Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Jarak yang Tak Terlihat
Sejak mengetahui identitas asli Damar sebagai pewaris Grup Wijaya, sesuatu berubah dalam diri Nara.
Bukan karena pria itu berubah.
Justru karena pria itu tetap sama.
Tetap datang paling pagi.
Tetap pulang paling malam.
Tetap perfeksionis.
Tetap menyebalkan.
Namun kini Nara sadar bahwa pria yang selama ini berdebat dengannya bukan sekadar atasan biasa.
Damar berada di dunia yang berbeda.
Dunia yang bahkan belum pernah ia bayangkan.
Dan entah kenapa, kesadaran itu membuatnya mulai menjaga jarak.
---
Pagi itu.
Nara datang lebih awal seperti biasa.
Ia sengaja memilih meja yang agak jauh dari ruang kerja Damar.
Laptop langsung dinyalakan.
Dokumen dibuka.
Fokus bekerja.
Setidaknya itulah rencananya.
"Nara."
Suara Siska terdengar dari belakang.
"Hm?"
"Kamu bertengkar sama Damar?"
Nara mengangkat kepala.
"Tidak."
"Kok aku merasa ada yang aneh?"
"Tidak ada apa-apa."
Siska menyipitkan mata.
Ekspresi khas saat sedang curiga.
Namun sebelum sempat bertanya lebih jauh, Raka datang membawa dua gelas kopi.
"Pagi, warga yang belum kaya."
Siska langsung mengambil salah satu gelas.
"Terima kasih, warga yang juga belum kaya."
"Aku kaya pengalaman."
"Berarti miskin uang."
Nara tertawa kecil.
Pertengkaran mereka memang selalu menghibur.
---
Pukul sembilan pagi.
Rapat mingguan dimulai.
Biasanya Nara duduk di dekat Damar karena mereka sering menangani proyek yang sama.
Namun hari ini ia memilih kursi lain.
Tepat di seberang ruangan.
Damar memperhatikannya.
Meski tidak mengatakan apa pun.
Rapat berjalan lancar.
Sampai beberapa kali Damar mengajukan pertanyaan.
Biasanya Nara menjawab dengan cepat.
Hari ini?
Jawabannya singkat.
Formal.
Seperlunya saja.
Dan itu tidak luput dari perhatian siapa pun.
Terutama Damar.
---
Setelah rapat selesai.
Semua orang kembali bekerja.
Nara sedang menyusun laporan ketika pesan masuk dari aplikasi kantor.
Pengirimnya Damar.
"Datang ke ruang kerja saya."
Nara menghela napas.
Ia tahu momen ini akan datang.
---
Beberapa menit kemudian.
Ia berdiri di depan meja Damar.
Pria itu sedang membaca dokumen.
"Anda memanggil saya?"
Seketika Damar mengangkat kepala.
Kemudian mengernyit.
"Kenapa tiba-tiba pakai bahasa formal?"
Nara membeku.
Biasanya ia memang lebih santai saat berbicara dengannya.
"Saya rasa itu lebih profesional."
jawabnya.
Tatapan Damar berubah.
Lebih tajam.
"Profesional?"
"Iya."
"Dan minggu lalu tidak profesional?"
Nara langsung kehabisan jawaban.
Kenapa pria ini selalu pandai membalikkan keadaan?
"Ada yang berubah sejak kemarin."
ucap Damar.
Nara pura-pura tidak mengerti.
"Apa maksud Anda?"
"Kamu menghindar."
Suasana mendadak hening.
Jantung Nara berdetak sedikit lebih cepat.
Namun ia tetap berusaha tenang.
"Saya hanya fokus bekerja."
"Kamu buruk dalam berbohong."
balas Damar datar.
Nara langsung kesal.
"Kalau tidak ada pekerjaan, saya kembali ke meja."
Ia berbalik.
Namun sebelum sempat melangkah jauh, suara Damar kembali terdengar.
"Hanya karena saya pewaris perusahaan, bukan berarti saya orang yang berbeda dari kemarin."
Langkah Nara terhenti.
Untuk sesaat.
Namun ia tetap berjalan keluar.
Karena dirinya sendiri belum tahu harus menjawab apa.
---
Siang harinya.
Tim mendapat tugas melakukan survei ke lokasi acara promosi.
Nara dan beberapa anggota tim harus turun langsung ke lapangan.
Termasuk Damar.
Perjalanan berlangsung sekitar empat puluh menit.
Sebagian besar anggota tim mengobrol santai.
Kecuali Nara.
Ia memilih duduk dekat jendela.
Melihat pemandangan di luar.
"Nara."
Siska menyenggol lengannya.
"Hm?"
"Kamu benar-benar aneh hari ini."
"Kenapa semua orang bilang begitu?"
"Karena memang begitu."
jawab Siska tanpa ragu.
Nara mendesah.
Ia tidak bisa menjelaskan apa yang sedang dirasakannya.
Bahkan kepada dirinya sendiri.
---
Lokasi acara cukup ramai.
Mereka harus memeriksa tata letak panggung.
Area promosi.
Jalur pengunjung.
Dan berbagai detail lainnya.
Saat sedang mencatat ukuran area, Nara tidak memperhatikan kabel yang melintang di lantai.
Kakinya tersangkut.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Namun sebelum sempat jatuh...
Seseorang menarik lengannya.
Refleks.
Tubuh Nara berputar.
Dan tanpa sadar ia langsung mengambil posisi bertahan seperti saat latihan bela diri.
Damar yang memegang lengannya langsung terdiam.
Nara juga.
Mereka saling menatap beberapa detik.
Lalu Siska yang melihat kejadian itu langsung tertawa.
"Astaga."
"Apa?"
tanya Nara.
"Aku baru sadar."
"Sadar apa?"
"Kalau ada orang jahat nyerang kamu, mungkin mereka yang masuk rumah sakit."
Beberapa anggota tim ikut tertawa.
Nara hanya menggeleng.
Namun tanpa sengaja ia melihat Damar.
Dan untuk pertama kalinya hari itu...
Pria itu tersenyum.
Tipis.
Namun cukup untuk membuat jantungnya kembali berdebar aneh.
---
Sore menjelang.
Pekerjaan lapangan selesai.
Tim memutuskan makan bersama sebelum kembali ke kantor.
Saat semua orang sedang memilih menu, seorang anak kecil tiba-tiba berlari dan menabrak pelayan.
Nampan yang dibawa hampir jatuh.
Untungnya Nara sigap menangkapnya.
"Wah."
Pelayan itu langsung tersenyum lega.
"Terima kasih, Kak."
"Sama-sama."
Anak kecil tadi juga tidak terluka.
Namun yang membuat Nara tidak nyaman adalah tatapan beberapa orang di meja.
Termasuk Damar.
"Apa?"
tanya Nara.
"Kamu selalu bergerak cepat."
ucap Raka.
"Itu karena refleks."
jawab Nara.
Damar hanya memperhatikan tanpa komentar.
Namun sorot matanya terlihat berbeda.
Seolah semakin tertarik mengenal wanita itu.
---
Malam hari.
Mereka kembali ke kantor.
Pekerjaan berjalan normal.
Namun menjelang jam pulang, sebuah kabar mengejutkan menyebar.
Beberapa direktur akan mengadakan acara keluarga perusahaan minggu depan.
Dan seluruh tim inti wajib hadir.
"Acara keluarga?"
ulang Siska.
"Berarti banyak petinggi perusahaan datang."
Raka mengangguk.
"Termasuk keluarga pemilik."
Nara yang sedang minum langsung berhenti.
Keluarga pemilik.
Entah kenapa kata-kata itu membuatnya tidak nyaman.
Karena sekarang ia tahu.
Damar bukan hanya bagian dari keluarga itu.
Damar adalah pusat dari semuanya.
---
Saat kantor mulai sepi.
Nara membereskan barang-barangnya.
Ia berniat pulang lebih awal hari ini.
Namun ketika berjalan menuju lift, seseorang memanggilnya.
"Nara."
Ia menoleh.
Damar berdiri tidak jauh darinya.
"Ada apa?"
Pria itu terdiam sesaat.
Seolah sedang memilih kata-kata.
Lalu berkata,
"Kamu boleh menjaga jarak kalau itu membuatmu nyaman."
Nara terkejut.
"Tapi jangan menganggap saya orang lain hanya karena mengetahui siapa keluarga saya."
Suasana menjadi hening.
Jantung Nara berdetak pelan.
Untuk pertama kalinya, ia melihat kejujuran yang sangat jelas di mata pria itu.
Bukan sebagai pewaris.
Bukan sebagai atasan.
Melainkan sebagai Damar.
Pria yang selama ini bekerja bersamanya.
Pria yang diam-diam mulai mengisi pikirannya.
Namun sebelum Nara sempat menjawab, Damar sudah berjalan menuju lift.
Meninggalkannya sendirian di koridor.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengetahui rahasia itu...
Nara mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Apakah yang ia hindari sebenarnya status Damar...
Atau perasaannya sendiri?
Bersambung...