NovelToon NovelToon
Dewa Alkemis Sembilan Benua

Dewa Alkemis Sembilan Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.

Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.

500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.

Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.

Mereka salah besar.

Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.

Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.

Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:

Menagih darah dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Reuni Tak Terduga

Tiga hari sebelum Lelang Besar dimulai, Ibukota Kekaisaran Langit Angin semakin ramai.

Para kultivator dari berbagai sekte dan kota berdatangan. Penginapan penuh dan jalanan dipenuhi kereta spiritual. Semua orang datang demi harta langka yang akan muncul di Rumah Lelang Kekaisaran.

Lin Xuan tidak punya waktu untuk bersantai.

Lencana Alkemis tingkat dua memberinya hak masuk ke jalur kehormatan. Namun itu tidak cukup untuk memenangkan lelang.

Ia tetap membutuhkan Batu Roh.

Malam itu, Lin Xuan menutup diri di kamar penginapan.

Api Teratai Bumi Terdalam menyala di telapak tangannya. Ia memurnikan sisa bahan obat yang diperoleh dari Keluarga Zhao.

"Bahan-bahannya memang buruk." Lin Xuan menggelengkan kepalanya.

"Namun masih bisa dimanfaatkan."

Ia bekerja sepanjang malam.

Sepuluh Pil Sumsum Harimau Emas tingkat dua akhirnya selesai.

Kali ini Lin Xuan tidak menyembunyikan kemampuannya.

Kesepuluh pil itu memancarkan cahaya keemasan. Sembilan lingkaran sempurna mengelilingi permukaannya.

"Sembilan Cincin." Lin Xuan tersenyum tipis. "Seharusnya cukup untuk menggemparkan Benua Bawah."

Ia menyimpan pil-pil itu ke dalam botol giok untuk menahan auranya.

Keesokan paginya, Lin Xuan membawa Xiao Ya menuju Rumah Lelang Kekaisaran.

Bangunan itu berdiri megah di pusat Ibukota. Kubah emasnya menjulang tinggi dan dua patung singa bersayap menjaga pintu masuk.

Jalur kehormatan dipenuhi kultivator berpakaian mewah.

Ketika Lin Xuan berjalan mendekat, beberapa pemuda bangsawan mencibir melihat pakaian sederhananya dan Xiao Ya yang tampak seperti pelayan biasa.

"Heh, bocah." Seorang pemuda memainkan kipasnya. "Jalur rakyat jelata ada di sebelah sana."

Lin Xuan tidak menghiraukannya. Namun dua penjaga segera menghadangnya.

"Berhenti." Kedua penjaga itu memegang tombak perak.

"Perlihatkan Kartu Kekayaan atau undangan kehormatan."

Lin Xuan tidak menjawab.

Ia hanya menyingkap sedikit jubahnya.

Lencana kuali perak dengan dua garis emas terlihat jelas di dadanya.

Kedua penjaga langsung terdiam.

Kedua penjaga terkejut saat melihat lencana itu.

Alkemis tingkat dua bukan orang yang bisa mereka singgung sembarangan. Di balik seorang alkemis biasanya berdiri banyak kultivator kuat yang membutuhkan pil dan obat.

"H-Hormat kami, Tuan Alkemis!"

Kedua penjaga segera menyingkir dan membungkuk.

"Silakan masuk. Maafkan kelancangan kami."

Pemuda yang tadi mengejek Lin Xuan langsung pucat.

Ia buru-buru menutupi wajahnya dengan kipas lalu bersembunyi di tengah kerumunan.

Semoga dia tidak mengingat wajahku.

Bagian dalam Rumah Lelang Kekaisaran jauh lebih megah.

Lantai giok bening membentang di sepanjang aula. Di bawahnya mengalir aliran air jernih yang dihuni ikan-ikan spiritual berwarna keemasan.

Seorang pelayan segera membawa Lin Xuan dan Xiao Ya ke Ruang Penilaian Kehormatan.

Di sana duduk seorang pria tua kurus dengan kacamata kristal.

Dialah Master Yan. Penilai utama Rumah Lelang Kekaisaran.

"Alkemis tingkat dua di usia semuda ini. Selamat datang." Master Yan tersenyum sopan.

"Apa yang hendak kau lelang?"

Lin Xuan duduk lalu meletakkan sebuah botol giok di atas meja.

"Sepuluh Pil Sumsum Harimau Emas tingkat dua."

Ia menatap Master Yan.

"Masukkan ke lelang utama besok. Aku ingin menggunakan pil ini sebagai jaminan untuk mendapatkan hak menawar."

Master Yan mengangkat alis.

"Pil Sumsum Harimau Emas memang cukup berharga. Namun sepuluh pil biasa hanya bernilai sekitar lima puluh ribu Batu Roh."

Ia menggelengkan kepalanya. "Jumlah itu belum cukup."

Lin Xuan tersenyum tipis. "Buka botolnya."

Tatapannya menjadi tenang.

"Periksa sendiri sebelum mengambil kesimpulan."

Sikap Lin Xuan membuat Master Yan sedikit tidak senang. Namun ia tetap membuka botol itu.

Boom!

Cahaya keemasan memancar dari dalam botol. Samar-samar terdengar auman harimau.

Aroma obat yang pekat memenuhi ruangan.

Tangan Master Yan bergetar.

Ia segera menuangkan satu pil ke atas nampan lalu memeriksanya dengan kaca kristal.

"S-Sembilan Cincin..." Matanya membelalak.

"Sembilan Cincin Kemurnian!"

Master Yan bangkit dari kursinya.

"Bagaimana mungkin? Bahkan Ketua Asosiasi hanya pernah menghasilkan Pil Delapan Cincin sekali!"

Ia menatap Lin Xuan dengan takjub.

"Dari mana kau mendapatkan pil seperti ini?"

"Itu bukan urusanmu."

Lin Xuan tetap tenang.

"Yang ingin kuketahui hanya satu. Cukup untuk hak menawar?"

"Cukup!"

Master Yan mengangguk cepat.

"Lebih dari cukup!"

Ia segera mengaktifkan formasi di atas meja.

"Sepuluh pil ini saja sudah cukup membuat para ahli dari berbagai sekte berebut. Aku akan memberimu Kartu Emas Hitam milik Rumah Lelang."

Master Yan mengambil sebuah kartu hitam berukir emas.

"Dengan kartu ini, kau bisa menawar barang apa pun. Pembayarannya akan dipotong dari hasil lelang pilmu."

Saat Master Yan sibuk menyiapkan surat, pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

"Master Yan, apakah kau punya waktu? Kami sedang mencari..."

Suara lembut itu terhenti.

Lin Xuan menoleh.

Seorang gadis berjubah bulu rubah putih berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat dan cantik. Di belakangnya berdiri seorang pria paruh baya dengan pedang besar di punggung.

Su Yue'er.

Dan Paman Qin.

Tatapan Su Yue'er bertemu dengan mata Lin Xuan.

Gadis itu terdiam sesaat.

Dari tubuh pemuda asing di hadapannya, ia merasakan aura yang aneh. Ada kehangatan samar yang terasa akrab.

Segel Teratai Api di Dantiannya bahkan bergetar pelan.

Namun Su Yue'er tidak mungkin mengenali pemuda itu.

Di hadapannya bukan Senior Xuan berjubah hitam yang pernah menyelamatkan nyawanya.

Melainkan Lin Xuan.

Seorang pemuda yang sama sekali berbeda.

Paman Qin segera maju dan berdiri di depan Su Yue'er. Tatapannya jatuh pada lencana di dada Lin Xuan.

"Alkemis tingkat dua di usia semuda ini. Jarang sekali."

Kewaspadaannya sedikit berkurang.

"Maaf mengganggumu, anak muda. Kami datang menemui Master Yan."

Lin Xuan mengambil Kartu Emas Hitam dari tangan Master Yan.

"Urusanku sudah selesai."

Ia berbalik dan berjalan melewati mereka.

Namun saat melewati Su Yue'er, langkahnya berhenti sesaat.

Ia mendekat lalu berbisik dengan suara tenang.

"Segel di Dantianmu masih mampu menahan Yin. Tapi jangan minum Teh Teratai Dingin lagi."

Suara Lin Xuan sangat pelan. "Segel itu akan retak sebelum sebulan."

Tubuh Su Yue'er menegang.

Matanya membelalak.

Bagaimana dia tahu tentang segelku?

Bahkan soal teh yang baru diminumnya pagi tadi pun pemuda itu mengetahuinya.

Sebelum sempat bertanya, Lin Xuan sudah pergi bersama Xiao Ya.

"Paman Qin..." Su Yue'er menatap punggungnya. "Pemuda tadi..."

Paman Qin segera menoleh. "Dia menyakitimu, Nona?"

Ia menghunuskan pedangnya. "Biar kuberi pelajaran."

"Bukan!" Su Yue'er menggelengkan kepala nya cepat.

Tatapannya masih tertuju pada pintu.

Hanya Senior Xuan yang tahu tentang segel ini. Mungkinkah pemuda tadi adalah muridnya?

"Nona Su. Tuan Qin. Selamat datang."

Suara Master Yan menarik perhatian mereka.

Pria tua itu masih memegang botol giok milik Lin Xuan dengan hati-hati.

Di lorong kehormatan, Lin Xuan dan Xiao Ya berjalan menuju pintu keluar.

Namun seorang pemuda berjubah merah dengan sulaman naga emas tiba-tiba menghadang mereka.

Empat pengawal berdiri di belakangnya.

Aura mereka semua berada di tingkat kesembilan Kondensasi Qi.

Pemuda itu menatap Lin Xuan dengan dingin.

"Berhenti."

Pemuda itu tampan, tetapi wajahnya pucat. Senyum licik menghiasi bibirnya.

Dialah Ouyang Chen. Pewaris Keluarga Ouyang dan salah satu dari tiga keluarga besar di Ibukota.

Tatapannya jatuh pada lencana Lin Xuan lalu beralih kepada Xiao Ya.

"Alkemis tingkat dua yang baru datang?"

Ia memutar dua bola besi spiritual di tangannya.

"Aku dengar kau menitipkan sesuatu untuk dilelang."

Ouyang Chen tersenyum angkuh.

"Di Ibukota ada aturan yang harus kau pahami. Harta bagus yang dibawa pendatang harus melewati Keluarga Ouyang lebih dulu."

Ia mendekat.

"Jual kepadaku sekarang. Aku akan memberimu sedikit kehormatan."

Lin Xuan berhenti. Tatapannya dingin. "Menjualnya kepadamu?"

Ia mendengus.

"Jual seluruh Keluarga Ouyang pun belum tentu cukup untuk membeli satu butir pilku."

Lin Xuan melangkah maju.

"Jadi jangan menghalangi jalanku."

Lorong kehormatan mendadak sunyi.

Tak seorang pun menyangka ada yang berani menghina Tuan Muda Ouyang secara terang-terangan.

Senyum Ouyang Chen lenyap.

Bola besi di tangannya berhenti berputar.

"Bagus. Sangat bagus." Tatapan membunuh memenuhi matanya.

"Bunuh dia." Ia menunjuk Lin Xuan. "Jangan sentuh kepalanya. Bawa pelayannya kepadaku."

Keempat pengawal tingkat kesembilan Kondensasi Qi langsung mencabut pedang.

Aura tajam mereka memenuhi lorong dan mengunci Lin Xuan.

Namun Lin Xuan hanya berdiri tenang.

Ia bahkan tidak menganggap mereka sebagai ancaman.

1
Arinto Ario Triharyanto
mantap Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll njeduk Thor lanjut terus 💪💪💪💪
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos pooolll Thor 💪💪💪
Aman Wijaya
ini baru mantab Lin Xuan lanjutkan aksimu terus bikin dunia berguncang
Aman Wijaya
top top markotop lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Arinto Ario Triharyanto
mantap nih👍
Rinaldi Sigar
lnjut
Aman Wijaya
mantab pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Aman Wijaya
babat semuanya Lin Xuan biar keluarga Zhao lenyap semua
Aman Wijaya
mantab Lin Xuan habisi aja tuh Lin Hao biar ayahnya stres
Aman Wijaya
api teratai bumi udah ada di tangan Lin Xuan
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos lanjut terus Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
lanjut terus
Aman Wijaya
mantull Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Saifuloh Oting
Thor,,yg membuat cerita ini begitu epic,.... mantap Thor...
Celestial Quill: Terimakasih, gas terus💪💪
total 1 replies
Aman Wijaya
semangat Lin Xuan
Green Boy
Jos ceritanya
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai keluarga ouyang sampai ke akar akarnya panjang tubuh mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!