NovelToon NovelToon
The Doctor’S Little Bride: Bukan Sekadar Kakak

The Doctor’S Little Bride: Bukan Sekadar Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yaya haswa

Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.

Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.

Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.

Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.

Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.

Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.

Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ke Kampus Gavin

Bel pulang sekolah berbunyi, menandakan berakhirnya pelajaran sekolah hari ini. SUV hitam milik Gavin sudah terparkir rapi di depan gerbang. Begitu Keana masuk ke dalam mobil dengan langkah yang masih agak kaku, ia dikejutkan oleh atmosfer di dalam mobil yang penuh dengan gulungan kertas kalkir, cat akrilik, dan beberapa papan ujian.

"Kak, ini mobil apa gudang toko alat tulis sih?" ucap Keana melihat banyaknya barang di bangku belakang.

Gavin terkekeh, langsung melesatkan mobilnya membelah jalanan. "Kakak sengaja jemput kamu cepet hari ini, Ndut. Kamu ikut kakak ke kampus ya? Anak DKV lagi ada pameran seni besar-besaran, sekalian awarding night buat instalasi terbaik. Daripada lo lumutan di rumah gak ngapa-ngapain."

Mendengar kata 'pameran seni', mata Keana langsung berbinar. Ia jadi penasaran. "Beneran? Ada makanan gratisnya gak?"

"Pikiran mu makan mulu. Ada, tenang aja," sahut Gavin sambil mengacak rambut adiknya.

Setibanya di kampus dan juga telah memarkirkan mobilnya, Gavin membawa Keana masuk. Begitu memasuki area koridor Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Keana seolah dibawa masuk ke dunia lain. Lorong-lorong kampus yang biasanya kaku disulap menjadi galeri seni yang sangat hidup. Lampu sorot kekuningan berpendar estetis, menyoroti deretan karya lukisan, instalasi lampu gantung dari bahan daur ulang, hingga pajangan seni digital yang interaktif.

"Keren banget, Kak..." gumam Keana takjub. Ia berjalan perlahan, menikmati visual di sekelilingnya sampai melupakan rasa kaku di lututnya sendiri.

Gavin tersenyum bangga. Sebagai mahasiswa DKV, melihat adiknya mengagumi dunia jurusannya memberikan kepuasan tersendiri. "Ini baru koridor luar, Kea. Pameran utamanya ada di dalam aula tengah. Yuk."

Saat mereka masuk ke area aula, suasananya jauh lebih ramai. Mahasiswa dengan pakaian nyentrik khas anak seni tampak memenuhi ruangan. Di sudut aula, perhatian Keana langsung tersedot oleh sebuah stan interaktif berukuran besar. Ada papan kanvas raksasa yang disediakan untuk umum, di mana pengunjung bisa melukis abstrak menggunakan kuas neon yang menyala di bawah lampu ultraviolet (UV).

"Kak Gav, aku mau coba yang itu!" tunjuk Keana antusias.

"Boleh, yuk. Tapi pelan-pelan jalannya, inget itu dengkul masih diperban," peringat Gavin yang dengan sigap memegangi lengan Keana, menjaganya dari kerumunan mahasiswa agar lututnya tidak tersenggol.

Gavin mengambilkan satu kuas besar yang sudah dicelupkan ke cat neon berwarna merah muda terang, lalu menyerahkannya pada Keana. Dengan mata berbinar, Keana mulai menorehkan garis-garis abstrak di atas kanvas hitam tersebut. Di sampingnya, Gavin ikut mengambil kuas berwana biru elektrik dan menggambar karikatur wajah Keana yang sedang cemberut di sudut kanvas.

"Ih, Kak Gavin! Kok muka Kea jelek banget sih?!" protes Keana sambil tertawa, mencoba membalas dengan mencoretkan cat merah muda ke ujung hidung Gavin.

"Heh! Berani ya lo!" Gavin terbahak, membalas coretan itu di pipi Keana dengan ujung jarinya. Kakak-beradik itu tertawa lepas di tengah keriuhan pameran, mengundang senyum dari beberapa mahasiswa lain yang gemas melihat kedekatan mereka.

Setelah puas bermain cat, Gavin mengajak Keana ke area stan makanan untuk mengambil es krim dan beberapa camilan gratis. Mereka duduk di salah satu bangku taman dalam ruangan yang menghadap langsung ke panggung utama, tempat live accoustic sedang membawakan lagu-lagu indie yang menenangkan.

Sembari menikmati es krimnya, Keana menatap Gavin yang sibuk membersihkan sisa cat neon di hidungnya dengan tisu. Rasa hangat tiba-tiba menjalar di dada Keana. Di tengah ketakutannya memikirkan kepulangan Kak Elvan besok, kehadiran Gavin hari ini benar-benar menjadi pelipur lara yang luar biasa.

"Kak," panggil Keana pelan.

"Hmm?" Gavin menoleh dengan kening berkerut, masih sibuk mengelap wajahnya.

"Makasih ya udah ajak Kea ke sini. Kea seneng banget hari ini," ucap Keana tulus, senyum manis terukir di wajahnya yang masih ada sedikit noda cat neon.

Gavin tertegun sejenak. Ia lalu menurunkan tisunya dan tersenyum sangat lembut. Ia merangkul bahu Keana, menariknya mendekat.

"Sama-sama, Ndut. Makanya jangan mikirin yang aneh-aneh lagi. Selama ada kakak, lo gak usah takut sama apa pun di rumah itu, paham?" bisik Gavin tenang, seolah tahu apa yang sejak tadi mendekam di pikiran adiknya.

Keana mengangguk kuat dalam rangkulan Gavin, menikmati sisa sore yang indah di antara gemerlap seni DKV dan alunan musik yang syahdu.

Di tengah alunan musik akustik yang syahdu, momen kakak-beradik itu mendadak buyar ketika tiga cowok dengan gaya khas anak seni berkaus longgar, memegang gulungan kertas, dan salah satunya membawa kamera DSLR—berjalan menghampiri meja mereka.

"Woi, Gav! Dicariin anak-anak angkatan ternyata malah mojok di sini," seru salah satu cowok berambut agak gondrong yang diikat rapi. Namanya Theo, ketua pelaksana pameran hari ini.

Gavin menoleh dan tertawa kecil, melepas rangkulannya di bahu Keana. "Sori, Yo. Gue lagi tugas negara nih, jagain tuan putri."

Mendengar ucapan Gavin, pandangan ketiga cowok itu otomatis tertuju pada Keana. Detik itu juga, suasana meja berubah sedikit canggung bagi Keana. Apalagi cowok yang memegang kamera DSLR, namanya Rey, yang terkenal sebagai fotografer andalan fakultas, malah terpaku menatap Keana.

Di bawah pendar lampu UV dan lampu sorot kuning keemasan, wajah Keana yang memiliki sedikit noda cat neon merah muda di pipinya, ditambah binar matanya yang jernih, terlihat sangat estetik dan photogenic.

"Gav... ini siapa?" tanya Rey, suaranya terdengar agak ragu tapi matanya tidak lepas dari Keana. "Adek lo? Kok gak mirip? Cantikan dia, lo jelek."

"Sialan lo, Rey!" umpat Gavin bercanda, refleks memajukan tubuhnya sedikit, insting protektifnya sebagai kakak langsung aktif.

"Awas lo ya, jangan macam-macam. Ini adek kesayangan gue, namanya Keana."

Rey tidak menghiraukan ledekan Gavin. Ia justru menurunkan kameranya, menatap Keana langsung dengan senyuman ramah.

"Hai, Keana. Gue Rey, temen sekelas abang lo yang paling waras."

"H…hai, Kak Rey. Aku Keana," jawab Keana agak gugup, meremas cup es krimnya karena tidak terbiasa menjadi pusat perhatian cowok-cowok kuliahan.

"Kea, sori banget nih... tapi lo sadar gak kalau noda cat di pipi lo, ditambah pencahayaan lampu di sudut ini tuh pas banget?" Rey mengangkat kameranya lagi, menunjukkan gestur meminta izin.

"Boleh gak gue ambil beberapa foto candid lo? Buat pameran internal minggu depan. Tema kita kan 'Unexpected Beauty', dan gue rasa lo dapet banget visualnya."

Keana mengerjapkan mata, bingung harus menjawab apa. Ia melirik Gavin, meminta bantuan.

Gavin yang melihat adiknya digoda, walau dalam konteks seni langsung memasang wajah sangar yang dibuat-buat. Ia berdiri, menghalangi lensa kamera Rey dengan telapak tangan besarnya.

"Eits! Gak bisa, gak bisa! Enak aja lo mau jadiin adek gue model gratisan. Berani bayar berapa Lo, kontraknya? Mahal nih, pajaknya ke gue!"

"Pelit amat sih lo, Gav! Cuma beberapa jepret doang," protes Rey sambil tertawa, mencoba menggeser tangan Gavin. "Lagian gue nanya Keana, bukan nanya agennya."

"Tetep gak boleh! Adek gue lagi cedera, tuh liat kakinya diperban," sahut Gavin sambil menunjuk ke arah lutut Keana. "Jangan diganggu dulu."

Theo dan satu teman Gavin lainnya langsung terbahak melihat bagaimana posesifnya Gavin saat adik perempuannya didekati cowok lain. Theo langsung merangkul leher Gavin dari belakang.

"Udah lah, Rey, menyerah aja. Si Gavin kalau soal adeknya emang kayak macan jantan kehilangan anak. Yuk, Gav, mending lo ikut gue ke depan bentar, ada evaluasi instalasi lo."

Gavin melirik Keana, memastikan adiknya aman. "Kea, lo tunggu sini bentar ya. Kakak cuma ke panggung sebelah sana. Jangan ke mana-mana, dan kalau tiga orang ini berani macem-macem, pukul aja."

Keana tertawa geli dan mengangguk. "Iya, Kak."

Setelah Gavin dan Theo berjalan menjauh, Rey masih berdiri di dekat meja, menatap Keana sambil tersenyum tipis. Ia tidak mengangkat kameranya lagi, menghargai privasi Keana.

"Abang lo emang se-protektif itu ya, Kea?" tanya Rey santai, menduduki kursi yang tadi ditempati Theo.

"Iya, Kak. Kadang emang agak lebay, tapi aslinya baik banget," jawab Keana, rasa gugupnya mulai berkurang karena pembawaan Rey yang ramah.

"Wajar sih. Kalau gue punya adek se-manis lo, pasti bakal gue gembok di dalam rumah biar gak diculik orang," canda Rey dengan kedipan mata jahil.

"Nih, buat lo. Anggap aja salam kenal dari gue karena gagal dapet foto lo." Rey memberikan sebuah gantungan kunci berbentuk palet lukis kecil dari akrilik yang menyala dalam gelap pada Keana.

"Itu marchendise terbatas pameran hari ini. Semoga suka, ya."

Sebelum Keana sempat menolak atau berterima kasih, Rey sudah berdiri dan melambaikan tangan, berjalan menyusul Gavin dengan tawa kecilnya. Keana menatap gantungan kunci itu dengan senyum tertahan, merasa bahwa hari ini benar-benar penuh kejutan yang menyenangkan, sekaligus membuktikan betapa beruntungnya ia memiliki Gavin yang selalu menjaganya.

Keana duduk sendiri menikmati suasana pameran itu sembari menopang dagunya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya memainkan gantungan kunci pemberian Rey tadi. Pandangannya melayang ke arah panggung instalasi di sudut aula, tempat Gavin sedang serius berdiskusi dengan Theo dan beberapa dosen penguji. Melihat kakaknya yang biasa pecicilan kini terlihat karismatik dengan kaus hitam, ia tersenyum tipis melihatnya

Namun, perhatiannya mendadak teralih oleh kehadiran seorang perempuan yang berdiri tak jauh dari area panggung. Perempuan itu mengenakan jilbab bernuansa earth-tone yang dililit rapi, dipadukan dengan kemeja oversized linen dan celana kulot, gaya khas anak FSRD yang simpel namun sangat estetik. Meskipun penampilannya sopan dan tertutup, ia memancarkan daya tarik yang kuat. Wajahnya yang natural tampak manis, terutama saat kedua matanya terfokus lurus pada satu objek di atas panggung.

Objek itu adalah Gavin.

Keana memperhatikan bagaimana perempuan berjilbab itu tidak melepaskan pandangannya dari Gavin. Setiap kali Gavin tertawa atau menggerakkan tangannya saat menjelaskan sesuatu tentang maket instalasi, sudut bibir perempuan itu ikut terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat tulus. Ada binar kagum dan hangat yang tidak bisa disembunyikan dari sepasang matanya.

Bahkan, saat Gavin sempat menoleh ke arahnya, perempuan itu buru-buru memalingkan wajah ke arah buku sketsa di tangannya, berpura-pura sibuk membolak-balik halaman dengan pipi yang mendadak merona merah.

“Wah... bau-baunya ada yang naksir Kak Gavin, nih,” batin Keana, seketika insting jahilnya merayap naik.

Keana senyum-senyum sendiri memperhatikan interaksi satu arah tersebut. Selama ini, Gavin selalu sibuk mengurusinya. Ia hampir lupa kalau kakak keduanya ini adalah salah satu mahasiswa DKV yang cukup populer dan punya banyak penggemar di kampus.

"Ganteng juga ya ternyata kalau lagi serius begitu. Pantesan ada mbak-mbak jilbab cantik yang sampai curi-curi pandang," gumam Keana pelan pada diri sendiri, matanya bergantian menatap Gavin yang masih sibuk dan perempuan berjilbab yang kini kembali menatap kakaknya dengan malu-malu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!