Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.
Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:
punya rumah sendiri.
Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.
Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.
Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.
Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.
Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.
Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Based on a true story.
Atau setidaknya... begitulah kata orang-orang yang pernah mendengar kisah ini.
Sisanya?
Anggap saja sudah dicampur sedikit garam, sedikit ketumbar, dan segenggam kebohongan agar lebih mudah ditelan.
Karena tidak semua penyakit berasal dari tubuh.
Tidak semua rasa sakit bisa dijelaskan oleh hasil laboratorium, rekam medis, atau sederet istilah yang hanya dipahami dokter.
Ada penyakit yang lahir dari kebencian.
Dari sepasang mata yang memandangmu terlalu lama.
Dari hati yang diam-diam berdoa agar hidupmu runtuh.
Pelan-pelan.
Setahap demi setahap.
Sampai tubuhmu masih bernapas, tetapi sesuatu di dalamnya telah lebih dulu membusuk.
Yang lebih mengerikan lagi...
Orang yang menginginkan kehancuranmu itu terkadang masih tersenyum ketika berpapasan denganmu.
Masih menyapamu dengan ramah.
Masih menanyakan kabarmu.
Seolah merekalah orang pertama yang akan menolong saat kau terjatuh.
Padahal, bisa jadi tangan merekalah yang mendorongmu ke jurang sejak awal.
Di sebuah kampung kecil yang tersembunyi di balik hamparan perkebunan tua, hiduplah seorang perempuan bernama Amira.
Ia bukan siapa-siapa.
Bukan perempuan yang kecantikannya mampu menghentikan langkah lelaki.
Bukan pula anak orang kaya yang hidupnya dipenuhi kemewahan.
Amira hanyalah gadis biasa yang tumbuh di tengah kekurangan.
Pagi membantu ibunya menganyam bambu.
Siang mencuci pakaian milik tetangga.
Malam tidur dengan tubuh lelah dan harapan yang tak pernah terlalu besar.
Namun tidak ada seorang pun di kampung itu yang tahu...
Bahwa beberapa bulan sebelumnya, Amira baru saja membawa pulang sebuah rahasia dari Jakarta.
Rahasia yang seharusnya dikubur bersama mayat seorang perempuan bernama Shara.
Perempuan yang ditemukan tewas bersimbah darah di lantai tiga sebuah ruko tua.
Lehernya terbuka.
Matanya membelalak.
Dan Amira...
Melihat semuanya.
Dia adalah saksi terakhir yang masih hidup.
Sejak hari itu, hidupnya berubah.
Awalnya hanya sakit perut biasa.
Lalu sesak napas.
Kemudian demam yang datang dan pergi tanpa alasan.
Dokter bilang lambung.
Dokter lain bilang stres.
Rumah sakit berikutnya menyebut gangguan hormon.
Tak ada satu pun diagnosis yang bertahan lebih dari beberapa hari.
Karena setiap kali obat diberikan, kondisi Amira justru semakin memburuk.
Rambutnya mulai rontok.
Tubuhnya menyusut seperti ranting kering.
Kulitnya berubah pucat keabu-abuan.
Dan pada malam-malam tertentu...
Ia berbicara dengan seseorang yang tidak bisa dilihat orang lain.
Ibunya pernah mendengar suara itu.
Bukan suara Amira.
Suara itu lebih berat.
Lebih tua.
Dan dipenuhi kebencian yang sulit dijelaskan.
Sejak malam itulah, warga kampung mulai berbisik.
Santet.
Teluh.
Kiriman.
Macam-macam dugaan bermunculan.
Namun seorang perempuan tua yang dituakan di kampung hanya menggeleng ketika melihat kondisi Amira.
Wajah keriputnya memucat.
Tatapannya berubah ketakutan.
Seolah ia sedang melihat sesuatu yang tidak sanggup dilihat orang lain.
"Itu bukan santet..."
Bisiknya lirih.
"Kalau cuma santet, aku masih berani melawan."
Perempuan tua itu menelan ludah.
Tangannya gemetar saat menunjuk ke arah sudut kamar Amira yang gelap.
Ke tempat yang sejak tadi kosong.
Atau setidaknya terlihat kosong.
"Itu perewangan pembunuh."
Sunyi.
Tidak ada seorang pun yang berani bicara.
Lalu perempuan tua itu kembali berbisik.
Kali ini lebih pelan.
Seakan takut ada sesuatu yang sedang mendengarkan.
"Dan benda itu..."
"...sudah ikut pulang bersama Amira."
Jika kalian berpikir ini hanyalah cerita horor biasa...
Semoga kalian benar.
Semoga semua ini hanya karangan seorang penulis yang terlalu banyak begadang.
Karena ada beberapa nama yang seharusnya tidak pernah disebut.
Ada beberapa pintu yang seharusnya tidak pernah diketuk.
Dan ada beberapa hal...
Yang ketika sudah menyadari keberadaan kita...
Tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Malam ini, kalian baru saja membuka salah satu pintu itu.
Selamat datang di...
GUNA-GUNA.