Perubahan signifikan dari sikap suami, membuat Azalea curiga dan mulai menaruh perhatian pada gerak-gerik Ramdan.
Biasanya yang pulang kerja menyambut dengan senyuman hangat, kini cuek dan mengabaikannya. Azalea mulai meneliti setiap kelakuan suaminya.
Ia yang di cap mandul oleh mertua, membuatnya memilih mengakhiri pernikahan 2 tahun ini. Dan pulang ke rumah. Namun di rumah pun ia ditolak, alhasil ia luntang-lantung di jalanan.
Bagaimana kisah Azalea kelanjutannya? Kita kuak balik ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Floravest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan Dewa
Sekitar 50 meter dari jembatan, akhirnya Dewa berhasil menangkap ujung jari Aza. Dengan cepat pria itu menariknya, mengangkat dan memeluknya erat, mencoba melawan arus ke pinggir sungai dengan sekuat tenaga.
"Aku mohon Lea bertahanlah!" seru Dewa panik setengah mati.
Jantungnya berdetak tak karuan saat menggenggam tangan Azalea yang pucat dan dingin. Ia segera membaringkan tubuh Aza ke tanah, lalu memberikan pertolongan pertama di dada bagian bawah untuk mengeluarkan air yang masuk.
Namun sekuat apapun ia berusaha menekan, Aza tak kunjung membuka mata. Dewa semakin kelabakan sendiri. Ia tatap bibir Aza ragu, tangannya mengepal di samping tubuh. Menimbang-nimbang kembali apa yang seharusnya ia lakukan.
Dewa tak punya pilihan lain. Dengan berat hati ia dekatkan wajahnya ke wajah Aza, lalu memberikan nafas buatan untuk wanita itu berapa kali.
Akhirnya setelah 3 percobaan, mulai muncul tanda-tanda Aza siuman. Wanita itu langsung terbatuk-batuk dengan mulut mengeluarkan air beberapa kali.
UHUKKK!!
"Lea.... akhirnya kamu bangun." senyum lega merekah di bibirnya, nafas yang semula memburu mulai lebih tenang.
Samar-samar Aza mulai membuka mata kembali, meski agak rabun dan gelap, perlahan-lahan mulai terlihat jelas.
"Lea ...." lirih Dewa berkaca-kaca. Tersenyum haru karena akhirnya ia berhasil menyelamatkan pujaan hatinya dari maut.
Sementara Aza langsung tegang, ia tatap sekeliling, lalu menoleh ke arah samping dimana Dewa berlutut sembari menatapnya penuh haru.
Wanita itu langsung melotot, menarik tubuhnya mundur. Dadanya naik turun tidak karuan. Sementara Dewa yang melihat Azalea tiba-tiba panik tentu terkejut. Mengulurkan tangannya ragu.
"Lea...." lirih Dewa dengan bibir gemetar.
"Pergi!" teriak Aza, tubuhnya gemetar, menutup telinganya meringkuk ketakutan di depan Dewa.
Sementara Dewa langsung panik. Mencoba meraih tangan Aza, namun dengan cepat wanita itu menepisnya.
"Pergi! Kenapa kamu menyelamatkanku! Aku ingin mati saja!" teriak Aza histeris.
Dewa tentu menggeleng, meraih tangan Aza dengan cepat, lalu menariknya, hingga tubuh mungil Aza terjatuh di pelukannya.
"Lepaskan aku! Aku ingin mati saja! Tolong lepaskan aku!!" seru Aza gemetar.
Namun Dewa terus memeluknya, tak perduli Aza memberontak seperti apa. Ia terus memeluknya, menahan pukulan-pukulan kecil dari tangan mungil wanita itu.
"Aku mohon berhenti, Lea. Nanti tanganmu sakit!" lirih Dewa, memeluk Aza sekuat tenaga.
"Aku mohon lepaskan aku!! Lepaskan!!" teriak Aza histeris.
Namun Dewa tak mengindahkannya. Ia memeluknya, menahan setiap pukulan Aza tanpa sedikitpun protes. Memilih menggigit bibir bawahnya untuk menahan pukulan yang semakin lama semakin membuat dadanya serasa kebas.
Butuh waktu lumayan lama untuk Aza setidaknya lebih tenang. Dan Dewa, sama sekali tak merasa keberatan atau kesal akibat pukulan-pukulan Aza.
Sampai akhirnya Aza mulai merasa cape, menjatuhkan tubuhnya didada Dewa, menangis sesegukan dan tidak lagi memukul dengan tangan.
"Aku ingin mati saja....hiks!" lirih Aza parau.
Setelah sekian lama memejam menahan pukulan, kini Dewa mulai membuka matanya kembali. Tidak ada lagi sorot mata binar atau senang karena Aza akhirnya siuman. Namun sorot mata tajam membunuh yang mengarah ke depan. Rahangnya mengetat, matanya memerah menahan amarah.
"Ramdan bangsat itu....aku pasti akan mengejarmu!" desis Dewa tajam.
Sementara Ramdan seperti orang kehilangan kendali. Rumahnya berantakan, perabotan rumah dan kaca serta vas bunga raib ia hancurkan, berserakan di lantai. Sementara Bu Ratna, Rara dan Mia memilih pergi dari sana.
Kini Ramdan meringkuk di pojok ruang tamu, menjambak rambutnya frustasi, menatap kosong ke depan. Menggeleng cepat berharap berita di dalam tv tadi bukanlah Aza.
"Aza masih hidup. Aku yakin Aza masih hidup! Aza tidak mungkin mati!"
Butuh beberapa waktu untuk Ramdan menenangkan diri. Sampai akhirnya ia berdiri cepat, berjalan oyong keluar dari rumah sambil merancau nama Aza dengan tangis yang menyayat.
Sementara Azalea kini Dewa bawa pulang ke rumahnya. Azalea yang saat itu tertidur di dalam mobil Dewa angkat lalu ia bawa ke dalam rumah. Baru saja sampai di depan pintu, dua maid datang di sisi kiri dan kanan, menyambut tuan mereka dengan hormat.
"Selamat malam, Tuan."
Dewa hanya membalas dengan anggukan, lalu menyerahkan Azalea di tangan mereka.
"Mandikan dia, pastikan ia memakai pakaian hangat lalu bawa ke kamar saya."
Dua maid tersebut langsung mengangguk patuh, membawa Aza bersama mereka untuk segera dibersihkan, sementara Dewa duduk dengan kasar di sofa mewah miliknya, menarik kuat dasi yang mencekik lehernya, lalu melemparnya ke depan.
"Bangsat!" umpat pria itu.
"Daril!" panggilnya pada salah satu pengawal yang berjaga di depan rumah Dewa.
Sang pengawal segera masuk ke dalam, menghadap pada tuannya itu, merunduk hormat, "Saya, Tuan."
"Pinjam hp mu!" tegas pria itu.
Daril tertegun, namun ia segera memberikannya pada Dewa. Dengan lincah Dewa mengetik nomor seseorang yang sudah ia hafal di luar kepala.
"Yoww....Bos. Tumben telfon saya, biasanya cuma chat singkat dibalasnya besok lusa." kekeh Jhon dari sebrang telfon.
"Aku tidak sedang bercanda, Jhon. Cari seseorang bernama Ramdan, dimana dia kerja. Kalo sudah ketemu langsung suruh perusahaan itu untuk pecat dia!" sentak Dewa, mengejutkan pria di sebrang sana.
Jhon terkejut bukan main, bahunya sampai terjingkit saking kagetnya dengan intonasi nada bicara Tuannya itu.
Dewa memang jarang marah, ia akan merespon dengan deheman singkat atau tidak sama sekali dengan bawahannya. Namun jika pria itu sudah berbicara panjang lebar dan penuh makian. Itu artinya, targetnya benar-benar sudah membuatnya murka.
"Baik, Tuan." jawab Jhon serius.
Dewa langsung memutus telfon secara sepihak, lalu menyerahkan hp bawahannya kembali kepada Daril.
Sang pengawal pun pamit undur diri, sementara Dewa memilih bangkit, berjalan menuju lift untuk ke lantai 5, kamar pribadi miliknya yang hanya dimasuki olehnya dan kepala maid disitu. Selain kepala maid, Dewa belum pernah membawa siapapun masuk kesana, kecuali Aza.
Sesampainya di kamar, Dewa langsung menuju kamar mandi, besar kamar mandi saja sudah seperti kamar Aza di rumah Ramdan, lebar dan luas.
Ia lepas pakaiannya cepat. Mengguyur tubuhnya yang panas dan memerah karena amarah. Mencoba mengusir rasa sesak di hatinya.
"Dasar bodoh. Kau sudah membuang berlian yang ku lepaskan dengan berat itu hingga begini! Mulai sekarang, jangan harap kau bisa memilikinya lagi!" geram Dewa emosi, menjotos dinding marmer putih di depannya kuat.
Selesai dari mandi, Dewa melihat Aza sudah tertidur pulas di atas ranjang. Dewa masuk ke walk in closed terlebih dahulu untuk berpakaian, lalu berjalan mendekat ke arah ranjang dengan langkah tenang. Bola matanya tak sedikitpun menyingkir dari sosok Aza.
Pria itu duduk dengan tenang di sisi ranjang, meraih tangan Azalea dengan lembut, menggenggamnya erat dengan tatapan sayu ke arah Aza.
"Mulai sekarang, siapapun yang mengganggumu, akan aku patahkan lehernya, Lea."