Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aturan yang Tidak Tertulis
Butuh waktu tiga bulan sejak malam itu sampai Lentera berhenti jadi sekadar nama yang kuucapkan setengah bercanda.
Orang-orang mulai datang sendiri. Tidak semua langsung ikut turun tangan seperti Ujang dan Yanto—banyak yang cuma menawarkan hal-hal kecil. Bu Inah yang jual nasi uduk depan gang, misalnya, bilang kalau kami butuh tempat ngumpul yang tidak mencolok, warungnya buka sampai malam dan tidak akan ada yang curiga kalau kami sering ada di situ. Pak Darto, tukang ojek pangkalan, menawarkan diri jadi mata di jalan-jalan besar—kalau ada razia atau mobil dinas yang bergerak ke arah Karang Wetan, ia yang paling dulu tahu.
Aku mulai sadar, kekuatan kami bukan di jumlah orang yang berani berkelahi. Kekuatannya ada di jaringan orang-orang kecil yang selama ini dianggap tidak penting—tukang ojek, pedagang kaki lima, buruh cuci, anak jalanan—yang ternyata, kalau digabung, tahu segalanya tentang apa yang terjadi di kota ini lebih cepat daripada aparat mana pun.
Tapi dengan bertambahnya orang, aku juga mulai sadar kami butuh sesuatu yang lebih dari sekadar niat baik. Kami butuh aturan.
---
Malam itu, di warung Bu Inah yang sudah tutup untuk umum tapi lampunya masih menyala untuk kami, aku duduk bersama Ujang, Yanto, dan lima orang lain yang sudah rutin ikut—termasuk Pak Darto dan seorang mantan tukang parkir bernama Salim yang badannya kekar dan jarang bicara tapi setia.
"Kalau kita mau jadi sesuatu yang beneran, bukan cuma sekumpulan orang marah," kataku, "kita butuh batasan. Sesuatu yang bikin kita beda dari Broto dan orang-orangnya."
Yanto yang pertama bicara. "Kita nggak nyentuh orang yang nggak ganggu kita duluan."
"Kita nggak minta setoran," tambah Salim, suaranya berat tapi pelan. "Broto minta setoran. Kalau kita mulai minta juga, kita nggak beda apa-apa sama dia."
Ujang menyeringai. "Tapi kita tetap butuh makan, Bang. Nggak semua bisa gratis."
Aku menimbang itu cukup lama. "Bukan setoran paksa. Tapi kalau ada yang kita bantu, dan mereka mau kasih apa aja—makanan, info, tempat nginap buat yang lagi kabur—itu beda. Itu bukan kita minta. Itu mereka kasih karena mau."
Malam itu, tanpa ditulis di kertas mana pun, kami sepakat pada tiga hal yang sejak itu jadi semacam sumpah tidak resmi Lentera:
*Satu—kami melindungi, bukan memeras.*
*Dua—kami tidak menyentuh orang biasa yang tidak menyerang duluan.*
*Tiga—kami menjaga rahasia satu sama lain, apa pun yang terjadi.*
Sederhana. Mungkin naif, kalau dipikir sekarang, mengingat semua yang terjadi setelahnya. Tapi malam itu, tiga kalimat itu terasa seperti fondasi rumah yang jauh lebih kokoh daripada rumah triplek tempat aku dibesarkan.
---
Ujian pertama datang lebih cepat dari yang kami kira.
Salah satu anak buah Broto—bukan Broto sendiri, tapi orang kepercayaannya bernama Dulmatin—mulai menyadari ada "gangguan" di wilayah operasinya. Uang setoran yang biasanya lancar mulai seret di beberapa gang, karena pedagang di sana tahu ada yang bisa mereka mintai tolong kalau didatangi. Dulmatin, yang tempramental dan tidak sesabar Broto, mendatangi kios Bu Inah suatu sore, menuduhnya "menghasut" pedagang lain.
Aku kebetulan ada di situ, duduk di pojok seperti pelanggan biasa. Aku lihat tangan Dulmatin sudah terangkat, siap menampar Bu Inah di depan umum—dan sesuatu di dalam diriku, yang masih mengingat rasa sakit dari kejadian dengan Broto dua tahun lalu, bergerak lebih cepat dari pikiranku sendiri.
Aku berdiri di antara mereka.
"Ada masalah apa, Bang?" tanyaku, suaraku lebih tenang dari yang kurasakan di dalam.
Dulmatin menatapku, mungkin awalnya menganggapku anak kecil yang sok jagoan. Tapi dalam beberapa detik, Ujang dan Salim sudah berdiri di kanan-kiriku, dan dari kejauhan, Pak Darto memarkir motornya tepat di mulut gang—seolah kebetulan, padahal itu sinyal bahwa lebih banyak orang sedang mengawasi dari kejauhan.
Dulmatin akhirnya menurunkan tangannya. Ia pergi sambil bergumam ancaman yang terdengar lebih seperti kata-kata orang yang baru sadar sedang kalah jumlah.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku mendengar nama kami disebut bukan oleh orang-orang kecil di gang, tapi oleh orang dari "pihak sana"—Dulmatin melapor ke Broto, dan entah bagaimana, dalam waktu kurang dari seminggu, nama **Lentera** sampai juga ke telinga yang jauh lebih berbahaya daripada Broto.
Aku belum tahu itu waktu itu. Yang kutahu hanya satu: kami baru saja berhenti jadi sekelompok orang yang cuma menjaga gang sendiri.
Kami baru saja mulai dianggap ancaman.
---
*(Bersambung ke Bab 5)*