Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berubah
"Kita tinggal di sini tidak apa-apa, kan?"
Luna memerhatikan rumah dua lantai di hadapannya. Rumah itu tidak sebesar kediaman Mahendra sebelumya, tetapi terlihat cukup nyaman.
"Rumahnya bagus," ucap Luna.
"Ayo masuk. Kita lihat-lihat dalamnya," ajak Raka.
Luna mengangguk lalu melangkah bersama memasuki rumah baru yang akan mereka tinggali.
Raka memasukan kunci dan memutarnya. Pintu pun terbuka memberikan keduanya akses untuk masuk.
"Kamu lihat-lihat saja dulu. Jika kamu gak suka kita bisa renovasi atau cari tempat lain saja," ucap Raka.
Luna mengangguk lantas melihat-lihat bagian rumah itu.
"Bagaimana?" tanya Raka sambil memeluk Luna dari belakang.
"Bagus," jawab Luna.
"Kamu suka?"
Luna mengangguk. "Aku gak masalah tinggal di mana pun. Asalkan itu sama kamu."
"Baguslah." Raka semakin mengeratkan pelukannya.
"Tapi ..."
"Tapi apa?"
"Tempat ini jauh dari kantormu. Apa kamu gak masalah?"
Raka menggeleng. "Aku bisa berangkat lebih awal."
"Baiklah, terserah kamu saja."
Raka tersenyum lantas membalikkan tubuh Luna hingga mereka berdiri berhadapan. Tangan Raka terulur, mengenggam kedua tangan Luna. "Aku minta maaf. Bukannya aku memberikanmu kehidupan yang layak, tetapi justru sebaliknya."
Luna menggeleng. "Gak apa-apa. Aku percaya kamu pasti bisa bangkit lagi."
"Terima kasih kamu sudah mau mengerti aku. Mama memang benar memilihmu untukku," kata Raka.
Senyum mengembang di bibir Luna. Wajahnya bersemu merah mendengar ucapan Raka. "Aku juga senang memiliki kamu, Mas."
Luna lantas membawa dirinya sendiri masuk ke dalam pelukan Raka.
"Ini sudah malam. Sebaiknya kita istirahat," ucap Raka.
"Iya, Mas." Luna menarik dirinya, memberikan jarak dengan Raka.
Keduanya melangkah ke kamar mereka dengan tangan yang sama-sama melingkar di pinggang satu sama lain.
"Aku ganti baju dulu," ucap Luna.
"Hmmm." Raka bergumam untuk merespon ucapan Luna.
Di kamar mandi Luna berdiri di depan wastafel, menatap pantulan dirinya sendiri. Tangannya memegang lingerie berwarna merah yang nampak sangat seksi. Ia berharap saat ia memakainya nanti, bisa membangkitkan hasrat sang suami.
Sebenarnya Luna merasa sedikit malu, tetapi demi kesembuhan Raka, ia membuang rasa malu itu jauh-jauh. Lagi pula, ia memakai pakaian seksi di depan suaminya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Luna keluar dari kamar mandi dengan memakai lingerie. Ia nampak sangat seksi.
"Mas," panggil Luna.
Raka langsung menoleh. Matanya terbelalak melihat penampilan sang istri.
GLEK
Raka menelan air liurnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak mengering.
"Luna ... kamu ..."
Luna berjalan pelan ke tempat Raka berada seolah sedang menggodanya. Sampai di dekat Raka, Luna sengaja duduk di atas pangkuannya.
"Ayo kita coba lagi. Semoga kali ini bisa berhasil," bujuk Luna.
Tangan Luna terangkat, menjelajahi wajah Raka dengan punggung tangannya. Ia senang melihat reaksi sang suami.
Sesaat kemudian gerakannya terhenti karena Raka menggenggam telapak tangannya. Tanpa di duga, Raka mendorong tubuh Luna ke tempat tidur lalu mengurung wanita itu di bawah tubuhnya. Raka mulai menjelajahi tubuh Luna, menyentuhnya dengan sedikit tergesa.
Senyum perlahan terbit di bibir Luna. Ia merasa kali ini akan berhasil. Apalagi saat ia merasakan sesuatu yang keras menekan perutnya. Namun tiba-tiba Raka menarik tubuhnya dengan ekspresi penuh penyesalan.
"Maaf, Luna. Aku gak bisa."
Luna bangun dan mengambil posisi duduk. "Kenapa, Mas?"
"Aku gak sanggup." Tanpa mengatakan apa pun lagi, Raka pergi meninggalkan Luna begitu saja.
-
-
Tidak terasa pernikahan Luna dan Raka sudah berlangsung selama dua tahun. Awalnya kehidupan mereka baik-baik saja. Luna bertahan dengan kekurangan Raka, mencintai laki-laki dengan tulus, melebihi cinta pada dirinya sendiri. Meksipun tak pernah sekali pun mendapatkan haknya sebagai seorang istri. Pernah mereka mencoba. Namun saat akan berhasil, Raka menghentikannya. Bukan sekali, tetapi berkali-kali.
"Kamu baru pulang, Mas?" tanya Luna.
Waktu sudah menujukkan pukul 2 dini hari. Luna menyambut kedatangan Raka yang baru saja pulang dari kantor.
"Hmmm," balas Raka.
Luna berusaha tersenyum meskipun rasa kantuk mendominasi. Ia lantas mengambil alih tas kerja sang suami lantas meletakkannya di sofa. Setelahnya membantu Raka melepas jas yang dipakainya.
Lagi, Luna mencium aroma parfum wanita yang sama selama lebih dari satu minggu belakangan. Luna sudah pernah bertanya, tetapi Raka mengatakan jika parfum itu milik rekan bisnisnya. Meskipun sempat curiga, Luna memilih untuk menepis semua pikiran buruk itu.
"Mau aku siapin makan?" tawar Luna.
Raka menggeleng. "Gak usah. Aku sudah makan di luar tadi."
"Oh, baiklah. Kamu mandi dulu terus istirahat," ucap Luna.
"Kamu juga," balas Raka disambut anggukkan oleh Luna.
KRUYUK ... KRUYUK ...
Raka berbalik dan melihat ke asal suara. Alisnya terangkat sebelah. "Kamu belum makan?"
Luna menggeleng. "Aku menunggumu."
"Ck, sudah aku katakan sebelumnya. Makan saja dulu. Jangan menungguku. Bagaimana jika kamu sakit? Itu akan merepotkanku," ucap Raka sedikit kesal.
Hati Luna terasa begitu sakit mendengar ucapan Raka.
"Maaf, aku takut kamu belum makan. Jadi aku menunggumu," balas Luna.
"Sekarang kamu makan. Aku ke kamar dulu," ucap Raka dibalas anggukkan oleh Luna.
Tidak ada lagi obrolan. Raka langsung masuk ke kamarnya, sementara Luna pergi ke arah belakang untuk meletakan pakaian kotor milik sang suami. Saat merogoh salah satu saku jas itu, gerakan Luna terhenti. Keningnya mengerut ketika jemarinya meraih sebelum kertas kecil.
Luna membukanya. Ternyata kertas itu bukti pembelian sebuah perhiasan dengan harga fantastis. Senyumnya tiba-tiba mengembang.
"Mas Raka pasti menyiapkan hadiah ini untuk anniversary kami beberapa hari lagi," gumamnya.
Luna segera menyimpan kertas itu ke saku piyamanya dan kembali ke kamar. Langkahnya terasa begitu ringan di lantai marmer yang mengkilap oleh cahaya lampu. Rasa laparnya lenyap seketika. Ia memutuskan untuk pergi ke kamar, rasanya tidak sabar untuk bertemu dengan suaminya itu.
Setibanya di kamar, Luna melihat Raka sedang berdiri membelakanginya, sepertinya sang suami sedang menelpon. Luna berjalan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara, ia berniat untuk mengejutkan sang suami.
Langkah Luna terhenti ketika berada satu langkah di belakang Raka. Ia lantas merentangkan kedua tangannya, memeluk Raka dari belakang. Meskipun tidak melihatnya secara langsung, Luna bisa merasakan keterkejutan Raka.
"Aku kangen sama kamu," ucap Luna lirih nyaris seperti bisikan. Tangannya bergerak naik turun di perut Raka yang terbuka. Gerakannya sangat lembut, seolah ingin menggoda sang suami.
Alih-alih mendapatkan perhatian dari Raka, Luna justru dibuat terkejut oleh sikap sang suami yang menurutnya berbeda dari biasanya.
"Kamu apa-apaan, Luna?" tanya Raka dengan nada bicara sedikit meninggi.
Luna terkejut, tetapi mencoba untuk menyembunyikannya.
"Aku hanya memelukmu," jawab Luna sedikit tergagap-gagap.
"Dengar ini!" Raka menghela napas dalam sebelum kembali bersuara. "Aku nggak suka kamu melakukan ini. Jangan lakukan lagi."
"Kamu kenapa marah sih, Mas? Ini juga bukan pertama kalinya aku memelukmu," balas Luna.
"Kamu tahu masalahku, Luna," ucap Raka pelan tapi penuh tekanan.
"Aku tahu. Tapi kata dokter masih ada harapan. Aku hanya mencoba untuk membantumu," ucap Luna.
"Tapi gak pernah berhasil, kan?" balas Raka.
"Itu semua karena kamu yang sudah lebih dulu menyerah," pungkas Luna. "Aku justru berpikir kamu sengaja menolakku."
Suasana menjadi hening sesaat, tetapi bukan karena perdebatan itu selesai, justru suasana semakin memanas. Terlihat jika mata Raka menyala menahan amarah.
"Jika kamu terus memaksaku ... lebih baik kita pisah kamar." Tanpa banyak bicara lagi, Raka mengambil ponselnya dan keluar dari kamar bagitu saja, tanpa memperdulikan panggilan Luna.
BRAK
Pintu kamar tertutup keras membuat Luna terkejut, tubuhnya bergetar, jantungnya ikut berdetak lebih cepat. Luna tidak habis pikir, kenapa Raka tiba-tiba berubah, tidak seperti Raka yang biasanya.
Mata Luna mulai memanas, bahkan sudah dipenuhi oleh air mata, bisa dipastikan dalam sekali kedipan cairan, bening itu bisa lolos dari matanya. Luna duduk di tepi ranjang, menutup mata dengan kedua tangannya dan mulai terisak.
"Kamu sebenarnya kanapa, Mas?" gumam Luna lirih.
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man