Xue Yao, murid pertama Sekte Yiyuan, kehilangan segalanya ketika Raja Iblis menghancurkan sektenya. Sebagai satu-satunya yang selamat, ia melarikan diri membawa pusaka sekte, Cincin Zhutian, demi membalas dendam.
Namun saat dikepung musuh, ia menghancurkan kultivasi dan memecah kesadarannya sendiri. Takdir justru membuat seluruh serpihan kesadarannya terserap ke dalam Cincin Zhutian dan tersebar ke berbagai dunia. Setelah hampir seratus tahun tertidur, Xue Yao terbangun dan mendapati setiap serpihan hidup dalam penderitaan akibat keterikatan batin yang dapat melahirkan iblis hati.
Kini, dengan kekuatan Cincin Zhutian, ia harus kembali ke setiap dunia untuk menyelamatkan, mengumpulkan, dan menyatukan kembali seluruh serpihan jiwanya. Namun, mampukah Xue Yao mengembalikan dirinya yang utuh... atau justru kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhu Ge Liang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir yang Tertukar²³
Dalam perkara ini, Lin Ling sebenarnya masih dapat disebut tidak sepenuhnya bersalah.
Bagaimanapun juga, niat yang ia simpan adalah memanfaatkan Xue Mo dalam jangka panjang, menjadikannya batu loncatan untuk menemukan sandaran yang lebih baik, bukan menghancurkan hubungan mereka sekarang ini.
Namun, sebuah hubungan yang sejak awal sudah menyimpan niat ganda, pada dasarnya tidak akan pernah mampu bertahan ketika diuji.
Mengingat kata-kata yang pernah diucapkan Lin Ling kepadanya, mengingat kedekatannya yang terkesan tergesa-gesa, serta mengingat semua yang telah ia korbankan demi dirinya, sorot mata Xue Mo yang semula kosong perlahan berubah menjadi kebencian.
"Dia benar-benar menipuku! Dia membohongiku, dengan mengatakan bahwa dia sudah dipukuli oleh Lin Zhi Du hingga ketakutan dan tidak punya jalan lain selain mencariku! Aku... Aku hanya merasa kasihan padanya, iba padanya, karena itu aku—"
Wajah Xue Ba juga dipenuhi keterkejutan.
Terhadap Lin Ling, putri yang dahulu pernah ia akui sebagai anaknya, ia memang pernah mencurahkan kasih sayang tulus. Namun sejak Lin Ling mulai mempengaruhi masa depan Xue Mo, ia telah sepenuhnya melepaskannya.
Kini, mengetahui bahwa Xue Mo justru terjerat oleh siasat Lin Ling yang begitu kasar dan dangkal, Xue Ba merasa amat kecewa hingga membenci 'Besi yang gagal ditempa'.
"Ayah, soal ini pasti akan aku tangani dengan tegas. Ini juga kesalahanku dan Chou Ran. Kami terlalu mengekangnya sejak kecil, membuatnya kurang mengenal tipu daya perempuan, sehingga sekarang ia justru jatuh ke tangan Lin Ling. Anda tenang saja, aku jamin hal seperti ini tidak akan terulang. Selama ini kinerjanya di perusahaan juga tidak buruk. Bagaimana jika anda memberinya satu kesempatan lagi? Biarkan ia memulai kembali dari tingkat paling bawah."
Xue Yao baru masuk ke perusahaan beberapa bulan, bagaimana mungkin ia menopang posisi pewaris? Bukankah itu justru memberi kesempatan kepada keluarga paman kedua?
"Xue Yao juga adalah putrimu. Dan bagaimana sebenarnya kinerja Xue Mo di perusahaan, kalian pun mengetahuinya dengan jelas. Tidak berbuat salah bukan berarti luar biasa. Aku tidak ingin lagi membicarakan perkara hari ini. Xue Yao masih di luar, membereskan kekacauan ini dan menyambut para tamu demi kalian. Kalian.. uruslah diri kalian sendiri."
Setelah berkata demikian, sang kakek memutar kursi rodanya dan meninggalkan ruang kerja dan menyisakan keluarga beranggotakan tiga orang itu dalam keheningan.
Setelah lama, Xue Ba menghela napas panjang.
"Aku akan keluar sebentar. Ke depannya, kita lakukan saja sesuai perkataan ayah. Jika seseorang tidak mampu berjuang sendiri, siapa yang bisa ia salahkan?"
Sejak peristiwa di rumah sakit, sang kakek sudah pernah memperingatkan Xue Mo. Namun Xue Mo tetap memilih, demi seorang Lin Ling, mengabaikan keluarga dan masa depannya sendiri, melakukan begitu banyak kebodohan. Itu adalah pilihannya sendiri.
Perkataan sang kakek tidak salah. Xue Yao juga adalah putrinya.
Meski sebelumnya karena keberadaan Lin Ling hubungan ayah dan anak perempuan itu menjadi renggang, bukan berarti tidak mungkin diperbaiki.
Ibu dan anak yang tertinggal di dalam ruangan saling menatap tanpa kata. Hingga para tamu di luar mulai berangsur pergi, Chou Ran baru melangkah maju dan membantu Xue Mo berdiri.
"Kau sudah mengerti dimana letak kesalahanmu?"
Xue Mo mengangguk kaku.
"Baik. Jika sekarang kau sudah mengerti, itu belum terlambat. Aku akan membantumu mengurus Lin Ling. Soal keluarga Qu memang gagal, tetapi masih banyak putri bangsawan dari keluarga setara. Aku akan mencarikan yang lebih baik untukmu. Beberapa hari ke depan, aku akan meminta pamanmu berbicara denganmu."
Di Luar, langit semakin menggelap, seolah hujan lebat tengah bersiap turun.
"Tenang saja. Keluarga Xue hanya akan menjadi milikmu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut apa yang seharusnya menjadi milik kita, ibu dan anak."
Pada saat ini, ketika kakek dan ayahnya seakan telah menyerah padanya, dukungan sang ibu bagi Xue Mo bagaikan sebatang jerami penyelamat.
Namun di dalam hatinya, muncul pula sebuah keraguan.
Mengapa ibunya begitu memusuhi Xue Yao?
Chou Ran, atau lebih tepatnya keluarga Chou, bergerak dengan sangat cepat.
Malam itu juga, Lin Ling yang sama sekali tidak mengetahui kekacauan di jamuan pertunangan siang hari, masih terlelap nyenyak di vila mewah tersebut.
Peristiwa di jamuan pertunangan bagaimanapun adalah sebuah skandal. Demi mencegah dampaknya terhadap kedua perusahaan, keluarga Qu dan keluarga Xue telah mengatur media agar meredam pemberitaan.
Saat Lin Ling tidur pulas, tiba-tiba hidung dan mulutnya ditutup dengan handuk basah.
Kesadarannya pun langsung tenggelam dalam kegelapan.
Dua pria bertubuh tinggi berpakaian hitam dengan cekatan memasukannya ke dalam sebuah koper besar, lalu mendorongnya keluar vila dengan satu tangan, menaikkannya ke sebuah mobil niaga tanpa plat nomor.
Di kursi penumpang depan, duduk seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun.
Ia adalah Wang Hao, tangan kanan kepercayaan Chou Wei, kakak Chou Ran, dan orang yang kini bertanggung jawab mengelola bisnis keluarga Chou yang tidak pantas ditampilkan ke permukaan.
Ia selalu berhati-hati. Meski perkara sekecil ini sebetulnya tidak perlu ia tangani sendiri, demi memastikan segalanya aman, ia tetap datang.
"Saudara Hao, orangnya sudah dibawa. Kamera-kamera juga sudah dihancurkan, tidak akan ada jejak tersisa. Perempuan ini akan diapakan?"
Pandangan Wang hao melirik koper biasa yang tergeletak di kursi belakang, lalu ia berkata dingin, "Isi dengan batu, buang ke laut."
Mendengar perintah yang begitu kejam dan berdarah, anak buahnya sama sekali tidak ragu. Mobil itu langsung melaju menuju pantai.
Di sebuah pantai terpencil yang jarang didatangi orang, mereka menurunkan koper tersebut, memasukkan dua batu besar ke dalamnya, lalu memeriksa napas Lin Ling yang tak sadarkan diri.
Beberapa bagian koper terbuat dari bahan yang masih memungkinkan udara masuk, sehingga saat itu Lin Ling masih memiliki napas yang sangat lemah.
"Sayang juga, wajahnya cantik."
Salah seorang menyentuh wajah Lin Ling, namun segera dimarahi oleh yang lain.
"Saudara Hao sedang mengawasi. Cepat selesaikan. Jangan buat masalah."
Begitu nama Wang Hao disebut, mereka semua langsung bersikap serius dan mempercepat pekerjaan.
Wang Hao duduk di dalam mobil, perlahan menurunkan kaca jendela, menyaksikan dua orang mengangkat koper berat itu dan melemparkannya ke laut dengan bunyi keras.
Melihat koper itu ditelan ombak, mereka pun segera kembali untuk melapor.
Lokasi itu adalah tebing karang curam dengan perairan yang sangat dalam dan hampir tidak pernah di datangi orang. Setelah tenggelam, nyaris mustahil ditemukan kembali.
Pemandangan ini membangkitkan perasaan deja vu dalam diri Wang Hao.
Sembilan belas tahun lalu, di tempat yang sama, ia juga pernah melemparkan seseorang ke laut.
Saat itu, orang tersebut baru saja melahirkan, bahkan luka di perutnya belum sempat dijahit.
Perempuan itu juga secantik ini, semuda ini.
"Aku benar-benar bukan manusia."
Wang Hao berpikir dalam hati.
Setelah semuanya selesai, mobil itu perlahan melaju pergi.
Namun Wang Hao tidak akan pernah menyangka. Bahwa setelah koper berat itu tenggelam ke dasar laut, hampir seketika, koper tersebut justru melanggar hukum gravitasi dan perlahan mengapung kembali ke permukaan.
Dan tepat saat mobil itu menjauh, di balik batu karang di bawah tebing, sesosok bayangan yang selama ini bersembunyi pun diam-diam menyelam ke dalam laut.
Satu detik, sepuluh detik, satu menit...
Akhirnya, sesosok tubuh kurus menyeret seseorang yang tak sadarkan diri dan dengan susah payah naik ke daratan.
Sosok kurus itu adalah Ibu Lin.
Ia tidak mempedulikan lengan dan kakinya yang tergores karang. Ia langsung berlutut di pasir dan mulai melakukan pertolongan darurat pada Lin Ling yang sudah tidak bernapas.
Tubuh itu tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan, tetapi Ibu Lin tidak berhenti.
"Ling... Bangun... Bangunlah..."
Hingga akhirnya, dari atas tebing, terlihat cahaya senter menyinari mereka.
"Apakah kalian yang tadi melapor ke polisi?"
Tiba-tiba—
Lin Ling yang terbaring di tanah memuntahkan seteguk air.