Di mata teman-temannya yang sombong, Saka hanyalah "si beban" yang lamban, miskin, dan tak punya masa depan, sering kali menjadi bahan rongsokan ejekan dan perundungan. Namun, di balik senyum polos dan sikapnya yang kelihatannya bodoh itu, Saka menyembunyikan rahasia besar: dia adalah pewaris tunggal kemampuan mistis Raja Fengshui yang mampu melihat aliran Qi, pendar aura barang antik tak ternilai, hingga nasib malang-mujur seseorang hanya dalam sekali tatap. Sambil membiarkan musuh-musuhnya tertawa di atas ketidaktahuan mereka, Saka diam-diam meraup keberuntungan dari barang-barang pusaka yang dianggap remeh, menunggu momen paling tepat di sebuah pelelangan elit untuk membongkar kedoknya, menghancurkan harga diri mereka, dan memaksa dunia berlutut di hadapan sang Raja Fengshui yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Tuan Adijaya terdiam membeku mendengar ultimatum mutlak yang baru saja diucapkan oleh pemuda arogan di depannya ini.
Napas penguasa klan itu terdengar sangat berat menahan pergolakan batin antara ego tingginya dan keselamatan putri semata wayangnya.
"Surya, minta nomor rekening anak ini dan transfer sepuluh miliar rupiah sekarang juga tanpa banyak tanya." Perintah Tuan Adijaya akhirnya menyerah pada keadaan dengan suara bergetar.
Paman Surya langsung menghela napas lega yang luar biasa panjang mendengar keputusan bijak dari majikannya tersebut.
Pria paruh baya itu buru-buru mengeluarkan ponsel pintarnya dan meminta nomor rekening Saka dengan tangan gemetar ketakutan.
Saka menyebutkan deretan angka rekeningnya dengan wajah datar seolah uang sepuluh miliar itu hanyalah uang jajan recehan baginya.
Tring.
Suara notifikasi dari ponsel butut Saka berbunyi nyaring memecah ketegangan di dalam kamar dingin tersebut.
"Uangnya sudah masuk utuh ke rekening saya Tuan Konglomerat, keputusan yang sangat cerdas untuk seorang ayah." Ucap Saka sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket.
"Sekarang aku minta kalian semua keluar dari kamar ini detik ini juga dan jangan ada yang berani mengintip sedikitpun." Perintah Saka mengambil alih kendali ruangan itu sepenuhnya tanpa ampun.
Tuan Adijaya membelalakkan matanya tidak terima dengan perintah pengusiran yang sangat tidak sopan tersebut di rumahnya sendiri.
"Kau mau aku meninggalkan putriku berduaan saja dengan pria asing sepertimu di dalam kamar tertutup ini." Protes Tuan Adijaya dengan nada curiga yang sangat kental.
"Pilihannya cuma dua Tuan, Anda keluar dari sini dengan tenang atau Anda diam di sini melihat putri Anda mati membeku." Jawab Saka memberikan pilihan mematikan yang sama sekali tidak bisa dibantah.
Paman Surya buru-buru menarik lengan Tuan Adijaya dan memohon padanya untuk menuruti semua kemauan Master Saka.
"Tuan Besar mohon mengalahlah demi Nona Anya, biarkan Master Saka bekerja dengan tenang tanpa gangguan kita dari luar." Bujukan Paman Surya akhirnya berhasil meruntuhkan keras kepalanya Tuan Adijaya malam ini.
Pria paruh baya itu menatap Saka dengan tatapan tajam yang penuh dengan peringatan mematikan seorang ayah.
"Kalau sampai terjadi apa-apa pada putriku, seluruh keluargamu akan ikut menanggung akibatnya anak muda." Ancam Tuan Adijaya sebelum akhirnya berbalik berjalan lambat keluar kamar.
Saka hanya memutar bola matanya malas mendengar ancaman basi itu dan langsung berjalan menutup pintu kamar rapat-rapat.
Klek.
Saka mengunci pintu dari dalam dan memastikan tidak ada siapapun yang bisa masuk mengganggu proses sakral ini.
Suasana kamar mendadak menjadi sangat sunyi hanya terdengar hembusan napas Anya yang sangat lemah dan tersendat-sendat.
Suhu di dalam ruangan ini benar-benar terasa seperti di dalam lemari es membuat napas Saka mengeluarkan kepulan asap putih.
Saka berjalan perlahan mendekati ranjang dan menatap wajah Anya yang kini sudah membiru karena kehilangan kehangatan tubuhnya.
"Gadis sombong yang malang, harta triliunan rupiah milik keluargamu ternyata tidak bisa membeli nyawamu sama sekali." Batin Saka sambil duduk santai di tepi ranjang berukuran raksasa tersebut.
Saka mengaktifkan sistem Mata Dewa Fengshui miliknya untuk memindai kondisi tubuh Anya secara lebih mendalam dan akurat.
Layar transparan biru seketika muncul di depan wajahnya dan menampilkan rentetan tulisan peringatan berwarna merah menyala.
[Mendeteksi Kutukan Es Ungu tingkat akhir di dalam tubuh target bernama Anya Adijaya.]
[Kutukan ini bukan berasal dari nasib buruk alami melainkan hasil buatan manusia menggunakan ilmu hitam tingkat tinggi.]
[Asal usul kutukan ditanamkan melalui racun spiritual tak kasat mata yang dicampurkan ke dalam makanan target secara berkala selama bertahun-tahun.]
Saka mengerutkan dahinya membaca analisis sistem yang berhasil membongkar rahasia gelap di balik penyakit misterius gadis ini.
"Diracuni dari dalam secara perlahan, ini pasti ulah saingan bisnis keluarga Adijaya yang menyusupkan pengkhianat ke rumah ini." Analisis Saka dengan otak cerdasnya yang langsung menyimpulkan situasi berbahaya tersebut.
[Peringatan tambahan untuk Master, energi Qi Master saat ini masih kosong sehingga proses penyembuhan murni akan menggunakan stamina fisik.]
[Target berada di ambang kematian sehingga Master memerlukan kontak fisik langsung di titik pusat jantung untuk mengusir hawa dingin secara maksimal.]
Saka menelan ludah pelan membaca instruksi terakhir dari sistem yang mengharuskannya menyentuh area tubuh sensitif gadis tersebut.
"Maafkan kelancanganku Nona sombong, ini murni prosedur medis darurat untuk menyelamatkan nyawamu yang hampir melayang." Gumam Saka meminta izin secara sepihak pada gadis yang sedang tidak sadarkan diri itu.
Saka menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuh Anya dan perlahan membuka sedikit kancing atas piyama sutra gadis tersebut.
Dia meletakkan telapak tangan kanannya tepat di tengah dada Anya tepat di atas detak jantungnya yang semakin melemah.
Sensasi dingin yang luar biasa menusuk tulang langsung menjalar dari kulit putih Anya masuk ke dalam telapak tangan Saka.
"Sistem, aktifkan Transfer Qi Penyembuh sekarang juga dan kuras staminaku sampai batas maksimal yang paling aman." Perintah Saka dengan tekad yang sudah bulat tak tergoyahkan.
Wusss.
Cahaya keemasan yang sangat terang langsung memancar dari telapak tangan Saka menembus masuk ke balik kulit dada Anya.
Hawa hangat kehidupan mulai mengalir deras memaksa masuk ke dalam pembuluh darah gadis itu yang tadinya nyaris membeku total.
Namun kutukan es ungu itu tidak mau menyerah begitu saja dan mulai memberikan perlawanan balik yang sangat agresif dari dalam.
Kabut ungu pekat tiba-tiba keluar dari pori-pori kulit Anya dan melilit lengan Saka layaknya ular berbisa yang sedang kelaparan.
Rasa sakit yang luar biasa hebat langsung menyerang saraf lengan Saka seolah tulangnya sedang diremukkan menggunakan tang besi panas.
"Sialan, kutukan ini ternyata punya kesadaran sendiri untuk melindungi wilayah kekuasaannya dari ancaman luar." Umpat Saka sambil menggertakkan giginya kuat-kuat menahan rasa sakit yang luar biasa.
Keringat dingin mulai bercucuran deras dari dahi Saka membasahi wajahnya yang kini ikut memucat karena staminanya terkuras sangat drastis.
Saka tidak mau mengalah dan justru semakin menekan telapak tangannya ke dada Anya mengalirkan energi kehidupan jauh lebih besar lagi.
"Keluar kau iblis sialan, jangan berani pamer kekuatan sampah di depan sistem dewa milikku." Teriak Saka di dalam hatinya sambil mengerahkan seluruh sisa tenaga terakhirnya.
Cahaya keemasan di tangan Saka seketika meledak terang mengalahkan kabut ungu yang melilit lengannya hingga hancur berkeping-keping di udara.
Syuuuut.
Sisa-sisa kabut ungu itu langsung menguap ke udara dan menghilang tanpa bekas meninggalkan kamar tidur mewah tersebut.