Zerrin Atalea Felix seorang gadis mafia yang meninggal dunia lalu berpindah jiwa atau biasa di sebut bertransmigrasi ke tubuh Claudia Ramirez seorang gadis kaya tapi begitu di benci oleh saudara kandung nya sendiri, hanya kedua orang tua nya lah yang menyayangi nya.. Claudia yang selalu di anggap sebagai pembully di sekolah nya, padahal kenyataan nya selama ini dia hanya selalu di jadikan kambing hitam oleh seorang yang iri pada nya. Kesalahan pahaman ini lah yang membuat Claudia akhir nya di benci secara berlebihan oleh kedua abang dan lelaki yang sudah dia cintai sejak lama beserta anggota genk nya yang merupakan anggota most wanted di kampus. Kelompok para cowok-cowok kaya, keren dan populer di kawasan sekolah.
Bagaimana kisah jiwa Zerin yang berada di tubuh Claudia selanjutnya, ikuti terus kisahnya ya 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Jebakan yang Mengancam Nyawa dan Ujian Kepercayaan
Kegagalan sebelumnya membuat Sinta semakin berani dan tidak segan menggunakan cara yang lebih ekstrem. Ia menyadari bahwa tuduhan semata tidak cukup untuk menjatuhkan Claudia — ia butuh insiden yang cukup serius, yang bisa membuat semua orang meragukan keamanan dan kepercayaan pada gadis itu. Bersama Lia dan kelompok kecilnya, ia menyusun rencana yang berisiko tinggi namun diyakininya akan membuahkan hasil sempurna.
Sekolah akan mengadakan kegiatan perkemahan gabungan di daerah pegunungan yang sejuk dan alami. Kegiatan ini melibatkan hampir seluruh siswa dari berbagai kelas, menjadikannya momen yang tepat bagi Sinta untuk bertindak. Di tempat yang jauh dari kota, dengan pengawasan yang lebih longgar dan lingkungan yang lebih sulit dikendalikan, ia bisa menciptakan situasi yang akan menempatkan Claudia dalam posisi yang paling sulit.
“Kita akan buat kejadian yang membuatnya terlihat lalai, bahkan berbahaya,” bisik Sinta kepada Lia saat mereka berdua sedang mengatur perlengkapan. “Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan dia dianggap bertanggung jawab, nama baiknya akan hancur selamanya, dan tidak ada lagi yang akan membelanya.”
Lia yang sudah terbawa emosi dan janji manis setuju tanpa ragu, meskipun hatinya sempat merasa ragu karena rencana itu melibatkan keselamatan orang lain. Namun rasa iri yang sudah menumpuk lama mengalahkan keraguannya.
Sementara itu, Claudia juga mempersiapkan diri dengan penuh kewaspadaan. Ia tahu Sinta tidak akan berhenti begitu saja, dan kegiatan di luar ruangan adalah kesempatan emas bagi orang yang suka memanfaatkan situasi. Ia bahkan memerintahkan beberapa orang kepercayaannya untuk mengawasi dari jarak jauh, tersembunyi di antara penduduk sekitar, agar siap bertindak jika bahaya benar-benar mengancam nyawa.
“Jangan terlalu cepat menghentikan mereka,” pesan Zerrin kepada pengawalnya. “Biarkan mereka bergerak, tapi pastikan tidak ada orang yang terluka. Kita butuh bukti yang tak terbantahkan untuk membongkar semua rencana mereka sekaligus.”
Hari perkemahan tiba. Suasana terasa ceria dan penuh semangat, namun di balik keramaian itu, dua pihak saling mengamati dengan hati-hati. Claudia ditunjuk sebagai koordinator kelompoknya, sebuah posisi yang justru dimanfaatkan Sinta sebagai titik lemah yang akan diserang.
Malam itu, saat semua siswa sudah mulai beristirahat, Sinta dan dua orang pengikutnya menyelinap keluar dari tenda. Mereka bergerak menuju jalur kecil yang biasa digunakan untuk berjalan-jalan di sekitar area perkemahan. Di tempat yang agak terjal dan sedikit gelap, mereka melonggarkan beberapa tumpukan batu yang ada di pinggir tebing, lalu menyembunyikan tanda peringatan yang sudah dipasang panitia.
Rencananya mereka akan mengajak beberapa siswa lain lewat jalur itu, memicu longsoran batu kecil, lalu menuduh Claudia lalai memasang tanda pengaman dan tidak mengawasi area sekitar dengan baik. Jika ada yang terluka, dampaknya akan jauh lebih parah.
Namun saat mereka baru saja selesai melonggarkan batu dan bersiap kembali, mereka mendengar suara langkah kaki mendekat. Ternyata Claudia sudah berdiri tidak jauh dari sana, menatap mereka dengan pandangan dingin dan tajam.
“Kalian pikir tidak ada yang melihat gerak-gerik kalian?” suara Claudia terdengar tenang namun penuh tekanan yang membuat ketiga gadis itu tertegun.
Wajah Sinta memucat, namun ia segera memasang ekspresi panik dan sedih. “Kak Claudia! Kami hanya ingin memeriksa area ini karena kami mendengar suara aneh… kami takut ada bahaya, jadi kami ingin memastikannya aman.”
“Benarkah?” Claudia melangkah mendekat, menunjuk tumpukan batu yang sudah longgar dan tanda peringatan yang tergeletak di balik semak-semak. “Jika ingin memeriksa keamanan, mengapa justru membuat batu-batu ini menjadi lebih tidak stabil dan menyembunyikan tanda peringatannya? Apakah ini cara yang benar untuk menjaga keamanan?”
Saat itu juga, Lia dan yang lain mulai panik dan tidak tahu harus menjawab apa. Namun Sinta dengan cepat mengubah strateginya ia berteriak seolah ketakutan, lalu mendorong salah satu temannya sedikit hingga terjatuh, dan seketika air matanya mengalir deras.
“Aduh! Jangan marah, Kak! Kami memang salah karena tidak tahu cara yang benar, tapi kami tidak bermaksud buruk! Jangan memarahi kami dengan nada sekeras itu, kami takut…”
Teriakannya cukup keras dan menarik perhatian beberapa siswa serta guru yang sedang berpatroli di sekitar. Dalam sekejap, orang-orang mulai berkumpul. Sinta segera memutar cerita, membuat dirinya terlihat seperti korban yang hanya ingin membantu namun disalahkan dan ditakuti oleh Claudia.
“Bu Guru… kami hanya ingin memeriksa area ini karena khawatir ada bahaya, tapi Kak Claudia tiba-tiba datang dan membentak kami dengan sangat keras. Kami takut sampai tidak bisa bergerak…” ujarnya sambil terisak-isak, membuat suasana menjadi tegang dan membingungkan.
Beberapa siswa yang baru datang langsung merasa kasihan melihat Sinta yang menangis, sementara Claudia terlihat berdiri tenang tanpa ekspresi, membuatnya terlihat seolah memang bersikap kasar.
Namun Claudia tidak terburu-buru membela diri. Ia hanya menatap Sinta dengan pandangan yang dalam, lalu berbicara dengan suara yang jelas dan tenang agar didengar semua orang.
“Jika kalian benar-benar ingin memeriksa keamanan, mengapa tanda peringatan yang sudah ada justru disembunyikan? Mengapa batu-batu di pinggir tebing ini dibuat semakin longgar sehingga bisa meluncur dan melukai siapa pun yang lewat? Dan yang paling penting apakah ada alasan mengapa kalian datang ke sini tanpa melapor terlebih dahulu kepada koordinator atau petugas keamanan?”
Saat ia berbicara, ia memberi isyarat diam-diam kepada pengawasnya yang tersembunyi. Dalam waktu singkat, rekaman kamera tersembunyi yang dipasang di sekitar area itu mulai diputar melalui perangkat portabel yang dibawa panitia. Terlihat jelas bagaimana Sinta dan kelompoknya sengaja melonggarkan batu, menyembunyikan tanda, dan bahkan berbicara tentang rencana mereka untuk menjatuhkan Claudia.
Wajah Sinta dan pengikutnya seketika berubah pucat pasi. Semua air mata dan kepolosan yang mereka pertunjukkan tadi seketika lenyap, digantikan oleh rasa takut yang nyata. Tidak ada lagi alasan yang bisa dipakai untuk membela diri.
“Jadi… selama ini semua itu hanya akting belaka?” tanya salah satu guru dengan nada kecewa yang mendalam. “Kalian tidak hanya berbohong, tapi juga berusaha menciptakan bahaya yang bisa melukai teman-teman sendiri hanya untuk membenci satu orang?”
Sinta tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Ia hanya bisa terisak dalam diam, kali ini bukan karena akting, tapi karena ia tahu nasibnya di sekolah ini sudah hancur total. Kepercayaan yang ia bangun selama ini hilang seketika, dan ia akan menghadapi sanksi berat sesuai aturan sekolah.
Di sisi lain, kejadian ini justru semakin mengangkat nama Claudia. Semua orang melihat bagaimana ia tetap tenang, tidak membalas dengan emosi, dan memiliki bukti yang kuat untuk melindungi dirinya serta membongkar kebenaran. Bahkan Raka yang menyaksikan kejadian itu dari kejauhan semakin yakin bahwa Claudia bukanlah orang biasa.
Namun tantangan belum berakhir. Saat suasana di sekolah mulai tenang kembali, kabar datang dari dunia klan yang membawa ujian baru.
Beberapa hari setelah perjanjian ditandatangani, terjadi insiden di jalur perdagangan yang menjadi batas wilayah. Sebuah kendaraan milik Klan Black Phantom dirampok, dan barang-barang yang dibawanya ditemukan berada di wilayah yang dikuasai Klan Felix. Meskipun tidak ada bukti langsung bahwa anggota Klan Felix yang melakukannya, situasi ini tetap memicu kecurigaan dan ketegangan antara kedua pihak.
Paman Hendra mengirimkan pesan tegas, meminta penjelasan dan pengembalian barang beserta ganti rugi, dengan nada yang terasa lebih menuntut daripada sebelumnya.
“Mereka menganggap ini sebagai pelanggaran perjanjian,” lapor Tuan Han dengan wajah serius. “Mereka mengancam akan meninjau kembali kesepakatan yang telah kita buat jika masalah ini tidak diselesaikan dengan baik.”
Zerrin duduk diam, memikirkan situasi ini dengan cermat. Ia tahu bahwa ini bisa jadi kesalahpahaman, atau bisa juga merupakan rencana dari pihak tertentu yang ingin memecah belah hubungan kedua klan.
“Kita tidak bisa menerima tuduhan itu begitu saja, tapi juga tidak boleh langsung menentang,” ujarnya dengan suara tenang namun tegas. “Kita akan mengadakan penyelidikan sendiri secara mendalam. Jika ternyata ini perbuatan orang luar atau kelompok yang ingin memicu pertikaian, kita harus membuktikannya dan menemukan pelakunya. Jika ada kesalahan dari pihak kita, kita harus bertanggung jawab dengan adil.”
Ia segera memerintahkan Karim dan timnya untuk melacak jejak pencurian itu, memeriksa setiap jalur dan orang yang terlibat. Sementara itu, ia juga mengirimkan pesan balasan kepada Paman Hendra, menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama menyelesaikan masalah ini tanpa prasangka.
Beberapa hari kemudian, hasil penyelidikan terungkap. Pencurian itu dilakukan oleh kelompok perampok kecil yang selama ini berkeliaran di daerah perbatasan, yang sengaja meletakkan barang rampasannya di wilayah Klan Felix untuk mengalihkan perhatian dan memicu pertikaian antara dua kekuatan besar.
Zerrin segera mengumpulkan bukti lengkap, menangkap para pelakunya, dan mengundang perwakilan Klan Black Phantom untuk melihat langsung kebenarannya.
Saat melihat bukti yang jelas dan cara Zerrin menangani masalah ini dengan adil, transparan, dan tegas, kepercayaan Paman Hendra justru semakin bertambah. Ia menyadari bahwa pemimpin Klan Felix bukanlah orang yang mudah terprovokasi atau menyembunyikan kesalahan.
“Kami minta maaf atas kecurigaan yang terlalu cepat ini,” ujar perwakilan Klan Black Phantom dengan rasa hormat. “Kau telah membuktikan bahwa perjanjian ini bisa dipercaya. Mulai sekarang, kami akan lebih berhati-hati dan menjaga hubungan ini dengan baik.”
Setelah masalah ini selesai, Zerrin menarik napas panjang. Ia berhasil melewati ujian yang datang dari dua arah sekaligus membongkar musuh yang bersembunyi di balik kepolosan, dan mempertahankan hubungan dengan kekuatan besar tanpa kehilangan martabat.
Namun ia tahu, perjalanan ini akan terus membawa tantangan baru. Musuh bisa datang dalam bentuk apa pun, dan ujian kepercayaan akan selalu muncul untuk menguji kekuatan dan kebijaksanaannya.
“Dua dunia, dua jenis pertarungan satu melawan kepalsuan, satu melawan kecurigaan,” pikir Zerrin dalam hati. “Selama aku tetap memegang prinsip dan melihat kebenaran di balik setiap kejadian, aku akan selalu menemukan jalan keluarnya.”
**✿❀ ❀✿** To be continued **✿❀ ❀✿**