Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.
Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.
Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
"Kamu pilih dia, Vis? Kamu pilih jalang itu daripada aku?!"
Devis mengangguk santai sambil menarik ujung bibirnya, lalu mengeluarkan ponsel dan mengutak-atik benda canggih itu.
"Maunya hari ini gue nemuin lo, tapi ternyata lo yang datang nemuin gue."
Kirana melihat foto yang tertampil di layar ponsel Devis, cewek itu tercekat, jantungnya seolah berhenti berdetak. Itu adalah foto dirinya saat berada di club beberapa hari lalu, di pelukan seseorang dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Devis menarik ponselnya, dan tersenyum miring. "Sekarang, siapa yang jalang?"
.
.
.
.
"Vis, beneran yang tadi?" tanya Azra hati-hati, cowok itu duduk di depan bangku Devis.
"Yang mana?" tanya Devis malas.
Azra dan Arga saling lirik, ragu untuk menanyakannya. Tapi akun gosip sekolah sudah memuat berita ini, mereka ingin meminta klarifikasi langsung pada yang bersangkutan.
"Lo putus sama Kirana?" tanya Azra pelan.
Gerakkan tangan Devis yang semula menyetel senar gitarnya langsung terhenti, membuat Azra dan Arga menahan napas. Devis menegakkan kepala, lalu mengangguk santai.
Kedua mata Azra membulat. "Kok bisa?!" pekik cowok itu, langsung mendapat toyoran dari Arga.
"Berisik, bego!"
Azra meringis. "Nggak nyangka, lo mau tiga bulan sama dia, rekor nih paling lama, malah putus!"
Devis menaikkan sebelah alisnya. "Lo mau? Ambil sana, gue udah nggak butuh."
"Sorry, Vis, gue nggak mau bekas temen," jawab Azra. "Tapi kalau Lena boleh lah boleh," sambung cowok itu, lalu tertawa.
"Nenek lampir mulu lo!" semprot Arga yang hanya mendapat juluran lidah dari Azra.
Devis hanya diam saja, cowok itu menatap ke luar pintu, namun tampak tidak fokus. Azra yang menyadari kalau Devis melamun lantas menyenggol lengan Arga.
"Gue nggak salah lihat nih? Devis galau?" bisik Azra.
Arga menatap Devis. "Pertama kali gue lihat Devis galau habis putus."
"Sama."
"Go, Zra."
Arga dan Azra spontan menoleh dengan gelagapan, takut Devis mendengar yang mereka bicarakan tadi.
"Gue mau latihan band, entar pulang sekolah."
Azra cengo, ia kira Devis akan mengamuk atau memberi peringatan. Cowok itu menghela napas lega.
"Emang lo nggak futsal, Vis?" tanya Arga.
Devis menggeleng. "Males."
.
.
.
.
.
"Chel, lo yakin mau ikut olahraga? Muka pucet udah kayak mumi gitu, nanti kalau pingsan gimana?" tanya Meyra pada Michelle yang sedang merapikan kuncir kudanya.
Michelle melirik lewat cermin besar di toilet. "Yakin lah! Gue udah ganti begini," jawab cewek itu.
"Ntar kalau lo pingsan gue yang bakal ketawa paling kenceng!" ujar Meyra kesal, Michelle memang sangat keras kepala.
Michelle mencibir. "Entar kalau gue pingsan pasti bakal ditolongin sama pangeran gue lah," balas cewek itu lalu senyum-senyum sendiri membayangkan Alvin menggendongnya ala bridal style dan membawanya ke UKS.
"Hush!" Meyra memukul udara di depan wajah Michelle, membuat cewek itu mengerjap.
"Sialan lo! Kaget gue!"
Meyra tertawa melihat wajah kesal Michelle. "Lah elo senyum-senyum nggak jelas, kesambet setan toilet lo?"
"Dih amit-amit!"
Meyra tertawa semakin ngakak sampai membungkuk sambil menekan perutnya,
sementara Michelle berdecak kesal melihat sahabat without akhlaknya itu malah menertawainya sampai hampir kepentok meja wastafel karena membungkuk.
Michelle kembali menatap dirinya di cermin, memikirkan kembali perkataannya tadi.
"Heh! Dibilang jangan ngelamun! Kesambet beneran nanti," ujar Meyra, cewek itu sudah selesai tertawa.
Michelle menoleh. "Nanti Kak Alvin bakal nolongin gue nggak ya?" tanyanya mendadak tidak yakin.
Meyra membuka mulutnya, cengo. Padahal baru beberapa saat yang lalu Michelle tampak percaya diri mengatakan kalau pangerannya yang akan menolongnya, tapi sekarang terlihat ragu seolah hal tadi sangat mustahil.
"Kalau menurut gue sih nggak," jawab Meyra. "Aduh!" cewek itu berjingkat karena Michelle menginjak kakinya.
"Ngeselin banget sih lo jadi temen!"
Meyra mendengus, menepuk kedua pundak Michelle dan memutar tubuh cewek itu agar menghadapnya.
"Gini ya Michelle Eveline, kemungkinan Kak Alvin yang bakal nolongin lo itu keciiil banget," ujar Meyra.
"Pertama, Kak Alvin pasti di dalam kelas lah, kan jam pelajaran. Kedua, kelas sebelas itu di lantai dua, kelas Kak Alvin ke lapangan itu jauh. Yakali Kak Alvin bakal langsung lompat dari koridor atas ke lapangan waktu lihat lo pingsan, keburu anak PMR dateng atau nggak Pak Hermanto yang nolongin."
"Ketiga, sadar Chel, sikap Kak Alvin ke lo masih sedingin ice bear. Bahkan lebih, ice bear di tipi aja masih care ke temen-temennya. Kak Alvin nggak, Michelle. Jangan halu," ujar Meyra, menepuk pundak sahabatnya itu.
Alih-alih kesal karena ucapan Meyra yang menampar Michelle dengan kenyataan, cewek itu malah tampak lesu. Wajah ceria Michelle langsung ditekuk, semua yang dikatakan Meyra menariknya pada kenyataan.
Puk puk puk. "Udahlah jangan sedih, mana senyum sok cantiknya? Ayo ke lapangan keburu Pak Hermanto keluar tanduknya," ajak Meyra, merangkul sahabatnya itu.
Michelle mengangguk lemas, melangkah gontai dibimbing Meyra yang masih merangkulnya keluar dari toilet sebelum guru olahraganya itu mengelilingi sekolah untuk mencari murid yang belum berkumpul di lapangan.
Setelah Michelle dan Meyra melewati pintu toilet, salah satu pintu bilik terbuka. Seorang cewek bersurai hitam keluar dari bilik itu.
"Masih belum kapok juga itu bocah,"