NovelToon NovelToon
Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Queen_Fisya08

Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.

Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin

Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.

Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya

Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.

Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?

Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemarahan Jason

Malam itu langit Jakarta dipenuhi awan gelap, di ruang tunggu bandara internasional, Fisya duduk sambil memangku Tina yang tertidur pulas.

Di sampingnya, Bik Lili terlihat masih belum percaya bahwa malam ini juga mereka akan meninggalkan Indonesia.

Sebastian berdiri tidak jauh dari mereka tatapannya terus mengawasi keadaan sekitar.

"Bu Fisya, semua dokumen sudah diperiksa. Pesawat akan boarding lima belas menit lagi," lapor Sebastian.

Fisya mengangguk pelan.

"Terima kasih."

Ia menatap wajah putrinya beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya kepada Sebastian.

"Sebastian." Ucapnya

"Iya, Bu." Jawab Sebastian

"Selama aku di Swiss, aku titip perusahaan kepadamu dan kalau ada keputusan penting jangan langsung ambil keputusan langsung hubungi aku terlebih dahulu" Ucap Fisya lagi

Sebastian langsung mengangguk.

"Baik bu Fisya, Saya mengerti."

"Satu hal lagi, tiga hari lagi aku kembali kesini dan tolong jemput aku di bandara ini lagi" lanjut Fisya

Sebastian menatap Fisya

"Ibu hanya tiga hari di Swiss?"

Fisya mengangguk.

"Aku tidak bisa terlalu lama meninggalkan perusahaan, Jason pasti sedang mencari kesempatan mengambil alih semuanya dan aku tidak akan memberinya kesempatan itu."

Sebastian tersenyum tipis.

"Tenang saja selama saya masih di perusahaan tidak akan ada seorang pun yang bisa menyentuh apa yang menjadi milik Ibu."

Fisya menatap Sebastian beberapa detik.

Entah mengapa... Ia selalu merasa tenang setiap berada di dekat pria itu.

"Terima kasih."

Sebastian hanya mengangguk dan di dalam hatinya ia berjanji.

"Aku akan menjaga semua yang kau percayakan kepadaku... termasuk dirimu."

Tak lama kemudian terdengar pengumuman keberangkatan.

Fisya berdiri.

"Ayo, Bik."

Bik Lili menggendong Tina dan mereka berjalan menuju pintu keberangkatan.

Sebelum masuk, Fisya menoleh sekali lagi, tatapannya bertemu dengan Sebastian.

Sebastian hanya menganggukkan kepala.

Tatapan Sebastian itu seolah mengatakan...

"Pergilah dengan tenang. Aku akan menjaga semuanya."

Beberapa menit kemudian...

Pesawat lepas landas meninggalkan Indonesia.

Sebastian baru meninggalkan bandara setelah pesawat benar-benar menghilang di balik awan.

***

Sementara itu...

Di rumah keluarga Alexander...

Jason masih mondar-mandir di ruang tamu.

Sudah puluhan kali ia mencoba menghubungi Fisya namun hasilnya tetap sama

Tidak ada jawaban.

Brak!

Jason memukul meja.

"Sial! Kemana sebenarnya kamu pergi?"

Semalaman matanya tidak terpejam dan pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.

Kalau Fisya hanya marah...

Kenapa membawa Tina?

Kalau hanya ingin pergi...

Kenapa Bik Lili ikut?

Semakin dipikirkan...

Semakin Jason merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Pukul tujuh pagi... Bel rumah berbunyi dan Jason membuka pintu.

Kasandra berdiri dengan wajah pucat.

"Ada kabar?"

Jason menggeleng.

"Belum."

Kasandra langsung masuk.

"Aku tidak bisa tidur semalaman entah kenapa aku merasa semua rencana kita akan berakhir dan sia-sia"

Jason membentaknya.

"Berhenti bicara yang tidak-tidak!"

"Ternyata kamu ini bodoh seperti halnya Fisya, kalau dia tahu tentang pertukaran bayi itu kenapa dia tidak berusaha mengambil Agnes dari tangan mu dan mengembalikan Tina kepada kamu"

Kasandra duduk sambil menggenggam kepalanya.

"Ya sudahlah! Mudah-mudahan apa yang kamu bilang itu benar"

"Tapi Jason... Kenapa dia tiba-tiba menghilang?" Kasandra masih terlihat gelisah

Jason mengepalkan tangannya.

"Aku juga ingin tahu, ayo kita ke kantor sekarang juga"

Kasandra hanya mengangguk

***

Pukul delapan pagi...

Mobil Jason memasuki halaman perusahaan Alexander Group.

Mereka berjalan cepat menuju ruang direktur Utama namun... Ruangan itu kosong.

Jason mengernyit.

"Kemana Fisya?"

"Mungkin diruangan lain" ucap Kasandra

Jason langsung menuju ruang istirahat

Kosong.

Kasandra mulai panik.

"Jason... Dia benar-benar tidak ada."

Saat itulah...

Terdengar suara langkah kaki.

Tok...

Tok...

Tok...

Sebastian melangkah mendekat dengan wajah yang tetap tenang

Tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Jason dan Kasandra.

"Selamat pagi," sapanya singkat.

Seketika tubuh Kasandra menegang, matanya membelalak saat mengenali wajah pria itu.

Ingatannya langsung melayang pada sebuah kejadian yang terjadi setahun lalu.

"Pria itu..." batinnya

Jantungnya berdegup semakin kencang.

"Tidak mungkin... Dia kerja di kantor Fisya?"

Wajah Kasandra seketika memucat dengan panik ia menarik lengan Jason.

"Jason, kita harus pergi sekarang, ada yang ingin aku bicarakan" bisiknya tergesa-gesa.

Namun Jason langsung menghentakkan tangannya hingga genggaman Kasandra terlepas.

Tanpa menghiraukan kepanikan wanita itu, Jason melangkah menghampiri Sebastian dengan sorot mata penuh amarah.

"Kamu! Katakan, di mana istriku, Fisya?" Bentaknya

Sebastian menatap Jason tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut. Ekspresinya tetap datar dan tenang.

"Maaf, Tuan Jason, saya tidak memiliki kewajiban untuk melaporkan keberadaan Bu Fisya kepada siapa pun." Ucapnya dengan nada profesional

Rahang Jason mengeras. Kedua tangannya mengepal kuat menahan emosi.

"Aku suaminya!" serunya penuh tekanan.

Sebastian tidak bergeming, tatapannya tetap tajam, lalu ia menjawab dengan suara tenang namun menusuk.

"Status sebagai suami tidak selalu membuat seseorang berhak mengetahui segala hal tentang istrinya"

Ucapan itu membuat wajah Jason memerah.

"Apa maksudmu?"

Sebastian tersenyum tipis.

"Maksud saya sederhana."

"Kadang... Orang yang paling dekat justru yang paling berbahaya."

Jantung Jason berdegup semakin cepat, entah mengapa, setiap ucapan pria di hadapannya terasa seperti sedang menguliti rahasia yang selama ini ia sembunyikan.

"Kamu sedang menyindirku?" bentaknya.

Kasandra segera menarik lengan Jason.

"Jason, ayo kita pergi dari sini," bisiknya cemas.

Namun Jason mengibaskan tangan Kasandra tanpa mengalihkan pandangannya dari Sebastian.

Sebastian mengangkat bahu.

"Saya tidak menyebut nama tapi kalau Bapak merasa tersindir..."

"... Berarti mungkin memang ada sesuatu yang mengganggu hati Bapak." Lanjutnya

Jason melangkah mendekat.

"Jangan bermain kata denganku."

Sebastian tidak bergeming sedikit pun.

"Saya juga tidak sedang bermain."

"Saya hanya mengingatkan, mengambil sesuatu yang bukan milik kita... Pada akhirnya hanya akan membawa petaka."

Wajah Kasandra langsung berubah pucat, ia berusaha menarik tangan Jason lagi

"Jason, dengarkan aku sebaiknya kita pergi dari sini" bisiknya pelan.

Jason masih menatap tajam Sebastian.

"Kamu tahu sesuatu?"

Sebastian balik bertanya.

"Menurut Bapak... Apa yang harus saya ketahui?"

Jason terdiam.

Sebastian melanjutkan.

"Dunia ini unik, ada rahasia yang dikubur serapat apa pun... Tetap nantinya akan menemukan jalan untuk muncul ke permukaan."

Jason mulai kehilangan kesabaran.

"Kamu bicara apa sebenarnya?"

Sebastian mendekat satu langkah dan tatapannya dingin.

"Saya hanya berharap... Ketika hari itu datang Pak Jason sudah siap menerima akibatnya."

Ruangan mendadak sunyi, tak ada seorang pun yang berani berbicara.

Kasandra mulai kesal dengan Jason

"Jason! Aku tunggu kamu diluar"

Jason masih berdiri di tempat tidak menghiraukan ucapan Kasandra

Ia menatap Sebastian beberapa detik.

"Lihat saja, aku akan menemukan Fisya."

Sebastian tersenyum tipis.

"Saya yakin Bapak akan bertemu beliau lagi nanti"

"Tapi..."

"Belum tentu saat itu keadaan masih sama seperti yang Bapak harapkan."

Jason mengernyit.

"Maksudmu apalagi?"

Sebastian hanya menjawab singkat.

"Kadang... Tiga hari saja cukup untuk mengubah hidup seseorang."

Ucapan itu membuat Jason membeku.

"Tiga hari?" Ulang Jason

"Heii Sebastian orang miskin, kamu hanya ajudan disini, Katakan kalau kamu tahu sesuatu tentang Fisya" teriak Jason

Sebastian langsung berbalik meninggalkan ruangan sambil tersenyum dan tidak menghiraukan teriakan Jason

1
Anisa Nur Afifah
balikk lgii buatt bacaa😍
Anisa Nur Afifah
bagusss kakkk
Queen_Fisya08: terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!