Jabar, Teknisi senior yang jatuh cinta lagi pada Operator di mesin yang ia pegang. Setelah beberapa tahun menduda, ini kali pertama dia jatuh cinta lagi. Operator baru itu namanya Clara masih muda dan cantik, tapi pemalu.
Mungkin inilah jalan cinta Jabar yang mulus bak jalan tol. Ketika Jabar memberi tumpangan pada Clara untuk berteduh di rumahnya karena hujan yang lebat, beberapa orang tetangga sempat heran dan curiga. Namun, Jabar tidak kalah gertak, dia mengaku kalau Clara adalah istri barunya yang baru beberapa hari dinikahi.
Apakah kebohongan Jabar akan terendus massa ataukah ini jalan cintanya untuk yang kedua kali naik pelaminan? Natikan kisah serunya di karya "Jerat Cinta Sang Teknisi".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Tahu Sama Tahu, Aman!
"Kalian sudah menikah dan ternyata selama ini kalian sepasang kekasih yang LDR-an, kemudian elu sengaja ajak kemari cewek elu untuk kerja di pabrik yang sama. Itu pelanggaran dan bisa dipecat salah satu. Kalian kagak akan tenang. Gua akan bocorin rahasia kalian ke pihak HRD," ancam Hardi sungguh-sungguh.
Muka merah tanda kecewa, jelas terlihat di sana. Hardi dengan berang mengancam akan membocorkan pernikahan rahasia Jabar dengan Clara pada pihak HRD. Dan semua tahu, jika dalam sebuah perusahaan ada sepasang suami istri yang bekerja dalam satu perusahaan, maka salah satunya terancam dipecat, sesuai aturan yang termaktub dalam perusahaan.
Sejenak, baik Jabar dan Clara tersentak menanggapi ancaman Hardi yang tidak main-main. Namun beberapa detik kemudian Jabar bisa menguasai diri. Dia menanggapi tenang ancaman Hardi.
"Terserah elu mau bocorkan pernikahan gua ke HRD atau CEO perusahaan ini, gua kagak takut. Gua masih bisa nafkahin bini gua jika salah satu dipecat. Tapi nanti dulu, sebelum elu bocorin pernikahan gua ke HRD atau pihak lain, coba lihat vidio dan foto-foto ini."
Dengan tenang, Jabar memperlihatkan Hp nya yang di dalamnya ada sebuah bukti vidio dan foto yang menunjukkan Hardi sedang jalan bersama dengan seorang Supervisor departemen Molding. Juga vidio kemesraan mereka di sebuah restoran. Bahkan tidak cuma itu, sebuah vidio yang menunjukkan Hardi dan Supervisor itu sedang memasuki sebuah hotel juga ada.
Hardi tercengang melihat fakta yang berhasil Jabar kantongi tentang dirinya. Mau menyangkal pun sepertinya tidak mungkin, karena jelas sekali itu memang dirinya bersama seorang perempuan yang masih karyawan di pabrik elektronik tempatnya bekerja.
Tidak hanya satu, bukti Hardi sedang jalan dengan seorang Manager pabrik Hitacho juga berhasil Jabar kantongi. Bukti itu membuat Hardi geleng-geleng kepala, dari mana Jabar tahu dirinya memiliki hubungan khusus dengan dua wanita dewasa itu?
"Dari mana elu dapatkan semua itu? Apa elu beralih haluan jadi seorang spionase?" heran Hardi dengan wajah ketar-ketir.
"Tidak, gua bukan spionase. Elu kagak usah tahu dari mana gua dapatkan semua itu. Yang jelas, karir elu bisa tamat jika bukti ini gua sebarin." Jabar balik menantang dengan tanpa rasa takut.
"Ancaman balik Jabar, membuat Hardi keringat dingin, bukan masalah dipecatnya jika bukti itu bocor, tapi lebih kepada rasa malu dan pastinya jika vidio itu bocor, bukan tidak mungkin dirinya justru akan kena ciduk orang-orang yang menjadi suami wanita Supervisor Molding itu.
"Wah, gawat, nih, jika si Jabar membocorkan hubungan terlarang gua dengan wanita itu, bukan hanya karir gua yang akan hancur, hidup gua juga akan melayang. Bisa-bisa gua dalam ancaman jika semua bukti ini disebar si Jabar dan sampai di telinga suami wanita itu. Apes, apes." Hardi berkata-kata di dalam hatinya dengan perasaan bimbang.
"Gimana, elu mau pilih yang mana? Jalan aman atau dipecat dan kena malu? Bahkan elu bisa kena sangsi dalam masyarakat, terutama orang-orang yang merupakan suami dari wanita itu. Mereka akan mengejar elu sampai elu mampus. Secara yang gua tahu, suami dari wanita itu merupakan orang berpengaruh di tempat tinggalnya dan merupakan seorang yang punya jabatan lumayan di perusahaan Carvvi. Elu pilih mana?"
Jabar berkata di depan wajah Hardi dengan seringai yang cukup menakutkan. Tidak main-main, Jabar menuturkan siapa suami dari wanita yang saat ini berhubungan dengan Hardi.
Hardi ciut, nyalinya hanya sampai di situ. Ancaman Jabar membuatnya lebih baik memilih cari aman dan tutup mulut mengenai pernikahan Jabar dari siapapun terutama pihak HRD.
"Baiklah, gua cari aman. Dan awas, jika vidio ini bocor, maka elu yang akan gua cari." Hardi mendengus sesaat setelah mengambil keputusan yang dianggapnya lebih baik. Dia memilih tutup mulut tentang pernikahan Jabar, dia cukup tahu saja.
"Ok, kalau begitu kita deal. Tapi ingat, jika vidio ini bocor juga, maka bukan gua yang lebih dulu elu cari, justru elu yang akan dicari oleh mereka." Ancaman Jabar yang kedua membuat Hardi semakin ciut saja, dia benar-benar di posisi yang terjepit dan paling merugi jika vidio itu benar-benar bocor.
"Ok, ok. Gua ikuti mau elu. Gua akan tutup mulut," ucap Hardi.
"Tutup mulut dan yang penting kita tahu sama tahu. Yang perlu elu tahu, jika gua jahat sama elu, maka sudah dari setahun yang lalu gua sebar vidio ini. Tapi karena gua kagak jahat dan kita tidak pernah punya masalah sebelum ini, jadi gua kagak ada kepentingan jika harus sebarin vidio itu."
Hardi menatap Jabar dengan penuh selidik, mempertanyakan kalau yang dikatakan Jabar sungguh-sungguh. Hardi menyadari, selama ini dirinya dan Jabar memang tidak pernah punya masalah. Tapi kehadiran Clara tiba-tiba memicu perselisihan di antara mereka. Hardi merasa tertarik saat pertama kali melihat Clara. Dan ketika Jabar menegurnya saat dia berusaha merayu Clara, Hardi merasa tidak suka.
Dari situlah Hardi merasa tidak suka karena teguran Jabar. Dan imbasnya kini semua bukti hubungan gelapnya dengan wanita yang berstatus istri orang, sudah dikantongi Jabar dan terancam dibocorkan jika dirinya membocorkan pernikahan rahasia Jabar dengan Clara.
"Ok, gua cabut. Ingat, ya. Elu harus tepati janji elu untuk tutup mulut tentang gua. Atau kalau perlu, elu hapus semua bukti itu," pinta Hardi mencoba mempengaruhi Jabar.
"Bisa saja gua hapus dari Hp gua, tapi di dalam laptop gua tersimpan rapi. Hanya gua yang bisa mengaksesnya. Sudahlah, elu sekarang balik ke pabrik, sayang banget seragam Teknisi elu jika kagak elu pakai untuk kerja," tukas Jabar seraya mengusir Hardi yang akan kembali.
Hardi menatap Jabar sejenak sesaat sebelum keluar rumahnya.
"Alangkah baiknya elu tinggalin wanita bersuami itu sebelum elu ketahuan suaminya. Masih ada yang benar-benar single yang naksir elu." Jabar sedikit kuat menekan volume suaranya supaya didengar Hardi.
Hardi sejenak terpaku, mencerna ucapan Jabar. Namun sesaat kemudian ia menyalakan motornya lalu memacunya dengan kencang meninggalkan rumah Jabar.
***
Hardi memacu motornya seakan diburu waktu sehingga tepat di belokan, motornya terpeleset karena licin. Sialnya motor Hardi menimpa trotoar yang ternyata ada seseorang yang sepertinya baru saja selesai belanja di warung nasi belokan itu.
"Cekitttt. Brakkkkk."
"Awwwww, sialan." Hardi mengumpat, lalu perlahan bangkit dan merasa khawatir dengan orang yang baru saja kena serempet ban motornya.
"Kamu tidak apa-apa?" risau Hardi seraya bermaksud membantu orang itu yang ternyata perempuan masih muda.
"Carmen! Ngapain kamu, Dek, di sini?" kejut Hardi seraya menatap gadis itu yang ternyata Carmen, seraya mengangkat motornya yang masih terbaring di trotoar.
"Aku nggak apa-apa, Bang. Aku baru beli sarapan. Abang sendiri kenapa di sini, bukankan ini shift Abang?" tanya Carmen heran.
"Abang sudah ijin telat masuk. Ok deh, kalau begitu abang pergi dulu, ya. Maafin abang sudah membuat kamu jatuh," ucap Hardi membuat Carmen terpana. Carmen tidak menduga dia bakal sedekat ini dengan laki-laki yang baru sebulan ini dia sukai.
Carmen masih terpana sampai dia tidak sadar kalau Hardi sudah menjauh dan memacu motornya menuju pabrik.