Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Cambridge Bay Residence
Cambridge Bay Residence tidak semewah nama yang Kirana bayangkan.
Gedungnya bersih, tinggi, dan aman, tetapi bukan jenis apartemen yang membuat orang otomatis menunduk saat melihat penghuninya. Di lobi, ada satpam ramah, sofa abu-abu yang sedikit aus di bagian sudut, dan mesin penjual minuman yang mengeluarkan suara dengung pelan.
"Ini tempatmu?" tanya Kirana.
"Tempat kita," jawab Leon.
Ia menyerahkan satu kartu akses kepada Kirana. Kartu itu dingin di telapak tangannya, lebih nyata daripada akad beberapa jam lalu.
Unit mereka berada di lantai dua belas. Dua kamar tidur, satu ruang tengah, dapur kecil, balkon sempit, dan jendela yang menghadap jalan raya. Perabotnya sederhana. Sofa kain warna gelap, meja makan kecil, lemari sepatu kosong, kasur dengan seprai baru yang masih kaku.
Kirana berdiri di ambang pintu cukup lama.
"Kamu tinggal sendiri di sini?"
"Kadang."
"Kadang?"
"Pekerjaanku sering membuatku pulang malam."
Jawaban itu masuk akal untuk seorang sopir orang kaya. Namun terlalu banyak hal dari Leon yang hanya masuk akal jika dilihat dari jauh. Jika didekati, selalu ada bayangan lain di baliknya.
Leon meletakkan koper kecilnya di dekat sofa. "Kamar utama untukmu."
"Lalu kamu?"
"Kamar sebelah."
Kirana menatapnya.
"Aku bilang tidak akan menuntut apa pun yang tidak kamu setujui," katanya. "Aku serius."
Untuk pertama kalinya sejak pagi, sesuatu di dada Kirana mengendur sedikit.
Ia masuk ke kamar utama. Tidak luas, tetapi bersih. Ada lemari kosong, meja kecil, dan jendela dengan tirai putih. Di atas kasur, sebuah handuk baru terlipat rapi. Tidak ada sentuhan perempuan lain, tidak ada barang yang membuatnya merasa menyusup ke hidup orang asing. Aneh, justru kekosongan itu membuatnya lebih mudah bernapas.
Ketika ia keluar, Leon sedang meletakkan kartu bank di meja makan.
"Untuk kebutuhan rumah."
Kirana tidak mengambilnya. "Aku belum bekerja."
"Itu sebabnya kamu butuh ini."
"Aku tidak mau menjadi beban."
"Kamu istriku."
"Kita baru menikah beberapa jam."
"Kalau begitu anggap ini biaya awal kerja sama."
Kirana menatap kartu itu. "Berapa isinya?"
"Cukup untuk belanja, biaya transportasi, dan keperluan mendesak."
"Jawaban orang yang tidak biasa menghitung uang kecil."
Leon tersenyum tipis. "Aku sopir. Aku justru harus menghitung uang kecil."
"Sopir yang menyewa apartemen dua kamar dan punya kenalan di The Segara Club."
Senyum itu menghilang.
Kirana tidak menekan lebih jauh. Ia tahu kapan pertanyaan hanya akan membuat pintu tertutup lebih rapat.
"Aku akan catat setiap pengeluaran," katanya.
"Tidak perlu."
"Perlu untukku."
Leon mengangguk. "Baik."
Setelah itu, ia menunjukkan dapur, sakelar listrik, tempat sampah, dan nomor layanan keamanan apartemen. Detailnya lengkap, seperti orang yang sudah memikirkan semua kebutuhan praktis sebelum membawa seseorang masuk.
Kirana memperhatikan tanpa sadar.
Ini bukan cinta.
Tetapi perhatian yang berbentuk instruksi rapi kadang lebih berguna daripada kata manis.
Menjelang sore, Leon menerima telepon. Wajahnya berubah begitu melihat layar, lalu ia berjalan ke balkon.
"Ya, Pak Nathaniel," katanya cukup keras untuk didengar Kirana.
Kirana menoleh.
Leon berdiri membelakangi ruangan, satu tangan di saku. Nada suaranya berubah sopan, tetapi tidak merendah. Ia menyebut jadwal, dokumen, dan seseorang bernama Leo. Semuanya terdengar seperti urusan pekerjaan yang rumit.
"Saya akan urus malam ini," katanya sebelum menutup telepon.
Ketika ia masuk, Kirana sedang berdiri di dapur.
"Kamu harus pergi?"
"Sebentar. Ada pekerjaan dari Pak Nathaniel."
"Orang yang sakit-sakitan itu?"
"Rumor terlalu suka melebih-lebihkan."
"Kamu dekat dengannya?"
"Cukup dekat untuk mendapat pekerjaan."
Jawaban setengah lagi.
Leon mengambil kunci mobil dari meja. "Kalau lapar, pesan makanan dulu. Aku mungkin pulang malam."
"Aku bisa memasak."
Ia berhenti. "Bahan makanan belum ada."
"Aku bisa beli di minimarket bawah."
"Jangan keluar terlalu malam."
"Aku pernah tinggal di penjara, Leon. Minimarket apartemen tidak terlalu menakutkan."
Ada bayangan tidak enak di mata Leon, seperti ia ingin meminta maaf untuk sesuatu yang bukan salahnya. Namun ia hanya berkata, "Kunci pintu."
Setelah ia pergi, apartemen itu menjadi terlalu sunyi.
Kirana berdiri di ruang tengah, mendengar suara lift menjauh. Ia menyentuh sandaran sofa, meja makan, kartu akses, lalu kartu bank yang masih di tempatnya. Semua benda itu memberinya alamat baru, tetapi belum memberi rasa rumah.
Ia mengambil buku catatan kecil dari tas dan menulis tiga hal di halaman pertama: cari Nio, cari kerja, cari bukti. Di bawahnya, ia menambahkan satu kalimat yang lebih pelan ditulis, jangan terlalu cepat percaya Leon.
Malam turun pelan.
Kirana membersihkan dapur yang sebenarnya sudah bersih, menyusun piring, membuka jendela, lalu menutupnya lagi karena angin terlalu kencang. Ia menemukan kain lap baru di bawah wastafel dan mulai mengelap meja, bukan karena kotor, melainkan karena tangannya butuh pekerjaan.
Ketika semua selesai, ia duduk di lantai ruang tengah.
Tidak ada orang yang menanyakan kabarnya.
Tidak ada Nio yang memanggil namanya.
Kirana mengambil ponsel dan membuka daftar kontak lama. Banyak nomor sudah tidak aktif. Beberapa ia hapus. Nama Nio tidak pernah punya nomor sendiri. Neneknya dulu selalu menunggu di rumah, bukan di layar ponsel.
Ia menutup mata.
Besok, pikirnya, ia akan mulai mencari Nio.
Di rumah baru yang masih asing itu, keputusan itu menjadi hal pertama yang benar-benar miliknya.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔