NovelToon NovelToon
SANG PENUAI NYAWA

SANG PENUAI NYAWA

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

Di dunia yang dikepung miliaran Monster ciptaan entitas purba Vitallion, kedudukan manusia ditentukan oleh seberapa agung Anima yang mereka panggil di Aula Kebangkitan.

​Kael Ardyn, putra tunggal mendiang pahlawan militer, mendapati takdirnya hancur dalam semalam. Bukan makhluk Mitologi agung yang ia bangkitkan, melainkan Morthas (Sang Penuai Nyawa)—entitas Kelas Misterius berwujud Malaikat Maut yang terhapus dari sejarah ribuan tahun.

​Dicap sebagai ancaman haram oleh Kerajaan Barat yang korup, Kael dijatuhi hukuman eksekusi mati. Diselamatkan di detik-detik terakhir oleh pendiri Guild Scar Horizon, Kael dilarikan ke alam liar di luar Dinding Peradaban.

​Bersama persekutuan empat jiwa abnormal penguasa Anomali—Phoenix Api, Mammoth Purba, dan Kraken Kinetik—Kael menempa jiwanya untuk menguasai energi Kematian murni.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEJARAH YANG TIDAK LENGKAP

​BAB 4: SEJARAH YANG TIDAK LENGKAP

​Kabin batu itu perlahan kehilangan hawa panasnya, menyisakan kehangatan suam-suam kuku yang nyaman di kulit.

​Setelah ketegangan amarah Elena mereda, atmosfer di dalam kamar berganti menjadi kecanggungan yang menggelikan.

​Kael masih bersandar di ranjang, sementara tiga remaja di depannya mulai duduk di kursi-kursi kayu yang melingkar. Dari obrolan santai yang diselingi gerutu kesal, Kael akhirnya mulai memahami peta kekuatan di tempat ini.

​Pemuda tambun berwajah polos itu adalah Hugo. Dia sudah bergabung dengan Guild Scar Horizon selama lima tahun setelah melarikan diri dari sistem perbatasan wilayah dalam yang mencekik.

​Sementara Ren, si rambut merah yang selalu menantang duel, ternyata anak yatim piatu yang sejak kecil dipungut dan dididik langsung oleh sang Grand Master di kerasnya alam luar dinding.

​Pandangan Kael kemudian beralih pada Elena, gadis yang sedari tadi bersedekap dada dengan wajah judes. Elena ternyata cucu kandung dari lelaki tua legendaris yang membawanya pergi dari Aula Kebangkitan.

​Elena mendengus kecil, lalu melangkah mendekati ranjang Kael. Ia merogoh sesuatu dari balik jubah abunya dan meletakkan sebuah botol kecil berisi cairan hijau pekat di atas meja.

​“Minum itu,” ketus Elena sambil membuang muka, enggan menatap mata Kael secara langsung.

​“Kakek yang menyuruhku membawakan ramuan pemulih jiwa ini untukmu. Jangan salah paham, bukan berarti aku peduli pada orang asing yang baru datang dan langsung merepotkan seperti dirimu.”

​Mendengar ucapan Elena, Hugo hanya bisa menelan ludah seraya buru-buru menunduk, berpura-pura merapikan bajunya seolah lantai kabin mendadak menjadi hal paling menarik di dunia.

​Sementara Ren, yang biasanya tidak bisa diam, tiba-tiba memutar tubuhnya menghadap dinding kasar dan bersiul pelan, pura-pura sibuk menghitung retakan batu.

​Baik Hugo maupun Ren tahu persis tabiat gadis api itu. Di balik kata-katanya yang setajam silet, Elena sebenarnya orang yang paling khawatir saat Kael koma selama tiga hari.

​Tap... Tap... Tap...

​Suara langkah kaki yang berat namun teratur menggema dari koridor luar. Pintu kayu kabin perlahan didorong terbuka lebar.

​Sesosok pria tua dengan jubah abu-abu lusuh masuk sambil tersenyum lebar. Janggut putihnya yang agak berantakan bergerak seiring kekehan ringannya. Dia adalah Grand Master Alden, sang pendiri legendaris dari Guild Scar Horizon.

​“Wah, kalian ternyata sudah berkumpul di sini,” sapa Grand Master Alden, matanya berbinar hangat menyapu seisi ruangan.

​Ia melangkah mendekati ranjang dan menatap Kael dengan pandangan menyelidik. “Bagaimana kondisimu, Anak Muda? Apakah tubuhmu sudah terasa lebih baik?”

​Kael mengangguk pelan, mencoba menegakkan punggungnya. “Saya sudah jauh lebih baik, Tuan. Terima kasih atas bantuannya. Hanya saja, aliran energi di dalam Ranah Jiwa saya masih terasa sangat lambat.”

​Grand Master Alden mengangguk-angguk paham. “Sangat wajar. Wadah Perunggu Awal sepertimu dipaksa memanifestasikan entitas dengan tekanan spiritual sebesar itu... jika jiwamu tidak sekokoh baja, kau mungkin sudah mati di detik pertama sabit itu muncul.”

​Mendengar respons tersebut, Kael merapatkan jemarinya. Rasa penasaran yang terpendam sejak ia membuka mata akhirnya tidak bisa ditahan lagi.

​“Tuan Alden, bisakah Anda menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi hari itu?” tanya Kael mendesak. “Saat aku memanggil Anima-ku di altar, seluruh petinggi akademi dan militer ketakutan setengah mati. Bahkan Jenderal Ironclad langsung memerintahkan eksekusi tanpa ragu.”

​Kael menelan ludah sebelum melanjutkan, “Apa yang salah dengan makhluk yang kupanggil?”

​Ruangan itu mendadak hening. Ren, Hugo, dan Elena terdiam ikut menyimak dengan serius.

​Grand Master Alden menghela napas panjang, lalu menarik sebuah kursi kayu dan duduk di dekat Kael.

​“Dunia luar telah menghapus banyak hal dari Kitab Kuno demi kenyamanan mereka, Kael,” ujar Grand Master Alden memulai.

​“Hukum semesta membagi Anima Kelas Anomali menjadi dua kutub yang bertolak belakang. Pertama adalah Kelas Mitologi. Mereka adalah perwujudan dari elemen murni alam semesta yang memiliki kebijaksanaan tinggi, tenang, dan mudah diajak berkomunikasi.”

​Grand Master Alden melirik ke arah Elena, membuat sayap ilusi Phoenix di bahu gadis itu bergetar samar.

​“Namun, kutub kedua adalah Kelas Misterius. Mereka bukan elemen alam, melainkan manifestasi dari konsep abstrak atau senjata konseptual yang mematikan. Mereka memiliki kesadaran sendiri, ego yang luar biasa angkuh, dan cenderung menolak mentah-mentah untuk tunduk pada manusia.”

​Pandangan sang Master menerawang menembus jendela kabin, menatap langit luar dinding yang diselimuti kabut kelam.

​“Tiga abad silam, ada sebuah kerajaan agung yang menguasai seluruh benua ini. Mereka adalah peradaban pertama yang menemukan metode kontrak darah Anima. Namun, kekuasaan melahirkan keserakahan.”

​Suara Grand Master Alden merendah, memberi penekanan pada setiap kata.

​“Merasa tidak puas dengan Anima biasa, para penyihir agung kerajaan tersebut nekat merobek dimensi Void terdalam. Dan entitas Misterius yang mereka panggil hari itu bernama Vitallion, Sang Pengendali Biologis.”

​Alden melanjutkan dengan wajah serius, “Wujudnya berupa sesosok Beast humanoid raksasa berzirah tanaman purba dengan seribu mata yang memancarkan energi kehidupan distorsi secara mengerikan.”

​Mendengar nama itu disebut secara gamblang, Kael, Ren, Hugo, dan Elena secara refleks menahan napas. Informasi ini sama sekali tidak pernah diajarkan di akademi kota.

​“Tapi Master, kenapa kedatangan Vitallion dibilang membawa petaka bagi umat manusia?” tanya Hugo penasaran.

​Grand Master Alden tersenyum getir. “Vitallion murka karena para pemanggilnya begitu lemah secara mental. Hukum kausalitas mengikat kekuatan Anima pada kekuatan jiwa tuannya. Ketika para penyihir itu ciut melihat wujud aslinya, kekuatan Vitallion meredup drastis. Bagi entitas sombong sepertinya, terikat kontrak dengan makhluk penakut adalah penghinaan terbesar.”

​Grand Master Alden kembali menatap Kael dengan tatapan yang sangat dalam.

​“Maka dalam satu malam, Vitallion memutus paksa segel kontraknya, membantai seluruh isi kerajaan yang memanggilnya, dan menghapus peradaban itu dari sejarah. Namun, agar wujud fisiknya bisa bertahan lama di dunia manusia tanpa pasokan energi dari pemanggil, Vitallion membutuhkan pasokan Kristal Inti yang masif.”

​Alden berhenti sejenak, memberikan jeda dramatis. “Dia mengisolasi diri, memburu makhluk hidup, dan bereksperimen memanipulasi tubuh serta sistem reproduksi mereka demi menciptakan mesin pemanen kristal otomatis.”

​“Tunggu...” Ren menyela, matanya membelalak lebar. “Maksud Master, miliaran Beast bertanduk tunggal yang mengepung dinding kita saat ini...”

​“Ya,” potong Grand Master Alden dengan tegas. “Miliaran Beast ganas yang membuat manusia ketakutan di balik tembok raksasa selama tiga ratus tahun ini semuanya adalah senjata biologis hasil eksperimen Vitallion di masa purba.”

​Alden menghela napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih berat.

​“Sementara yang kau panggil tiga hari lalu di altar, Kael, adalah kutub sebaliknya dari Vitallion. Dia tidak memanipulasi kehidupan, melainkan mengakhirinya. Morthas, Sang Penuai Nyawa. Perwujudan mutlak dari Kematian.”

​Kamar batu itu seketika diselimuti oleh keheningan yang begitu pekat. Kael menatap telapak tangannya sendiri yang masih bergetar samar.

​Tiba-tiba, sebuah suara dingin yang sarat akan ironi bergaung langsung di dalam relung batin Kael, memecah keheningan batinnya.

​“Pria tua itu bicara terlalu banyak...” bisik Morthas sinis dari balik kegelapan Void. “Tanyakan padanya, Bocah... jika mereka begitu takut padaku dan Vitallion, kenapa Kerajaan Barat justru menyimpan pecahan kunci segel kedua milik Vitallion di jantung kota mereka?”

1
Kausafiksi
update sahari dua kali 😆🙏 tungguan sajah
Day Chuk
di tunggu kelanjutan nya thor
Luthfi Afifzaidan
tetap sehat n semangat thor
Kausafiksi: terimakasih banyak dukungan nya, sehat selalu untuk mu 🙏
total 1 replies
Aegis
punya kekuatan op, punya guru op😎
Aegis
buat selamat, masih harus bergantung pada orang lain🥴
Crimson
Gas pol
Crimson
ku vote ya /Good/
Kausafiksi: terimakasih abang kuh
total 1 replies
Crimson
Udah kyk adu pokemon aja /Grin/
Kausafiksi: 🤣🙏 siap abang kuh, tiba tiba dapat 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
total 3 replies
Septiana Athorid
cerita yang sangat menarik tidak pasaran
Septiana Athorid
cerita sangat menarik dan gak pasaran👍
Kausafiksi: terimasih nantikan kelanjutan nya
total 1 replies
WER
semangat kak membuat novel ya 😆👍👍👍
Kausafiksi: terimakasih 😁🙏
total 1 replies
Kausafiksi
updete sehari 2 kali ya teman teman.
Day Chuk
lanjut thor
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Dian Meilani
ceritanya menarik baru bab pertama, nanti kalo senggang aku mampir lagi ya kk.
Dian Meilani: yaa 👍
total 2 replies
Day Chuk
sangat menegangkan
Kausafiksi: iyakan 😁
total 1 replies
Day Chuk
chura apa thor
Kausafiksi: typo bang
total 1 replies
Day Chuk
di tunggu kelanjutan cerita nya ya
Kausafiksi: di usahain bang 🙏 terimaksih
total 1 replies
Day Chuk
kaya nya elena ada persaan salam kael nih 🫢
helena
lanjut thoomr✈️✈️
Kausafiksi: 🙏👍 siap kaka
total 1 replies
WER
semangat kak dan novel nya sukses Aamiin
Kausafiksi: sama sama suksek kak, aamiin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!