Di Kekaisaran Tianming, Pangeran Ke-14 bernama Mu Xuanyuan dikenal oleh seluruh penjuru istana sebagai pangeran yang "cacat": bodoh, tidak bisa bertarung, gila, dan selalu tersenyum ceria tanpa peduli situasi. Ia menjadi bahan tertawaan para pejabat dan target perundungan utama dari Pangeran Ke-3 (Lu Cangqiong) yang arogan. Dari 21 bersaudara (8 kakak laki-laki, 5 kakak perempuan, 4 adik laki-laki, dan 3 adik perempuan), hampir tidak ada yang menganggap Xuanyuan sebagai ancaman.
Namun, di balik topeng ceria dan tingkah konyolnya, Mu Xuanyuan adalah entitas paling berbahaya di seluruh benua. Ia secara rahasia telah mencapai ranah Immortal Emperor Puncak (Ranah Kaisar Abadi). Tak hanya itu, ia adalah pemilik sah dari Paviliun Lelang Xingzhou (balai lelang terbesar di benua) dan raja di balik Pasukan Bayaran Po Jun (tentara bayaran paling menakutkan). Ia juga memiliki Ruang Dimensi Portabel yang berisi ladang tanaman obat langka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16: A Dimension Full of Precious Fruit
Keesokan paginya, suasana Kediaman Pangeran Ke-14 tampak tenang seperti biasa di luar, tetapi di dalam kamar tersembunyi milik Mu Xuanyuan, fluktuasi energi spiritual berhembus sangat halus. Xuanyuan duduk bersila di atas ranjang kayu sederhananya, menutup mata seraya menggerakkan ibu jarinya yang melingkar pada sebuah cincin batu giok hitam kusam di jarinya.
Dengan satu ketukan niat dari jiwa ranah Immortal Emperor Puncak, kesadarannya memasuki Ruang Dimensi Portabel.
Seketika itu pula, pemandangan dunia luar yang kumal berganti menjadi hamparan surga tersembunyi yang tak bertepi. Di bawah langit biru berhiaskan awan keemasan, terbentang pegunungan yang tidak terbuat dari tanah biasa, melainkan tumpukan kristal spiritual murni, batu permata kelas atas, dan emas murni yang memancarkan cahaya menyilaukan. Di lembah hijau di bawahnya, angin berhembus membawa aroma manis yang teramat pekat dari ratusan hektar ladang tanaman obat langka.
Buah-buahan ajaib bertengger di dahan-dahan pohon purba yang menjulang tinggi—Buah Roh Sembilan Jiwa yang sanggup memperpanjang umur manusia hingga ribuan tahun hanya digantung bebas bagaikan buah apel biasa, sementara Daun Embun Dewa yang dicari para alchemist tingkat tinggi tumbuh subur bagaikan rumput liar.
"Ah, aromanya selalu menyegarkan," gumam Xuanyuan santai seraya berjalan menelusuri padang rumput dimensi. Ia memetik sebuah Buah Esensi Langit yang berwarna ungu keemasan dan mengunyahnya dengan riang. Bagi para ahli kultivasi di Benua Tianming, satu gigitan buah ini sanggup memicu terobosan ranah dalam seketika, tetapi bagi Xuanyuan, ini tak lebih dari camilan pelepas dahaga di pagi hari.
Ia mendekati sebuah telaga berair jernih bagaikan cermin, tempat Pasukan Bayaran Po Jun sering mengambil air spiritual untuk kebutuhan khusus. Di tepi telaga, Han Xingzhou—yang memiliki akses khusus ke dimensi ini melalui batu jimat—sudah berdiri menunggu dengan pakaian serba putih yang rapi dan anggun.
"Hamba menyambut Yang Mulia," ujar Han Xingzhou seraya membungkuk dalam penuh hormat. Wajahnya yang tenang dan terpelajar memancarkan kepatuhan mutlak.
"Xingzhou, tidak perlu formalitas di tempat ini," tawa Xuanyuan renyah, melambaikan tangannya seraya duduk di atas batu kristal keemasan. "Bagaimana persiapan Balai Lelang Xingzhou untuk acara puncak minggu depan?"
Han Xingzhou menghela napas pelan, mengeluarkan selembar daftar inventaris lelang yang ditulis di atas kertas sutra emas. "Segala persiapan fisik gedung dan pengamanan rahasia yang dibantu oleh Po Jun sudah seratus persen rampung, Yang Mulia. Namun, masalah utama tetap terletak pada Kotak Giok Bersegel Kaisar yang diserahkan oleh sosok anonim tersebut."
"Apakah segel itu mulai menunjukkan tanda-tanda khusus?" tanya Xuanyuan dengan pandangan menyipit penuh kecerdasan.
"Benar, Yang Mulia," jawab Han Xingzhou tegas. "Tadi malam, gelombang aura dari dalam kotak itu sempat memicu reaksi pada formasi pelindung Balai Lelang. Hambamu ini sempat memeriksa susunan segelnya dari jarak dekat. Itu adalah Segel Sembilan Naga Terkunci sebuah teknik kuno yang hanya bisa dipasang oleh pakar ranah Kaisar Abadi. Dan anehnya, pola energinya beresonansi dengan garis keturunan Keluarga Kekaisaran Tianming."
Mendengar hal itu, sudut bibir Xuanyuan terangkat mengukir senyuman tipis yang penuh makna. "Garis keturunan Kekaisaran Tianming? Menarik. Tampaknya nenek moyang keluarga kekaisaran ini menyimpan rahasia kelam yang sengaja dikubur rapat-rapat."
"Apakah Yang Mulia berencana untuk membuka kotak itu sebelum hari lelang?" tanya Han Xingzhou ragu.
"Tidak perlu," sahut Xuanyuan santai seraya membuang biji buah ajaibnya ke tanah, yang dalam hitungan detik langsung bertunas menjadi bibit pohon baru akibat kesuburan tanah dimensi. "Biarkan kotak itu dilelang secara terbuka. Makin banyak ikannya yang terpancing keluar, makin seru pertunjukannya. Dan lagipula, aku ingin melihat seberapa banyak sumber daya yang rela dibuang oleh Kakak Ke-1 Long Wuji dan Kakak Ke-3 Lu Cangqiong demi barang yang bahkan tidak tahu cara mem bukanya."
Han Xingzhou terkekeh pelan. "Pangeran Ke-3 dikabarkan telah menguras separuh tabungan pribadi dari kediamannya demi mempersiapkan tawaran tertinggi di lelang nanti. Ia bersumpah akan merebut kotak itu untuk membuktikan kehebatannya di depan Kaisar."
"Baguslah, makin bangkrut dia, makin tenang hidupku," kekeh Xuanyuan.
Saat Xuanyuan hendak menginstruksikan beberapa detail pengiriman buah spiritual dari dimensinya untuk dijadikan hidangan pencuci mulut di area VVIP balai lelang, fluktuasi energi di luar ruang dimensinya mendadak bergetar.
"Seseorang mendekati kediamanku di dunia luar," bisik Xuanyuan seraya berdiri. "Pola langkah kakinya yang berat dan sok anggun itu... ah, siapapun bisa mengenalnya dalam sekali tebak."
"Pangeran Ke-3?" tanya Han Xingzhou.
"Bukan," jawab Xuanyuan seraya mengusap dahi dengan cengiran konyolnya yang mendadak kembali. "Tetapi si flamboyan dari Paviliun Redup itu. Dia datang lagi."
Dengan sekilas cahaya keemasan, kesadaran dan tubuh Xuanyuan menghilang dari Ruang Dimensi Portabel dan kembali bersandar di ranjang kayu kediamannya di dunia nyata.
Tepat pada detik berikutnya, jendela kamar Xuanyuan terbuka pelan tanpa suara. Aroma wangi bunga peony yang begitu pekat mendadak memenuhi ruangan, disusul oleh kibasan jubah sutra berwarna merah menyala.
"Oho~ Pangeran Xuanyuan yang sangat tampan! Apakah kau merindukanku pagi ini?" suara mendayu-dayu Leng Yan menyapa dengan penuh nada godaan. Pria flamboyan itu mendarat mulus di lantai kamar, mengibaskan kipas emasnya seraya menatap Xuanyuan dengan mata berbinar-binar pemujaan.
Xuanyuan melompat dari ranjangnya dengan gaya konyol, berpura-pura terkejut seraya memeluk burung kayu kesayangannya erat-erat ke dada.
"Aaaah! Orang cantik baju merah masuk dari jendela lagi!" jerit Xuanyuan dengan suara cempreng polosnya. "Feng Wuchen! Gu Juechen! Ada hantu peony terbang masuk!"
Di luar pintu kamar, Feng Wuchen dan Gu Juechen hanya bisa saling pandang seraya menghela napas pasrah, memilih untuk berpura-pura tidak mendengar jeritan sang pangeran karena mereka sudah sangat terbiasa dengan drama rutin antara majikan mereka dan pemilik rumah bordil paling berbahaya di benua tersebut.