Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.
Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.
Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.
Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.
"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."
Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.
Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUCING YANG MENUNGGU
Keiko baru membuka mata ketika sinar matahari sudah menyelinap melewati celah tirai. Selama beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar sambil mencoba mengingat hari apa sekarang. Namun, begitu meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal, matanya langsung membulat.
"Pantas saja..."
Jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat. Sejak pindah ke Tsukimori, baru kali inilah ia bangun selambat itu.
Keiko mengembuskan napas panjang, merapikan tempat tidur seadanya, lalu berjalan ke ruang depan. Begitu jendela geser dibuka, udara pagi yang sejuk langsung mengalir masuk, membawa aroma rumput yang masih basah oleh embun.
Pandangannya tak sengaja tertuju ke ujung selasar. Seekor kucing abu-abu sedang berbaring santai di sana. Matanya terpejam, sementara ekornya sesekali bergerak pelan mengikuti embusan angin. Sosok itu tampak begitu tenang, sama sekali berbeda dengan kucing yang kemarin mencakar tangannya.
Sudut bibir Keiko terangkat. "Datang lagi kamu."
Kucing itu membuka sebelah matanya—hanya sebentar. Setelah memastikan siapa yang memanggil, ia kembali terpejam, seolah tidak tertarik meladeni basa-basi Keiko.
"Hah, sombong sekali."
Keiko tiba-tiba teringat sesuatu. Ia berbalik menuju rak, mengambil gantungan kunci kecil berbentuk kepala kucing.
Ia menekan tombol kecil di sisinya. Sebuah titik merah muncul di lantai. Perlahan, Keiko mengarahkannya ke ujung selasar, tepat di depan kaki si kucing.
Tidak ada reaksi.
Keiko menggesernya sedikit ke kanan. Telinga si kucing bergerak. Sedikit lagi. Saat titik merah itu meluncur ke tiang kayu, tubuh abu-abu itu pun ikut bereaksi.
Satu lompatan ringan.
Titik merah berpindah ke pagar. Kucing itu kembali mengejarnya. Keiko buru-buru menutup mulutnya sendiri agar tidak tertawa terlalu keras. Dengan lincah, si kucing terus mengikuti cahaya merah itu, melompat naik-turun pagar, sesekali memukulnya dengan telapak kaki meski selalu gagal menangkap apa pun.
"Ternyata," Keiko terkekeh pelan, "...kamu tetap saja kucing."
Keiko sengaja mengarahkan laser itu ke dekat pintu. Begitu si kucing mendekat, ia buru-buru membuka pintu dan melangkah keluar. Si kucing terkejut, tubuhnya spontan meloncat ke belakang sambil menatap Keiko dengan mata membulat.
Keiko langsung tertawa lepas. "Hahaha, kena kamu!"
Si kucing tetap diam. Tatapannya seolah berkata bahwa kejadian barusan sama sekali tidak lucu. Beberapa detik kemudian, ia berbalik, duduk membelakangi Keiko, lalu mulai menjilati bulu di kaki depannya dengan tenang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Jaga gengsi sekali," gumam Keiko geli sebelum kembali masuk ke dalam rumah.
Masih sambil tersenyum, ia mandi lalu menyiapkan sarapan. Di kulkas masih ada beberapa potong ikan yang dibelinya dua hari lalu. Satu ekor ia kukus tanpa garam, tanpa bumbu, hanya diberi sedikit irisan jahe agar tidak amis.
"Aku tidak tahu kamu sukanya yang bagaimana," gumamnya saat menata ikan itu di piring kecil. "Kalau ini tidak dimakan, berarti kamu memang kucing yang ribet."
Setelah matang, ia membawa piring itu ke selasar. Kucing abu-abu itu masih ada, sedang sibuk membersihkan wajah. Keiko meletakkan piring beberapa langkah darinya, sengaja tidak terlalu dekat, lalu duduk di sisi lain selasar sambil memulai sarapannya sendiri.
"Makanlah."
Tidak ada reaksi. Kucing itu bahkan tidak melirik.
"Hei."
Masih diam. Keiko memasukkan sesuap nasi ke mulutnya sambil mendengus. "Kalau tidak makan... mulai besok dilarang datang ke rumah ini."
Ancaman itu terdengar lebih seperti rengekan daripada kemarahan. Si kucing tetap tak bergeming.
"Dengar tidak, sih?" Keiko menghela napas panjang. "Dasar."
Merasa usahanya sia-sia, Keiko akhirnya bangkit untuk mengambil gelas minum di dapur. Namun, bukannya benar-benar pergi, ia justru berhenti di balik pintu geser yang sedikit terbuka, lalu mengintip dengan hati-hati.
Beberapa saat tidak terjadi apa-apa. Si kucing masih duduk membelakangi piring. Lalu, telinganya bergerak. Ia menoleh pelan ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang di sekitar, sebelum akhirnya mendekati piring itu dengan langkah sangat hati-hati.
Hidungnya mengendus ikan kukus tersebut cukup lama. Keiko ikut menahan napas. Setelah beberapa saat, si kucing mengulurkan kaki depannya, menarik piring itu sedikit demi sedikit mendekat ke arah tubuhnya, lalu mulai menyantap ikan tersebut dengan tenang.
Keiko tersenyum tanpa sadar.
"Ternyata," bisiknya sangat pelan, "kamu dengar juga."
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari depan rumah.
"Ohayou."
Keiko menoleh. Kyo berdiri di balik pagar sambil melambaikan tangan. Di bahu kirinya tergantung sebuah ember kecil, sementara tangan kanannya membawa dua batang pancing bambu. Sebungkus umpan tergantung di ujung ember, bergoyang pelan mengikuti irama langkahnya.
"Ohayou," balas Keiko seraya membuka pagar. "Wah, mau memancing?"
Kyo mengangguk. "Sungai lagi bagus. Airnya jernih sekali setelah hujan beberapa hari kemarin." Ia mengangkat embernya sedikit. "Aku pikir, daripada sendirian, lebih baik mengajakmu."
Mata Keiko seketika berbinar. "Mau!"
"Jawabnya cepat sekali," goda Kyo.
Keiko tertawa kecil. "Ya, tentu saja. Aku belum pernah memancing di sungai seumur hidupku."
"Kalau begitu, bersiaplah. Kita harus berangkat sekarang sebelum mataharinya terlalu terik."
"Tunggu sebentar."
Keiko buru-buru masuk ke dalam rumah. Piring kecil di selasar sudah kosong, menyisakan beberapa remah daging ikan. Ia tersenyum tipis sebelum mengambil topi anyam yang tergantung di dekat pintu. Tanpa banyak pikir, ia langsung keluar lagi—bahkan ia lupa membawa tas kecilnya yang berisi jimat pemberian sang ibu.
"Ayo," serunya semangat.
Mereka mulai berjalan menyusuri jalan desa. Perjalanan menuju sungai memakan waktu hampir dua puluh menit. Jalan setapak yang mereka lalui membelah hamparan sawah kecil sebelum masuk ke jalur yang dinaungi pepohonan rindang. Udara terasa jauh lebih sejuk di sini, ditemani suara gemericik air yang mulai terdengar samar dari kejauhan.
Di sepanjang jalan, beberapa ekor kucing tampak berbaring santai. Ada yang tidur pulas di atas batu, ada pula yang sibuk menjilati bulu di bawah bayang-bayang pohon. Keiko sempat berhenti saat seekor anak kucing jingga menguap lebar tepat di tengah jalan.
"Lucu sekali..." gumam Keiko. Anak kucing itu hanya melirik sekilas sebelum kembali memejamkan mata.
"Kucing di sini santai semua, ya?"
"Mereka sudah terbiasa dengan manusia," sahut Kyo sambil melangkah lebih dulu. "Jangan heran kalau nanti di sungai kamu juga bertemu mereka."
"Benarkah?"
Ternyata benar. Begitu tiba di tepi sungai, beberapa ekor kucing sudah menanti. Ada yang duduk di atas batu besar menghadap aliran air, ada yang tiduran di balik semak, sementara dua lainnya memperhatikan permukaan sungai dengan penuh minat.
Keiko terkekeh pelan. "Mereka juga mau memancing?"
"Mungkin menunggu jatah," jawab Kyo sambil memasang umpan.
"Mereka mengerti kalau kita bakal dapat ikan?"
Kyo mengangkat bahu. "Entahlah, yang jelas setiap ada orang memancing, pasti ada saja yang nongkrong."
Keiko mulai menyiapkan pancingnya. Untungnya, Kyo cukup sabar mengajarinya—mulai dari cara memasang umpan, melempar kail, hingga teknik menarik pancing agar ikan tidak mudah lepas. Percobaan pertama gagal karena kailnya tersangkut di rerumputan seberang sungai. Percobaan kedua lebih parah; umpannya terlepas sebelum menyentuh air.
Kyo hanya tertawa melihat perjuangan Keiko. "Pelan-pelan saja."
"Gampang mengatakannya," dengus Keiko.
Baru pada percobaan keempat, pelampung kecil milik Keiko tiba-tiba bergerak.
"Kyo, lihat!"
"Hm? Jangan ditarik dulu."
"Tapi pelampungnya lari!"
"Biarin dulu," Kyo memberi komando. Saat pelampung itu tenggelam lebih dalam, ia berseru, "SEKARANG!"
Keiko spontan menarik pancingnya sekuat tenaga. Seekor ikan sungai berukuran sedang melayang di udara sebelum jatuh mendarat di atas rerumputan.
"Aaa! Aku dapat!" Keiko melonjak kegirangan layaknya anak kecil.
Kyo ikut tertawa melihat wajah Keiko yang begitu puas. "Itu baru satu."
"Aku tidak peduli," sahut Keiko bangga seraya mengangkat ikan pertamanya. "Yang penting aku berhasil!"
Waktu berlalu tanpa terasa. Matahari mulai naik tinggi saat ember mereka perlahan terisi. Tidak banyak, tetapi cukup untuk makan bersama. Keiko duduk di atas batu besar sambil mengusap peluh di dahinya. "Capek juga, ya."
"Masih mau lanjut?"
Keiko melirik isi ember lalu menggeleng. "Segini saja. Kalau terlalu banyak, nanti tidak habis."
"Aku punya usul," kata Kyo. "Bagaimana kalau ikan ini kita bakar di rumah saja?"
Keiko langsung mengangguk semangat. "Wah, aku mau!"
"Ibu biasanya sangat jago membumbui ikan."
"Benarkah?"
"Serius."
"Kalau begitu, ayo pulang!"
Keduanya membereskan peralatan pancing. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan sungai, Keiko merasa ada sesuatu yang mengikuti mereka. Ia menoleh. Tiga ekor kucing berjalan santai beberapa meter di belakang. Awalnya ia tidak terlalu memikirkan, namun setelah melewati jembatan kayu, jumlahnya bertambah menjadi enam.
"Sebentar," Keiko menarik lengan Kyo pelan. "Kenapa mereka mengikuti kita?"
Kyo melirik sekilas ke belakang. "Mereka mencium bau ikan."
Keiko menatap ember yang dibawa Kyo. "Oh... pantesan."
Ia tertawa kecil. "Kukira mereka benar-benar ingin mengikutiku."
"Yang mereka incar adalah isi ember ini," ujar Kyo santai.
Keiko melanjutkan langkah dengan hati riang. Namun, tanpa ia sadari, di antara rombongan kucing yang mengikuti, ada yang bukan benar-benar kucing