Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 004 : Dimensi Seberang yang Menyapa Mataku
"Huh..." Desta, menggelengkan kepalanya beberapa kali sambil terpejam. Dia berada di atas ranjang UKS. Keringat dingin keluar dari keningnya. Sebesar jagung rasanya.
Ada sesuatu yang dia lihat di dalam kegelapan itu. Samar-samar namun nyata secara perlahan. Ya, ini adalah Vision.
Dalam dunia supranatural atau metafisika, vision (penglihatan gaib/spiritual) bukan sekadar proses melihat dengan mata fisik, melainkan sebuah kemampuan menerima pesan, gambaran, atau kilasan peristiwa melalui "mata batin" atau indra keenam.
_______
...Beberapa Tahun Lalu......
...Jauh di ujung belantara, masih berada satu desa kecil dengan masa kelamnya....
______
"Aku mohon! Jangan ambil mereka!" ucap seorang wanita kepada seorang wanita berkebaya di depannya.
"Ijah, kamu sudah keterlaluan! Bagaimana bisa kamu melakukan ritual semacam ini, Ijah?" tanya seorang lelaki bernama Parman kepada wanita bernama Ijah.
"Tidak Pak, saya tidak bersalah! Kamu mengenal saya bukan? Bukankah kamu tau sendiri aku tidak melakukan ini? Kita sudah bersama cukup lama. Dan kau menuduhku semudah itu?" ucap Ijah nadanya meminta belas kasihan.
Sedangkan keempat anaknya tertidur di atas batu seperti tempat untuk persembahan. Pak Parman menatap ke arah istri pertamanya.
Di sana istri pertamanya menganggukkan kepala seperti sedang mengisyaratkan sesuatu kepada Pak Parman selaku suaminya.
"Kamu memang tidak tau malu Ijah!" tegur Pak Parman lagi.
Sedangkan tangan kiri Ijah yang dipenuhi darah itu berusaha menyentuh keempat anaknya.
Clashhhhh
"Arggghhhhh!!!" teriak Ijah kesakitan ketika Parman dengan tenangnya mengayunkan golok tajam ke arah tangan kiri Ijah. Hingga terputus.
"Aku nikahi kamu untuk memberiku keturunan! Aku bebaskan orang tuamu dari hutang piutang! Aku bahkan menyakiti istriku dengan menikahimu! Tapi kamu, mau membunuh anak-anakku!" ujar Pak Parman murka.
"Hiks... Hiks... Rossa! Kamu benar-benar biadab! Bagaimana bisa kamu menuduhku demikian?" tanya Ijah kepada Rossa selaku istri pertama Pak Parman.
Namun Rossa di sana hanya tersenyum tipis. Sungguh dendamnya pada Ijah tidak akan pernah surut. Sebab memperkerjakan Ijah di sini. Pak Parman menjadi berpaling padanya.
Rossa yang sudah gelap mata pun membikin perjanjian bersama seorang dukun. Rossa meminta Pak Parman agar kembali mencintainya. Dan inilah jadinya. Tidak satu pun perkataan dari Ijah Parman dengarkan.
"Suamiku! Apakah kamu mencintaiku?" tanya Rossa pada Sang Suami yang masih menatap kesal ke arah Ijah.
"Tentu saja aku mencintaimu! Tidak ada yang lain kecuali dirimu, Rossa!" jawab Pak Parman lantang.
Ijah membulatkan kedua matanya. Sungguh dia tidak percaya bahwa Parman akan mengatakan kalimat itu di depannya.
Padahal dahulu katanya Parman sangat mencintainya. Ijah hanya bisa menitikkan air matanya sambil terus menatap Pak Parman.
"Teganya kamu Pak Parman mencampakkan diriku seperti ini!" ujar Ijah padanya.
Pak Parman hanya diam saja. Sedangkan Rossa dia tersenyum penuh kemenangan. Namun sesuai janji.
Bahwa ajian yang dukun itu berikan harus menumbalkan nyawa. Agar ajian itu tetap awet seumur hidup katanya.
Dukun itu bilang bahwa Rossa harus membuat Ijah terbunuh. Lalu menyerahkan anak terakhir Ijah padanya untuk dikawinkan dengan bangsa Jin.
Sedang keempat anak Ijah yang lain akan menjadi tumbal tiap tahunnya. Anak-anak Ijah harus lenyap agar ajian dukunnya bisa bekerja terus-menerus.
"Dia Rifki, yang paling tua usianya lima tahun! Lalu Haikal, empat tahun! Lalu Aldi, tiga tahun! Lalu Desta, dua tahun! Dan, Farah, satu tahun! Jalang, kelima anakmu akan mati di tangan kami!" ujar Rossa menatap lekat ke arah bola matanya Ijah.
Ijah membulatkan matanya tak percaya. Sungguh keji sekali orang ini.
"Bunuh saja aku, Rossa! Jangan anak-anakku! Kalian gila ya?!" tanya Ijah setengah berteriak.
"Berisik!!!" bentak Pak Parman pada Ijah.
"Mas itu dosa, Mas! Sadar Mas, sadar! Kamu mau apakan anak kita, Mas? Dia mau bunuh anak kita! Lima anak kita Mas!" ujar Ijah memelas berharap bahwa Parman akan sadar.
Tapi tetap, Pak Parman kembali dengan pandangan kosongnya. Dia masih menatap Ijah dengan penuh kebencian. Hingga dari situ Ijah pun sadar. Bahwa suaminya ini sedang diguna-guna.
"Jalang kau Rossa!" ucap Ijah pada Rossa.
Dia murka sekali sekarang.
Plakkkk
"Awhhh!!!" pekik Ijah tersungkur begitu saja ketika tangan kekar Pak Parman menamparnya.
Tangan yang biasanya digunakan untuk membelai lembut rambutnya. Saat ini melayang begitu saja menyakitinya. Sakit, sakitnya bukan hanya sakit fisik tetapi juga sakit hati.
"Sekarang, panggilkan mereka, Mas! Kasih tahu bahwa orang ini pengikut Satanisme! Dia menyekutukan Tuhan" ujar Rossa pada Sang Suami.
Gila sungguh! Tidak hanya musryik. Rossa si wanita Jahanam itu justru memfitnah Ijah. Sungguh terkutuklah dia.
Prokk
Prokk
Pak Parman menepuk kedua tangannya. Tak lama datanglah beberapa orang berjubah hitam. Ijah mencium bau minyak gas.
Dia juga melihat tali tampar yang orang-orang itu bawah. Ijah menoleh kebelakang. Itu adalah sebuah tiang.
Ijah tau bahwa hari ini dia benar-benar tidak akan selamat. Ijah duduk di atas tanah pasir itu. Di sana jari telunjuknya mulai mengukir sesuatu.
Namun itu digagalkan oleh orang-orang yang menyeretnya ke tiang. Ijah diikat di tiang itu. Kedua kakinya dirantai. Itu memungkinkannya untuk tidak lari.
Kemudian, Minyak gas itu mulai disiramkan di rambutnya Ijah. Sampai rambut itu bau semerbak minyak.
Ketika seluruh minyak sudah habis. Maka obor pun mulai didatangkan. Obor-obor menyala itu adalah ancaman buat Ijah.
Sambil menatap Ijah di sana. Para pemegang obor itu tanpa basa-basi segera melemparnya. Ijah hanya diam sambil melihat obor itu melahapnya.
Teriakan Ijah saat itu justru membuat Rossa tertawa sambil menangis. Sungguh hati manusia Rossa sudah mati.
Tubuh Ijah masih bergerak-gerak di sana. Hingga ketika tubuh terbakar itu bersimpuh tepat di depannya ada sebuah cermin bundar.
Jari telunjuknya kembali menulis di atas cermin itu. Ijah menulis sesuatu di sana dengan darahnya.
"Dia masih bergerak! Padahal tubuhnya sudah terbakar!" ucap salah seorang pria berjubah yang ikut serta membakar Ijah.
Sembari menahan sakit perih panas dalam tubuhnya Ijah berhasil menulis itu di sana. Beberapa adalah tulisan aksara Jawa. Kemudian angka-angka.
Jam tiga sore tepat, bulan empat, tahun dua ribu dua enam. Dan jika diangkakan maka akan menjadi,
15:00-04-2026
"Aku tidak akan menerima kematian ini dengan mudah! Angka ini yang ada di sini adalah tanggal di mana kalian pembunuhku akan musnah! Tuhan, aku telah didzolimi!" ujar Ijah seketika tangannya tidak bergerak. Ijah mati setelah menulis angka-angka itu.
Ada satu kejadian yang cukup aneh. Setelah usai ditulisnya tulisan itu. Berakhirnya nafas Ijah bersamaan dengan itu.
Saat itu juga api dalam tubuhnya menyambar area itu. Hingga menjadikan area itu kebakaran hebat.
"Huh! Sialan, apa yang dia lakukan tadi?!" pekik Rossa menggerutu. Dia takut, atas apa yang terjadi kini. Segera sambil ketakutannya, pergi adalah solusi terbaik kini.
Rossa biadab bersama Parman pergi dari sana. Bayi yang dia timang saat itu dia letakkan begitu saja tanpa pertanggung jawaban di tempat itu. Di mana si jago merah masih menyala-nyala.
Ketika para pembunuhnya Ijah mencoba keluar dari dalam kediaman Parman dan Rossa yang melewati hutan. Satu persatu kaki mereka ditarik masuk ke tanah oleh sesuatu.
Sore itu di tengah hutan telah hilang Rossa bersama suaminya yang sampai saat ini keberadaannya sama sekali tidak diketahui. Paginya ketika seorang penjual susu datang ke rumah Parman.
Dia mendengar suara tangisan bayi. Diikutilah suara-suara itu. Hingga tibalah penjual itu melihat seorang anak berusia lima tahun menangis di depan empat bocah lainnya.
Diambillah mereka oleh penjual susu. Kemudian ditaruhlah mereka ke sebuah panti asuhan.
Malamnya setelah kejadian itu. Perkampungan sering mendengar suara-suara aneh di dalam hutan.
Hingga ketika mereka nekat mencari tau sumber suaranya. Mereka menemukan satu hal di sana.
Ada dua makhluk yang sangat mengerikan yang berusaha keluar dari dalam hutan. Mereka selalu berteriak,
"Aku akan membunuhmu! Lepaskan kami!!!"
Itulah suara teriakkan dari para makhluk itu. Sebab menyeramkan maka saat itu juga orang-orang awam berdatangan. Memasang huruf arab Pegon di antara pepohonan hutan.
Hal itu dilakukan agar apa yang ada di dalam hutan atau rumah di hutan itu tidak keluar mengarah ke pemukiman.
_______
...Segala hal kejam di masa lampau itu. Tidak tercatat dalam sejarah. Tidak ada keadilan yang menghakiminya. Tetapi ingatan manusia yang selamat, berhasil mencatat hal kecil. Hal kecil yang ditelan masa. Yang hanya bisa dikulik jika orang itu bertekad penuh....
_____
"Huh... Huh..." Desta nampak terengah-engah setelah tidur beberapa menit.
Desta mengedarkan pandangannya ke segala arah. Semuanya putih dan dia juga berbaring di sebuah ranjang putih.
"Mimpi yang cukup seram!" ujar Desta lalu meringkuk memeluk tubuhnya sendiri.
Keringat dingin bercucuran dari dahinya.
"Desta!" panggil salah seorang perawat menyibak kelambu UKS.
Desta menatapnya tak percaya. Kemudian dia mundur sedikit sambil masih panik.
"Kamu kenapa?" tanya perawat itu khawatir pada Desta.
Desta diam sejenak. Dia ingat bahwa sebelum dia mendapatkan penglihatan tadi. Dia sempat pingsan setelah melihat ke arah cermin di perpustakaannya.
Desta tidak menggubris pertanyaan perawat itu. Dia meraih kacamatanya lalu dipakainya itu. Desta kemudian bangkit dan pergi. Sifatnya yang cuek bak es batu itu justru adalah daya tarik Desta.
"Aku harus tanya pada mereka! Berapa usia mereka saat ini! Sepertinya ada hubungannya kami berlima dengan wanita itu!" ujar Desta sambil berjalan meninggalkan UKS.
Sedang perawat muda itu menatap kepergiannya dengan tatapan heran.
"Sudah jangan ditatap terus Destanya!" ujar salah seorang perawat yang paling tua.
Mendengar itu Sean perawat muda ini hanya tersenyum kecil. Sean sudah cukup lama mengagumi Desta, sungguh. Pemuda yang cukup menawan dan penuh misteri.
"Dia tampan, tapi jarang berbicara! Dia sering masuk ke UKS ini. Dan selalu kita yang merawatnya!" ujar Sean.
"Ah, sepertinya Sean sedang puber!" ucap salah seorang teman Sean yang lain, menggodanya.
Mereka pun tertawa bersama. Kemudian mereka mulai melanjutkan lagi aktivitas mereka.
ternyata dia lebih tua dari aku🤣