NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Dari Timur

Pendekar Pedang Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ginza

Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.

Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.

Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.

Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 PAHLAWAN

Jalur menuju utara semakin tandus. Debu kering bercampur angin dingin mengikis kulit Mu Jin yang terpanggang matahari. Setelah berjalan tiga hari menembus perbatasan, dia tiba di Desa Batu Kering—sebuah pemukiman kumal yang diapit tebing cadas runtuh.

Bau kotoran kuda dan kemiskinan menggantung tebal di udara. Di tengah alun-alun desa yang berdebu, beberapa pria bertubuh besar dengan pakaian kulit binatang bergaris hitam tampak tertawa terbahak-bahak. Mereka adalah bandit klan Kera Merah yang menguasai jalur perbatasan tersebut.

“Mana sisa gandum bulan ini?” bentak salah satu bandit bermata juling sambil menendang seorang pria tua hingga tersungkur ke tanah. “Kalian mau anak-anak kalian kami potong jarinya satu per satu?”

Warga desa berlutut diam, menundukkan kepala mereka ke tanah. Ketakutan merenggut seluruh keberanian mereka.

Mu Jin berjalan melewati kerumunan itu dengan langkah konstan. Pedang besi hitamnya terikat rapi di punggung. Matanya kosong, memandang lurus ke depan. Dia tidak berhenti, tidak melirik, dan sama sekali tidak peduli. Seluruh dunia bisa terbakar di sekitarnya, dan itu tidak akan mengubah tujuannya mencari Lu Chen.

Namun, ketenangan dingin itu terpecah oleh sebuah teriakan nyaring.

“Hentikan, bajingan!”

Seorang pemuda berumur belasan tahun melompat keluar dari balik kerumunan. Pakaiannya penuh tambalan, tubuhnya kurus, namun matanya memancarkan kilatan kepahlawanan yang tajam—sejenis pendar mulia yang sangat dibenci Mu Jin karena mengingatkannya pada kepalsuan para pendekar.

Pemuda itu mengacungkan sebatang kayu jati tebal ke arah bandit bermata juling. “Desa kami sudah tidak punya gandum lagi! Jika kalian mau mengambilnya, kalian harus melewati mayatku dulu!”

Bandit bermata juling itu tertegun sejenak, lalu meledak dalam tawa yang kencang bersama rekan-rekannya. “Lihat ini! Kita punya pahlawan cilik di sini!”

“Lari, Ah-Gou! Lari!” jerit wanita tua dari balik pintu gubuk.

Namun pemuda bernama Ah-Gou itu tidak mundur. Dia menerjang maju dengan nekad, mengayunkan kayu jatinya ke arah kepala bandit.

BRAK!

Kayu jati itu patah berkeping-keping saat menghantam pundak tebal sang bandit. Bandit itu bahkan tidak bergeser satu inci pun.

“Bocah tengil,” desis bandit itu.

Satu pukulan mentah bertenaga kasar mendarat telak di wajah Ah-Gou. Pemuda itu terlempar tiga meter, menghantam pasir dengan keras. Sebelum dia sempat bangkit, tiga bandit lainnya mengeroyoknya. Tendangan dan pukulan sepatu boot berujung besi menghantam dada, perut, dan mukanya tanpa ampun.

DUK! DUK! CRACK!

Bunyi tulang rusuk yang patah bergema di tengah keheningan warga desa yang hanya bisa menangis ketakutan. Darah menyembur dari mulut Ah-Gou, membasahi debu kering. Tubuh pemuda pahlawan itu kini tergeletak babak belur, matanya bengkak membiru, napasnya tersedak oleh darahnya sendiri.

“Pahlawan?” pengeroyok itu meludah tepat di atas wajah Ah-Gou yang tak berdaya. “Di tanah utara, orang sok suci sepertimu cuma cocok jadi bangkai!”

Mu Jin berhenti beberapa langkah di dekat kejadian itu. Dia menatap Ah-Gou yang terbaring kaku di tanah, bertatapan singkat dengan mata pemuda yang kini meredup oleh kenyataan pahit.

Pahlawan selalu berakhir seperti ini di Murim

hancur, terinjak, dan dilupakan dalam debu.

***

Bandit bermata juling itu merenggut rambut kotor Ah-Gou, mengangkat kepala pemuda yang terkulai itu tinggi-tinggi. Darah kental menetes dari bibir Ah-Gou yang pecah, merembes ke debu kering Desa Batu Kering.

“Buka matamu, Pahlawan,” ejek bandit itu dengan tawa parau. “Lihat tetanggamu! Lihat orang tua yang kau bela! Apakah ada satu pun dari mereka yang maju membantumu? Tidak ada. Keberanianmu itu bodoh. Di tanah ini, orang baik hanya berguna untuk dijadikan pijakan sepatu!”

Para warga desa makin menundukkan kepala, memeluk anak-anak mereka rapat-rapat dalam histeria yang tertahan. Tak satu pun berani menatap mata pemuda yang kini sekarat demi mereka.

Mu Jin berdiri lima langkah dari sana. Matanya yang mati menatap lurus ke arah bandit itu, lalu beralih pada sosok Ah-Gou yang terbaring kaku.

Mu Jin tidak tergerak oleh kebaikan. Dia tidak merasakan simpati pada tindakan nekad pemuda itu. Bagi Mu Jin, kepahlawanan Ah-Gou adalah kebodohan mentah yang sia-sia, sebuah ilusi dangkal bahwa kebenaran akan menang hanya karena niatnya murni. Tapi ada hal lain yang mendidih di dalam dada Mu Jin. Sesuatu yang jauh lebih pekat dan gelap.

Rasa muak.

Perilaku para bandit itu, cara mereka tertawa di atas ketakutan yang lemah, cara mereka merasa menjadi penguasa hanya karena memegang senjata, mengirimkan denyut kebencian yang teramat dikenal ke seluruh saraf Mu Jin. Mereka persis seperti prajurit berkuda bertopeng tembaga yang membantai desanya. Mereka adalah penindas yang merasa berhak mencabut nyawa hanya karena orang lain tidak punya cara untuk melawan.

SRET.

Tangan kiri Mu Jin mencengkeram gagang besi hitam di punggungnya. Dia menarik pedang kaku itu keluar dari sarung kayunya. Gesekan besi tebal dengan udara memicu dengung berat yang kaku.

“Hei, Gembel,” panggil bandit bermata juling, menyadari kehadiran Mu Jin yang mendadak melangkah mendekat. “Kau mau berpura-pura jadi pahlawan kedua? Pedangmu tebal dan tumpul, cocoknya untuk membelah daging babi!”

Mu Jin tidak membalas dengan gertakan. Dia tidak mengucap sepatah kata pun.

Langkahnya stabil, berat, dan membumi. Kaki jeraminya menjejak tanah berdebu tanpa getaran. Tumpuan pinggulnya merendah, persis seperti yang dia latih selama berturut-turut di dalam gua bersama Lu Xian.

“Habisi dia!” perintah bandit juling itu.

Dua bandit bertubuh tegap menerjang maju bersamaan. Yang satu mengayunkan golok besar secara mendatar, sementara yang lain mengincar dada Mu Jin dengan pisau belati panjang.

Mu Jin tidak mencoba menghindar melompat ke udara. Dia tidak punya tenaga dalam untuk memutar tubuhnya secepat angin.

Sebagai gantinya, dia melangkah satu tapak ke depan, membiarkan ujung golok bandit pertama merobek baju kusam di pundaknya. Saat bilah musuh tersangkut di kain tebalnya, Mu Jin memutar pinggulnya perlahan namun masif, mengayunkan pedang besi hitamnya dari samping.

WUSH. BRAK!

Bilah besi tebal Mu Jin tidak memotong kulit, melainkan menghantam rusuk bandit pertama seperti batang pohon raksasa yang roboh. Tulang-tulang rusuk pria itu remuk seketika di balik baju kulitnya. Bandit itu terlempar empat meter ke samping, memuntahkan darah segar sebelum tidak bergerak lagi.

Bandit kedua terbelalak kaget. Belum sempat dia menarik belatinya kembali, Mu Jin memanfaatkan momentum putaran pedangnya. Tanpa menahan benturan dengan sendi pergelangan tangannya, dia menyalurkan dorongan berat besi itu lurus ke depan menggunakan hentakan tumit kirinya.

CRASH!

Ujung tumpul pedang besi hitam itu menghantam tepat di tengah wajah bandit kedua. Hidung dan tulang pipinya hancur seketika. Pria itu roboh terlentang di debu, mengerang kesakitan sambil memegang wajahnya yang rata.

Suasana alun-alun desa mendadak hening mencekik.

Tawa para bandit terhenti seketika. Warga desa mendongak kaget, menatap lelaki kusam berwajah dingin yang baru saja merobohkan dua pria kekar hanya dengan dua tebasan kaku tanpa kilatan qi.

Bandit bermata juling melepaskan cengkeramannya pada rambut Ah-Gou. Matanya berkilat penuh amarah dan ketakutan yang liar. Dia mencabut pedang lengkungnya dari pinggang. “Siapa kau?! Kau bukan pendekar biasa!”

Mu Jin melangkah maju, melewati tubuh Ah-Gou yang terbaring. Sepatunya menginjak genangan darah di tanah.

“Aku bukan pendekar,” suara Mu Jin serak, dingin seperti batu kuburan di tengah malam. “Aku hanya benci melihat sampah yang merasa jadi raja.”

“Anjing!” jerit bandit juling itu, melompat maju sambil menebaskan pedang lengkungnya dengan dorongan tenaga dalam tipis.

Bilah pedang lengkung itu memancarkan angin tajam. Namun Mu Jin tidak terkecoh oleh kilatan senjata lawan. Matanya yang mati fokus pada tumpuan kaki sang bandit. Saat pedang musuh meluncur turun menuju lehernya, Mu Jin menangkis bukan dengan mata pedang, melainkan menyanggakan bagian tebal punggung besinya secara miring.

KLANG!

Percikan api memercik di udara. Benturan keras itu membuat pedang lengkung bandit terlempar ke atas. Pergelangan tangan bandit itu kebas seketika akibat menghantam besi tebal tanpa ruang redam milik Mu Jin.

Sebelum bandit itu sempat menarik tangannya kembali, Mu Jin melangkah maju menempelkan badannya. Dia menyundulkan dahinya yang keras tepat ke hidung bandit itu, membuat sang bandit limbung ke belakang.

Mu Jin mengangkat pedang besi hitamnya dengan kedua tangan. Tidak ada keindahan. Tidak ada nama jurus yang megah. Hanya gerakan mendasar seorang tukang kayu yang menjatuhkan beban terberatnya lurus ke bawah.

SPLASH!

Besi hitam tebal itu membelah bahu hingga ke dada bandit bermata juling. Tekanan masif dari tebasan kaku itu menghancurkan pelindung dada dan mematahkan tulang belikat sang bandit seketika. Bandit itu tersungkur di tanah berdebu, melolong kesakitan sebelum napasnya terhenti dalam ketakutan yang amat sangat.

Sisa tiga bandit lainnya mundur teratur, wajah mereka pucat pasi. Mereka menatap Mu Jin seolah menatap iblis dari rawa-rawa, seorang pria tanpa nama yang membunuh tanpa amarah, tanpa suara, dan tanpa keampunan.

“Lari!” teriak salah satu dari mereka.

Ketiga bandit itu berbalik dan melarikan diri terbirit-birit menembus gerbang kayu desa, meninggalkan kawan-kawan mereka yang tewas dan terkapar di tanah.

Mu Jin berdiri diam di tengah debu alun-alun. Dia mengusap bilah pedang besi hitamnya pada baju bandit yang tewas, membersihkan noda darah kental sebelum menyarungkannya kembali ke punggungnya dengan bunyi clank yang berat.

Warga desa berbisik-bisik, menatap Mu Jin dengan pandangan campur aduk antara kagum dan ketakutan yang dalam.

Ah-Gou, dengan mata bengkaknya yang terpatri pada Mu Jin, merangkak perlahan di tanah, mencoba menggapai ujung baju kusam Mu Jin. “Pahlawan, Kau... kau menyelamatkan kami... Kau...”

Mu Jin berhenti melangkah. Dia menunduk, menatap pemuda babak belur itu dengan mata yang benar-benar dingin tanpa riak.

“Aku bukan pahlawan,” desis Mu Jin datar. “Aku bertarung bukan untuk membebaskan desamu, dan bukan untuk membela kebenaranmu yang tidak berguna. Aku membunuh mereka karena aku membenci suara tawa mereka.”

Mu Jin melangkah melompati tangan Ah-Gou, mengabaikan tatapan tercengang warga desa. Dia kembali menyusuri jalan berdebu menuju utara, meninggalkan pemuda itu terbaring di tanah bersama kenyataan pahit bahwa di dunia ini, keselamatan kadang datang dari kegelapan yang sama sekali tidak peduli.

1
Ginza
bantu retting teman-teman
SilentNovels
saling support tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!