Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.
Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.
Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: BADAI SEBELUM ULANGAN
Bagus banget, Dev..." bisik Raina tulus, menerima kaleng hangat itu dan menggegamnya rapat-rapt. "Aku gak tahu kalau ada tempat sejelas dan seindah ini dari atas sini."
"Gua selalu ke sini tiap kali pusing gara-gara latihan basket atau waktu kangen sama Alm. Papi," Devan duduk di bangku kayu, menatap lurus ke depan. "Dulu gua pikir, orang pintar kayak kamu cuma suka nongkrong di perpustakaan atau ruang belajar yang penuh buku."
Raina terkekeh pelan, lalu ikut duduk di samping Devan. Jarak mereka kini amat dekat, dipayungi langit malam yang dipenuhi gugusan bintang.
"Aku juga manusia biasa, Devan. Kadang capek juga kalau harus terus-terusan jadi 'Ratu Disiplin' yang gak boleh salah sedikit pun," aku Raina jujur. Ia menatap Devan dari samping, memperhatikan profil wajah cowok itu yang tersiram cahaya bulan. "Tapi gara-gara kamu, beberapa minggu terakhir ini terasa... beda. Banyak hal tak terduga yang terjadi."
Devan memutar kaleng cokelatnya, lalu menengok menatap mata Raina tepat di balik bingkai kacamata baru pemberiannya. Binar mata Devan mendadak berubah serius, menghilangkan kesan jenakanya.
"Raina," panggil Devan pelan.
"Ya?"
"Waktu pertama kali bola basket gua mengenai muka kamu sampai kacamata kamu patah, gua pikir kamu bakal benci setengah mati sama gua selamanya," Devan tersenyum tipis, mengenang masa lalu yang penuh pertengkaran di antara mereka. "Tapi ternyata... bola terpesong itu justru hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup gua."
Jantung Raina mendadak berdegup kencang. Ia terdiam, tak sanggup memotong ucapan Devan.
"Kamu orang pertama yang percaya sama gua waktu semua orang bilang gua cuma pembuat masalah yang gak punya masa depan," lanjut Devan dengan suara dalam yang bergetar tulus. "Kamu yang ngajarin gua buat berjuang, bukan cuma di lapangan basket, tapi buat hidup gua sendiri."
Devan merogoh saku jaketnya, lalu mengeluarkan sebuah gantungan kunci kayu kecil berbentuk bola basket dan kacamata bulat yang saling bertautan—hasil kerajinan tangan sederhana. Ia meletakkannya di atas telapak tangan Raina.
"Gua mau janji sesuatu," kata Devan menatap Raina lekat-lekat. "Gua bakal menangin kejuaraan nasional bulan depan. Gua bakal bikin kamu bangga udah mempertaruhkan reputasi kamu demi gua di depan Pak Hendra."
Raina menggenggam gantungan kunci kayu itu erat-erat. Perasaan hangat membanjiri dadanya, meluruhkan sisa rasa ragu yang selama ini ia simpan.
"Aku udah bangga sama kamu dari sekarang, Devan," balas Raina lembut, menyunggingkan senyuman paling manis yang pernah ia miliki. "Kamu gak perlu membuktikannya ke siapa-siapa lagi."
Devan tertegun menatap senyuman itu. Tanpa sadar, jemarinya terulur pelan, mengusap lembut sudut pipi Raina sebelum menyelipkan helai rambut gadis itu ke belakang telinganya. Raina tidak menghindar; ia justru memejamkan mata menikmati sentuhan hangat jemari Devan.
Di bawah naungan bintang-bintang malam itu, dua insan yang tadinya saling bertolak belakang menyadari satu hal: tragedi kacamata patah di lapangan basket hari itu bukanlah sebuah musibah, melainkan awal dari takdir indah yang menyatukan hati mereka.
(Bersambung ke Bab 22)
BAB 23: TANDA DARI SANG RIVAL
Atmosfer pertandingan semifinal Kejurnas Basket di GOR Tri Dharma terasa begitu membakar. Sorak-sorai pendukung SMA Garuda menggelegar dari tribun barat, bersahut-sahutan dengan tabuhan drum dari pendukung SMA Rajawali—tim rival abadi yang memegang gelar juara berturut-turut selama dua tahun terakhir.
Di pinggir lapangan, Devan mengusap keringat di dahinya dengan ujung jersi nomor 07. Papan skor digital menunjukkan angka ketat: 54 - 56, SMA Garuda tertinggal dua poin dengan sisa waktu hanya satu kuarter lagi.
"Devan, fokus!" tegur Coach Farhan di sela-sela waktu time-out. "Pertahanan mereka di bawah ring ketat banget. Manuver kamu harus lebih cepat, jangan paksakan drive kalau jalurnya ditutup!"