NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 11: Digendong ke Klinik

Lengan Arya terulur, menangkap tubuhnya sebelum kepala Kirana menyentuh lantai.

“Rana.”

Suara itu terdengar dekat, tetapi wajah Arya berbayang di balik pandangan yang gelap-terang. Kirana mencoba menegakkan tubuh. Nyeri lain menghantam perut bawahnya, membuat kukunya mencengkeram kemeja Arya.

“Sakit,” bisiknya.

Ekspresi Arya berubah. Tanpa bertanya lagi, satu lengannya masuk ke bawah lutut Kirana, satu lagi menopang punggungnya. Tubuh Kirana terangkat dari lantai.

“Mas, turunkan. Banyak orang...”

“Biarkan mereka melihat.”

Kerumunan di depan gedung olahraga otomatis membuka jalan. Ponsel masih terangkat, tetapi satu tatapan Arya membuat mahasiswa terdekat buru-buru menurunkannya. Winda mengikuti di samping dengan tas Kirana, wajahnya pucat.

“Kayaknya dismenore,” katanya cepat. “Dia memang sering sakit, tapi biasanya nggak sampai hampir pingsan.”

“Klinik terdekat?”

“Ada klinik dua puluh empat jam dekat gerbang selatan.”

Gilang berlari lebih dulu untuk membuka pintu mobil. Fajar muncul dari pintu gedung, masih memegang handuk tim. Ia berhenti saat melihat Kirana berada dalam pelukan Arya.

“Kirana kenapa?” tanyanya.

“Dia butuh dokter, bukan penonton,” jawab Arya dingin.

Fajar mengatupkan rahang, lalu menepi. Untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa ada seseorang yang telah lebih dulu berdiri di sisi Kirana saat keadaan benar-benar buruk.

Arya membaringkan Kirana di kursi belakang dan masuk bersamanya. Winda duduk di depan. Sedan bergerak sebelum pintu selesai terkunci sempurna.

Sepanjang perjalanan, Kirana meringkuk dengan tangan menekan perut. Arya melepaskan jas, menggulungnya, lalu menyelipkannya di bawah kepala Kirana.

“Lihat saya,” katanya.

Kirana membuka mata dengan susah payah.

“Tarik napas pelan. Kita hampir sampai.”

“Malu...”

“Sakit seperti ini bukan sesuatu yang memalukan.”

“Tadi semua orang lihat.”

“Saya tidak peduli.” Ibu jarinya mengusap keringat dingin di pelipis Kirana. “Kamu juga jangan peduli dulu.”

Klinik berada kurang dari sepuluh menit dari kampus. Arya kembali menggendong Kirana masuk. Nada suaranya tenang saat menjelaskan kondisi kepada perawat, tetapi ketenangan itu memiliki ujung tajam yang membuat proses administrasi bergerak cepat.

Perawat memeriksa tekanan darah dan suhu. Dokter perempuan yang bertugas menanyakan hari pertama menstruasi, pola nyeri, obat yang biasa digunakan, serta kemungkinan kondisi lain. Setelah pemeriksaan dasar memastikan tidak ada tanda bahaya akut, dokter menyimpulkan serangan dismenore berat dan memberikan analgesik sesuai riwayat Kirana, disertai kompres hangat.

“Kalau nyerinya tidak turun, muncul perdarahan berlebihan, pingsan lagi, atau demam, langsung ke rumah sakit,” pesan dokter. “Untuk jangka panjang, sebaiknya periksa ke dokter kandungan karena nyerinya sampai mengganggu aktivitas.”

Kirana mengangguk lemah.

Arya yang berdiri di samping ranjang bertanya lebih rinci daripada dirinya sendiri. “Obat diminum setelah makan? Berapa jarak dosisnya? Makanan apa yang harus dihindari?”

Dokter menjawab satu per satu, lalu tersenyum tipis. “Pacarnya perhatian sekali.”

Kirana hendak membantah, tetapi Arya lebih dulu berkata, “Memang.”

Ia menoleh tajam. Arya pura-pura sibuk menerima resep.

Saat dokter keluar, Winda masuk membawa tas Kirana dan segelas air. “Video tadi sudah turun dari akun resmi kampus, tapi potongannya keburu nyebar.”

Kirana menutup mata. “Sempurna. Besok semua orang tahu gue ditolak tubuh sendiri setelah menolak Fajar.”

“Jangan mikirin itu dulu.”

Ponsel Winda bergetar. Pesan dari Fajar muncul, menanyakan kondisi Kirana dan meminta maaf karena membuat situasi terlalu ramai. Winda menunjukkannya kepada Kirana.

“Balas kalau aku baik-baik saja,” kata Kirana. “Dan bilang aku nggak marah, tapi lain kali jangan jadikan perasaan orang sebagai tontonan.”

Arya yang sedang membaca lembar obat mengangkat wajah. “Masih memikirkan perasaannya?”

“Saya sedang menutup masalah dengan jelas.”

“Dia menekan kamu di depan satu gedung.”

“Dan saya sudah menolaknya di depan satu gedung.” Kirana menatap Arya meski kepalanya masih berat. “Jangan melakukan apa pun kepada Kak Fajar.”

Rahang pria itu mengeras. “Saya tidak berjanji.”

“Mas.”

“Selama dia berhenti, saya tidak akan menyentuhnya.”

Winda menatap keduanya, lalu mengetik balasan dengan sangat pelan, seolah takut suara papan ketiknya mengganggu dua binatang yang sedang saling mengukur kekuatan.

Tak lama, Rian menelepon. Arya berjalan ke dekat jendela untuk menerima laporan.

“Data pribadinya?”

“Sudah dibersihkan dari komentar utama, Pak. Akun yang menyebarkan nomor dan alamat sudah dilaporkan. Tim kampus juga menghentikan siaran.”

“Pastikan tidak ada kamera di depan klinik.”

Kirana mendengar semuanya. “Mas menyuruh orang mengurus itu?”

Arya menutup panggilan. “Ya.”

“Secepat ini?”

“Kamu tidak perlu membaca orang asing memperdebatkan tubuh dan hidupmu saat sedang sakit.”

Kirana tidak tahu seorang dosen biasa bisa menggerakkan tim secepat itu. Pertanyaan tentang siapa Arya sebenarnya kembali muncul, tetapi tertahan oleh rasa sakit yang berdenyut.

Winda menarik Arya ke luar ruangan ketika Kirana diminta beristirahat sebentar. Di koridor klinik, sahabatnya tidak lagi terlihat lucu.

“Prof serius sama Kira?” tanyanya.

“Ya.”

“Dia kelihatan galak, tapi kalau sudah sayang, gampang banget menyalahkan diri sendiri. Jangan bikin dia merasa bodoh karena percaya.”

Arya menatap pintu ruang periksa. “Saya justru sedang mencoba membuatnya percaya.”

“Dan satu lagi. Dia sering menyembunyikan sakit supaya nggak merepotkan orang. Kalau dia bilang baik-baik saja, cek dua kali.”

“Saya sudah menyadarinya.”

Winda mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Arya sebagai dosen yang mengejar sahabatnya, melainkan sebagai lelaki yang mungkin benar-benar mampu berdiri di sana saat Kirana terlalu lemah untuk berdiri sendiri.

Setelah obat mulai bekerja, nyeri Kirana turun dari sesuatu yang terasa merobek menjadi denyut berat. Ia sudah bisa berjalan, tetapi Arya tetap menahan lengannya sampai ke mobil.

“Saya bisa sendiri.”

“Tadi kamu juga bilang begitu sebelum hampir jatuh.”

“Itu beda.”

“Bagi saya tidak.”

Di parkiran, Rian sudah menunggu dengan dua kantong belanja besar. Wajahnya tetap profesional meski isi kantong menampilkan beberapa merek pembalut, kompres hangat, kaus kaki, air mineral, dan camilan.

“Saya tidak tahu merek yang biasa dipakai Mbak Kirana, jadi saya beli beberapa,” katanya.

Wajah Kirana yang pucat mendadak memerah. “Mas Rian beli semua ini?”

“Perintah Pak Arya.”

Arya mengambil kantong tanpa sedikit pun tampak canggung. “Ada yang kurang?”

“Mas!”

“Apa?”

“Jangan bahas pembalut di parkiran.”

Rian menatap ke arah lain, sangat bijaksana. Winda menutup mulut agar tidak tertawa.

“Baik,” kata Arya. “Kita bahas di apartemen.”

“Bukan begitu maksud saya.”

Untuk pertama kalinya sejak rasa sakit menyerang, Kirana ingin tertawa.

***

Malam turun ketika mereka tiba di apartemen. Winda membantu Kirana mengganti pakaian dan menempelkan kompres hangat, sementara Arya menghilang ke dapur.

Tak lama kemudian, aroma jahe dan gula aren memenuhi ruangan.

“Dia bisa masak?” Winda berbisik.

“Bisa.”

“Lo sudah pernah makan masakannya?”

Kirana menutup mata. “Pernah.”

“Banyak banget yang belum lo ceritain ke gue.”

Arya masuk membawa baki sebelum interogasi berlanjut. Ada secangkir wedang jahe hangat, bubur sumsum dengan gula aren, dan obat yang sudah dikeluarkan dari kemasan.

“Makan sedikit dulu.”

Kirana bersandar pada kepala ranjang. “Saya nggak lapar.”

“Tiga sendok.”

“Dua.”

“Lima.”

“Kok malah naik?”

“Karena kamu menawar kesehatanmu.”

Winda memandang mereka bergantian. “Gue ke dapur dulu, ya. Biar negosiasi rumah tangga ini selesai.”

“Win!”

Sahabatnya sudah kabur sambil membawa baki kosong.

Arya duduk di tepi ranjang. Ia mengaduk bubur, meniup satu sendok, lalu menyodorkannya. Kirana menatap sendok itu dengan curiga.

“Saya bisa makan sendiri.”

“Tanganmu dingin dan masih gemetar.”

Kirana akhirnya membuka mulut. Buburnya lembut, hangat, dan manisnya tidak berlebihan. Setelah lima sendok, ia minum obat dan wedang jahe.

Panas perlahan menyebar dari tenggorokan ke dada. Kompres di perutnya mulai terasa menenangkan. Arya menarik selimut sampai menutupi kaki Kirana, lalu memasangkan kaus kaki tanpa bertanya.

Gerakannya begitu wajar seolah merawat Kirana bukan beban, bukan pula kesempatan untuk menuntut sesuatu.

Arya mengganti kompres ketika suhunya turun. Ia mencatat waktu minum obat di ponsel, menaruh air dalam jangkauan, lalu meredupkan lampu kamar. Tidak sekali pun ia mengeluh saat Kirana meminta posisi bantal diubah, atau ketika aroma jahe membuatnya mual dan ia harus membuka jendela.

“Mas bisa pulang,” kata Kirana. “Saya sudah lebih baik.”

Arya menyentuh punggung tangannya. “Masih dingin.”

“Memang tangan saya sering dingin.”

“Berarti saya harus lebih lama menghangatkannya.”

Ia menggosok jemari Kirana di antara kedua telapak tangannya. Hangat tubuhnya berpindah perlahan. Kirana memandang kepala yang sedikit tertunduk di depannya dan tiba-tiba merasa tenggorokannya penuh.

“Jangan begini,” bisiknya.

Arya mengangkat wajah. “Kenapa?”

“Nanti saya terbiasa.”

“Itu tujuan saya.”

“Kalau suatu hari Mas bosan?”

“Saya tidak melakukan semua ini untuk mencoba.” Tatapannya menahan Kirana tanpa memberi ruang bagi keraguan. “Saya melakukannya karena saya sudah memilih.”

“Kenapa Mas baik sekali sama saya?” tanyanya pelan.

Arya berhenti di ujung ranjang. “Karena kamu sakit.”

“Bukan cuma hari ini.”

Tatapan mereka bertemu. “Karena itu kamu.”

Jawaban sederhana itu menekan sesuatu di dalam dada Kirana sampai terasa sakit dengan cara yang berbeda. Sejak kecil, Papa dan Mama tentu merawatnya. Winda selalu siap membela. Namun diperlakukan sebagai seseorang yang pantas dijaga oleh lelaki yang tidak memiliki kewajiban apa pun kepadanya terasa baru.

Dan berbahaya bagi pertahanannya.

Winda kembali membawa air panas. “Prof. Arya, saya bisa jaga Kira malam ini. Prof pasti punya kerjaan.”

“Saya tetap di sebelah sampai dia tidur.”

“Sebelah?” Winda menyipitkan mata. “Prof tinggal dekat sini?”

“Mulai pekan ini.”

Kirana membuka mata lebih lebar, tetapi Arya hanya memeriksa suhu kompres.

Winda bersedekap. “Satu pertanyaan lagi. Hubungan Prof sama sahabat saya sebenarnya apa?”

Kirana menahan napas.

Arya tidak menoleh kepadanya untuk meminta izin. Ia juga tidak terlihat ragu.

“Saya pacarnya.”

“Mas Arya,” protes Kirana lemah.

“Kalau salah, bantah.”

Winda menatapnya penuh tuntutan. Kirana membuka mulut, tetapi tidak ada kata penolakan yang keluar.

Hanya rasa hangat yang perlahan mengisi ruang di balik tulang rusuknya.

Winda tersenyum lebar. “Oke. Berarti mulai sekarang kalau Kira nangis, saya tagih Prof.”

“Silakan.”

Arya menjawab tanpa bercanda. Tangannya menutup jari Kirana di atas selimut, dan untuk pertama kalinya, Kirana tidak menarik diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!