Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 - Daya Tarik Faris
Setelah waktu kunjungan hampir berakhir, bel tanda pergantian sesi berbunyi nyaring. Seorang sipir mempersilakan para pengunjung bersiap meninggalkan ruangan. Faris menatap ibunya dengan berat hati. Rasanya baru beberapa menit mereka berbincang, padahal waktu hampir setengah jam telah berlalu tanpa terasa.
"Ibu harus pulang sekarang," ucap Siti dengan senyum yang dipaksakan.
Faris mengangguk pelan. "Iya, Bu."
"Kamu jaga kesehatan."
"Ibu juga."
Siti kembali menempelkan telapak tangannya ke kaca pembatas. Faris melakukan hal yang sama dari sisi lain. Tidak ada pelukan, tidak ada sentuhan hangat, hanya selembar kaca yang memisahkan keduanya. Namun tatapan mata mereka sudah cukup menyampaikan banyak hal yang tidak sempat diucapkan.
"Ibu percaya sama kamu," kata Siti sekali lagi.
Faris mengangguk kuat. "Aku tidak akan mengecewakan Ibu."
Bu Nuri ikut tersenyum. "Kami akan terus datang kalau ada kesempatan."
"Terima kasih banyak, Bu."
"Kamu tidak sendirian."
Kalimat itu membuat hati Faris kembali hangat. Setelah melambaikan tangan untuk terakhir kalinya, Siti dan Bu Nuri akhirnya berjalan keluar dari ruang kunjungan.
Faris masih memandangi pintu yang perlahan tertutup sampai suara langkah mereka benar-benar menghilang.
Baru ketika seorang sipir memanggil namanya, dia tersadar dari lamunannya.
"Faris!"
"Iya, Pak."
"Mari kembali."
Faris mengangguk. Baru saja ia hendak mengikuti sipir tersebut, terdengar suara perempuan memanggil dari belakang.
"Permisi..."
Faris spontan menoleh.
Seorang sipir perempuan berdiri beberapa meter darinya. Tingginya sekitar seratus enam puluh sentimeter, berambut hitam yang diikat rapi, dengan wajah yang terlihat ramah meski mengenakan seragam dinas. Sejak tadi wanita itu memang beberapa kali memperhatikannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya Faris sopan.
Sipir perempuan itu tersenyum tipis. "Kamu... Faris, kan?"
Faris mengangguk. "Iya."
Wanita itu terlihat ragu-ragu selama beberapa detik sebelum akhirnya bertanya, "Apa kamu pernah sekolah di SMP Negeri 5?"
Faris mengernyit. "SMP Negeri 5?"
"Iya."
Perlahan wajahnya berubah bingung. Ia mencoba mengingat-ingat masa SMP yang sudah cukup lama berlalu.
"Tunggu..."
Wanita itu kembali tersenyum. "Aku Lea."
Mata Faris langsung membelalak. "Lea?"
"Iya."
"Kita pernah satu kelas."
Butuh beberapa detik sampai ingatan Faris benar-benar kembali. Wajah sipir perempuan itu perlahan bertumpuk dengan sosok gadis kecil berkuncir dua yang dulu sering duduk di bangku sebelahnya saat pelajaran matematika.
"Astaga..." Faris terkekeh pelan. "Lea?"
Lea tertawa kecil. "Akhirnya ingat juga."
"Iya." Faris mengusap tengkuknya dengan canggung. "Maaf... kamu benar-benar berubah."
Lea tersenyum geli. "Kamu juga."
"Bedanya, kamu berubah jadi sipir."
"Kamu..." Lea menghentikan kalimatnya sebelum melanjutkan dengan nada pelan. "...malah jadi narapidana."
Suasana mendadak sedikit canggung. Faris hanya tersenyum pahit. "Iya. Takdir memang aneh."
Lea memperhatikan wajah Faris beberapa saat. Entah kenapa, pemuda yang dulu dikenalnya terlihat jauh berbeda. Wajahnya memang sedikit lebih kurus. Kulitnya juga menggelap karena sering bekerja di bawah matahari. Namun sorot matanya justru tampak jauh lebih tenang dan dewasa dibanding ketika masih sekolah.
Sementara itu...
DING!
Layar biru kembali muncul di hadapan Faris.
[Notifikasi.]
Faris hampir memutar bola matanya. "Sekarang?"
[Ya.]
"Memangnya ada apa?"
[Pengguna sedang diamati oleh individu perempuan.]
"Aku juga tahu."
[Sistem menampilkan status daya tarik pengguna.]
Di hadapan Faris muncul panel baru. Status Pengguna
Kharisma : 17
Daya Tarik : 18
Kepercayaan Diri : 29
Kebersihan : 63
Reputasi : 42
Faris berkedip beberapa kali. "Lho? Kharisma juga ada?"
[Benar.]
"Sejak kapan?"
[Sejak awal.]
"Kenapa baru diperlihatkan sekarang?"
[Pengguna baru cukup berkembang untuk mengetahuinya.]
Faris menghela napas. "Kamu suka menyembunyikan fitur ya?"
[Benar.]
"Lah, diakui."
Lea yang melihat Faris diam beberapa saat menjadi bingung. "Faris?"
"Hah?"
"Kamu tidak apa-apa?"
"Oh... tidak apa-apa."
Faris buru-buru kembali fokus. Di dalam kepalanya, sistem masih berbicara.
[Informasi tambahan tersedia.]
"Apa lagi?"
[Semakin tinggi level profesi pengguna, semakin banyak keuntungan pasif yang diperoleh.]
Faris langsung tertarik. "Contohnya?"
[Level Insinyur akan meningkatkan kharisma alami pengguna.]
"Lalu?"
[Daya tarik terhadap lawan jenis ikut meningkat.]
Faris hampir tersedak ludahnya sendiri.
[Semakin tinggi level profesi, semakin mudah pengguna memperoleh kesan positif dari orang lain.]
"Itu terdengar seperti cheat."
[Benar.]
"Sistem memang curang."
[Sistem efisien.]
Faris berusaha menahan senyum. "Lalu selain itu?"
[Keuntungan fisik juga tersedia.]
"Apa maksudnya?"
[Pada level tertentu pengguna akan memperoleh kemampuan bela diri dasar secara otomatis.]
Mata Faris kembali membesar. "Tanpa membeli?"
[Benar.]
"Tanpa poin?"
[Benar.]
"Gratis?"
[Benar.]
Faris sampai menarik napas panjang. "Akhirnya ada yang gratis."
[Sistem tidak selalu meminta poin.]
"Jarang sekali."
[Keahlian bela diri akan terus meningkat sesuai perkembangan profesi.]
"Kenapa insinyur dapat bela diri?"
[Insinyur yang hebat harus mampu bertahan dalam situasi berbahaya.]
"Masuk akal juga."
[Selain itu...]
"Ada lagi?"
[Pengguna akan memperoleh peningkatan refleks, koordinasi tubuh, serta kemampuan membaca pergerakan lawan.]
Faris semakin bersemangat. "Wah... Doni tidak akan mudah memukulku nanti."
[Peluang pengguna dipukul tetap ada.]
"Woi!"
[Sistem hanya menyampaikan fakta.]
Faris benar-benar ingin mengeluh, tetapi di saat yang sama ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Kalau semua itu benar, berarti masa depannya jauh lebih menjanjikan daripada yang ia bayangkan.
"Faris?"
Suara Lea kembali membuyarkan lamunannya. "Kamu benar-benar tidak apa-apa?"
"Iya. Maaf... Aku cuma sedikit melamun."
Lea tersenyum tipis. "Kamu masih sama seperti dulu. Dulu juga sering melamun."
Faris ikut tertawa kecil. "Iya ya."
Untuk sesaat mereka sama-sama terdiam. Lea kemudian menatap Faris dengan ekspresi yang lebih serius.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu."
"Kamu... benar-benar melakukan semua yang dituduhkan orang?"
Pertanyaan itu diucapkan dengan sangat hati-hati. Faris tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepala beberapa detik sebelum mengangkat wajahnya kembali.
"Tidak."
Jawabannya singkat.
Lea memperhatikan ekspresinya. "Kamu yakin?"
Faris mengangguk. "Aku difitnah."
Lea tidak langsung menyela.
Faris melanjutkan dengan tenang. "Ada seseorang yang memasukkan obat-obatan terlarang ke tasku."
"Ketika polisi datang... Semuanya sudah terlambat..Tidak ada yang percaya."
Lea menghela napas pelan. "Kalau begitu... Apa ada yang membantumu sekarang?"
Faris tersenyum tipis. "Ada. Dua orang. Pak Adi dan Pak Bandi. Mereka sedang mencari bukti."
Lea terlihat sedikit terkejut. "Benarkah?"
"Mereka percaya aku dijebak."
Lea mengangguk perlahan. "Aku senang mendengarnya."
Faris menatapnya. "Kamu... percaya padaku?"
Lea tersenyum hangat. "Aku memang sudah lama tidak bertemu denganmu. Tapi aku masih ingat anak yang dulu selalu membantu teman-temannya mengerjakan soal matematika. Aku juga ingat kamu tidak pernah berkelahi dan kamu selalu memilih diam kalau ada masalah."
Lea menggeleng pelan. "Entah kenapa... Aku sulit membayangkan kamu menjadi pengedar narkoba."
Kalimat itu membuat dada Faris terasa hangat sekali. "Terima kasih."
Lea mengangguk. "Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. Tapi kalau memang kamu tidak bersalah... Aku berharap semuanya segera terbukti."
Faris tersenyum tulus. "Aku juga berharap begitu."
Seorang sipir laki-laki kemudian memanggil Lea dari ujung koridor.
"Lea!"
"Iya!"
"Ada berkas yang harus ditandatangani."
"Baik!"
Lea kembali menatap Faris. "Aku harus pergi."
Faris mengangguk. "Terima kasih sudah menyapa."
Lea tersenyum. "Sampai nanti."
"Sampai nanti."
Perlahan ia berjalan meninggalkan ruang kunjungan. Namun baru beberapa langkah, tanpa sadar Lea kembali menoleh ke belakang.
Faris masih berdiri di tempat yang sama. Pemuda itu membalas senyumnya dengan senyum sederhana yang justru terasa begitu tulus.
Entah mengapa, jantung Lea berdetak sedikit lebih cepat. "Aneh..." gumamnya dalam hati. "Dulu Faris memang baik. Tapi... Kenapa sekarang dia terlihat jauh lebih menarik?"
Lea bahkan sempat menggelengkan kepalanya sendiri. "Padahal dia sedang memakai seragam narapidana. Harusnya kesan itu membuat orang menjauh. Kenapa aku justru merasa sebaliknya?"
Ia mencoba mencari alasan logis. "Mungkin karena dia terlihat lebih dewasa. Atau... Karena cara bicaranya lebih tenang."
Di sisi lain, Faris yang tidak mengetahui isi pikiran Lea sedang berjalan kembali menuju blok tahanan.
"Sistem."
[Ya.]
"Itu tadi..."
[Individu perempuan menunjukkan peningkatan ketertarikan sebesar 11,4%.]
Faris hampir tersandung. "Yang benar?"
[Perubahan masih berada pada kategori ringan.]
"Jangan bilang kamu benar soal daya tarik tadi."
[Data menunjukkan demikian.]
Faris mengusap wajahnya. "Jangan macam-macam."
[Sistem tidak melakukan apa pun.]
"Kamu yakin?"
[Pengguna hanya berkembang.]
Faris tersenyum kecil sambil menggeleng. "Sudahlah. Aku masih punya tujuan yang lebih penting. Membuktikan kalau aku tidak bersalah."
[Keputusan dinilai tepat.]
"Sisanya nanti saja."
[Dicatat.]
Faris menarik napas panjang. Kini bukan hanya Pak Adi dan Pak Bandi yang mempercayainya. Bahkan seorang teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu pun masih memilih percaya pada dirinya.
Harapan itu perlahan tumbuh semakin besar di dalam hatinya. Ia hanya berharap, sebelum semua terlambat, kebenaran benar-benar berhasil ditemukan.