Ratna Duhita harus menerima nasib kurang baik. Niat hati ingin menghadiri pesta pernikahan sang sahabat yang sudah seperti saudara. Tapi sebelum masuk ke pintu gerbang ia diculik dan disekap hingga tak sadarkan diri.
Saat tersadar ia sudah berada di tempat asing dengan tangan terikat dan mata tertutup kain. Ketika penutup mata itu terbuka, ia terkejut bukan main ketika laki-laki yang berada dihadapannya adalah cinta pertamanya.
Bagaimana mungkin laki-laki itu berada ditempat yang sama dengannya? Apakah dia juga diculik sama seperti dirinya? Atau diakah dalang dari penculikan itu? Apa yang sebenarnya terjadi?
Yuk ikuti kelanjutannya hanya di noveltoon!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom yara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Masalah hati
Ratna langsung berbaring di atas kasur setelah masuk ke dalam kamar hotel.
"Seberapa keras aku berjuang, tidak akan bisa aku miliki jika itu memang bukan takdirku," ucap Ratna pada dirinya. Pernah mengalami kegagalan dalam pernikahan membuatnya tidak begitu antusias dalam menjalin hubungan, lebih baik biarkan mengalir seperti air.
*
*
Di tempat lain.
Sepasang suami istri berhadapan dengan seorang pemuda yang mungkin usianya hampir sama dengan sang anak.
"Terima kasih," ucap pemuda itu. "Aku tidak akan melupakan jasa kalian."
Sepasang suami itu saling diam. Mereka sudah melakukan kesalahan besar, tapi apa yang bisa mereka lakukan. Mungkin ini harus terjadi, melepaskan satu kebahagian demi kebahagiaan bersama. Mereka mengenal pemuda itu secara tak sengaja. Hampir saja mereka mengalami kerugian besar karena orang yang memesan buah pada mereka membatalkan secara sepihak setelah buah-buah itu mereka beli dari pemasok. Mereka bekerja sebagai pedagang buah. Pesanan konsumen itu tidak hanya 10 atau 20 kilo, tapi mencapai 1 truck. Ketika ditanya kenapa memesan sebanyak itu alasannya adalah untuk hajatan, tapi sehari sebelum waktu barang datang konsumen itu membatalkan pesanan dengan dp 100.000. Tentu saja itu tidak bisa menutup kerugian.
Bersyukurnya nasib baik masih berpihak pada mereka, seorang pemuda datang bak pahlawan, dia membutuhkan buah banyak untuk acara di beberapa panti asuhan sehingga buah-buah itu terselamatkan dan mereka tidak jadi mengalami kerugian. Sejak itu pemuda itu sering datang untuk membeli buah, hingga hubungan mereka lebih dekat.
Namun, dibalik semua itu mereka harus membayar dengan kebahagian putra mereka satu-satunya. Pemuda itu datang bukan untuk membeli buah lagi melainkan ingin meminta wanita yang menjadi kekasih putranya. Mereka sangat bahagia ketika sang putra membawa seorang wanita ke rumah karena selama ini sang anak tidak pernah dekat dengan seorang wanita. Tapi semuanya hanya tinggal impian ketika pemuda itu datang.
"Aku menginginkan wanita yang menjadi kekasih putra Anda," kata pemuda itu yang tak lain dan tak bukan adalah Raditya. Pasangan suami istri terhenyak, mereka adalah kedua orang tua Teguh.
"Apa maksudmu, Nak?" tanya mama Teguh lembut.
"Kekasih putra Anda sebelumnya adalah wanitaku, tapi dia pergi karena kesalahan fatal yang telah aku lakukan. Aku telah menyakitinya terlalu dalam. Aku ingin membahagiakannya, tapi anak anda muncul menjadi lilin untuk wanita itu. Aku yakin wanita itu masih mencintaiku. Apa anda baik-baik saja jika anak Anda hanya menjadi pelarian?"
Mama Teguh masih tersenyum lembut. "Maaf, untuk urusan perasaan aku tidak bisa ikut campur, jika mereka sudah memutusakan bersama aku tidak bisa menghalangi mereka karena mereka yang akan menjalani. Jika mereka menikah dan belum saling mencintai, aku yakin cinta itu akan tumbuh seiring waktu."
"Tapi aku tidak bisa mengendalikan diriku, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan wanitaku kembali. Jadi, aku mohon bantu aku untuk memisahkan mereka."
"Maaf, Nak. kami tidak bisa melakukan itu," Papa Teguh yang menjawab setelah dari tadi hanya sebagai pendengar.
"Apa kalian tahu jika wanita itu sudah pernah menikah?"
"Dia janda?"
"Ya." Raditya tersenyum dalam hati, ia yakin tidak semua orang tua bisa menerima seorang wanita yang menyandang status janda.
"Mungkin sudah jodohnya Teguh seorang Janda, Pa."
"Ya, ma. Biarlah yang penting anak kita bahagia dan itu pilihan anak kita sendiri."
Raditya terlihat pias setelah mendengar obrolan pasangan suami istri itu.
"Aku meminta bantuan, karena aku masih menghormati kalian. Sebenarnya aku bisa saja merampas secara paksa. Apalagi hanya untuk menghancurkan karir putra Anda, itu sangat mudah bagiku."
"Kau mengancam kami, Nak?"
"Maaf, aku tidak punya pilihan lain. Jika mereka sampai menikah akan aku pastikan karir anak Anda akan segera hancur. Selagi aku meminta denagn baik, tolong bantu aku."
*
*
Hari ini ketiga orang itu bertemu kembali.
"Kami sudah melakukan perintahmu meskipun harus menghancurkan hati mereka. Putraku sangat mencintai Ratna dan wanita itu aku yakin lambat laun bisa menerima putraku meskipun cinta belum bersemi."
"Kami harus mengorbankan hati putra kami. Kami harap kau bisa membawa wanita itu pergi. Demi kebaikan putra kami, agar dia tidak terlalu larut dalam keterpurukan dengan tidak lagi bertemu kembali dengannya."
"Terima kasih, aku tidak akan melupakan jasa kalian."
*
*
Di tempat lain.
Sayla dan Ratna mengendarai sepeda motor sembari bernyanyi dan bersenda gurau.
"Aku tak menyangka ada laki-laki yang akan menerimaku apa adanya tanpa melihat statusku. Dia mengajakku menikah dan membawaku bertemu kedua orang tuanya."
"Jadi, kemarin kau tak pulang karena terlalu bahagia?" tanya Sayla sambil fokus mengemudikan sepedanya.
Ratna tidak menghiraukan pertanyaan Sayla ia tetap melanjutkan ceritanya.
"Aku sangat bahagia meskipun orang tuanya tidak setuju karena aku hanya wanita yang menyandang status janda dan kami tidak jadi menikah." Ratna menceritakan itu semua dengan santai.
Sayla tiba-tiba menghentikan sepeda motornya secara mendadak lalu menatap wajah sang sahabat yang sudah tampak berkaca-kaca.
"Kau...," Belum selesai ucapannya terdengar suara keras dari arah lain.
Crit
Brak
Kecelakaan terjadi di hadapan mereka, pengendara sepeda motor dan mobil. Namun, mobil itu melanjutkan perjalanannya tanpa melihat ke arah wanita yang sudah terkapar di jalananan.
Ratna dan Sayla masih terpaku di tempatnya, mereka bergeming. Baru setela terdengar teriakan orang-orang keduanya kembali sadar. Mereka pun ikut menghampiri korban kecelakaan itu. Mereka dengan cepat mengenali wanita korban tabrak lari itu hanya dengan melihat baju yang dikenakan wanita itu. Seragam yang di kenakan oleh para karyawan di cafe Sayla.
"Pak, toloong bawa dia," teriak Ratna sementara Sayla tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Korban kecelakaan pun dibawa ke rumah sakit. Ratna dan Sayla pun ikut mendampingi sebagai wali. Setelah itu Ratna segera menghubungi orang tua korban.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ratna karena dari tadi wanita itu hanya diam saja dengan wajah pucatnya.
Ratna dan Sayla menunggu di luar ruangan IGD, tak lama orang tua korban datang. Mereka menangis tersedu melihat anak mereka tak berdaya di atas ranjanh rumah sakit. Padahal tadi mereka masih berbincang sebelum sang anak berangkat kerja.
*
*
"Pastikan korban itu dipindahkan ke rumah sakit pusat!" perintah seseorang pada anak buahnya melalui saluran telepon.
"Ternyata keberuntungan masih berpihak padaku, aku tidak perlu menyusun rencana untuk memaksamu kembali," gumam laki-laki itu setelah mematikan sambungan ponselnya.
Tak lama ponselnya berdering kembali, lalu ia segera mengangkatnya.
"Apa maksudmu memindahkan pasien ke rumah sakit pusat? Kau mau bermain dengan nyawa orang!" sentak orang yang berada di seberang.
"Tolonglah, ini masalah hati! Pastikan wanita itu yang menemani korban. Jika kau berhasil, aku janji akan membantumu pindah ke rumah sakit pusat."
"Aku pegang janjimu." Sambungan pun terputus. Laki-laki itu menatap ponselnya sebelum keluar dari ruangannya.