"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."
Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.
Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.
Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Senyum Palsu Untuk Dunia
"Kedua," lanjut Naya, matanya menatap tajam dokumen di atas meja. "Meskipun ini pernikahan kontrak, selama dua tahun ini saya adalah ibu dari Kenzie. Saya minta kebebasan penuh untuk mendidik dan merawat Kenzie tanpa ada intervensi atau kekangan dari kamu atau asisten rumah tangga lain yang merasa lebih berkuasa. Jika Kenzie berada di bawah pengawasan saya, maka sayalah yang memegang kendali atas dirinya."
Arka terdiam beberapa saat, menimbang-nimbang permintaan wanita di hadapannya. Ia tidak menyangka wanita sederhana yang awalnya terlihat lugu ini bisa bersikap sekeras dan setegas ini ketika berbicara tentang prinsip.
"Baik," sahut Arka akhirnya. "Selama keputusanmu tidak membahayakan Kenzie, aku tidak akan ikut campur."
"Dan yang terakhir," Naya mengambil pulpen yang tergeletak di dalam map. "Jangan pernah membawa wanita lain ke dalam rumah ini selama status saya masih menjadi istri sahmu secara hukum. Saya punya keluarga yang harus saya jaga nama baiknya. Saya tidak ingin ibu saya mendengar desas-desus buruk tentang menantunya."
Arka terkekeh pelan, sebuah kekehan sinis yang terdengar dingin. "Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Aku terlalu sibuk dengan urusan perusahaan untuk memikirkan wanita lain. Lagipula, privasiku jauh lebih mahal daripada apa yang kamu bayangkan."
Arka menggeser dokumen itu lebih dekat ke arah Naya. "Jika semua sudah jelas, tanda tangani sekarang."
Naya memandang ujung pulpennya. Tangannya sempat ragu selama satu detik, sebelum akhirnya ia menorehkan tanda tangan di atas meterai yang telah disediakan. Dua tahun. Ia hanya perlu bertahan selama dua tahun dalam sandiwara dingin ini.
Setelah Naya selesai, Arka menarik dokumen itu kembali dan membubuhkan tanda tangannya sendiri dengan gerakan cepat dan tegas.
Sret. Sret.
"Selesai," ucap Arka sambil menutup map tersebut. Ia berdiri, membawa map itu menuju brankas pribadinya di sudut kamar.
Naya ikut berdiri, merapikan gaun pengantinnya yang terasa makin mencekik. "Kalau begitu, saya permisi ke kamar saya."
Arka tidak berbalik, ia sibuk menekan digit kode brankasnya. "Kamar tidurmu ada di balik pintu putih di sebelah sana. Kamar Kenzie ada di balik pintu penghubungnya. Dia sudah tidur sejak jam sembilan tadi karena kelelahan."
Naya melangkah menuju pintu yang ditunjuk Arka. Namun sebelum ia memutar knop pintu, suara dingin Arka kembali terdengar, menghentikan langkahnya.
"Ingat batasanmu mulai malam ini, Nayara. Jangan pernah berharap aku akan luluh hanya karena kamu bersikap baik pada anakku. Di rumah ini, kamu adalah pekerja, dan aku adalah tuanmu."
Naya tidak berbalik. Ia hanya memejamkan mata rapat-rapat, menguatkan hatinya yang terasa remuk di malam pertamanya.
"Saya tidak pernah lupa, Tuan Arka," jawab Naya lirih namun penuh penekanan, sebelum akhirnya membuka pintu dan menghilang di balik kegelapan kamar barunya.
***
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra di kamar baru Nayara. Naya sudah terbangun sejak jam lima subuh. Jiwa mandirinya tidak mengizinkan ia bermalas-malas, meskipun kini ia tinggal di rumah yang luasnya berkali-kali lipat dari rumah kontrakannya dulu. Setelah membersihkan diri dan mengganti gaun pengantinnya dengan setelan blus tunik pastel yang rapi, Naya melangkah ke kamar sebelah melalui pintu penghubung.
Di atas ranjang kecil berbentuk mobil balap, Kenzie masih meringkuk di balik selimut tebalnya. Bocah berusia empat tahun itu terlihat begitu polos dan menggemaskan. Naya tersenyum tulus—satu-satunya senyuman nyata yang ia miliki sejak menginjakkan kaki di rumah ini. Dengan gerakan lembut, ia mengusap rambut halus Kenzie.
"Kenzie ... Sayang, bangun yuk. Sudah pagi," bisik Naya lembut.
Kenzie melenguh pelan, mengucek matanya yang bulat. Ketika melihat wajah Naya, mata bocah itu langsung berbinar. "Mama ...?"
Kata itu membuat dada Naya berdesir aneh. Ada rasa hangat sekaligus tanggung jawab besar yang tiba-tiba mengalir di nadinya. "Iya, ini Mama. Kita mandi dan sarapan yuk?"
Kenzie langsung bangkit dan memeluk leher Naya erat. "Mama wangi. Kenzie suka Mama."
Naya terkekeh pelan, menggendong tubuh mungil itu dengan mantap menuju kamar mandi. Sifat tenang dan keibuan Naya membuat Kenzie yang biasanya rewel dengan pengasuh baru, pagi ini justru sangat penurut.
Satu jam kemudian, Naya menuntun Kenzie yang sudah rapi dengan pakaian bermainnya turun ke lantai bawah. Di meja makan marmer yang panjang, Arka sudah duduk dengan kemeja kerja abu-abu yang terpasang rapi tanpa cela. Pria itu sedang fokus membaca tablet di tangannya, sementara secangkir kopi hitam mengepul di dekatnya.
Mendengar suara langkah kaki, Arka mendongak. Tatapannya yang sedingin es langsung mengunci Naya, seolah sedang menilai apakah wanita itu melakukan tugasnya dengan benar.
"Papa!" Kenzie langsung berlari dan memeluk kaki Arka.
Ekspresi kaku di wajah Arka seketika melunak saat menatap putranya. Ia mengangkat Kenzie ke pangkuannya. "Pagi, Jagoan. Sudah mandi?"
"Sudah dong, dimandiin Mama!" sahut Kenzie riang sambil menunjuk Naya.
Arka melirik Naya sekejap, lalu kembali menatap anaknya. "Bagus. Duduk di kursimu, kita sarapan."
Naya melangkah dengan tenang, mengambil posisi duduk di sebelah Kenzie untuk membantu bocah itu mengambil makanan. Suasana di meja makan begitu sunyi, hanya terdengar denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen. Arka memperlakukan Naya layaknya angin lalu, dan Naya pun tidak berniat membuka suara. Baginya, ketenangan ini jauh lebih baik daripada perdebatan.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
*Tok! Tok! Tok!*
Suara ketukan pintu utama yang tergesa-gesa disusul oleh langkah kaki anggun yang terdengar nyaring di atas lantai marmer. Seorang wanita paruh baya dengan setelan blazer mahal dan tas Hermes di lengannya masuk ke ruang makan dengan tergesa-gesa.
"Arka! Naya!"
Arka langsung meletakkan garpunya, wajahnya menegang. "Mama? Kenapa mendadak sekali?"
Ibu Ambar Dewangga berdiri di ujung meja makan, menatap menantu barunya dengan pandangan menyelidik dari ujung kepala hingga ujung kaki. Naya segera bangkit dari duduknya, menampilkan senyum paling ramah dan tenang yang ia miliki. Ia melangkah mendekat, lalu mencium punggung tangan Ibu Ambar dengan takzim.
"Pagi, Mama. Mari silakan duduk, kita sarapan bersama," ucap Naya, suaranya terdengar sangat tenang, lembut, dan penuh hormat. Tidak ada kepanikan sama sekali di wajahnya.
Ibu Ambar menghela napas, menyerahkan tasnya pada pelayan yang mendekat. "Mama sengaja datang pagi-pagi. Mama mau lihat, apa istri pilihanmu ini benar-benar bisa mengurus rumah dan anak dengan becus, Arka. Mama masih tidak habis pikir kenapa kamu terburu-buru menikah dengan wanita yang ... ya, kamu tahu sendiri latar belakangnya."
Bersambung...