NovelToon NovelToon
Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Action / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Liam Harrison

Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.

Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Warisan Bintang yang Tak Pernah Padam

Waktu bergulir tanpa suara di perbatasan barat Lembah Bintang Kelabu, meninggalkan jejak harmoni yang semakin mengakar kuat di setiap jengkal tanah lembah tersebut. Musim semi kembali menyapa dengan hamparan bunga-bunga liar berwarna keemasan yang mekar serentak di sepanjang bantaran sungai jernih. Rumah kayu sederhana milik Kaelen dan Lyra berdiri tegak laksana mercusuar ketenangan—sebuah tempat peristirahatan abadi yang tidak lagi dikunjungi oleh para pencari petualangan yang haus darah, melainkan oleh para musafir, tabib muda, dan penduduk desa yang mencari kedamaian batin serta ilmu kebijaksanaan hidup.

Pagi itu, udara terasa sangat segar. Sinar matahari menyapu pucuk-pucuk pohon pinus, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di atas halaman rumput yang bersih. Kaelen duduk bersila di atas batu datar di samping pekarangan, menikmati keheningan pagi yang menyatu dengan detak jantung alam semesta. Esensi kosmik dari Jiwa Artefak Reruntuhan Langit dan Cermin Matahari Purba di dalam dantiannya berdenyut sangat tenang, bagaikan ombak kecil di permukaan danau kaca. Senjata pedang baja gelap tergantung bisu di dinding dalam rumah, menikmati masa pensiun panjang setelah berhasil menjaga keseimbangan dunia dari kehancuran absolut.

Beberapa langkah dari tempat Kaelen bermeditasi, Lyra sedang meracik teh herbal baru di beranda depan. Gadis itu mengenakan jubah ungu muda kesukaannya, tangannya yang terampil menuangkan air panas ke dalam poci tanah liat berisi campuran daun mint kristal dan ginseng gunung. Di dekat meja, Bayu—kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda dewasa yang memimpin kelompok tabib muda desa—tengah memperhatikan proses peracikan tersebut dengan buku catatan terbuka di tangannya.

"Ingat, Bayu," ujar Lyra lembut sambil tersenyum ramah kepada murid utamanya itu. "Kunci dari penawar racun yang efektif bukanlah seberapa keras bahan kimia yang kau gunakan, melainkan seberapa akurat kau mengenali sifat alami dari tanaman tersebut. Obat dan racun pada dasarnya berasal dari akar yang sama; niat kitalah yang menentukan apakah ia akan menyembuhkan atau membinasakan."

Bayu mengangguk takzim, mencatat setiap petunjuk penting tersebut dengan teliti. "Saya mengerti, Guru Lyra. Prinsip kemurnian niat adalah fondasi utama yang selalu Guru ajarkan kepada kami."

Setelah memastikan ramuan di dalam poci meresap sempurna, Lyra menyerahkan secangkir teh hangat kepada Bayu untuk dicicipi. Sesudah itu, pemuda tersebut pamit undur diri menuju kebun belakang untuk memeriksa kondisi tanaman obat bersama rekan-rekannya. Lyra meletakkan poci teh di atas nampan, lalu berjalan menghampiri Kaelen yang perlahan membuka matanya dan menyudahi meditasi paginya.

Langkah Kaki Para Pengembara Baru

Menjelang siang hari, ketika matahari mulai meninggi dan memancarkan kehangatan yang pas di atas perbukitan, sebuah pemandangan menarik tertangkap oleh pandangan mata Kaelen. Dari kejauhan, menyusuri jalur setapak berbatu yang mendaki bukit menuju kediaman mereka, tampak dua sosok bayangan manusia berjalan berdampingan dengan langkah santai namun penuh wibawa.

Sosok pertama adalah seorang pemuda berpostur tegap mengenakan jubah biru tua khas pengelana wilayah tengah, sementara di sampingnya berjalan seorang gadis muda membawa tongkat kayu berukir simbol elemen alam. Mereka bukan penjahat atau pembunuh bayaran; dari riak energi spiritual yang terpancar samar, kedua anak muda tersebut adalah murid tingkat lanjut dari Akademi Pengetahuan Alam di daratan tengah yang sedang melakukan perjalanan penjelajahan akhir masa studi mereka.

Kaelen bangkit berdiri dari batu datarnya, sementara Lyra berjalan mendekat untuk berdiri di samping suaminya, menyambut kedatangan para tamu muda tersebut dengan senyuman ramah.

Kedua pengelana muda itu tiba di depan gerbang pekarangan. Begitu mengenali sosok Kaelen dan Lyra—yang potret lukisan penghormatannya terpampang di aula utama akademi daratan tengah—mereka langsung melepaskan topi penjelajah, menangkupkan kedua tangan di depan dada, lalu membungkuk dalam-dalam secara serentak.

"Salam, Pendekar Kaelen... Salam, Alhemis Agung Lyra," ucap pemuda berpostur tegap itu dengan suara bergetar karena rasa hormat yang mendalam. "Nama saya Arka, dan ini rekan saya, Kirana. Kami adalah utusan tidak resmi dari para pengajar di Akademi Pengetahuan Alam daratan tengah."

Lyra mengangguk menyambut mereka dengan hangat. "Selamat datang di kediaman kami, Arka, Kirana. Perjalanan panjang dari daratan tengah tentu melelahkan. Silakan naik ke beranda, ada secangkir teh hangat yang siap menyambut kedatangan kalian."

Mereka berdua melangkah naik ke beranda rumah kayu, duduk dengan sopan di kursi kayu yang dipersiapkan. Setelah menikmati beberapa teguk teh herbal buatan Lyra untuk meredakan kelelahan perjalanan, Arka merogoh saku jubah dalamnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni kecil yang diukir dengan lambang bintang kembar.

"Kami diutus ke sini bukan untuk membawa masalah atau berita darurat," jelas Arka dengan nada suara penuh takzim, menyerahkan kotak kayu tersebut kepada Kaelen. "Para tetua di dewan penasihat dan para pengajar akademi menitipkan benda ini kepada kami untuk diserahkan langsung kepada kalian sebagai bentuk penghormatan abadi atas kedamaian yang berhasil kalian tegakkan."

Kaelen menerima kotak kayu mahoni itu dengan kedua tangannya. Ia membuka tutupnya perlahan. Di dalam kotak tersebut, terbaring sebuah medali giok putih murni berbentuk bintang bersudut delapan—simbol resmi tertinggi dari aliansi dunia kultivasi yang menyatakan bahwa pemegang medali tersebut adalah pelindung tertinggi kehormatan umat manusia, yang memiliki hak veto mutlak atas segala keputusan agung di seluruh daratan.

Kaelen menatap medali giok itu sekilas, lalu mengangkat pandangannya menatap kedua pengelana muda di hadapannya dengan senyuman tenang.

"Sampaikan rasa terima kasih kami yang tulus kepada para tetua dewan dan seluruh pengajar di akademi," ucap Kaelen bijaksana. "Namun, simpan kembali medali kehormatan ini, atau serahkan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan legitimasi kekuasaan di menara utama. Kami berdua tidak memerlukan simbol kekuasaan semacam itu. Kedamaian di lembah ini dan senyuman orang-orang di sekitar kita adalah penghargaan tertinggi yang tidak bisa dibeli dengan medali giok mana pun."

Kirana, gadis berongga tongkat kayu elemen alam, menatap Kaelen dengan binar mata penuh kekaguman. "Tetapi, Paman Kaelen... simbol itu adalah bukti nyata bahwa jasa kalian menyelamatkan dunia tidak akan pernah dilupakan oleh generasi masa depan."

"Sejarah sejati tidak tertulis di atas medali giok atau prasasti emas, Kirana," tambah Lyra lembut, menuangkan kembali teh ke dalam cangkir tamu mereka. "Ia hidup di dalam tindakan baik yang kalian lakukan setiap hari kepada sesama. Jadilah pelindung kedamaian di tempat kalian berpijak, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat nama kami hidup abadi."

Senja di Puncak Bukit Bintang

Setelah beristirahat sejenak, bertukar cerita mengenai perkembangan dunia kultivasi di daratan tengah, serta memohon restu spiritual untuk perjalanan studi lanjutan mereka, Arka dan Kirana pamit undur diri menjelang tengah sore untuk melanjutkan perjalanan menuju wilayah timur. Kaelen dan Lyra mengantarkan kedua anak muda itu hingga ke batas gerbang pekarangan, melambaikan tangan perpisahan dengan senyuman penuh harapan.

Ketika matahari mulai condong ke barat, melukiskan gradasi warna jingga kemerahan dan lembayung ungu di langit lembah, Kaelen dan Lyra kembali melakukan rutinitas sore mereka—mendaki punggung Bukit Bintang.

Langkah kaki mereka menyusuri rumput liar yang bergoyang lembut diterpa angin senja. Sesampainya di dataran puncak bukit, hamparan pemandangan Lembah Bintang Kelabu tampak begitu damai. Lampu-lampu pelita dari rumah-rumah penduduk di bawah mulai menyala satu per satu, memancarkan kehangatan kehidupan yang berdenyut selaras dengan alam.

Mereka duduk berdampingan di atas hamparan rumput hijau yang lembut. Kaelen merangkul pinggang Lyra, sementara kepala gadis itu bersandar nyaman di dada bidang suaminya. Di atas kepala mereka, gugusan bintang pertama mulai berkelip terang di kanvas malam yang membentang luas tanpa batas.

"Kaelen," panggil Lyra pelan, memecah kesunyian senja yang damai.

"Hm?"

"Kau tahu? Aku merasa sangat bersyukur atas setiap liku-liku takdir yang mempertemukan kita di reruntuhan kuil dulu. Tanpa badai itu, kita tidak akan pernah tahu arti sejati dari ketenangan ini."

Kaelen mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kelembutan, menatap lurus ke arah bintang-bintang yang bersinar terang di angkasa luas. "Karena badai itu diciptakan bukan untuk menghancurkan kita, Lyra, melainkan untuk menguji seberapa kuat akar cinta dan keyakinan yang kita miliki."

Di bawah naungan langit abadi yang tenang, diiringi oleh bisikan angin lembah dan kehangatan pelukan yang tulus, Kaelen dan Lyra menikmati keabadian hidup mereka. Perjalanan panjang dari sebilah pedang besi berkarat kini telah menemukan rumah abadinya—sebuah epos sejati tentang keberanian, pengorbanan, dan cinta murni yang akan terus bergema abadi melintasi ruang, waktu, dan semesta untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!