Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Suasana di restoran mewah terkenal di pusat kota terasa tenang dan eksklusif. Lampu-lampu redup memancarkan cahaya keemasan, musik klasik mengalun lembut, dan meja-meja dipisahkan cukup jauh agar tamu memiliki privasi penuh. Di sudut paling terpencil namun paling nyaman, duduklah Haris dan Luna.
Luna mengenakan gaun malam berwarna merah marun yang menonjolkan lekuk tubuhnya, perhiasan berkilau terpasang rapi di leher dan telinganya, senyumnya terukir manis dan percaya diri. Sedangkan Haris duduk di hadapannya, mengenakan jas hitam rapi, namun tatapannya kosong, pandangannya sering melayang keluar jendela seolah pikirannya berada di tempat lain. Wajahnya terlihat lelah, dan hanya sesekali ia mengangguk mendengar ucapan Luna tanpa benar-benar mendengarkan.
"Makanannya terlihat sangat enak, bukan?" ucap Luna lembut sambil mengangkat gelas anggur, matanya memandang Haris dengan pandangan penuh perhatian. "Terima kasih karena Kakak sudah bersedia makan malam bersamaku. Aku sengaja memesan hidangan kesukaanmu, semoga Kakak suka."
Haris mengangkat wajah perlahan, senyum tipis yang dipaksakan terbit di bibirnya. "Ya… terima kasih."
Ia mengangkat gelasnya hanya sedikit sebagai balasan, lalu meletakkannya kembali tanpa meminum setetes pun. Suasana di antara mereka terasa kaku, ada jarak tak terlihat yang lebar meski duduk berhadapan. Luna menyadari hal itu, namun ia tidak mau menyerah, baginya ini adalah kesempatan emas yang sudah ia rencanakan sejak lama, dan tidak akan membiarkan bayangan Kania merusak rencananya.
"Kak Haris," panggilnya lebih lembut, suaranya terdengar menenangkan. "Aku tahu beberapa hari ini berat sekali untuk Kakak. Kakak pasti sangat kecewa pada Kak Kania karena tidak bisa menjaga kehormatannya sebagai tunangan Kakak. Tapi semua sudah lewat dan cobalah Kakak lihat ke depan. Semua ini sudah menjadi kenyataan yang tak bisa diubah lagi."
Haris menunduk, jari-jarinya memutar gagang garpu di atas meja tanpa tujuan. "Aku seharusnya ada di sisi Kania malam itu, tapi apa yang sudah aku lakukan? Aku membatalkan begitu saja pertunangan kami dan meninggalkannya."
"Itu bukan salah Kakak. Mungkin Kak Kania bukan takdir yang baik untuk Kakak," jawab Luna cepat namun tetap halus, mendekatkan badannya sedikit ke depan. "Jika dia tetap di sini, nama baik Kakak dan keluarga akan tercoreng selamanya. Sekarang, dengan cerita yang kita sepakati, semuanya masih bisa diperbaiki. Dan jika kita melanjutkan ikatan ini… kedua keluarga akan menjadi lebih kuat,"
Ia menjulurkan tangan lembutnya menyentuh punggung tangan Haris yang tergeletak di atas meja. Namun sentuhan itu membuat Haris tertegun sejenak, lalu tanpa sadar ia menarik tangannya perlahan seolah tersengat. Wajahnya langsung berubah menjadi canggung.
Luna menelan kekecewaannya, tetap mempertahankan senyumnya. "Aku tahu Kakak masih menyimpan perasaan padanya. Tapi percayalah, perasaan itu akan memudar seiring waktu. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik nantinya, lebih perhatian, dan bisa membahagiakan Kakak jauh lebih baik daripada yang pernah dia lakukan."
Kata-kata itu menusuk hati Haris. Ia mendongak, matanya menatap Luna dengan pandangan bingung dan sedikit marah yang tertahan. "Luna… kau tahu bukan apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Kau tahu dia bukan pergi dengan orang lain, dia dipaksa keluar, dia menjadi korban… dan kita justru membantu menyebarkan kebohongan itu."
Suaranya turun menjadi bisikan tegang, takut didengar orang lain. "Bagaimana aku bisa tidur nyenyak setiap malam mengingat wajahnya yang penuh air mata? Bagaimana aku bisa memulai hidup baru dengan tenang sementara aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang."
Wajah Luna perlahan berubah, senyumnya memudar digantikan sorot mata yang lebih tajam dan dingin. Ia kembali duduk tegak, nada bicaranya tak lagi selembut tadi.
"Kalau Kakak terus berpikir seperti itu, kapan kita bisa melangkah maju?" desaknya pelan namun tegas. "Sekarang pilihannya cuma dua, hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah yang tak ada gunanya, atau menerima kenyataan dan membangun masa depan yang cerah. Apa yang akan didapatkan jika kita membuka kebenaran? Apakah akan mengembalikan kehormatannya? Tidak! Itu hanya akan membuatnya menjadi bahan pembicaraan buruk selamanya dan menyeret kita semua ikut jatuh bersamanya."
Ia mencondongkan badan sedikit lagi, suaranya menjadi bisikan yang penuh tekanan, "Aku juga sangat mencintaimu Kak Haris. Dan yang paling penting aku masih murni, tidak kotor seperti Kak Kania."
-
-
-
Cahaya matahari menyebar terang menerangi lorong-lorong luas dan lantai marmer yang mengkilap. Setelah terus mengurung di dalam kamar selama beberapa hari ini, Kania akhirnya mendorong pintu pelan dan melangkah ke bagian utama rumah.
Penampilannya sudah jauh lebih, lukanya hampir sembuh, namun wajahnya masih menyimpan jejak kelelahan batin dan tatapannya tetap waspada. Begitu ia muncul, para pelayan yang sedang membersihkan ruangan dan menyiapkan hidangan langsung berhenti bergerak, menoleh dengan mata terbelalak kaget, seolah tak menyangka melihatnya keluar dari ruang pengasingan itu.
Beberapa dari mereka segera menunduk hormat, namun tetap melirik sekilas dengan rasa penasaran dan hati-hati.
Kania mengabaikan pandangan mereka, berjalan perlahan menuju ke arah mereka.
"Maaf… boleh aku tanya, di mana pemilik rumah ini? Tuan Victor. Apakah dia sedang keluar?"
Kepala pelayan yang bernama Paman Remon segera melangkah maju, tetap menjaga jarak sopan dan wajahnya tenang. Ia sudah mendapat perintah untuk melayani wanita itu dengan baik namun tetap menjaga batas.
"Benar, Nona," jawab Paman Remon dengan nada hormat. "Tuan Victor harus pergi ke luar kota untuk urusan bisnis yang mendesak sehari setelah Nona mulai membaik. Beliau berangkat pagi-pagi sekali dan belum memberi kabar kapan pastinya pulang, tapi biasanya perjalanan semacam ini memakan waktu sekitar satu minggu, mungkin lebih atau kurang sedikit."
Kania mengangguk pelan, dadanya terasa sedikit sesak namun ia berusaha tak memperlihatkannya. "Jadi… dia baru akan kembali minggu depan?"
"Begitulah kemungkinannya, Nona. Sebelum berangkat, Tuan Victor sudah berpesan agar Nona diperlakukan dengan layak, diberi makanan dan obat sesuai jadwal, serta dilarang melangkah keluar dari kawasan rumah ini tanpa izin dari Tuan Victor." Paman Remon melanjutkan dengan hati-hati, "Nona bisa memanggil saya Paman Remon, saya kepala pelayan di rumah ini. Semua kebutuhan Nona cukup sampaikan saja kepada kami, akan kami siapkan secepatnya."
Kania memandang sekeliling ruangan yang luas, sunyi, dan terasa begitu dingin meski matahari bersinar terang. Tanpa sosok Victor yang mendominasi suasana dengan kehadirannya, rumah ini terasa seperti istana kosong yang hanya menyimpan kesunyian.
"Terima kasih atas informasinya, aku akan mengatakan jika butuh sesuatu," ucapnya pelan, lalu berbalik berjalan perlahan menuju teras belakang yang terbuka.
Begitu ia pergi, para pelayan kembali melanjutkan tugasnya sambil berbisik pelan di antara mereka, takut terdengar namun tak bisa menahan rasa ingin tahu.
"Siapa sebenarnya wanita itu? Tuan Victor tidak pernah membiarkan orang asing tinggal lama di sini, apalagi memberikan perintah khusus untuk menjaganya."
"Entahlah, tapi pasti dia membawa masalah besar. Lihat saja tatapannya… penuh luka dan ketakutan."
"Diamlah, jangan sembarangan bicara. Ingat perintah Tuan, jangan bertanya, jangan bergosip, cukup jalankan tugas saja." ujar Paman Remon mengingatkan, membuat beberapa pelayan itu akhirnya diam dan tak berani berkomentar lagi.
Sementara itu, Kania duduk di bangku panjang di teras belakang, memandang ke arah taman luas yang tertata rapi dan kolam air mancur yang beriak tenang. Angin siang yang sejuk menerpa wajahnya, membuatnya sedikit terlepas dari rasa kaku.
Ia menunduk dan menatap cincin pertunangannya dengan Haris yang masih melingkar di jari manisnya. Cincin itu terasa berat di jari. Berat karena janji palsu. Berat karena penghinaan.
Kania memutarnya perlahan, lalu melepasnya dengan satu sentakan.
Ia tidak membuangnya, hanya menggenggamnya erat di dalam genggaman, sampai sisi berliannya menancap ke telapak tangannya dan menimbulkan rasa sakit.
Rasa sakit itu mengingatkannya pada malam dimana ia kehilangan segalanya. Mengingatkan pada kata-kata Haris, pada kata-kata dan tindakan ayahnya yang seolah langsung menghakiminya atas kejadian yang ia alami malam itu.
"Simpan dulu," gumamnya pelan. "Suatu hari nanti, aku akan kembalikan ini. Tepat ke wajah orang yang pantas menerimanya."
-
-
-
Bersambung...
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
lanjut dong thor🤭🤭