Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".
Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?
Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelajaran Dari Ledakan Energi
Setelah energi kebiruan yang menyala terang bertabrakan dengan perisai pelindung yang dibangun Bara dan diperkuat oleh kekuatan alam semesta, terjadi ledakan yang mengguncang tanah hingga membuat batu-batu kecil di sekeliling halaman rumah Aldi melompat ke udara. Cahaya putih menyilaukan memenuhi setiap sudut pandangan, seolah matahari sendiri turun ke bumi untuk menghadang ancaman tersebut. Semua orang terpaksa menutup mata dengan erat dan menjaga keseimbangan dengan menggenggam apa saja yang bisa mereka pegang – dari batang pohon hingga tangan teman sekeliling.
Ketika cahaya perlahan menghilang dan suara gema mulai surut, Aldi perlahan membuka kelopak matanya dan melihat pemandangan yang mengejutkan. Perisai yang terbuat dari energi alamiah milik Bara masih berdiri kokoh, meskipun permukaannya tampak sedikit gores dan memancarkan kilatan emas yang lembut sebagai tanda bahwa ia telah menyerap banyak beban. Sebagian besar alat-alat milik kelompok jas hitam telah hancur berkeping-keping, dengan bagian-bagian logam yang menyala hangus bertebaran di tanah. Beberapa sosok jas hitam terjatuh ke tanah, kesulitan bernapas karena dampak ledakan, sementara yang lain dengan cepat menarik diri ke dalam hutan, menyusuri jalan setapak yang sudah jarang digunakan agar tidak terlacak.
"Jangan biarkan mereka kabur begitu saja!" teriak Aldi dengan wajah penuh kemarahan, ingin langsung mengejar kelompok tersebut untuk memberikan pelajaran. Namun sebelum dia bisa melangkah jauh, Rian segera menarik tangannya dengan kuat dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah mengejar mereka sekarang, Aldi," ujar Rian dengan suara tenang namun tegas, matanya tetap terpaku pada pepohonan di sekitar yang mulai menunjukkan warna kuning pucat. "Yang paling penting saat ini adalah menyelamatkan hutan yang terkena dampak energi mereka. Jika kita membiarkan energi jahat itu terus menempel, tidak hanya pohon-pohon yang akan mati – seluruh ekosistem di sekitar desa bisa terganggu parah."
Dinda mengangguk dan mulai bergerak dengan cepat ke arah sekelompok pohon jati yang sudah mulai menguning hingga daun-daunnya terlihat rapuh. "Ini adalah pelajaran ke-26 dari alam yang akan kita pelajari bersama – ketika kehancuran datang dengan cepat dan tidak terduga, jangan biarkan emosi memimpin langkahmu. Fokuslah pada pemulihan, bukan pada pembalasan." Dia menekankan setiap kata dengan jelas, sambil mulai menyentuh batang pohon yang terkena dampak dan mengeluarkan energi lembut dari telapak tangannya untuk membersihkan sisa-sisa energi kebiruan yang masih menempel.
Bara mendekati Aldi dengan wajah yang sedikit pucat tapi tetap tegas. Bentuk fisiknya yang biasanya stabil kini tampak sedikit memudar karena telah mengeluarkan banyak energi untuk membuat perisai pelindung. "Kekuatanmu baru saja teruji dalam kondisi yang paling sulit, dan kamu memilih jalur yang benar – menggunakan kekuatan untuk melindungi, bukan untuk menghancurkan," ujar Bara sambil mengusap dahinya yang sedikit berkeringat. "Tetapi kamu harus ingat satu hal penting – setiap energi yang kita gunakan, baik itu positif maupun negatif, memiliki konsekuensi yang harus kita tanggung. Ledakan tadi memang berhasil mengusir mereka, tapi juga telah mengganggu keseimbangan energi lokal. Bumi merasakan setiap guncangan, dan kita harus bekerja sama untuk memperbaikinya kembali."
Sementara itu, Kakek Jaya tidak tinggal diam. Ia segera masuk ke dalam rumah dan kembali membawa sebuah ember besar berisi air jernih dari sungai yang telah diolah dengan ramuan khusus, ditambah beberapa ikat daun obat yang sudah dia siapkan sejak lama – ramuan yang dia pelajari dari ayahnya dulu untuk menyembuhkan pohon-pohon yang sakit. "Leluhur kita selalu bilang, 'Setiap kerusakan yang dibuat oleh tangan manusia harus diperbaiki dengan tangan manusia juga,'" katanya dengan suara yang penuh kebijaksanaan, sambil memberikan ember kepada Aldi. "Air ini berasal dari sumber mata air terdalam di hutan – airnya memiliki kekuatan untuk membersihkan energi jahat. Mari kita mulai dari pohon-pohon paling dekat dengan rumah dulu, kemudian kita lanjutkan ke dalam hutan."
Aldi menerima ember dengan hati yang penuh rasa hormat. Dia merendam kedua tangannya ke dalam air sungai yang masih terasa segar dan sedikit hangat karena ramuan yang dicampurkan. Saat dia menyentuh batang pohon jati yang paling dekat dengan mereka, dia merasakan getaran energi dingin dan menyakitkan menyentuh kulitnya – seolah ada ribuan jarum kecil yang menusuk telapak tangannya. Namun dia tidak mundur sedikit pun. Seperti yang diajarkan Rian selama pelatihan beberapa hari lalu, Aldi menutup mata sebentar, menghubungkan dirinya dengan akar pohon yang dalam menyembur ke dalam tanah, dan membiarkan energi positif dari dalam dirinya mengalir perlahan ke dalam batang pohon.
Lama kelamaan, dengan kerja keras yang tidak mengenal lelah, warna hijau mulai kembali muncul perlahan pada daun-daun pohon tersebut. Awalnya hanya sedikit noda hijau muda di ujung daun, namun kemudian menyebar ke seluruh permukaan daun hingga pohon tersebut kembali tampak segar seperti sedia kala. Dinda, Bara, dan Rian juga melakukan hal yang sama di pohon-pohon lain di sekitar halaman rumah. Bahkan beberapa warga desa yang melihat kejadian dari kejauhan – yang awalnya hanya berdiri takjub melihat peristiwa yang luar biasa – mulai datang membantu dengan membawa ember-ember berisi air dan menyiram tanah di sekitar akar pohon-pohon yang terkena dampak. Mereka mungkin tidak bisa merasakan energi seperti Aldi dan temannya, tapi mereka tahu bahwa kontribusi kecil mereka juga berarti banyak bagi keselamatan hutan yang telah melindungi desa mereka selama berabad-abad.
"Satu orang tidak bisa menyelamatkan seluruh hutan sendirian, Aldi," ujar Dinda sambil duduk sebentar untuk menarik napas dalam-dalam, sedang membersihkan energi jahat dari sebuah akar pohon yang terbuka akibat getaran ledakan. "Ini adalah pelajaran tambahan yang mungkin tidak tercantum dalam daftar 25 pelajaran awal kita – alam hidup dan berkembang karena kerja sama antara semua makhluk di dalamnya, bukan karena kekuatan yang dimiliki oleh satu makhluk saja." Dia menunjuk ke arah warga desa yang sedang bekerja sama menyiram tanaman dan membersihkan puing-puing alat yang terjatuh. "Lihat mereka – mereka tidak memiliki kemampuanmu, tapi mereka peduli, dan itu adalah kekuatan lain yang sama pentingnya."
Setelah beberapa jam bekerja tanpa henti, matahari mulai mulai terbenam perlahan di balik puncak pepohonan tinggi di ujung hutan lindung. Cahaya senja kemerahan menyebar ke seluruh langit, memberikan warna keemasan pada setiap daun dan dedaunan yang sudah kembali segar. Pohon-pohon yang semula menguning dan tampak akan mati kini sudah kembali hijau cerah, dengan daun-daunnya yang bergerak lembut tertiup angin sepoi-sepoi. Udara kembali menjadi segar seperti biasa, bahkan terasa lebih segar karena campuran aroma daun-daun segar dan tanah yang lembab setelah disiram air. Aldi akhirnya duduk di atas tanah dengan tubuh yang sangat lelah, tapi wajahnya penuh dengan rasa bangga yang tak terlukiskan.
"Kita melakukannya..." ujar Aldi dengan suara lembut, matanya tetap melihat ke arah hutan yang telah mereka bantu pulihkan.
Rian mendekat dan memberikan segelas air kelapa segar yang sudah disiapkan Kakek Jaya. "Kita memang melakukannya, tapi ini baru permulaan dari perjuangan kita, Aldi," ujarnya dengan nada yang penuh perhatian. "Kelompok itu tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan kembali dengan persiapan yang lebih baik, membawa alat-alat yang lebih kuat dan mungkin bahkan memiliki orang-orang dengan kemampuan khusus seperti kamu. Dan saat itu tiba, kita tidak hanya harus melindungi hutan dari kerusakan – kita juga harus mengajarkan pada mereka bahwa kekuatan alam bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki, diperdagangkan, atau digunakan untuk kepentingan diri sendiri."
Bara yang sudah sedikit pulih mendekat dan menambahkan, "Dan pelajaran terpenting dari semua yang telah kita alami hari ini – alam tidak pernah meminta balasan atas semua yang dia berikan kepada kita. Dia hanya mengharapkan kita untuk menjaga keseimbangan yang telah ada sejak ribuan tahun yang lalu, dan untuk memastikan bahwa keberadaan kita tidak merusak harmoni yang telah dibangun dengan susah payah."
Di kejauhan, tepat di atas bukit yang menghadap desa dan hutan lindung, sosok pemimpin kelompok jas hitam berdiri dengan wajah yang penuh kemarahan dan tekad. Di tangannya ada sebuah perangkat kecil yang masih berfungsi dengan baik, menampilkan data tentang energi yang dikeluarkan Aldi dan temannya. Ia mengenakan topeng hitam yang menutupi sebagian wajahnya, tapi matanya yang menyala dengan warna kebiruan menunjukkan betapa marahnya ia dengan kekalahan yang baru saja dialaminya. "Kita akan kembali lebih kuat dari sebelumnya," gumamnya dengan suara dingin yang terdengar seperti bisikan angin yang dingin. "Kamu mungkin telah menyelamatkan hutan kali ini, Aldi. Tapi aku akan menunjukkan padamu bahwa kekuatanmu bisa digunakan untuk tujuan yang jauh lebih besar daripada hanya melindungi beberapa pohon dan sungai. Dan kali ini, kita akan mengambil apa yang menjadi milik kita dengan paksa jika perlu."
Sementara itu, di halaman rumah Aldi, Kakek Jaya sedang berkumpul dengan beberapa orang tua desa yang paling berpengalaman. Mereka duduk berkeliling di sekitar unggun api kecil yang menyala dengan lembut, membahas dengan serius tentang cara untuk melindungi hutan lindung dan mengajarkan pengetahuan leluhur tentang hubungan manusia dengan alam kepada generasi muda di desa. Beberapa dari mereka bahkan mulai berbicara tentang membentuk kelompok penjaga hutan yang akan bekerja sama dengan Aldi dan temannya. Aldi melihat semua itu dari kejauhan dan merasakan rasa lega serta tekad yang semakin kuat dalam dirinya. Dia tahu bahwa perjuangan untuk melindungi alam dan menjaga keseimbangan dunia tidak akan pernah berakhir, tapi kini dia memiliki teman yang setia, keluarga yang mendukung, dan komunitas yang siap bersamanya dalam perjuangan yang mulia tersebut.