NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Mas Razka

Pengantin Pengganti Mas Razka

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Dwi Febriana

Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.

"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."

Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Apakah Akan Tidur Bersama?

Usai makan malam berakhir, Bima lebih dulu berdiri dari kursinya. Ia merapikan kemeja yang dikenakannya sebelum mengarahkan pandangan kepada putra sulungnya.

"Razka, ikut Daddy ke ruang kerja sebentar."

Atharazka mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Ia sudah tau kalau panggilan itu sudah pasti berkaitan dengan urusan perusahaan.

"Baik, Dad."

Amora yang duduk di sampingnya hanya memperhatikan dalam diam. Ia juga paham kalau pembicaraan yang akan dilakukan keduanya pasti menyangkut pekerjaan di Askara Group, sehingga tidak merasa perlu bertanya.

Atharazka menoleh singkat ke arahnya.

"Aku ke ruang kerja Daddy dulu."

"Iya, Mas," sahut Amora sambil menganggukkan kepala.

Tidak lama kemudian, Atharazka mengikuti langkah ayahnya menyusuri lorong menuju ruang kerja pribadi di bagian belakang rumah. Begitu keduanya menghilang dari pandangan, suasana di ruang makan terasa jauh lebih lengang.

Selia meletakkan serbet makan di atas meja sebelum bangkit dari kursinya.

"Syifa, temani Amora ke kamar dulu. Biar dia bisa beristirahat sambil menunggu Mas Razka selesai."

"Iya, Mom," jawab Asyifa dengan semangat.

Setelah Selia berjalan menuju ruang keluarga, Asyifa segera menghampiri Amora.

"Ayo, Kak. Aku antar ke kamar Mas Razka."

Amora tersenyum tipis.

"Iya, Syif,"

Mereka pun menaiki anak tangga marmer yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai atas. Cahaya lampu gantung kristal memantul di setiap pijakan, membuat suasana rumah terlihat semakin mewah.

Asyifa berjalan santai sambil sesekali menoleh ke belakang.

"Kak, gimana kesan pertama datang ke rumah ini?"

Amora kembali tersenyum mendengar pertanyaan dari Asyifa.

"Rumahnya besar sekali."

Jawaban Amora mengundang tawa kecil Asyifa.

"Iya, rumah ini emang terlalu besar buat ditinggali 4 orang keluarga inti. Dulu teman-temanku juga pernah bilang rumah ini kayak labirin. Kalau belum hafal, bisa muter-muter sendiri."

Ucapan itu membuat Amora ikut tertawa pelan. Percakapan ringan mereka perlahan mengurangi rasa canggung yang sejak tadi memenuhi hatinya.

Tidak lama kemudian mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna cokelat tua dengan ukiran sederhana yang elegan.

Asyifa membuka pintu tersebut.

"Ini kamar Mas Razka."

Pandangan Amora langsung menyapu seluruh ruangan.

"Mulai sekarang... ini juga jadi kamar Kak Amora kalau menginap di sini."

Kalimat itu membuat Amora terdiam beberapa saat. Ia hanya membalas dengan senyum kecil.

"Iya, makasih ya Syif," ujar Amora.

Asyifa menoleh sambil tersenyum hangat.

"Kalau kakak butuh apa pun, tinggal panggil aku. Kamarku nggak jauh, ada di ujung koridor sebelah kanan."

Amora menganggukan kepala.

"Iya," jawabnya.

"Aku senang akhirnya punya kakak perempuan di rumah ini," lanjut Asyifa tulus. "Jadi Kak Amora enggak usah sungkan sama aku, ya."

Ucapan itu membuat hati Amora terasa sedikit lebih hangat.

"Aku juga senang bisa mengenal kamu."

"Nah, begitu dong," balas Asyifa ceria. "Ya sudah, Kak istirahat dulu. Nanti kalau Mas Razka sudah selesai ngobrol sama Daddy, pasti langsung ke sini."

"Iya."

Setelah mengucapkan selamat malam, Asyifa menutup pintu perlahan dan meninggalkan kamar.

Dan ruangan itu kembali sunyi.

Amora berdiri beberapa saat tanpa bergerak. Matanya berkeliling mengamati setiap sudut kamar yang didominasi warna abu-abu dan putih. Sebuah ranjang berukuran besar berada di tengah ruangan, sementara lemari pakaian, meja kerja, dan rak buku tersusun rapi di sisi lainnya. Semua tampak bersih dan tertata, mencerminkan pribadi pemiliknya yang menyukai keteraturan.

...by Pinterest ...

Dengan langkah perlahan, ia menghampiri jendela besar yang menghadap taman belakang. Dari balik kaca tampak lampu-lampu taman memancarkan cahaya kekuningan di antara pepohonan yang bergoyang tertiup angin malam.

Amora mengembuskan napas panjang.

Entah mengapa, semakin lama berada di kamar itu, rasa canggung justru semakin memenuhi pikirannya.

Ini adalah kamar Atharazka. Lalu bagaimana nanti malam ia harus tidur? Pertanyaan itu kembali berputar di benaknya.

Selama tinggal di apartemen, mereka selalu menempati kamar masing-masing. Seperti yang kita tau, kamar Amora berada tepat di sisi kanan kamar Atharazka. Tidak pernah sekalipun mereka membahas kemungkinan tidur dalam satu kamar ataupun ranjang yang sama. Dan semua seolah menjadi kesepakatan tanpa perlu diucapkan.

Namun malam ini situasinya berbeda. Mereka sedang berada di rumah keluarga Bagaskara.

Amora mengalihkan pandangan ke arah ranjang besar di tengah kamar. Jemarinya menyentuh lembut seprai putih yang masih tampak begitu rapi.

Tanpa sadar ia membayangkan Atharazka beristirahat di sana seperti biasanya.

Lalu dirinya? Apakah mereka akan tidur di tempat yang sama? Ataukah Atharazka akan memilih mencari alasan untuk tidur di ruang lain? Ia tidak memiliki jawabannya.

Amora menggeleng pelan, berusaha menghentikan berbagai kemungkinan yang terus bermunculan di kepalanya.

Ia tahu Atharazka bukan sosok yang kasar yang secara sengaja akan menyakitinya. Hanya saja, pria itu masih menjaga batas yang begitu jelas di antara mereka. Hubungan mereka memang sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya, tetapi belum cukup dekat untuk menghilangkan seluruh kecanggungan diantara mereka.

Perlahan Amora duduk di tepi ranjang. Tatapannya jatuh pada jemari yang saling bertaut di pangkuan. Detak jam dinding terdengar jelas di tengah kesunyian, seolah ikut menemani lamunannya.

"Aku nggak boleh berharap terlalu banyak," bisiknya lirih.

Beberapa saat kemudian, ia bangkit dan berjalan menuju meja kecil di sudut kamar. Di atasnya berjajar beberapa bingkai foto keluarga. Dalam foto-foto itu tampak Bima, Selia, Atharazka, dan Asyifa tersenyum bersama dalam berbagai kesempatan.

Amora memperhatikan setiap bingkai dengan saksama.

Tanpa disadari, muncul perasaan sedih yang tidak bisa ditahan oleh Amora. Ia hadir sebagai bagian dari rumah ini, tetapi belum benar-benar menjadi bagian dari mereka.

Ia mengembuskan napas pelan lalu menatap bayangannya sendiri di cermin besar yang menempel di dekat lemari. Wajahnya terlihat tenang, namun sorot matanya menyimpan banyak kegelisahan yang belum sempat ia ungkapkan kepada siapa pun.

Waktu terus berlalu. Atharazka masih belum kembali dari ruang kerja. Suara pendingin ruangan berpadu dengan desir angin malam yang terdengar samar dari balik jendela, membuat suasana terasa semakin sunyi.

Akhirnya Amora kembali duduk di sisi ranjang. Tangannya meremas perlahan ujung selimut sambil sesekali melirik ke arah pintu kamar.

Malam itu, yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu. Menunggu Atharazka selesai berbicara dengan Daddy-nya.

"Capek, tapi enggak mungkin kan kalau aku tidur dulu sementara Mas Razka aja belum balik. Dan belum tentu juga aku dibolehin tidur di kasur Mas Razka," gumam Amora lirih.

Amora cukup tau diri, ia tidak mau berlaku seenaknya dan pada akhirnya malah membuat Atharazka semakin tidak nyaman dengan kehadiran dirinya.

Ya, Amora tau kalau Atharazka sampai saat ini tidak nyaman dengan adanya dirinya di apartemen. Oleh karena itu Amora merasa dia tidak boleh menambah ketidaknyamanan Atharazka.

1
Valen Angelina
kwkskkw otw bucin ke
Ariany Sudjana
Amora tega meninggalkan Razka sendiri
Lusi Hariyani
dasar gengsi digedein si razka tlp lah sm amora srh plg gitu mlah pergi g jls
Ariany Sudjana
kenapa Razka ga coba menyusul Amora ke rumah orang tuanya? jadi mencoba memulihkan hubungan dengan keluarga Amora juga
Lusi Hariyani
sm2 gengsi ya g bakal pd jatuh cinta lawong komunikasi aja cm sekedar y aja
Ariany Sudjana
kenapa Razka ga menyusul Amora ke rumahnya? supaya hubungan Razka dengan mertua juga lebih baik
Lusi Hariyani
dh mau 60 bab kog hubungan rafka sm amora g ada perkembangan yg jls sich thor...jgn2 mau diceraiin ya mereka
Valen Angelina
kapan cerai thor... klo kmrn saya tanya kapan cair... tapi skr saya tanya kapan cerai... wkkwkk🤣🤣🤣
Lusi Hariyani
razka mmg egois dan gengsi y gede bngt
Ariany Sudjana
Razka sudah mulai jatuh cinta sama Amora, cuma gengsi untuk mengakui 😄
Ariany Sudjana
fixed ini, Razka juga mencintai Amora, meskipun ga pernah mengungkapkan dengan kata-kata, tapi cukup dengan perbuatan
Linda Ayu Tong-Tong
kulkas 10 pintu dah menjelma jdi 9pintu🤣🤣🤣
Lusi Hariyani
gengsimu di kurangin dong rafka
angfeb: Btw kak, izin koreksi yaa, namanya Razka🤭
total 1 replies
Linda Ayu Tong-Tong
aaah jd pengen kencan aq sma suami🤗🤗🤗
Ariany Sudjana
wah romantis sekali pecel lele dinner 😄🙏
Opi Sofiyanti
berterima ksh lah kmu ke Amora ka.... krn kl bkn krn Amora g ada, kmu g bkln ngerasain gmn rasa nya suntuk ampe pgn healing sesaat... bkn sprt yg lalu2 kl suntuk, ngabisin wkt dgn krj an... 😁😁
Lusi Hariyani
perubahan kog bantu cuci piring🙏
Linda Ayu Tong-Tong
masih agak kaku aja pak razka🤣 lemes dikit npa🤣🤣
myranda febrian
gk pernah gagal novelnya kk author🤭
Lusi Hariyani
aq jd penasaran gmn klo rafka dh bucin sm amora ya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!