NovelToon NovelToon
27 Hari Setelah Melahirkan

27 Hari Setelah Melahirkan

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Cerai / Ibu susu / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.

Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.

Sudah cukup!

Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"Mas... Aku nggak bermaksud membuat Hana kecewa. Tapi... Cinta memang tidak bisa di paksa. Dan... Untuk saat ini Mona lah yang dapat memberikan semuanya padaku," jawab Dzaki tanpa rasa bersalah sedikit pun. Seakan, kini mata hatinya sudah tertutup oleh pekatnya kabut dosa.

Rahang Madha semakin menggeretak, hingga....

BRAK!

Gebrakan meja itu menggema, bagaikan petir yang menyambar jantung Dzaki. Apalagi kini wajah Kakak Iparnya itu sudah mirip ledakan bom nuklir.

"Dimana otakmu, ha? Kamu berkata seperti itu seolah kamu manusia yang di ciptakan tanpa otak untuk berpikir!" tekan Madha namun kalimat itu mampu mencabik pikiran serta hati Dzaki. "Hana baru saja kehilangan putrinya. Kamu sebagai suami seharusnya menjadi tempat paling aman untuk mesuportnya. Tapi... Kamu dengan tega malah bermain api dibelakangnya. Apa tidak ada perempuan lain, hingga orang yang paling Hana percaya pun kamu embat?! JAWAB!" Bentaknya kembali.

Dada Madha kini sampai naik turun akibat deru napasnya yang terengah.

Dzaki tertunduk. Ia ikat semua ucapan Kakak Iparnya tadi. Namun tetap saja, menurut Dzaki, semua itu gara-gara Hana sebagai wanita yang tak dapat menjaga bayinya.

Wajah Dzaki mulai menegak. Dengan suara cukup pelan namun tersirat sebuah kecewa didalamnya, kini mulai memekak gendang telinga Madha. "Gara-gara dia putriku sampai meniggal! Dia sebagai Istri tidak becus menjaga kandunganya!" sorot mata Dzaki terbuka kuat, bahkan sampai terasa memanas.

Madha benar-benar bisa gila jika lebih lama di ruangan panas itu.

Jari telunjuknya menuding ke arah wajah Dzaki. Nada suaranya berat, merasa muak menatap pria muda didepanya kini. "Ingat, Dzaki... Allah tidak tidur! Jika adiku tidak dapat membalas perbuatanmu... Maka biarkan KARMA yang menjalankan tugasnya!"

Barulah setelah itu Madha melenggang keluar.

Beberapa karyawan saling tatap melihat hawa kemarahan dalam wajah Dzaki. Beberapa mereka mengira, pasti ada sesuatu yang serius mengenai urusan keluarga Direkturnya.

Arghhh....

Srekkk!

Beberapa dokumen terhempas jatuh dibawah meja. Kepala Dzaki benar-benar hampir meledak siang ini. Napas pria itu bahkan sampai naik turun, emosinya menguar begitu saja tanpa dapat ia lampiaskan.

Dzaki menjatuhkan kembali tubuhnya di atas kursi kebesarannya, merasa muak sendiri dengan kehidupanya saat ini.

****

Sementara di rumah,

Hana masih belum bisa melupakan pertemuanya dengan Baby Keira tadi pagi. Siluet wajah mungil itu, kini menari-nari memenuhi isi kepalanya. Hana tidak menyangka, ia diberikan kesempatan kepada Tuhan untuk menyalurkan Asinya pada sosok bayi yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

"Semoga saja aku dapat bertemu kembali dengan bayi itu. Kasian," batin Hana merasa iba.

Tak terasa, waktu sudah hampir petang.

Hana terduduk sendiri di kursi teras, tengah memandang matahari yang hampir terbenam. Wajah Hana menatap dengan tenang, seolah dirinya sudah mengikhlaskan rumah tangganya yang ikut tertelan kabut kepedihan.

Padahal, dirinya lah yang menemani perjalanan Dzaki. Dirinya selalu mendukung, apapun yang Dzaki tempuh. Bahkan pernah, Hana rela tidak makan, agar suaminya pulang bisa makan dengan kenyang. Pada saat itu, ekonomi keluarganya benar-benar berada di posisi paling rendah.

Namun kini, ketika suaminya sudah berada di puncak karir, dirinya di lupakan begitu saja. Semua yang Hana korbankan, bahkan tak sedikitpun membuat rasa iba pada hati suaminya. Malah dengan tega, Dzaki berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.

Sakit, menderita? Jelas!

Apalagi Hana baru saja kehilangan buah hati tercintanya.

Malam itu, ketika Hana baru saja selesai mencuci muka. Ia di kejutkan dengan suara mobil Dzaki yang memasuki garansi rumahnya.

Hana reflek bergegas menuju depan. Kali ini tidak ada lagi air mata disana. Wajah Hana menegak, sorot matanya pun sudah berubah tenang.

Baru saja Dzaki akan mengetuk, tanganya menggantung ketika pintu sudah lebih dulu terbuka. Wajah pria itu datar, namun sorot matanya mencoba menghindar.

"Mau apa lagi kamu datang ke rumah?" tanya Hana tanpa ekspresi. Wanita cantik yang kini mengenakan dress selutut itu, kini menatap suaminya tanpa selera.

Dzaki langsung masuk begitu saja menepis pudak Istrinya.

Langkahnya berhenti sejenak di ruang tamu. "Seharusnya kamu berterimaksih kepada Mona. Dia yang sudah menyuruhku pulang, karena dia tidak ingin melihat kamu sedih!" kalimat Dzaki pelan, tanpa guratan emosi, namun bagaikan ribuan jarum yang dilemparkan pada hati Hana.

Hana tersenyum getir. Ia berbalik arah. Menatap suaminya tanpa selangkah untuk mendekat. "Katakan sama dia, jangan terlalu mudah BERASUMSI! Aku malah berterimakasih, karena dari dia, aku dapat melihat seekor serigala yang bersembunyi didalam tubuh domba! Pas sekali aku merumpamakan sikapnya seperti hewan. Ya, karena sikap kalian berdua bukan hanya mirip, tapi memang kelakuan HEWAN yang sesungguhnya!"

Dzaki mengepalkan kedua tanganya. Dadanya bergemuruh-semakin dalam ia rasakan, kalimat Hana sukses menampar wajahnya.

"Jika pun kamu mau, aku dapat mencabut gugatan itu. Mona sendiri yang bersedia jika aku memadunya denganmu," lagi-lagi kalimat Dzaki seolah menegaskan, jika Mona lah wanita yang memiliki sikap paling luas hati.

Hana semakin ingin tertawa kencang. Kali ini, langkah itu membawnya semakin dekat kearah Dzaki, hingga berhenti berjarak tepat didepan posisi suaminya.

"Tapi aku sama sekali TIDAK SUDI MENJADI MADUNYA! Menjadi Istrimu saja aku sudah menyerah, apalagi mau dimadu?" Hana tersenyum getir. "Percaya diri sekali gundikmu itu! Heh...."

Dzaki merasa tidak terima. Ia menajamkan matanya, menunjuk wajah Hana tanpa perasaan. "Mona tidak seburuk yang kamu katakan, Hana! Dialah yang sudah memberikan semangat sama aku ketika putriku tiada! Dia juga yang sudah perhatian sama aku-"

"SUDAH, STOP!" Sahut Hana memekik kencang. "Apapun pembelaanmu terhadap gundikmu itu, dimataku tetap sama... Sikap kalian berdua sudah mirip dua anjing dijalanan yang saling memburu kepuasan batin saja. Dan perlu kamu catat, Dzaki... Demi Allah, aku menyesal menerima pinanganmu dulu!" suara Hana pecah, menggema kuat menembus dinginya malam.

Barulah, setelah itu Hana masuk kedalam kamarnya begitu saja. Wanita cantik itu mengunci kamarnya, tubuhnya kembali luruh diatas lantai. Ia mengurut kuat dadanya, berharap rasa sesag itu akan secepatnya pergi. Air mata itu bahkan sudah tak dapat lagi keluar, saking terasa sakitnya.

Sementara Dzaki, pria itu masih membeku dibawa siluet lampu temaran ruang tengah. Tanganya memukul kuat angin. Beranjak memilih duduk, demi menghilangkan emosinya malam ini.

Namun tak lama itu pandanganya terangkat, menatap kearah pintu kamarnya dulu.

"Mas... Coba tebak, nanti anak kita cewek atau cowok?" Hana tersenyum puas sambil mengusap perut buncitnya.

Dzaki, pria itu duduk menunduk, juga ikut mengusap perut besar Istrinya. "Cewek atau cowok sama aja, sayang... Yang penting, nanti lahirnya sehat."

Ketika pandangan Dzaki menatap lurus kearah sofa disebrang, seolah ia kini melihat kembali betapa bahagianya rumah tangganya dulu. Dua pasangan semu itu menari-nari dalam ketidak pastian, saling mendukung tanpa tuntutan yang menyamai.

Dzaki menyunggar kasar kepalanya. Kedua tanganya masih bertahta disana. Usapan itu menjadi sebuah cabikan, bersamaan wajahnya yang begitu frustasi.

Sementara di dalam, entah pukul berapa, Hana tetiba terjaga dari tidurnya.

Jam di dinding sudah menunjukan pukul 03.00 pagi dini hari.

Sambil mengup, masih berwajahkan bantal Hana segera bangkit. Ia basuh dulu wajahnya agar lebih terang. Dan ketika keluar, rupanya tadi malam ia lupa mematikan lampu ruang tamu. Namun disaat ia melewati kamar satunya, reflek saja mata Hana menyipit sejenak, ketika pintu kamar itu tidak sepenuhnya tertutup.

Dari cela, Hana dapat melihat, Dzaki yang masih terlelap dalam tidurnya. Pria itu tidur masih mengenakan kemeja, lengkap dengan celana dan hanya melepaskan gespernya saja.

"Jadi, dia semalam memang berniat untuk pulang? Biarin aja, rasanya hatiku sudah mati rasa hanya sekedar menatap."

Hana berlalu begitu saja menuju ruang tamu untuk sekedar menekan saklar lampu. Barulah, setelah itu ia kembali lagi masuk kedalam, dan kembali mengunci pintunya.

1
akukaya
kau yg tak pandai baca situasi... dan tak pandai kawal diri... konon dingin padahal mengawal diri laaa tu ...ada rasa getaran chinnntaaa... ptuiiiiii 🤣🤣🤣
Dewi Sinta
aprilia atau shofi thor 😌
74 Jameela
wooooeeeeyyyy..jaman udh millenial kok msh trllu ngejunjung tinggi balas budi gk hrs gt jg keleeeessss🤮🤮..jijik banget sm si tentara...cinta kok meksoooo..iku jenenge terObsesi🤮
akukaya
Pikun? kan udah lihat DRAMA di Rumah Sakit kamu.
akukaya
ni selalu kesilapan ibu² muda... walau masih nifas, bersih²,kemas,wangi,rajin mandi itu wajib... lelaki memang mata lalat... tapi bila isteri tak pandai urus diri, si mata lalat ni hinggap ke tahi lain juga... sbb si mata lalat ni,. lihat betina/sampah lain tu wangi lebih dari isterinya sendiri... maka... dlm permasalahan pasangn dlm citer ni... keduanya sama² SALAH... itu saja.... lihat kan... sesudah ditinggalkan boleh pula melawa mempercantikkan diri... kenapa masa² nifas biarkan diri berdaster dn lambat mandi... tiada alasan tak sempat... ok faham perasaan sedang berkabung krn kehilangan bayi,.. silapnya Hana ni terbawa bawa rasa kehilangan itu... Kehilangan bayi ,ya aku simpati..... 😁.. jika pun ada kisah benar begini ... aku tak berani komen.... hahahahhahahahahahahahaha
akukaya
mana ada Eddah... talak 3 .. tak ada ruang buat rujuk dah... selain CINA BUTA... huhuhu
Elly Sukanti
nahh loh Hana ketemu sm masa lalunya
Nona aan Chayank
Maaf Thor, tapi bukannya Dzaky sdh menjatuhkan talak tiga ke Hana yaa? Kok bisa seenaknya masuk rumah Hana lagi dan dibiarkan pula oleh Hana??
Jumi Atin
padahal alurceritanya bagus,tp, banyak ngk relevan dgn cerita awal , skip
Rαtu Mαtchα🍿
Lanjut thor
echa purin
👍
An'ra Pattiwael
hana jgn terlalu oooonnnn
Anonim
masa lalu denis blm selesai2
Sativa Kyu
👍👍
Ana Burhaini
Hhh itu lukman knp histeris
Ana Burhaini
Mantap hana jgn mau di madu laki "mau enk ny aja ga berpikir sakit nya di khianati jgn goyah hana 💪💪
Ana Burhaini
Smgt hana raih kebhagiaan mu tanpa seorang suami pngkhianat percantik diri dan kesukses an mu hana
Ana Burhaini
Mona pelakor ga punya rsa belas kasihan sm temen sendiri yah begitulah kl pelakor ga peduli suami temen
Cut Dini
❤️❤️❤️
Alfa Hana
kayaknya madh pernah bilng kalau bapaknya pergi pas hana umur 1th dan belum bisa mengibgat bapaknya kok disisni hana umur 4th dan mengingat bapaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!