Di kehidupan sebelumnya, Aluna dibenci dan dikucilkan oleh keluarga kandungnya sendiri karena hasutan Chika–anak yang diadopsi oleh Keluarga Anggara hingga tewas mengenaskan. Tidak hanya itu, Chika yang memang sudah mengincar harta kekayaan Keluarga Anggara pun akhirnya menghabisi semua anggota keluarga Anggara tanpa sisa. Hal tersebut membuat Aluna menyesal akan sikapnya yang selalu diam dan menerima saat ditindas.
Saat takdir memberi Aluna kesempatan untuk hidup kembali, Aluna berjanji untuk mengubahnya.
"Aku pasti bisa melindungi dan mempertahankan keluargaku! Pasti!" ucap Aluna penuh keyakinan.
Tapi, lho kok? Kenapa sikap semua orang tidak sama seperti di kehidupan sebelumnya? Sebenarnya apa yang terjadi?
Yuk, ikuti kisah SUARA HATI ALUNA. Jangan lupa like, komen, dan rate bintang 5 nya ya. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21–Tentang Marvin
Di dalam sebuah bangunan terbengkelai rampak dua orang anak laki-laki dan perempuan sedang diukat dan disekap. Keduanya didudukkan di pojok ruangan oleh Si Pelaku penculikan.
"Hei, Kipli. Ngapain kamu bawa anak perempuan itu juga? Nyusah-nyusahin tahu," omel seseorang berwajah sangar yang merupakan pimpinan Si Penculik.
"Maaf, Bos. Tadi sewaktu kami menculik anak laki-laki itu kebetulan anak perempuan itu melihat kami. Jadi, daripada nanti dia lapor sama tuanya atau polisi ya terpaksa kami bawa juga," jelas Kipli karena memang hal itulah yang terjadi.
"Tapi, tetap saja Kipli dia ngeribetin. Lihatlah, sejak tadi tuh bocah mewek mulu. Bikin kepala pusing tahu," omel Si Bos Penculik itu lagi. "Hei, bocah! Diem nggak Lu!" sentaknya pada bocah perempuan yang sedang menangis itu.
Tangisan bocah perempuan itu memang tidak kencang, namun cukup membuat telinga Si Bos Penculik itu terganggu.
"Kamu diam ya, kalau tidak mereka bakal marah dan mungkin akan memukulmu."
Anak laki-laki itu mencoba menasehati.
"Tapi, Kakak, aku takut gelap. Di pojok sini tidak ada lampu," keluh gadis kecil itu.
"Kalau kamu takut gelap, tutup mata kamu. Anggap saja kamu sedang tidur, jadi kamu nggak akan takut. Oke?"
Gadis kecil itu menatap Si Bos Penculik yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Percaya, ya. Tutup mata kamu. Aku akan menjagamu sampai ada orang yang datang menyelamatkan kita," bujuk anak laki-laki itu lagi.
Gadis kecil itu pun mengangguk. Ia mulai memejamkan matanya.
"Sekarang dia sudah diam, kalian tidak akan memukulnya, kan?" tanya anak laki-laki itu pada Si Bos Penculik.
"Setidaknya untuk sementara kalian aman. Kalian akan kami bebaskan saat kedua orangtuamu memberi kami uang tebusan," jawab Si Bos Penculik. "Baron, kamu sudah menghubungi orang tuanya dan meminta mereka memberikan uang 10 milyar untuk menebus bocah ini, kan?" tanyanya pada anak buahnya yang bernama Baron.
"Sudah, Bos. Mereka minta 1 jam untuk mempersiapkan uang tersebut karena kita meminta uang tunai," jawab penjahat yang dipanggil Baron itu.
Si Bos Penculik itu melihat jam yang tertera di ponsel. Berarti tinggal 15 menit lagi orang tua dari bocah itu akan datang dengan membawa uang 10 milyar.
"Ohya, Bos. Apa kita benar-benar akan melepaskan bocah itu setelah mendapatkan uangnya?" tanya Si Baron.
"Kita lihat saja nanti, kalau mereka benar-benar datang tanpa membawa polisi, maka kita akan bebaskan anak itu seperti korban yang lain. Tapi, jika orang tua anak itu berbohong dan membawa polisi, kita akan habisi bocah itu," jawab Si Bos Penculik.
"Kakak, apa kita akan mati?" tanya gadis kecil itu dengan suara lirih.
"Apa kamu takut?" anak laki-laki itu justru balik bertanya.
Gadis cilik itu menggeleng.
"Kata Bunda yang ada di panti, kematian setiap manusia itu sudah pasti dan tidak bisa dihindari. Hanya saja kita tidak tahu kapan waktunya, karena hanya Sang Pencipta yang mengetahui," jawab Gadis kecil itu sambil tetap menutup matanya.
Anak laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum mendengar jawaban dari bocah perempuan yang diculik bersamanya. Gadis kecil itu jelas-jelas takut dan masih berbohong.
"Lagian aku juga tidak punya orang tua, jadi untuk apa takut," tambah bocah perempuan itu lagi.
Kali ini Si Bocah laki-laki sedih mendengarnya.
"Baiklah. Karena kamu tidak takut, bagaimana kalau kita saling berjanji?" tanya anak laki-laki itu pada Si Gadis kecil.
Gadis kecil itu membuka matanya dan menatap bocah laki-laki yang duduk di sampingnya ini.
"Janjian apa?" tanyanya dengan wajah polos.
"Mm... Kita akan menikah saat dewasa nanti," jawab bocah laki-laki itu.
"Menikah? Apa itu menyenangkan?" tanya Bocah perempuan tersebut.
"Kalau kita menikah kamu akan punya orang tua karena orang tuaku akan bisa menjadi orang tuamu juga. Bagaimana?"
"Jadi, aku akan punya ayah dan ibu seperti anak yang lain?" tanya Bocah perempuan itu.
"Benar."
"Baiklah, kalau begitu kita akan menikah saat dewasa nanti," jawab Gadis kecil itu dengan mata berbinar.
Bocah laki-laki itu mengangguk. "Ohya, namamu siapa?" tanyanya.
"Aluna. Kamu?"
"Marvin, Marvin Kaisar," jawab bocah laki-laki yang bernama Marvin.
"Apin?" ulang Aluna.
"Marvin, Luna. Marvin, bukan Apin," jelas Marvin.
"Lebih lucu Apin," ucap Aluna ngeyel.
"Terserah kamu deh. Kamu boleh memanggilku dengan Apin," ujar Marvin menyerah.
Aluna tersenyum.
"Kakak Apin, Kakak Apin," panggil Aluna.
Marvin tersenyum lagi.
Tidak lama orang tua Marvin datang membawa tebusan. Mereka memang tidak datang sendiri, melainkan datang bersama pengawal khusus Keluarga Kaisar. Sempat terjadi baku hantam antara para penculik tersebut dan orang-orang dari Keluarga Kaisar. Namun, pertarungan itu dimenangkan oleh Keluarga Kaisar.
Marvin dan kedua orang tuanya mengantarkan Aluna ke panti asuhan tempat gadis itu tinggal. Sang Pemilik panti merasa lega melihat kepulangan Aluna.
"Terimakasih, Tuan, Nyonya, sudah mengantarkan Luna pulang dalam keadaan selamat. Terima kasih," ucap Si Pemilik Panti setelah mendengar cerita bagaimana bocah-bocah kecil itu akhirnya berakhir di tangan penculik.
Kedua orang tua Marvin berpamitan. Begitu pun dengan Marvin.
"Luna, aku pergi ya. Saat dewasa nanti aku pasti akan datang untuk menikah denganmu," pamit Marvin.
Aluna mengangguk.
Marvin melepaskan kalung dengan liontin berbentuk mahkota lalu memberikannya pada Aluna.
"Kata mama ini simbol Keluarga Kaisar. Aku akan mengambilnya lagi saat datang nanti untuk menikah denganmu. Jaga baik-baik ya."
Lagi-lagi Aluna mengangguk.
"Selamat tinggal Luna."
"Selamat tinggal Apin dan sampai jumpa lagi nanti," jawab Aluna
Marvin kembali masuk ke dalam mobil bersama kedua orang tuanya. Dia sedih harus meninggalkan Aluna.
"Ma, kenapa kita tidak membawa Luna sekalian?" tanya Marvin pada ibunya.
"Sayang, kamu harus ingat, minggu depan kita harus ke luar negeri untuk mengobati penyakitmu."
Marvin baru ingat itu. Sejak kecil, Marvin sakit-sakitan. Bahkan gara-gara sakitnya itu, Marvin yang sudah berusia 10 tahun baru duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar.
"Luna, aku pasti akan datang untuk menjemputmu dari panti ini," ucap Marvin dalam hati.
Sementara di halaman panti, Aluna terus menatap kalung di tangannya.
"Apin, kamu harus memenuhi janjimu," ucap Aluna dalam hati.
"Ayo Luna, masuk! Kamu mandi, makan, terus istirahat. Kamu pasti capek dan ketakutan melewati hari ini."
Ibu panti memeluk Aluna. Gadis itu menangis. Dia memang ketakutan tadi. Tapi, untungnya ia bersama Marvin yang selalu berusaha membuatnya merasa tenang.
"Semua sudah berlalu. Kamu aman sekarang," ucap Ibu panti sambil mengusap lembut kepala Aluna.
Wanita itu membiarkan Aluna menangis untuk menumpahkan segala hal yang dirasakan.
***
Maaf ya, Gaes baru up. Hehehe....
Jangan lupa, like, komen, dan votenya ya. Terima kasih.