NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:79.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Hendra mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 5

Keesokan paginya, Luna berjalan menyeret langkahnya menuju meja makan dengan wajah yang teramat lesu. Matanya masih bengkak akibat menangis semalaman.

Di atas meja, sekotak kue ulang tahun berbentuk istana cokelat yang kemarin belum sempat ditiup, kini sudah dipotong sebagian oleh Ningsih untuk sarapan putrinya.

“Ayo dimakan kuenya, Sayang. Anak Mama yang cantik harus tetap makan ya,” ucap Ningsih lembut, mencoba menyembunyikan badai yang sedang bergemuruh di dalam dadanya sendiri.

Luna menatap piringnya dengan pandangan kosong. “Ma... Papa masih marah ya sama Luna? Gara-gara Luna mau tiup lilin, Papa jadi repot di kantor?”

Tenggorokan Ningsih tercekat. Ia berlutut di samping kursi Luna, mengusap rambut anaknya dengan tangan yang gemetar.

“Enggak, Nak. Papa cuma lagi banyak urusan. Ini bukan salah Luna, ya? Sama sekali bukan.”

Tepat di saat itu, langkah kaki yang berat terdengar menuruni tangga pualam. Hendra berjalan dengan dagu terangkat. Ia sudah rapi dengan setelan jas seharga puluhan juta rupiah, harum parfumnya langsung memenuhi ruangan.

Namun, tidak ada sedikit pun pandangan hangat dari matanya saat melihat anak dan istrinya.

Hendra, pria yang semalam bersikap sangat kejam di ruang tamu, kini menatap Ningsih.

“Ningsih, ambilkan map kuning di dasbor mobilku. Sekarang!” perintah Hendra tanpa beban, nadanya datar dan kasar seolah sedang berbicara kepada seorang pembantu. “Aku ada rapat penting setengah jam lagi. Jangan lambat.”

Ningsih berdiri perlahan, menatap wajah suaminya yang tanpa dosa. Biasanya, ia akan langsung mengangguk patuh.

Tapi pagi ini, egonya yang terluka membuat bibirnya bergerak lebih ketus. “Mas punya kaki dan tangan yang sehat, kan? Kenapa tidak ambil sendiri?”

Hendra seketika menghentikan gerakannya yang sedang memakai jam tangan emas. Ia menoleh, menatap Ningsih dengan kilat mata yang meremehkan.

“Kamu mulai berani membantah? Kamu pikir siapa yang membiayai rumah ini, hah? Kerjaanmu cuma di rumah, mengambil berkas begitu saja harus mengeluh? Cepat ambil!”

Ningsih mengepalkan tangannya di balik daster yang ia kenakan. Ia menarik napas panjang, menahan emosi demi tidak membuat Luna semakin ketakutan.

“Iya, aku ambil.”

Ningsih berjalan keluar menuju halaman, tempat mobil mewah suaminya terparkir. Ia membuka pintu kemudi, lalu meraba bagian dasbor untuk mencari map kuning yang dimaksud.

Saat tangannya bergerak ke laci konsol tengah, jemarinya menyentuh sebuah kotak perhiasan kecil berwarna merah marun.

“Apa ini hadiah ulang tahun untuk Luna yang terlambat? Atau hadiah permintaan maaf mas Hendra untukku?”

Dengan tangan bergetar, Ningsih membuka kotak tersebut. Di dalamnya, sebuah kalung berlian putih berkilau dengan sangat indah di bawah sinar matahari pagi. Kalung itu teramat mahal, jelas bukan perhiasan untuk anak kecil seumur Luna.

Saat Ningsih mengangkat bantalan di dalam kotak tersebut, selembar kartu ucapan kecil terjatuh.

Ningsih memungutnya, dan detik itu juga, seluruh dunianya serasa runtuh berkeping-keping. Di atas kertas wangi itu, tertera tulisan tangan Hendra yang sangat ia kenali,

“Untuk selalu membuat hari-hariku bahagia, Arumi.”

Deg!

Ningsih membeku, napasnya tercekat di tenggorokan. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini luruh tanpa bisa dibendung. Kepalanya berputar hebat, dadanya terasa seperti dihantam palu berulang kali.

Semalam, di saat putrinya menangis histeris sampai tertidur karena menunggu kepulangannya, di saat Ningsih meratapi nasibnya di ruang tamu yang dingin, Hendra ternyata sempat mampir ke toko perhiasan, membelikan kalung berlian mahal untuk selingkuhannya.

Suaminya dengan tega menghabiskan malam bersama wanita lain, lalu pulang ke rumah dengan membawa kebohongan dan kesombongan yang menjijikkan.

“Jahat kamu, Mas! Tega kamu mengkhianatiku sampai sejauh ini,” batin Ningsih nelangsa.

Rasa sakit itu dalam sekejap berubah menjadi amarah yang membakar. Rasa sabar yang selama ini ia agungkan sebagai seorang istri sah, mendadak menguap menjadi dendam yang dingin.

Ningsih meremas kartu ucapan itu dengan cengkeraman yang teramat kuat hingga kertas wangi itu hancur berkerut di dalam kepalan tangannya.

Lalu, ia melempar gumpalan kertas itu ke lantai mobil dengan kasar, menutup kembali kotak perhiasan tersebut dan meletakkannya ke tempat semula.

Ningsih berjalan kembali ke dalam rumah, masuk ke ruang makan dan melemparkan map kuning itu ke atas meja, tepat di hadapan Hendra yang sedang asyik meminum kopinya.

Hendra terkejut, ia menurunkan cangkir kopinya dengan wajah kesal. “Kamu apa-apaan, Ningsih?! Tidak bisa sopan sedikit?!”

Ningsih berdiri tegak, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Hendra dengan senyum sinis yang teramat ketus.

“Ini berkasmu, Mas. Silakan pergi bekerja, cari uang yang banyak. Agar Mas bisa terus membeli kebahagiaan di luar sana.”

Hendra mengernyitkan dahi, merasa ada yang aneh dengan nada bicara istrinya.

“Maksudmu apa bicara begitu? Jangan mulai berdrama di pagi hari, aku tidak ada waktu!”

“Tidak ada maksud apa-apa, Mas," sahut Ningsih dingin, matanya melirik tajam pada tas kerja Hendra. “Aku cuma mengingatkan, jangan sampai ada barang berhargamu yang tertinggal di mobil. Terutama barang-barang kecil yang sangat sensitif.”

Hendra mendadak tertegun, kilat kepanikan melintas di matanya selama sekilas sebelum ia kembali menguasai ekspresi wajahnya yang angkuh.

“Kamu menggeledah mobilku? Lancang sekali!”

“Untuk apa aku menggeledah, kurang kerjaan!” balas Ningsih ketus, memotong ucapan Hendra tanpa rasa takut sedikit pun. “Sudah, cepat berangkat. Kasihan sekretarismu yang cantik itu, nanti dia kelamaan menunggu hadiah paginya.”

Hendra berdiri dari kursinya dengan wajah merah padam.

“Ningsih! Jaga bicaramu! Kamu itu tidak tahu apa-apa soal duniaku!”

“Ya, aku memang tidak tahu dunia sekotor apa yang sedang Mas jalani,” ucap tatapannya menghunus tepat ke manik mata Hendra. ”Tapi ingat satu hal, Mas. Sesuatu yang dibangun di atas air mata anakmu sendiri tidak akan pernah bertahan lama!”

Hendra mengepalkan tangannya, namun karena tidak ingin memperpanjang keributan di depan Luna yang mulai ketakutan, ia menyambar map kuningnya dengan kasar.

“Kamu benar-benar sudah berubah jadi perempuan gila, Ningsih!” ketusnya, sebelum melangkah pergi dengan hentakan kaki yang penuh amarah.

“Papa!” teriak Luna, berlari kecil menahan ujung jas mahal Hendra.

Hendra berbalik, menatap malas lalu berlutut. “Ya? Apa lagi, Luna? Papa buru-buru.”

“Papa... nanti jemput Luna ya pulang sekolah?” ucap Luna dengan mata berkaca-kaca, memohon belas kasihan ayahnya.

Hendra melirik Ningsih yang menatapnya dingin dari meja makan, lalu kembali menatap Luna.

“Iya, Papa jemput nanti sore,” ucapnya lalu mengecup kening putrinya sekilas sebelum melangkah pergi tanpa pamit pada istrinya.

“Semoga saja kamu nggak ingkar janji lagi mas,” gumam Ningsih tersenyum getir.

1
tinie
eeh aku belum tau udah ada 2bab yg beli ku baca😁😁
tinie
padahal Hendra termasuk pintar dlm marketing
jika bener bener mau tobat
mka saat di panti nanti coba buka website
jualan apa gitu🤔🤔
kan bisa dpt penghasilan
asale tidak korupsi lgi
tinie: nah itu dia
tobatan sambel dia
bukan tobatannasukha😁
total 2 replies
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Nawang, sudah ditolong malah ngelunjak, dasar jalang 😂😂
Amiera Syaqilla
hi
Senja: Halooo
total 1 replies
Nice1808
karyawan nya kayak kerja di club malam🤣kena mental lari trbirit2😀
dasar satria nyicil melulu kapan lunasnya😀
Nice1808: 😡😡😡untung ada ningsih dtg🤣
total 2 replies
tinie
nyicil siang ,malam
pagi dan sore🤣🤣🤣
bengek bengek
Sukliang
menarikk
Yuliaya
kayanya tadi Hendra sempet ngomong di telpon dan manggil Ningsih deh
Yuliaya
hehehe ini pasti piring kaleng ya?
Senja: Iya kaleng
total 1 replies
tinie
gimana rasanya dihina pasangan sendiri😌😌
dului kau congak menghina Ningsi h habis habisan
nah sekarang orang lain yang menghinamu
Dede Maesaroh
karma sakit kan
irala
nawang nawang....Sifat SmS ny dihilangkan dong..kirain kemaren tu udah sadar..nerima suaminy apa adanya..eh pas lihat bg sat bisa jalan dan berdiri tegak..tu kelakuan kumat lagi...
Nice1808
nawang mau jadi pelakor🤣gak mungkin bisa krna ningsih pernah disakiti jadi dia dah tau alasan murahan mu nawang, fokus pada klurga dan kandungan mu aja, seblom kau jadi gembel krna rasa iri mu pada ningsih🤣
Sri Rahayu
bener2 ya Nawang ga kapok, ga tau malu godain suami kakaknya😡😡😡...bener tu Satria blokir no nya🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Nice1808
uluh2 satria mau lembur bikin baby🤣🤣,nawang kau salah cari perhatian ma satria dia bukan laki2 brengsek🤣🤣🤣
tinie
penghalang kecilma gampang tinggal kasih jajanan es cream sama jalan jalan
beres
yang resek justru yang tua
🤣🤣🤣
MamDeyh
Astaga Nawang kamu kok gk tobat.. Kamu pikir Ada Satria bakal kepincut modelan kamu😄
Senja: tobat sambel mak hoho
total 1 replies
tinie
jangan lembur pak di cicil aja
malam ,pagi
KLO siang untk kerja
maka sore juga bisa 🤣🤣🤣🏃🏃🏃
tinie
wah ada yang mau lembur bikin adonan bayi🤣🤣🤣
Mita Paramita
satria mulai nyicil bikin Dede bayi🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!