NovelToon NovelToon
WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Theurgist

Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.

Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.

Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 – Tanda-Tanda Perubahan

Pagi itu, Arga terbangun lebih awal dari biasanya.

Bukan karena suara aktivitas di dapur.

Bukan pula karena alarm.

Melainkan karena pikirannya masih dipenuhi kejadian kemarin.

Pria misterius yang berbicara cukup lama dengan Rudi.

Percakapan yang tampak serius.

Dan beberapa gestur yang menunjukkan mereka sedang membahas sesuatu yang penting.

Mungkin itu bukan apa-apa.

Mungkin hanya urusan pribadi.

Namun pengalaman hidup Arga mengatakan bahwa dalam dunia bisnis, perubahan besar sering kali diawali oleh hal-hal kecil yang tampak tidak penting.

Ia duduk di tepi tempat tidur sambil mengingat kembali wajah pria tersebut.

Usianya sekitar lima puluh tahun.

Penampilannya sederhana.

Tetapi cara berbicaranya menunjukkan kepercayaan diri.

Dan yang paling menarik perhatian Arga adalah sikap Rudi.

Selama ini, pemilik minimarket itu selalu terlihat tenang.

Namun kemarin, Rudi tampak lebih serius dari biasanya.

"Jangan terlalu banyak berpikir."

Arga menggelengkan kepala.

Ia tahu dirinya tidak memiliki cukup informasi untuk mengambil kesimpulan.

Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah terus memperhatikan keadaan.

Setelah mencuci muka, ia berjalan menuju dapur.

Aroma pisang goreng langsung menyambutnya.

Ibunya dan Bu Rina sudah mulai bekerja.

"Bangun lebih pagi?" tanya ibunya.

Arga tersenyum.

"Tidak bisa tidur nyenyak."

"Karena bisnis lagi?"

"Sedikit."

Ibunya tertawa kecil.

"Ayahmu bilang sekarang kamu lebih mirip pemilik warung daripada siswa SMA."

Arga hanya tersenyum.

Kalau mereka tahu isi kepalanya sebenarnya, mungkin mereka akan lebih terkejut lagi.

Hari itu sekolah berjalan seperti biasa.

Namun saat jam istirahat, Arga tidak menghabiskan waktu bersama teman-temannya.

Ia duduk di bawah pohon dekat lapangan sambil membuka buku catatan kecil.

Beberapa halaman terakhir sudah penuh dengan berbagai tulisan.

Arus kas.

Produksi.

Pelanggan tetap.

Pesanan acara.

Layanan antar.

Dan proyek jalan.

Semua masalah yang mereka hadapi selama beberapa bulan terakhir tertulis di sana.

Saat membacanya kembali, Arga menyadari sesuatu.

Warung keluarganya memang masih kecil.

Tetapi sudah jauh berbeda dibanding saat ia pertama kali kembali ke masa lalu.

Dulu warung itu hampir sepi setiap hari.

Kini mereka memiliki pelanggan tetap.

Memiliki pesanan acara.

Bahkan mulai menerima layanan antar.

Perubahannya tidak besar jika dilihat dari luar.

Namun bagi Arga, perubahan itu sangat berarti.

Karena semuanya dibangun sedikit demi sedikit.

Bukan melalui keberuntungan.

Bukan melalui keajaiban.

Melainkan melalui keputusan-keputusan kecil yang terus diperbaiki.

Bel masuk berbunyi.

Arga menutup buku catatannya.

Namun sebelum berdiri, sebuah pikiran muncul di kepalanya.

Selama ini mereka terlalu fokus pada pelanggan sekitar.

Bagaimana kalau area jangkauan mereka diperluas?

Ide itu belum matang.

Tetapi ia menyimpannya di dalam benak.

Mungkin suatu saat nanti akan berguna.

Sore hari, warung kembali ramai.

Meski proyek jalan masih berlangsung, pelanggan tetap mereka masih datang.

Bu Wati memesan gorengan.

Pak Hendra membeli beberapa minuman.

Beberapa siswa sekolah juga mampir sepulang belajar.

Saat sedang membantu melayani pembeli, sebuah sepeda motor berhenti di depan warung.

Pengendaranya mengenakan seragam proyek.

Helm kuning tergantung di stang motor.

Pria itu membeli beberapa gorengan dan minuman dingin.

Awalnya Arga tidak terlalu memperhatikan.

Namun setelah itu datang pekerja proyek lain.

Lalu satu lagi.

Dan satu lagi.

Menjelang sore, ada hampir sepuluh pekerja proyek yang mampir ke warung.

Arga memperhatikan semuanya dengan saksama.

Ketika pelanggan mulai berkurang, ia segera membuka catatan penjualan.

Beberapa menit kemudian, senyum kecil muncul di wajahnya.

Selama ini mereka hanya melihat proyek jalan sebagai ancaman.

Tetapi ternyata proyek itu juga membawa pelanggan baru.

Para pekerja proyek.

Jumlah mereka memang tidak terlalu banyak.

Namun kalau ada puluhan orang bekerja di sekitar daerah tersebut setiap hari, potensi pengeluarannya tidak bisa dianggap remeh.

Malam harinya, Arga mengumpulkan keluarganya.

"Aku menemukan sesuatu."

Ayahnya langsung tertawa.

"Lagi?"

"Kali ini serius."

Biasanya ayahnya memang suka menggoda setiap kali Arga mengucapkan kalimat tersebut.

Namun melihat ekspresi putranya, ia mulai memperhatikan.

"Apa?"

"Pekerja proyek."

Bu Rina langsung mengangguk.

"Aku juga memperhatikan."

"Mereka sering beli minuman."

"Dan gorengan."

Arga membuka catatannya.

"Lumayan banyak."

Ayahnya terlihat berpikir.

"Lalu?"

"Kita bisa melayani mereka lebih baik."

"Bagaimana caranya?"

Arga terdiam beberapa saat.

Kemudian menjawab.

"Kita cari tahu kebutuhan mereka."

Ayahnya mengernyit.

"Kebutuhan?"

"Kalau kita tahu apa yang mereka butuhkan setiap hari, kita bisa menyesuaikan stok."

Bu Rina tampak mulai memahami.

Sementara ibunya masih terlihat bingung.

Melihat itu, Arga menjelaskan lebih sederhana.

"Kalau sebagian besar pekerja proyek membeli kopi, kita pastikan stok kopi cukup."

"Kalau mereka suka makanan tertentu, kita siapkan lebih banyak."

"Kalau mereka makan siang di sekitar sini, mungkin kita bisa menjual sesuatu untuk mereka."

Ruangan menjadi sunyi.

Perlahan-lahan semua orang mulai mengerti maksudnya.

Masalah yang sama bisa menjadi peluang bagi orang yang melihatnya dari sudut berbeda.

Keesokan harinya, Arga mulai memperhatikan kebiasaan para pekerja proyek.

Ia tidak bertanya secara langsung.

Hanya mengamati.

Jam berapa mereka datang.

Apa yang mereka beli.

Berapa banyak yang mereka keluarkan.

Dari pengamatan sederhana itu, ia menemukan pola.

Pagi hari mereka sering membeli kopi dan gorengan.

Siang hari mereka lebih banyak membeli minuman dingin.

Sedangkan sore hari mereka membeli camilan sebelum pulang.

Pola yang cukup jelas.

Dan yang paling penting, pola tersebut terjadi hampir setiap hari.

Malam itu Arga kembali membuat perhitungan.

Kalau mereka bisa melayani kebutuhan para pekerja proyek dengan baik, penurunan pelanggan akibat proyek jalan bisa berkurang cukup banyak.

Bukan solusi sempurna.

Tetapi langkah yang masuk akal.

Namun saat sedang menghitung, suara motor terdengar dari luar rumah.

Ayahnya yang sedang menutup warung langsung menoleh.

"Siapa malam-malam begini?"

Tak lama kemudian, seseorang berjalan mendekat.

Dan begitu melihat wajahnya, Arga langsung mengenalinya.

Rudi.

Pemilik minimarket di seberang jalan.

Pria itu berdiri di depan warung sambil tersenyum tipis.

"Masih buka?"

Ayah Arga tertawa kecil.

"Untuk tetangga, selalu buka."

Rudi masuk dan duduk di salah satu kursi plastik.

Untuk beberapa saat, ia hanya mengobrol ringan.

Tentang proyek jalan.

Tentang cuaca.

Tentang kondisi lingkungan sekitar.

Namun Arga merasa ada tujuan lain di balik kunjungan tersebut.

Dan firasatnya terbukti benar.

Setelah beberapa menit, Rudi akhirnya berkata,

"Aku ingin mengajak bicara soal sesuatu."

Suasana langsung berubah lebih serius.

Ayah Arga menatapnya.

"Soal apa?"

Rudi melirik Arga sejenak.

Kemudian kembali memandang ayahnya.

"Soal peluang bisnis."

Jantung Arga berdetak sedikit lebih cepat.

Karena ia tahu.

Dalam dunia bisnis, kalimat seperti itu jarang diucapkan tanpa alasan.

Dan apa pun yang akan disampaikan Rudi malam ini, kemungkinan besar akan membawa perubahan baru bagi warung kecil keluarga mereka.

Bersambung...

1
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah ini atau sistem gitu thor
Dewiendahsetiowati: ok Thor dan ditunggu up selanjutnya
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!