Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.
Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.
Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LimaBelas—Aku Calon Nyonya Besar Shen
"Jangan kurang ajar, Mingyue!" Zhao Yuchen sudah tidak dapat menahan amarahnya lagi. Deru napasnya memburu beradu dengan wajahnya yang kian memerah padam. "Aku datang ke sini murni memikirkan kebaikanmu, tetapi kau malah menghinaku!"
Gu Mingyue menoleh ke arahnya, menyunggingkan senyuman terbaik yang sengaja ia buat semanis mungkin. "Tuan Zhao, kurasa Anda terlalu percaya diri. Memikirkanku? Benarkah demikian?"
Zhao Yuchen membuang mukanya dengan gusar. Ia mendengus kasar sebelum menyemburkan kalimat pahit, "Tentu saja! Pria mana pun di ibu kota ini tidak akan ada yang sudi menikahimu! Mengingat calon tunanganmu sendiri direbut oleh adik tirimu, akan ada rumor buruk yang beredar bahwa kau adalah wanita yang tidak menyenangkan!"
"Tetapi harta peninggalan ibuku sangat menyenangkan mata mereka, bukan?" potong Gu Mingyue telak.
Zhao Yuchen membeku sesaat. Lidahnya mendadak kelu dan tatapan matanya bergetar panik. "I... itu... pria-pria matre yang akan terpikat!"
Gu Mingyue bangkit berdiri, melangkah dengan anggun ke arah pilar gazebo yang berjarak beberapa jengkal dari meja. Matanya menyapu pemandangan taman bunga yang mulai menghangat oleh musim semi. Pohon persik di dekat pagar pembatas tampak kian rimbun, memamerkan kelopak-kelopak merah muda yang mekar dengan anggun.
"Tuan, layaknya kelopak bunga persik musim semi yang hanya boleh dipetik untuk dijadikan perona wajah saat ia berada di puncak mekarnya, seperti itu pula sebuah kesempatan," ucap Gu Mingyue tenang. Ia membalikkan badan, menatap lurus ke arah pria itu dengan sorot mata yang menghunjam dalam. "Kurasa, rasa percaya diri Anda yang berlebihan itu harus dikurangi."
Zhao Yuchen tidak mau kalah, ia ikut berdiri demi menyejajarkan posisinya. "Kita sudah saling mengenal dekat sejak kita masih kecil, Mingyue!"
"Saya tahu," sahut Gu Mingyue pendek.
"Dan kau yang paling tahu bahwa aku selalu memperhatikanmu selama ini!"
Mendengar klaim sepihak itu, Gu Mingyue refleks menundukkan kepalanya sedikit. Ia terpaksa menutup mulut dengan sebelah tangan, menahan tawa geli yang hampir menyembur keluar dari bibirnya. "Tentu. Saya sangat tahu."
"Di dalam hatiku ini hanya ada dirimu seorang, Mingyue. Jadi, mari kita mulai kembali hubungan kita dari dasar," bujuk Zhao Yuchen lagi, mencoba memanfaatkan sisa-sisa kedekatan masa lalu mereka.
Gu Mingyue menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak bisa, Tuan Muda Zhao."
Gadis itu menatap lekat-lekat wajah pria yang di kehidupan lalunya pernah menjadi suaminya sendiri. Seseorang yang dengan tangan dingin telah tega melenyapkan nyawanya tanpa belas kasihan. Jika saja ucapan manis ini meluncur di kehidupan sebelumnya—sebelum pengkhianatan keji itu terjadi—Mingyue mungkin akan mengira bahwa ketulusan cintanya yang dalam selama bertahun-tahun akhirnya terbayar lunas. Sayangnya, waktu itu telah mati.
"Mingyue..." lirih pria itu dengan nada suara yang sengaja dilembutkan dan dibuat memelas.
Nada bicara palsu itu justru membuat bulu kuduk Gu Mingyue meremang karena muak. Ia tidak ingin membuang waktu lagi untuk meladeni sandiwara murahan ini.
"Tuan Muda Zhao, simpan saja kata-kata Anda," potong Gu Mingyue datar, senyum manisnya lenyap berganti sedingin es. "Sebab semalam, saya telah dijodohkan secara resmi melalui Titah Kekaisaran."
"Dengan siapa?" tanya Zhao Yuchen yang seketika membeku sesaat.
Namun, alih-alih mendapatkan jawaban langsung dari Gu Mingyue, pandangan manik gelap gadis itu justru mengarah ke pintu gerbang kecil paviliunnya. Dari sana, tampak Gu Lian berjalan tergesa-gesa dengan napas tersengal-sengal. Kain hanfu hijaunya berkibar-kibar liar diterpa embusan angin musim semi.
"Kakak Zhao..." panggil Gu Lian pelan dengan suara yang manja, lalu tanpa tahu malu langsung menggelayut erat pada lengan pria itu.
"Kenapa Kakak ada di sini?" tanya Gu Lian beralih menatap tajam ke arah Gu Mingyue.
Seolah belum puas memamerkan kepemilikannya, Gu Lian terus bertanya secara beruntun dengan nada masif. "Apakah Kakak sengaja memanggil calon suamiku ke paviliun ini? Apakah Kakak sebenarnya masih memiliki perasaan pada pria yang kini telah menjadi milik adikmu sendiri?"
Mendengar rentetan pertanyaan penuh kepalsuan dan kecemburuan buta itu, Gu Mingyue memutar bola matanya malas.
"Adikku, calon suamimu ini datang bertamu sepagi ini justru hanya untuk memastikan sesuatu..." Pandangan Gu Mingyue melirik sinis ke arah Zhao Yuchen, yang kini dengan canggung mencoba melepaskan perlahan tangan Gu Lian dari lengannya. "Dia bertanya... apakah aku bersedia masuk ke kediamannya untuk menjadi istri pendamping?"
"Tentu saja itu jauh lebih baik untukmu, Kakak," sahut Gu Lian dengan senyuman yang dibuat selembut mungkin. Namun, Gu Mingyue tahu betul watak asli di balik senyum itu—senyuman licik yang sama persis seperti saat kematian menjemputnya di kehidupan lalu.
"Aku tahu Kakak pasti akan sangat sulit untuk melupakan Kakak Zhao," lanjut Gu Lian dengan nada seolah-olah mengasihani.
Gu Mingyue hampir menyemburkan tawa gelinya melihat kedunguan adik tirinya yang sedang dimanfaatkan tanpa sadar. "Adikku sayang, apakah kau tidak ingin mendengar kelanjutan dari tawaran manis calon suamimu ini?"
Senyuman manis di wajah Gu Lian seketika sedikit memudar. Sorot pandangannya berubah menjadi dingin dan dipenuhi kewaspadaan. Dengan senyum kikuk yang dipaksakan, ia mulai bersuara ragu, "A... apa?"
"Tuan Muda Zhao baru saja berjanji, dia akan mengangkatku menjadi istri utama yang memegang penuh kendali rumah tangga, tepat setelah posisi jabatannya di pemerintahan naik nanti."
Gu Lian tersentak dan seketika melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan pria itu. Ia langsung memutar paksa tubuh Zhao Yuchen untuk menghadapnya, "Apakah hal itu benar, Kakak Zhao?!"
"Li... Lian..." desah Zhao Yuchen frustrasi, merasa terpojok oleh situasi yang mendadak tak terkendali ini.
"Kakak Zhao! Jawab aku!" tuntut Gu Lian dengan suara yang mulai meninggi, kehilangan topeng kelembutannya.
"Tidak... tidak seperti itu kejadiannya!" bantah Zhao Yuchen dengan gugup, mencoba mencari alasan untuk meredam amarah selingkuhannya.
Gu Mingyue mengangkat sudut bibirnya tipis, menikmati pertunjukan gratis yang tersaji di depan matanya. "Dan Adikku, kurasa kau sendiri belum mendengar berita menggemparkan dari dalam kediaman utama kita, bahwa aku juga akan melangsungkan pernikahan di hari yang sama denganmu."
Gu Lian menoleh cepat ke arah kakak tirinya. Keningnya berkerut dalam seiring tawa sinis yang mulai lolos dari bibirnya, terdengar sangat merendahkan. "Dengan siapa? Jadi, pada akhirnya Kakak setuju untuk merendahkan diri menjadi seorang istri pendamping bagi pria lain?"
"Tentu saja bukan," sahut Gu Mingyue tenang.
"Lalu dengan siapa?!" gertak Gu Lian, kian tidak sabar.
"Dekret pernikahan dari istana semalam menjodohkanku secara resmi dengan Shen Mufeng, sang Jenderal Agung penguasa wilayah utara," ucap Gu Mingyue dengan senyuman yang mengembang anggun dan sarat akan kebanggaan mutlak.
Gu Mingyue melangkah mendekat ke sisi Gu Lian, lalu menepuk pundak adik tirinya itu sebanyak tiga kali dengan gerakan lambat yang penuh penekanan.
"Panggil aku Nyonya Besar Shen di kemudian hari," bisik Gu Mingyue tepat di telinga Gu Lian, nadanya terdengar begitu dingin sekaligus berkuasa. "Kuserahkan pria tak berguna seperti Zhao Yuchen ini sepenuhnya padamu."
Tanpa berniat berpamitan lagi, Gu Mingyue membalikkan badan dan melangkah mantap menjauh dari gazebo. Ketukan alas sepatunya di atas pijakan batu paviliun terdengar begitu nyaring dan berirama di tengah keheningan taman yang mendadak mencekam. Di balik punggung dua orang yang kini membeku dalam syok, senyuman Gu Mingyue mengembang dengan sangat puas.
...----------------...
Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭
Semoga kalian menyukainya