
Alya membayangkan ibunya yang sudah tua, yang jantungnya lemah, yang setiap hari hanya bisa duduk di sofa sambil merajut.
Jika ia tahu apa yang terjadi pada anak bungsunya, ibunya pasti akan sakit. Jantungnya bisa kambuh. Tekanan darahnya bisa naik. Dan untuk apa? Untuk akhirnya tetap tidak bisa berbuat apa-apa?
Alya menutup kontak itu.
Ia tidak akan menambah beban di pundak ibunya yang sudah rapuh. Biarlah ibunya tetap berpikir bahwa anak bungsunya hidup bahagia di rumah mewah dengan suami kaya raya. Itu lebih baik.
Setidaknya ibunya bisa tidur nyenyak tanpa harus memikirkan anaknya yang hancur berkeping-keping di rumah orang.
Matanya beralih ke nama lain. "Kak Gita."
Jantung Alya berdetak lebih cepat saat melihat nama itu. Amarah yang selama ini terpendam mulai muncul ke permukaan.
Kakaknya. Wanita yang menjodohkannya dengan pria yang tidak ia kenal. Wanita yang mengatakan ini semua demi kebaikannya. Wanita yang seharusnya melindunginya, tapi justru melemparkannya ke dalam neraka.
Ia ingin menekan tombol itu. Ia ingin berteriak pada Gita. Ia ingin bertanya, "Kau tahu apa yang dilakukan suami yang kau pilihkan untukku? Kau tahu dia memperkosaku semalam? Kau tahu aku babak belur karena dia melampiaskan kekesalannya padaku? Kau tahu semua ini, Kak? Atau kau memang sengaja mengorbankanku?"
Jari Alya menggigil di atas layar ponsel.
Tapi ia tidak menekan.
Karena ia tahu jawaban yang akan ia dapatkan. Gita akan membela Reza. Gita akan membalikkan keadaan. Gita akan mengatakan bahwa ini semua salah Alya—mungkin karena Alya tidak pandai menjaga sikap, mungkin karena Alya tidak tahu cara melayani suami, mungkin karena Alya terlalu banyak menuntut.
Atau lebih buruk dari itu: Gita mungkin tidak akan peduli.
Alya membayangkan suara Gita yang dingin, datar, seperti saat ia mengumumkan perjodohan itu dulu. Tanpa emosi. Tanpa empati. Seperti berbicara pada klien bisnis, bukan pada adik kandung.
Ia tidak sanggup mendengar itu. Tidak hari ini. Tidak setelah semalam.
Alya menutup kontak Gita. Ponselnya jatuh ke samping bantal.
Ia menatap langit-langit lagi, matanya kosong, pikirannya berputar mencari jalan keluar dari neraka yang ia tinggali sekarang.
---
Alya tidak bisa pulang ke rumah ibunya. Di sana ia hanya akan menjadi beban. Dan Gita pasti akan membawanya kembali ke sini.
Alya tidak bisa melapor ke polisi. Tidak ada bukti yang cukup selain luka di tubuhnya—dan luka itu akan sembuh. Siapa yang akan percaya kata seorang gadis polos melawan pria kaya seperti Reza? Apalagi dengan Gita di belakangnya.
Alya tidak bisa lari. Ia tidak punya uang. Tidak punya tempat tujuan. Tidak punya siapa-siapa.
Tapi tunggu. Ia punya uang.
Matanya yang kosong perlahan berfokus. Uang saku bulanan dari Reza. Setara UMR. Nominal yang bahkan mungkin baru bisa ia dapatkan setelah bekerja keras sebagai lulusan baru nanti. Uang itu ada di rekeningnya. Cukup untuk membayar uang muka kuliah. Cukup untuk membeli buku-buku. Cukup untuk...
Kuliah.
Kata itu muncul dari lubuk hatinya yang paling dalam. Kata yang selama tiga minggu ini ia kubur bersama mimpi-mimpinya. Kata yang sempat ia yakini tidak akan pernah lagi menjadi bagian dari hidupnya.
Tapi mengapa tidak?
Reza tidak pernah melarangnya kuliah. Gita bilang kuliah tidak penting, tapi siapa yang peduli dengan kata Gita? Reza memberinya uang setiap bulan—uang yang entah datang dari rasa tanggung jawab atau sekadar formalitas. Dan uang itu adalah miliknya. Istri berhak atas nafkah dari suami.
Alya duduk perlahan, mengabaikan rasa sakit yang menjalari punggungnya. Ia meraih ponsel lagi. Jari-jarinya membuka browser, mengetikkan kata kunci: "kuliah karyawan swasta kota"
Daftar universitas muncul di layar. Ada beberapa. Kampus swasta dengan program kelas karyawan. Kuliah malam. Jadwal fleksibel. Biaya terjangkau—terjangkau untuk ukuran uang saku yang ia terima.
Alya membaca satu per satu. Matanya yang tadinya kosong perlahan mulai fokus. Ada sesuatu yang hidup di dalam dirinya. Sesuatu yang semalam hampir mati, tapi sekarang mulai menyala lagi.
Dia tidak akan membiarkan pernikahan ini menghancurkan masa depannya. Dia tidak akan membiarkan Reza merenggut mimpinya. Dia tidak akan membiarkan Gita menentukan hidupnya.
Jika ia harus tinggal di neraka ini, setidaknya ia akan keluar dari sini dengan bekal. Ijazah. Pengetahuan. Keterampilan. Sesuatu yang tidak bisa diambil siapa pun.
Alya tersenyum. Bukan senyum bahagia. Senyum pahit yang lahir dari luka yang masih menganga. Tapi senyum itu tetap senyum. Dan itu adalah senyum pertama yang ia berikan pada dirinya sendiri sejak malam itu.
"Aku akan kuliah," bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku akan keluar dari sini. Cepat atau lambat, aku akan keluar."
---
Ketukan pintu terdengar pelan.
"Tok... tok... tok..."
Alya tersentak, tubuhnya langsung menegang. Ketakutan yang semalam ia rasakan kembali merayap di sekujur tubuhnya. Tangannya meraih selimut, menutupi tubuhnya meskipun ia sudah mengenakan baju—kaus longgar dan celana pendek yang dipinjamkan Aminah.
"Siapa?" suaranya keluar parau, sedikit bergetar.
"Ini Wati, Mbak." Suara dari balik pintu lembut, hampir berbisik. "Aminah suruh saya antar ini."
Alya menghela napas lega. Ia turun dari ranjang, kakinya masih terasa lemas. Perlahan ia berjalan menuju pintu, membukanya hanya selebar yang diperlukan untuk melihat ke luar.
Wati berdiri di ambang pintu dengan wajah yang masih sembab. Matanya merah, hidungnya memerah seperti habis menangis lama. Di tangannya ada sebuah kotak kecil berwarna putih dan segelas air putih.
"Ini, Mbak," Wati menyerahkan kotak itu dengan hati-hati. "Aminah suruh beli tadi pagi pas belanja ke warung belakang komplek. Beliau bilang... beliau bilang Mbak minta ini."
Alya menerima kotak itu. Tangannya sedikit gemetar. Ia membuka kotak kecil itu, menemukan blister pil KB berwarna merah muda di dalamnya. Pil darurat. Pil yang akan memastikan ia tidak membawa benih pria yang semalam memperkosanya.
"Aminah juga bilang, Mbak," Wati melanjutkan dengan suara lirih, "kalau Mbak butuh apa-apa, Mbak tinggal bilang sama kami. Kami... kami akan bantu sebisa kami. Aminah bilang, beliau malu sama Mbak karena semalam beliau tidak berani keluar."
Alya menatap kotak itu lama. Ia tidak marah pada Aminah. Ia tidak marah pada siapa pun yang semalam memilih diam. Mereka hanya pekerja. Mereka tidak punya kuasa. Sama seperti dirinya—tidak punya kuasa.
"Terima kasih, Wati," ucap Alya pelan. "Bilang sama Aminah... tidak apa-apa. Aku tidak marah."
Wati mengangguk, air matanya mulai mengalir lagi. "Mbak... Mbak baik-baik saja?"
Alya tersenyum. Senyum pahit yang sama. "Aku akan baik-baik saja."
Wati tidak yakin dengan senyum itu. Tapi ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa mengangguk, membungkuk hormat, lalu pergi meninggalkan Alya di ambang pintu.
Alya menutup pintu, mengunci lagi, dan menggantung handuk di gagang pintu seperti tadi.
Ia kembali ke ranjang, duduk di tepinya, lalu menelan satu pil dari blister itu dengan seteguk air. Pil itu terasa pahit di tenggorokannya. Tapi tidak sepahit kenyataan yang harus ia telan.
Alya meletakkan gelas di meja samping, lalu meraih ponselnya lagi. Jari-jarinya membuka browser yang tadi ia buka. Universitas swasta dengan program karyawan. Biaya pendaftaran. Syarat berkas. Jadwal pendaftaran.
Ia membaca semuanya dengan seksama. Matanya yang tadi kosong kini berbinar—bukan binar kebahagiaan, tapi binar tekad. Api kecil yang tadi muncul di kamar mandi, kini mulai membesar.
"Aku akan daftar besok," bisiknya pada diri sendiri. "Aku akan kuliah. Aku akan punya ijazah. Aku akan bisa mandiri. Dan suatu hari nanti, aku akan keluar dari rumah ini. Selamanya."
Ia meletakkan ponsel di samping bantal. Tubuhnya yang lelah akhirnya menyerah pada kasur empuk di bawahnya. Matanya terasa berat, tubuhnya terasa lemas, pikirannya mulai kabur.
Sebelum ia terlelap, satu pikiran terakhir melintas di benaknya.
Aku bukan korban. Aku adalah penyintas. Dan aku akan bertahan.
Di luar, matahari mulai meninggi. Burung-burung masih berkicau di taman. Dunia terus berputar seolah tidak ada yang terjadi.
Tapi di dalam kamar mewah itu, seorang gadis berusia delapan belas tahun baru saja memutuskan untuk tidak menyerah. Ia telah mencapai titik nolnya. Dan dari titik ini, ia akan membangun dirinya kembali.
Bata demi bata. Luka demi luka. Tangis demi tangis.
jangan lupa mampir yaa🤭