The Taste Of Love👨🍳👩🍳
DIHARAPKAN BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN (17 setengah plus +)
__________________
Kisah ini bermula dari online dating, taruhan dan petualangan yang menguras rasa. Olivia harus berhadapan dengan seorang Chef yang terjebak dengan masa lalunya.
"Character will never change! I'm Olivia! I'm not your ex! Kalau masih belum move on, mending jangan nyakitin orang lain!" Begitulah Olivia. Setelah dia mengenal Dante Alexander, hari-harinya berubah.
Olivia bertekad untuk mengubah hidupnya menjadi orang yang sukses setelah dirinya dibanding - bandingkan dengan orang lain.
_________________❤❤
Karya ini dipersembahkan untuk pejuang masa depan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RenMk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Polos (+)
Olivia ikut terdiam saat Dante hanya menatapnya.
“Sorry, chef untuk kejadian yang lalu. Saya ngak pernah pakai uang itu. Kita juga gak jadi taruhan karena chef ada bilang ke Mei teman saya mau lapor polisi,” Olivia menelan ludahnya karena tatapan mata Dante terus tertuju padanya. “Saya juga gak sempat ambil foto apapun waktu itu.” Olivia tersenyum tipis mencoba menurunkan rasa tegangnya. “Soal ciuman di rooftop itu… saya anggap gak pernah terjadi. Saya harap bisa… belajar lebih banyak lagi selama saya melakukan program training disini. Permisi, chef. Terimakasih untuk waktunya,” ucap Olivia.
Olivia segera menuju meja kerjanya setelah memberikan uang 40 juta ke Dante. Tidak ada sepatah kata pun yang Olivia dengar dari mulut Dante. Laki-laki itu hanya menyipitkan matanya memandang wajah Olivia setelah Olivia kembali ke meja kerjanya.
Dante cukup terkejut melihat tas berisi uang pemberiannya beberapa bulan yang lalu berada di atas mejanya.
Apa maksud perempuan ini? Kenapa dia ngembaliin uang saya? Bukannya dia sama temennya butuh uang ini?... Gara- Gara dating online itu mereka sampai taruhan buat dapetin foto-foto in*tiim. Terus kalau dikembalikan uangnya… Apa perempuan ini tidak merasa rugi?... Aneh?... Atau jangan-jangan… Dia tidak ingat apa yang terjadi malam itu? Terus dia merasa tidak terjadi apa-apa makanya gak merasa dirugikan dan akhirnya dia ngembaliin uang karena merasa bersalah sudah jadikan saya bahan taruhan mereka?... Hahahaa…… Bisa jadi seperti itu… Pikir Dante dalam benaknya mengingat kejadian malam itu.
______________
Flash Back…
Olivia yang sudah berkali-kali menolak red wine yang dituang Dante ke gelasnya terpaksa harus meneguk minuman itu. Sedikit demi sedikit Dante terus menuangnya sampai akhirnya kesadaran Olivia berkurang.
“Olivia…” tangan kanan Dante mulai masuk ke celana Olivia saat Olivia bersandar di bahunya. Jari – jari itu menari – nari di bagian in *tim Olivia. Geraknya memutar halus sambil terkadang memasukan menusuk ke lubang itu.
“Aghh…… Dante…..” Olivia mele* nguh mencengkram pahaa Dante di sampingnya. Lengan Dante dipeluk Olivia sambil sesekali Olivia menghirup da da Dante. Memandang gerak tubuh Olivia yang meliyuk disampingnya, mempercepat Dante menggerakkan jari- jarinya memutar dan memutar semakin cepat. Olivia dibuat semakin merapatkan paahanya. Olivia merasakan miliknya mulai melahap- lahap jari-jari yang bermain di dalam int* timnya. Dante pun bisa merasakan jari – jarinya dilahap -lahap didalam sana.
Bibir mungil Olivia pun semakin menarik Dante saat mele* nguh menikmati permainan jari-jarinya. Tangan kiri Dante mulai merangkul tengkuk Olivia dan menciu um bibirr Olivia. Lid*dah nya menyusuri setiap sudut mu lut Olivia sambil terus memainkan jarinya di bawah sana.
“Open… Buka paa ha mu, Oliv…” Bisik Dante sambil merebahkan Olivia di sofa yang mereka duduki di pojok itu. Jari-jari Dante semakin masuk lebih dalam dan mengaduk aduk membuat milik Olivia meleleh. “Kamu sudah sangat basah, Oliv. Milik ku juga sudah menginginkannya. Mari kita balik kamar.”
Sesampainya di kamar, Dante segera memapah Olivia menuju raanjang mereka. Olivia yang sudah tidak sadarkan diri pasrah saat bajunya dilecuti satu persatu. Buah ke nyal itu terpampang nyata menambah ga irah Dante untuk melepas bajunya.
“Olivia… buka pa hamu baby…”
Milik Olivia itu sangat mengga irahkan di mata Dante. Berwarna pink putih bersih membuat Dante segera menge cup dan menji latinya dengan halus. Lidah itu bergoyang- goyang sesekali menye sap kencang membuat tangan Olivia menekan kepala Dante ke miliknya.
“Aaaghhh….! AGHHhhhH!”
De sahaan Olivia semakin membuat Dante rakus menye sap lebih kencang.
“Mgghhh….! AGGHHhh…”
“Kamu suka rupanya…” Dante merangkak menyahut bu ah kenyal Olivia untuk dimainkannya. Putih bersih merah muda. Dante bermain Benda bulat itu dengan memutar dan menarik narik keduanya. Sambil mengge sekan miliknya di bagian bawah sana.
Tangan Olivia yang mencengkram spray dengan mata terpejam sesekali mere mas pa haa Dante yang duduk dimiliknya. Milik Dante mulai mene gang tegak berdiri siap untuk dimasukan.
“Baby, buka kakinya, baby,” Dante mengangkat salah satu kaki Olivia untuk disandarkan di bahunya. Bagian lonjoong itu mulai masuk sedikit di dalam milik Olivia. “Oliv…” Dante menghentak pelan mencoba menerobos agar Olivia tidak kesakitan. Nampaknya benda lonjong yang kenyal itu terlalu besar untuk Olivia.
“Mmp!... Mmp!” Dua kali Dante menghen tak, tapi milik Olivia itu sulit dimasuki. Akhirnya Dante menghentak sedikit kasar agar lekas masuk. “Agh!” Dante tersenyum senang saat akhirnya miliknya masuk seutuhnya di dalam sana. Hangat. Pelan-pelan Dante menggoyangkan miliknya agar milik Olivia mengenalinya dan tidak sakit.
“Oliv….” Dante kembali mendaratkan bibirnya menyelusuri dan menguu lum bibir Olivia. Sambil terus bergoyang di bawah sana dengan salah satu tangan bermain di bagian pu ti ng. Bergooyang… Menguu luum… Dan mence capi leher Olivia.
Benda kenyal yang mengganjal di bawah sambil bergoyang goyang, membuat milik Olivia bereaksi mela hap la hap dan mengikuti permainan li dah Dante di mulutnya.
“Yes baby… Yeah… I can feel it,” de sahh Dante langsung merangkup buah ke nyal Olivia untuk diremass re mas. “Sekarang giliranku,” ucap Dante meluruskan ke dua tangannya dan menceng kram spray. Hap! Miliknya masuk di tempat terdalam. Dante menggo yang dan menghen tak hen takkan kencang miliknya ke lubang yang rapat itu.
Mata Olivia yang terpejam mengrenyit renyit menahan nikmat sakit yang luar biasa di bagian in timmnya.
“O…Li… Viaaa…” Akhirnya Dante menumpahkan cairan itu dan tersenggal seng gal memeluk Olivia di bawahnya. “Argh…! Argh…! Argghh…” sangat puas. Dante ke cupi pipi dan leher Olivia dengan mera ba kemali bagian in timm yang sudah dinikmatinya.
“Bagaimana ini?... sepertinya masih menginginkan mu lagi,” de sah Dante kembali memasukan jarinya di bawah sana. Sangat basah. Tapi Dante menyukainya. Dante pun kembali merangkak menelu sup kan kepalanya di antara pah ha Olivia. Lidahnya kembali menji lati dan bergo yang goyang sambil memasukan jari-jarinya untuk mengaduk aduk.
Dante pun tidak mengerti kenapa miliknya kembali mene gang kembali. Dia pun memasukannya lagi dan menggo yang pinggang Olivia. Kali ini Dante menghen tak lebih keras karena milik Olivia sudah bisa menerimanya.
“Aghh… Aghh… Aghh… Aghh… Aghh…!” Olivia kembali mende ssah kenik matan karena miliknya pun mela hap la hap. Matanya pun sempat sedikit terbuka tapi tertutup kembali.
____________
Dante yang melihat Olivia di ruang kerjanya sambil teringat dengan kejadian malam itu menjadi menegang. Miliknya pun terbangun di dalam sana.
Jadi rupanya kamu itu anak polos. Bagaimana mungkin dia tidak ingat? Dengan red wine satu botol sudah membuat kesadaran hilang total, pikir Dante dalam benaknya menyunggingkan sudut bibirnya.
“Olivia, bisa kamu kemari?” pinta Dante menyuruh Olivia mendekat ke mejanya.
To Be Continued…
Like, Comment, Masukan ke Favorite dan Vote nya ya kakak - kakak... Ini sangat membantu author. Terimakasih 😘
up soon...
gk baca di platfrom ini lgi tpi gk di uninstal demi cerita author ini 🌷🌷sebulan sekali buka NT buat nge cek udh ad crita bru atau blm😭