Amir adalah seorang pemuda yatim piatu yang selama bertahun-tahun hidup menderita sebagai menantu yang sama sekali tidak dianggap oleh keluarga istrinya, meskipun ia sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Kesabarannya diuji hingga batas maksimal ketika ibu mertua dan adik iparnya dengan kejam menendangnya ke dalam danau saat ia sedang memancing, hanya demi memaksanya menceraikan istrinya yang hendak dijodohkan dengan pria kaya. Namun, di saat Amir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya, ia justru membangkitkan [Sistem Check-in Memancing] yang akan mengubah jalan hidupnya yang menyedihkan menjadi seorang legenda yang bergelimang harta dan kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Ruangan lelang itu tidak berbentuk teater seperti semalam, melainkan berupa bilik-bilik sofa kulit setengah lingkaran yang saling berhadapan.
Setiap bilik memiliki layar tablet di mejanya untuk memasukkan angka penawaran secara anonim.
Hanya ada sekitar dua puluh orang di ruangan tersebut, dan semuanya adalah taipan kelas kakap yang mengendalikan roda ekonomi bayangan.
Amir dan Pak Surya duduk di salah satu bilik VVIP yang posisinya cukup tinggi sehingga bisa melihat ke arah podium tengah dengan jelas.
"Malam ini akan ada banyak aset berharga yang dilepas oleh pihak bank sentral secara diam-diam."
"Salah satunya adalah sebuah perusahaan real estate raksasa yang baru saja disita dari seorang koruptor."
Pak Surya memberikan informasi singkat pada Amir sambil menghisap cerutunya.
Amir mendengarkan dengan saksama dan mulai merencanakan langkah akuisisinya.
"Perusahaan real estate raksasa ya, sepertinya itu cocok untuk menjadi pondasi awal kerajaan bisnisku."
Tidak lama kemudian, seorang pria paruh baya bertopeng separuh wajah naik ke atas podium.
"Selamat malam para penguasa bayangan, mari kita mulai permainan kita malam ini."
"Item pertama kita adalah sebuah sertifikat hak milik atas lahan komersial seluas lima puluh hektar di pusat kota mandiri yang baru."
"Lahan ini sangat strategis untuk dibangun kawasan superblok mall dan apartemen premium."
Pelelang itu menampilkan peta lahan tersebut di layar raksasa di belakangnya.
"Harga buka untuk lahan emas ini adalah tiga triliun rupiah, dengan kelipatan penawaran minimal seratus miliar."
Mendengar angka triliunan disebut sebagai pembuka, nyali pengusaha biasa pasti sudah menciut seketika.
Namun di ruangan ini, angka triliunan hanyalah angka mainan monopoli bagi mereka.
Ting.
Layar di bilik seberang menyala merah menandakan ada penawaran masuk.
"Bilik nomor tujuh menawar tiga koma satu triliun rupiah."
Ting.
"Bilik nomor tiga membalas dengan penawaran tiga koma lima triliun rupiah."
Persaingan berlangsung sangat sengit tanpa ada suara teriakan seperti lelang publik biasa, semuanya berjalan dalam senyap yang mematikan.
Amir bersandar di sofanya dan mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja kaca.
"Pak Surya, apakah lahan ini memiliki masalah hukum jika aku membelinya?"
Amir bertanya untuk memastikan keamanannya.
"Tidak Amir, semua aset yang dilelang di sini sudah dicuci bersih secara hukum oleh pihak penyelenggara."
"Siapa pun yang memenangkannya akan menjadi pemilik sah yang diakui negara esok paginya."
Mendengar kepastian itu, Amir tersenyum sangat dingin.
Ia memanggil panel sistem di dalam benaknya.
"Sistem, sepertinya aku butuh amunisi besar malam ini."
"Jual Ikan Pari Magma Kuno di Kolam Ruang itu sekarang juga ke sistem!"
[Terkonfirmasi]
[Menjual 1x Ikan Pari Magma Kuno. Poin Tuan bertambah 500.000 Poin]
[Total Saldo Poin Tuan saat ini adalah 512.850 Poin]
"Sekarang tukarkan tiga ratus ribu poin menjadi tiga puluh triliun rupiah dan transfer ke rekeningku dengan jalur aman!"
[Terkonfirmasi]
[Menukarkan 300.000 Poin menjadi 30.000.000.000.000 Rupiah]
[Proses pencucian uang tingkat dewa selesai. Dana telah masuk ke rekening Tuan dengan status investasi warisan luar negeri sah]
Ting!
Ponsel di saku jas Amir bergetar hebat menerima notifikasi bank yang digit angkanya tidak bisa dibaca sekilas saking panjangnya.
Ia kini resmi memiliki uang tunai tiga puluh triliun rupiah yang siap dihancurkan kapan saja.
"Angka penawaran saat ini berhenti di lima triliun rupiah oleh bilik nomor tiga."
"Apakah ada yang berani menaikkan harga untuk lahan emas ini?"
Pelelang bertopeng itu bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Bilik nomor tiga yang diisi oleh seorang pria tua botak tersenyum angkuh merasa sudah memenangkan lelang.
Srek.
Amir mengambil tablet di depannya dan mengetikkan sederet angka dengan sangat cepat.
Ting!
Suara notifikasi lelang berbunyi sangat nyaring memenuhi ruangan rahasia tersebut.
Pelelang bertopeng itu menatap layar utamanya dan matanya terbelalak lebar di balik topengnya.
Ia bahkan sampai harus mengusap matanya untuk memastikan ia tidak salah menghitung jumlah angka nol di layar.
"Bi... bilik nomor sembilan memasukkan penawaran sebesar sepuluh triliun rupiah!"
Pengumuman itu langsung membuat seluruh taipan di dalam ruangan itu tersentak kaget dari tempat duduk mereka.
Melompat dari lima triliun langsung ke sepuluh triliun bukanlah tindakan bisnis yang wajar, itu adalah tindakan pembantaian mental.
Pak Surya yang duduk di sebelah Amir sampai tersedak asap cerutunya sendiri.
"Amir, kau menawar sepuluh triliun rupiah kontan untuk lahan kosong itu?"
Pak Surya bertanya dengan suara bergetar tidak percaya melihat keliaran pemuda di sebelahnya ini.
"Uang hanyalah alat untuk menyingkirkan lalat yang mengganggu Pak Surya."
"Aku tidak suka membuang waktu menawar sedikit demi sedikit."
Amir menjawab santai sambil menatap lurus ke arah pria botak di bilik nomor tiga yang kini wajahnya memerah karena marah dan malu.
Pria botak itu memelototi bilik Amir dengan tatapan membunuh karena merasa dilecehkan secara finansial.
Namun ia tidak berani menekan tombol penawaran lagi karena sepuluh triliun sudah melampaui batas kewarasan anggaran perusahaannya.
"Sepuluh triliun satu kali!"
"Sepuluh triliun dua kali!"
"Sepuluh triliun tiga kali, sah!"
Palu diketuk dan lahan emas lima puluh hektar itu resmi jatuh ke tangan Amir dalam waktu kurang dari lima menit.
Amir tersenyum tipis merayakan kemenangan pertamanya di dunia bisnis bawah tanah.
Ini barulah langkah pemanasan dari sang penguasa baru kota yang lahir dari dasar kawah kebencian.