NovelToon NovelToon
Jalan Abadi Sang Pengembara

Jalan Abadi Sang Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Wuxia
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.

Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.

Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cincin Penyegel Langit

​Shen Yu seketika membekukan gerakannya di udara. Tangannya yang hanya berjarak beberapa milimeter dari cincin logam hitam itu perlahan-lahan ia tarik kembali.

​"Kakek, apa sebenarnya yang membuat sepotong logam berkarat ini begitu istimewa?" tanya Shen Yu, menyipitkan mata.

​Roh Menara melangkah maju, mendekati peti batu yang telah hancur separuh. Sepasang mata keemasannya menatap benda itu dengan kerinduan dan rasa takzim yang teramat mendalam.

​"Benda ini bernama [Cincin Penyegel Langit]. Puluhan ribu tahun yang lalu, Sang Pendiri Agung Sekte Dewa Kuno menggunakannya sebagai media utama untuk menyegel seekor Naga Iblis Bintang Sembilan yang kekuatannya sanggup menelan dan menghancurkan seluruh alam semesta dalam satu kedipan mata."

​Shen Yu kembali menatap cincin tersebut dengan saksama.

​Bentuknya melingkar sederhana. Tidak ada guratan ukiran runik yang rumit, tidak memancarkan pendaran cahaya magis, dan bahkan tekstur permukaannya tampak seperti cincin besi murahan yang biasa dijual pedagang loak di pasar Desa Qinghe.

​"Kalau memang sekuat itu, kenapa tampilannya begitu lusuh dan murahan?" cemooh Shen Yu lempang.

​Roh Menara menyunggingkan senyum tipis. "Artefak tingkat tinggi yang memiliki kesadaran sejati tidak akan pernah sudi memamerkan energinya secara vulgar kepada dunia fana. Justru benda-benda yang terlihat paling biasa di sekitarmu, sering kali menyimpan bahaya teror yang paling mematikan."

​Shen Yu mengangguk-angguk paham. "Filosofi yang bagus. Sama seperti berburu hewan di hutan."

​"Namun, Shen Yu... sebelum kau berhak memakai dan memiliki artefak tingkat dewa ini, kau harus mendapatkan pengakuan mutlak dari kesadaran yang tertanam di dalamnya."

​"Diakui? Bagaimana car—"

​Bzzzttt!

​Belum sempat kalimat Shen Yu selesai, cincin hitam di dalam peti batu itu mendadak bergetar dengan sangat hebat. Sebuah gelombang tekanan aura yang luar biasa masif dan pekat mendadak meledak keluar secara instan!

​BOOOOMMMM!!!

​Peti batu purba berukuran raksasa itu seketika hancur lebur, meledak menjadi serpihan debu batu yang beterbangan ke segala arah. Cincin hitam itu melayang perlahan ke udara, memancarkan kabut putih yang mistis.

​Detik berikutnya, dari dalam kabut cincin tersebut, seberkas proyeksi cahaya memadat, membentuk siluet sesosok pria paruh baya berjubah putih bersih dengan rambut hitam panjang yang menjuntai indah hingga ke pinggang.

​Meskipun wujudnya saat ini hanya berupa fragmen sisa jiwa yang transparan, namun tekanan superioritas spiritual yang dipancarkannya begitu masif, sanggup membuat paru-paru Shen Yu terasa seperti dihimpit oleh gunung tak kasat mata. Sulit untuk sekadar menarik napas.

​Pria jubah putih itu perlahan membuka kelopak matanya. Sepasang manik matanya begitu tajam, memancarkan kedalaman ilmu kuno yang seolah sanggup menembus dan menelanjangi rahasia terdalam dari jiwa manusia.

​"Sudah berapa puluh ribu tahun lamanya... aku tertidur di dalam kegelapan ini?" gumam pria itu, suaranya terdengar malas namun sarat akan wibawa absolut.

​Melihat sosok tersebut, Roh Menara di samping Shen Yu seketika jatuh berlutut, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga menyentuh lantai. "Hamba memberikan salam takzim tertinggi kepada Sang Pendiri Agung Sekte Dewa Kuno!"

​Mata Shen Yu seketika membelalak sempurna. "Pendiri Sekte?!"

​Bayangan pria jubah putih itu perlahan memalingkan wajahnya, mengunci pandangannya tepat pada Shen Yu. Ia mengamati pemuda itu dari ujung kepala hingga ujung kaki secara mendetail. Lama sekali. Suasana aula mendadak hening mencekam.

​Hingga akhirnya, Sang Pendiri Sekte menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum kecewa. "Terlalu lemah. Sangat lemah."

​Mendapat penilaian serendah itu, Shen Yu sama sekali tidak merasa terhina ataupun ketakutan. Ia justru mengangkat kedua bahunya dengan santai.

​"Tentu saja aku lemah, Tuan Pendiri Sekte. Kalau sejak lahir aku sudah kuat dan tak terkalahkan, mana mungkin sekarang aku masih terjebak di tingkat Body Tempering rendahan seperti ini?" balas Shen Yu dengan nada sangat lempang.

​Fragmen jiwa Sang Pendiri Sekte seketika terdiam, sedikit tersedak mendengar jawaban yang teramat berani dari seorang bocah fana.

​Detik berikutnya, sebuah gelombang tawa lepas yang menggelegar keluar dari mulutnya. "Hahaha! Menarik! Sangat menarik!"

​"Sudah puluhan ribu tahun lamanya sejarah peradaban berjalan, baru kali ini ada seorang anak kecil fana yang berani menjawab kalimatku dengan nada menantang seperti itu!"

​Roh Menara yang panik langsung menoleh dan menegur dengan suara berbisik, "Shen Yu! Jaga mulutmu! Kurangi sedikit sikap kurang ajarmu di hadapan Leluhur Agung!"

​Namun, Pendiri Sekte justru mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan Roh Menara untuk diam. "Biarkan saja. Di dunia atas yang penuh kepalsuan, aku sudah terlalu kenyang melihat para penjilat bertopeng kesopanan. Aku jauh lebih menyukai bocah bermulut lancang yang jujur seperti dia."

​Ia kembali menatap Shen Yu, sorot matanya menajam. "Wahai Pewaris baru. Jawablah satu pertanyaan krusial dariku dengan jiwamu."

​"Jika suatu hari nanti, setelah kau keluar dari jurang ini, seluruh dunia kultivasi beserta sekte-sekte raksasa di atas langit sana berbalik menjadi musuhmu yang ingin melenyapkanmu... apa yang akan kau lakukan?"

​Aula kembali hening. Shen Yu tidak langsung menyemburkan jawaban. Ia menundukkan kepalanya selama beberapa detik, membiarkan rambut depannya menutupi matanya, sebelum akhirnya mendongak dengan sebuah senyuman tipis yang sarat akan arogansi terpendam.

​"Dahulu... sejak aku masih balita, seluruh penduduk di desaku sudah memperlakukan diri ini sebagai musuh bersama yang mereka hina setiap hari. Tapi kenyataannya? Aku masih hidup dengan sangat baik sampai detik ini."

​Ujung bibir Shen Yu terangkat lebih tinggi, tatapannya berkilat dingin. "Jika suatu hari nanti seluruh dunia kultivasi memilih untuk menjadi musuhku... maka artinya sangat sederhana. Aku hanya perlu menjadi cukup kuat untuk meremukkan dan mengalahkan satu dunia itu sendirian!"

​Boom!

​Jawaban tirani itu seketika membuat bayangan Sang Pendiri Sekte membeku di tempat. Bahkan Roh Menara di sampingnya terbelalak, tidak percaya dengan skala kegilaan cara berpikir pemuda berusia enam belas tahun itu.

​Sesaat kemudian, tawa Sang Pendiri Sekte kembali meledak, sepuluh kali lipat lebih keras hingga membuat seisi lantai pertama menara bergetar hebat.

​"Hahaha! Bagus! Jawaban yang sangat luar biasa!"

​Namun, tawa itu perlahan menyusut secara bertahap. Senyuman di wajah Sang Pendiri Sekte lenyap tanpa bekas, digantikan oleh ekspresi yang teramat serius dan dingin.

​"Namun, mari kita lihat... apakah keyakinan bajamu itu akan tetap sama kokohnya... setelah kau menyaksikan dengan matamu sendiri siapa sebenarnya musuh sejati yang sedang menantimu di masa depan."

​Sang Pendiri Sekte mengangkat satu jari telunjuknya, menunjuk tepat ke arah dahi Shen Yu.

​Bzzzttt!

​Seketika itu juga, seberkas gelombang cahaya hitam legam melesat keluar dari Cincin Penyegel Langit, menelan dan menyelimuti seluruh eksistensi tubuh Shen Yu.

​Dalam sekejap mata, visualisasi aula Menara Dewa Kuno lenyap total dari pandangan Shen Yu.

​Ketika ia membuka matanya kembali, ia mendapati dirinya sedang berdiri melayang di atas langit yang dipenuhi oleh hamparan awan merah darah yang mengerikan. Di bawah kakinya, pemandangan kiamat terbentang nyata.

​Gunung-gunung purba runtuh menjadi puing, lautan luas mendidih hingga menguap, dan puluhan ribu kultivator tingkat tinggi bertarung dalam sebuah skala peperangan apokaliptik yang berada jauh di luar batas imajinasi manusia fana.

​Tepat di titik tengah medan pertempuran berdarah itu, berdiri seorang pemuda berjubah hitam pekat. Rambutnya yang hitam panjang berkibar ditiup angin badai, tatapan matanya sedingin es tanpa emosi, dan yang paling membuat jantung Shen Yu seolah berhenti berdetak...

​Wajah pemuda berjubah hitam penghancur itu... sama persis dengan wajah dirinya sendiri!

​"Siapa... siapa bajingan itu?!" desis Shen Yu, keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya.

​Pemuda berjubah hitam di bawah sana perlahan mengangkat sebilah pedang hitam miliknya yang memancarkan aura Kekacauan Purba secara absolut. Hanya dengan satu gerakan tebasan tunggal yang santai ke arah depan...

​SWOOOOSSHHH!!!

​Seluruh ruang langit di hadapannya terbelah menjadi dua bagian. Ribuan kultivator dari berbagai sekte besar yang berada di jalur tebasan itu lenyap seketika, terurai menjadi abu dalam hitungan milidetik tanpa sempat berteriak.

​Tidak ada satu pun mantra ataupun perisai pusaka yang sanggup menahan daya hancur tirani tersebut. Bahkan para kultivator bergelar Emperor (Maha Raja) dan Immortal (Makhluk Abadi) hanya bisa melarikan diri tunggang-langkik dengan wajah penuh teror.

​Shen Yu mengepalkan tinjunya erat-erat, napasnya tersedak. "Mustahil... Itu bukan aku! Aku tidak mungkin menjadi monster seperti itu!"

​"Kau benar, Anak Muda," suara berat Sang Pendiri Sekte bergema dari balik kehampaan ruang ilusi, sarat akan riwayat zaman. *"Itu bukan dirimu yang sekarang. Itu hanyalah salah satu baris dari kemungkinan takdir masa depanmu yang paling kelam."

​"Ketahuilah satu hal, Shen Yu. Tidak semua pewaris Menara Dewa Kuno di masa lalu berakhir menjadi seorang penyelamat yang diagungkan. Sebagian dari mereka... justru membiarkan jiwa mereka ditelan oleh kebencian, lalu berbalik menjadi monster penghancur dunia yang mengerikan."

​Wush! Pemandangan ilusi kembali bergeser dengan cepat.

​Kini, Shen Yu melihat sosok dirinya yang berjubah hitam itu sedang berdiri sendirian di atas gunungan lautan mayat yang tak terhitung jumlahnya. Tepat di hadapan pemuda hitam itu, seorang wanita cantik sedang menangis histeris seraya memeluk erat tubuh seorang pria yang telah tewas mengenaskan.

​Wanita itu mendongak, menatap sosok kembaran Shen Yu dengan tatapan yang dipenuhi oleh rasa benci dan kekecewaan yang mendalam.

​"Aku telah memberikan seluruh kepercayaanku kepadamu... tapi kenapa... kenapa kau tega membantai dan memusnahkan mereka semua tanpa sisa?!" tangis wanita itu histeris.

​Namun, pemuda berjubah hitam itu sama sekali tidak menunjukkan penyesalan. Ia hanya menyahut dengan nada suara yang teramat datar dan dingin:

​"Bukan aku yang ingin menghancurkan mereka. Tapi dunia terkutuk inilah... yang lebih dulu mengkhianati dan merampas seluruh kebahagiaanku."

​Setelah mengucapkan kalimat dingin tersebut, sosok berjubah hitam itu berbalik arah dan melangkah pergi, menghilang di balik kabut tebal darah.

​Wush!

​Visualisasi masa depan itu perlahan memudar dan pecah, mengembalikan kesadaran Shen Yu ke aula utama Lantai Pertama Menara Dewa Kuno.

​Shen Yu terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat mencoba meraup oksigen. Keringat dingin telah membasahi seluruh baju berburunya yang robek.

​Sang Pendiri Sekte menatapnya lekat-lekat tanpa berkedip sekejap pun. "Apa yang baru saja kau saksikan dengan jiwamu... adalah cerminan masa depan yang sangat mungkin terjadi jika kau membiarkan kebencian mendikte setiap langkah kakimu. Ingat, takdir bukanlah sesuatu yang telah ditulis mati di atas batu. Jalur takdir akan selalu berubah mengikuti setiap pilihan yang kau ambil."

​Shen Yu terdiam cukup lama, menundukkan kepalanya mencoba menenangkan gejolak emosi di dadanya. Hingga beberapa tarikan napas kemudian, ia kembali mendongak, sorot matanya telah kembali tenang dan jernih seperti air danau.

​"Kalau begitu... aku hanya perlu memilih jalanku sendiri dengan sadar," ucap Shen Yu tegas. "Aku pasti akan membalas dendam dengan setimpal kepada setiap orang yang memang pantas menerimanya. Tapi, aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan diriku runtuh menjadi monster gila yang membantai orang-orang tak bersalah demi memuaskan ego."

​Mendengar sumpah pemuda itu, Sang Pendiri Sekte menatap Shen Yu selama beberapa saat, sebelum akhirnya seulas senyuman tulus dan penuh kelegaan terukir di wajah transparannya.

​"Bagus. Sangat bagus. Selama puluhan ribu tahun penantian ini... akhirnya aku berhasil menemukan seorang pewaris sejati yang jiwanya tidak diperbudak dan dibutakan oleh rantai kebencian masa lalu."

​Wujud bayangan Sang Pendiri Sekte mulai memudar dengan cepat, bertransformasi kembali menjadi partikel cahaya. Sebelum fragmen jiwanya benar-benar menghilang sepenuhnya dari ruangan, ia mengangkat tangan kanannya ke udara.

​Wuuuung!

​Cincin Penyegel Langit yang semula melayang di udara mendadak melesat cepat, berubah menjadi seberkas cahaya hitam pekat, dan langsung melingkar dengan pas di jari tengah tangan kanan Shen Yu.

​Begitu cincin misterius itu terpasang sempurna di jarinya, sebuah pilar aliran informasi teknik tingkat tinggi kembali membanjiri kesadaran spiritual Shen Yu. Dan di antara tumpukan informasi baru tersebut, terdapat sebuah formula mantra rahasia yang teramat kuat:

​[Teknik Penyegel Langit (Heaven Sealing Technique)]

​Namun, belum sempat Shen Yu merasakan kegembiraan akibat mendapatkan artefak baru, wajah Roh Menara yang semula cerah, mendadak berubah menjadi sangat pucat pasi bak mayat.

​Tubuh spiritual Roh Menara gemetar hebat seraya menatap ke arah langit-langit menara dengan ekspresi penuh ketakutan yang teramat sangat.

​"Celaka... Ini benar-benar bencana besar!" pekik Roh Menara dengan suara bergetar.

​Shen Yu seketika menolehkan kepalanya, ikut bersiaga. "Ada apa lagi, Kakek? Kenapa kau ketakutan seperti itu?"

​Roh Menara mengepalkan kedua tangan transparannya dengan sangat kencang. "Aura fluktuasi dari sisa jiwa Sang Pendiri Sekte yang meledak saat bangkit tadi... energinya terlalu murni. Tekanan itu telah menembus keluar jurang dan secara tidak sengaja telah membangunkan... 'Seseorang'."

​"Seseorang? Siapa?"

​Roh Menara menarik napas panjang yang terasa sangat berat dan menyesakkan dada. "Dari seluruh jutaan musuh dan sekte besar yang dahulu bersekutu menghancurkan Sekte Dewa Kuno... dialah entitas tertinggi yang paling ditakuti dan dihindari, bahkan oleh Sang Pendiri Sekte kita sendiri di masa jayanya!"

​Pada saat yang sama, berada di sebuah koordinat ruang yang teramat jauh di wilayah Dunia Atas...

​Tepat di dalam sebuah istana kuno megah yang tertutup oleh hamparan salju abadi dan dikelilingi ribuan rantai hukum alam, sesosok entitas yang duduk di atas singgasana es mendadak bergerak.

​Wush!

​Sepasang kelopak mata purbanya perlahan terbuka, memancarkan sepasang mata berwarna merah darah pekat yang mengerikan. Sebuah hawa dingin membunuh yang luar biasa masif seketika meletus, membekukan seluruh ruang udara di dalam istana hingga retak.

​Sebuah suara tua, serak, namun dipenuhi oleh niat membunuh absolut bergema kuat, memotong hukum ruang di sekitarnya:

​"Fluktuasi energi ini... Menara Dewa Kuno sialan itu ternyata telah berhasil memilih sesosok pewaris baru di dunia bawah..."

​"Kirimkan seluruh barisan Pemburu Bayangan tingkat tinggi kita ke koordinat jurang itu sekarang juga! Kali ini... pastikan jangan biarkan ada satu pun keturunan atau sisa darah dari Sekte Dewa Kuno yang diizinkan untuk tetap bernapas di bawah kolong langit ini!!!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!